Menjadi PNS

1344 Kata

“Menafkahi selingkuhanmu? Membeli pakaian bagus? Membeli jam tangan dan HP baru? Traktir teman-temanmu?” Mas Pram tertunduk. Setelah belangnya ditelanjangi habis-habisan, sikapnya yang dulu perhitungan pada Bapak hilang. Beli vitamin, katanya? Dasar munafik! “Simpan untukmu sendiri. Aku tak butuh! Aku dan Bapak bisa hidup tanpa uangmu.” Ketusku tajam. Harga diri kujaga. Jangan karena memberiku uang dia bisa membeli maafku. “Bukannya selama ini kamu keberatan uangmu untuk berobat Bapak?!” napasku memburu karena emosi yang tak bisa terkontrol. Sebisa mungkin kutahan panas yang menjalar di mata. Pantang menangis di depannya. “Saat belangmu terbongkar kau baru merasa Bapakku berarti buatmu??” “Dengar, ya, Prambudi! Jika bukan karena Bapak aku tak sudi melihatmu berkeliaran di rumah in

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN