Hisc 32

1208 Kata

Taman kota malam itu seperti panggung bisu. Hanya suara jangkrik dan desir angin yang menyentuh ranting flamboyan. Nadine berjalan pelan, hampir tanpa suara, seolah ingin menghilang dari dunia. Ia memilih bangku paling pojok, setengah tersembunyi di bawah kanopi daun. Lampu taman di dekatnya berkedip-kedip seperti jantung yang ragu untuk berdetak. Udara malam mulai menggigit kulit, tapi bukan itu yang membuat Nadine menggigil. Perasaannya jauh lebih dingin dari apapun yang menyentuh tubuhnya malam itu. Ia duduk, menyandarkan tubuh. Napas keluar berat, lambat… dan sunyi. Bukan sedih. Bukan marah. Tapi… kosong. Tiba-tiba wajah Elmo melintas di benaknya. Wajah polos yang selalu merengek kalau susunya dicampur air putih, bukan full cream. Lalu Elma, si kembar yang satu itu… selalu sibuk meny

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN