Tangis itu meledak saat anak-anak menemukan kamar Nadine kosong. Tak ada sapaan lembut, tak ada suara ketukan pelan di pintu kamar, tak ada tangan hangat yang menyibak tirai pagi sambil berkata, “Bangun, sayang, mataharinya udah nungguin. Kalau kamu malas bangun pagi, nanti matahari nya ngambek, gak mau bersinar lagi. Kita akan kegelapan, gak bisa piknik di halaman lagi, loh.” Tak ada. Yang ada hanya sunyi dan ketidakhadiran yang terlalu nyata. Elma, yang tertua, berdiri membeku di ambang pintu kamar Nadine. Tempat tidur itu sudah rapi. Seprai bermotif bunga lavender kesukaannya sudah disetrika mulus, bahkan bantal guling disusun tegak seperti akan menyambut tamu. Tapi kamar itu kosong. Dingin. Mati. “Papa... kenapa Mama Nadine enggak ada di kamar? Mama Nadine pergi kemana, Pa?” tanya

