Hisc 31

1538 Kata

Nina menyusul dengan langkah tergesa, hampir tersandung trotoar yang retak. Wajahnya pucat, panik, napasnya memburu seperti habis dikejar sesuatu yang tak bisa dilawan. “Nadine! Tunggu dulu, dengar aku dulu! Nadine, please ...” Suara Nina nyaris tenggelam oleh deru mobil malam itu. Nadine berhenti di trotoar. Tubuhnya kaku seperti patung, tapi matanya bergerak, menatap Nina yang setengah berlari ke arahnya. Lampu jalan menyinari wajahnya yang dingin dan tak tersentuh, tapi di balik sorot mata itu, tersimpan badai. Keringat di pelipis Nina mengalir deras bukan karena berlari, tapi karena satu rasa yang mencengkeram kuat: takut. Takut kehilangan simpati terakhir dari satu-satunya orang yang dulu menyelamatkannya dari kemiskinan dan keterasingan yang saat itu menjerat. “Aku bisa jelaskan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN