Pagi itu, suara tangisan bersahut-sahutan sudah menggema bahkan sebelum matahari naik sempurna. Langit di luar masih lembap oleh sisa hujan semalam, dan embun masih menggantung di jendela. Tapi di dalam rumah, suasana sudah penuh riuh. Piring-piring di meja makan masih penuh. Roti panggang dibiarkan dingin, s**u tumpah ke taplak, dan selai stroberi tercecer tanpa arah. Tidak ada yang mau makan. Suasana di ruang makan jauh dari kata nyaman. Justru terasa seperti ladang perang emosi. Rini dan Sulis, dua asisten rumah tangga yang biasanya tenang, terlihat panik. Mereka bergerak ke sana kemari, mencoba menenangkan tiga anak kecil yang hatinya sedang patah. “Demas, ayo makan dulu, Nak…” bujuk Sulis, tangannya terulur pelan, tapi Demas menghindar sambil memeluk guling birunya erat-erat. Wajah

