Aku tiba di sekolah saat Berry, Ali dan Hendri sedang bermain gendang di meja. Ketika melihatku nada gendang langsung berubah menjadi lagu Nurazizah yang seperti biasa liriknya akan berubah menjadi Mouza cantik. “Mouza cantik, Mouza cantik jangan marah.” “Berikan kepadaku madu-madu asmara.’ “Semakin kupandang, semakin haus pula cintaku.” Risa tergelak di mejanya dengan menyangga kepalanya sendiri di atas meja. Sementara aku tidak perduli, lebih sibuk mengurus PR Fisika yang belum kukerjakan dan tumbennya aku tidak menanyakan apakah Risa sudah selesai mengerjakannya. Kali ini Hendri tidak menyerahkan bunga apapun atau mendekatiku dengan goyangan ala tahun Sembilan puluhan itu. Mereka hanya bernyanyi sambal duduk di pojokan. Heran ya, mengapa mereka suka sekali duduk dipojokan. Bebe

