bc

Kisah Cinta Jomblo Akut

book_age16+
644
IKUTI
3.2K
BACA
friends to lovers
goodgirl
student
drama
tragedy
comedy
sweet
humorous
highschool
school
like
intro-logo
Uraian

Perkenalkan kami adalah jomlo akut, yang kata mereka bakalan tetap jomblo karna sikap keras kepala kami yang akut.

Yah nama ku Mouza, dua temanku bernama Salsabila dan Risa Ayudia. Temanku berkata aku adalah wanita lemah lembut yang anggun namun keras kepala melebihi batok kelapa. Yah mereka bilang kalau aku bisa membalas perkataan orang yang menyakitiku dengan lemah lembut namun menusuk melebihi tajamnya pedang. Entahlah, menurutku aku biasa saja. Aku bukan keras kepala namun aku bilang "hidup itu memang perlu prinsif”.

Salsabila, aku mengenalnya pada masa orientasi siswa SMA karna kami pulang searah. Matanya tajam seperti elang, namun tetap cantik dengan balutan hijab panjang yang menutupi kepalanya. Aku dengar dia baru berhijab ketika ingin masuk SMA. Tubuhnya indah sekali. Tapi baguslah dia memakai hijab panjang, jadi bisa menutupi tubuhnya yang indah agar tidak mengundang syahwat. Dia pemberani, tidak ada lelaki berani menggodanya.Kalaupun ada, mereka langsung kabur ketika dia melotot.

Risa Ayudia aku mengenalnya karna memang satu kelas dari kelas satu SMA. Dia gadis cerewet yang kesenggol dikit langsung mau nonjok. Kebayangkan kenapa tim kami ini di bilang jomblo akut. Sebenarnya mereka menyebut kami genk jomblo akut. Tapi aku kurang suka ya di sebut genk. Dan untuk jomblo akutnya serpertinya itu kenyataan, hehe. Dari kami bertiga hanya Risa yang tidak memakai hijab, lebih tepatnya belum. Karna sedang proses ku bujuk rayu. Aku yakin 100 % bahwa aku akan berhasil. Harus optimis dong masak ngak.

Karakter yang sebenarnya menurutku adalah bentukan dari bagaimana kita hidup dalam keluarga dan lingkungan. Seperti Risa, dia cerewet dan mudah marah karna dia hidup dalam keluarga broken home, yang dipaksa berpisah dari Ibu kandungnya untuk tinggal bersama ibu baru yang orang lain sebut ibu tiri. Sedari kecil ia selalu mendamba tinggal bersama ibu kandungnya.

Dan Salsabila ayahnya jarang pulang karna kerja sebagai sopir truk.

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Perkenalkan kami adalah jomlo akut, yang kata mereka bakalan tetap jomblo karna sikap keras kepala kami yang akut. Yah nama ku Mouza, dua temanku bernama Salsabila dan Risa Ayudia. Temanku berkata aku adalah wanita lemah lembut yang anggun namun keras kepala melebihi batok kelapa. Yah mereka bilang kalau aku bisa membalas perkataan orang yang menyakitiku dengan lemah lembut namun menusuk melebihi tajamnya pedang. Entahlah, menurutku aku biasa saja. Aku bukan keras kepala namun aku bilang "hidup itu memang perlu prinsif”. Salsabila, aku mengenalnya pada masa orientasi siswa SMA karna kami pulang searah. Matanya tajam seperti elang, namun tetap cantik dengan balutan hijab panjang yang menutupi kepalanya. Aku dengar dia baru berhijab ketika ingin masuk SMA. Tubuhnya indah sekali. Tapi baguslah dia memakai hijab panjang, jadi bisa menutupi tubuhnya yang indah agar tidak mengundang syahwat. Dia pemberani, tidak ada lelaki berani menggodanya.Kalaupun ada, mereka langsung kabur ketika dia melotot. Risa Ayudia aku mengenalnya karna memang satu kelas dari kelas satu SMA. Dia gadis cerewet yang kesenggol dikit langsung mau nonjok. Kebayangkan kenapa tim kami ini di bilang jomblo akut. Sebenarnya mereka menyebut kami genk jomblo akut. Tapi aku kurang suka ya di sebut genk. Dan untuk jomblo akutnya serpertinya itu kenyataan, hehe. Dari kami bertiga hanya Risa yang tidak memakai hijab, lebih tepatnya belum. Karna sedang proses ku bujuk rayu. Aku yakin 100 % bahwa aku akan berhasil. Harus optimis dong masak ngak. Karakter yang sebenarnya menurutku adalah bentukan dari bagaimana kita hidup dalam keluarga dan lingkungan. Seperti Risa, dia cerewet dan mudah marah karna dia hidup dalam keluarga broken home, yang dipaksa berpisah dari Ibu kandungnya untuk tinggal bersama ibu baru yang orang lain sebut ibu tiri. Sedari kecil ia selalu mendamba tinggal bersama ibu kandungnya. Dan Salsabila ayahnya jarang pulang karna kerja sebagai sopir truk. Terdengar kabar-kabar burung ayahnya punya istri lain. Dan entahlah, aku harap itu hanya gosip. Mereka delapan bersaudara, dia mempunyai lima adik dan semuanya laki-laki. Kakaknya perempuan dua dan mereka sudah menikah. Jadi dia harus mengurus kelima adiknya saat ibunya kerja di kebun. Dan saya dengar dia punya Kakak laki-laki yang meninggal karna kecelakaan dan adik perempuan yang meninggal juga karna sakit. Dan adiknya terkenal sangat cantik di kampungnya. Itulah segelintir masalah yang harus mereka hadapi dari kecil. Dan aku sedari kecil, aku kurang paham tentang kasih sayang. Aku anak bungsu yang punya satu kakak bujangan dan tiga kakak perempuan yang sudah menikah. Ibu selalu sibuk bekerja dari pagi pulang magrib. Dan ayahku, aku kurang mengenal sosok ayahku. Yang aku tahu ayah sering bertengkar dengan ibu dan berakhir dengan hancurnya barang–barang di rumah. Itu lah memori yang tersimpan di otakku. Sehingga hanya untuk menyapa ayah saja aku takut. # Masa Orientasi "Kamu maju kedepan!” ucap salah satu kakak kelas yang menjadi panitia MOS. Aku sontak terkaget, karna yang d tunjuk Kakak Kelas Panitia MOS itu adalah diriku. Ya, tentu aku melakukan kesalahan ketika permainan pundak, lutut, dan hidung. Awalnya permainan berjalan pelan sehingga gampang dimengerti apa yang mereka ucapkan. Tapi ketika permainan di percepat, dan saat mereka bilang pundak aku malah memegang lutut. "Iya kamu,” lanjutnya. Aku yang dari tadi hanya ternganga. Maju ke barisan depan bersama dua rekan lain yang juga sudah duluan melakukan kesalahan. “Oke... ini yang terakhir, selanjutnya kita langsung pada hukuman yang akan kami berikan pada mereka,” terang salah satu kakak kelas panitia yang aku bahkan tidak ingat namanya ketika perkenalan. Maklum aku adalah orang yang cuek dengan hal-hal seperti itu. “Ayo kenalan dulu nih siapa aja yang kena hukuman!” Kalo yang ngomong ini aku tahu. Namanya Ridho, ketua OSIS yang tuturkatanya penuh kesopanan dan tentunya ganteng dan sepertinya banyak yang ngefans. “Kamu?” Kak Ridho menunjukku “Aku Mouza,” jawabku spontan karena kaget. “Dan kamu?” Kak Ridho menunjuk yang berada di sebelah ku. “Salsabila kak," ucapnya dengan ekspresinya yang datar “Dan kamu,” lanjut Kak Ridho, menunjuk siswi di sebelah Salsa. “Aku Siti Kak,” jawabnya cengengesan, sepertinya dia girang bakalan dapat hukuman, pikirku. “Oke...selanjutnya ini ada roti, dan kalian kakak-kakak yang cowok kemari!” Kak Ridho melanjutkan sambil menunjuk kakak kelas pengurus OSIS yang lain. Dan mereka pun maju kedepan. “Nah sekarang adek–adek buat barisan melingkari kami yang ada di pepan ya!” ucap Kak Ridho. Seketika barisan mereka yang memang sudah berantakan, berubah menjadi mengelilingi kami. Waduh mau di apain ni? “Kalian bertiga, berhadap-hadapan sama kakak-kakak ini ya!” perintah Kak Ridho Mau ngapain lagi nih. Kan aku jadi salting. Mana di suruh berhadapan dengan kakak ganteng lagi. “Coba kenalan dulu,” tambah Kak Ridho di iringi dengan senyuman manisnya. “Jems,” kakak yang di hadapanku berkata sambil mengulurkan tangannya. Gila! Di desa kayak gini bapaknya kasih nama Jems. Bapaknya gaul juga, benakku “ Mouza,” aku menjabat tangan nya. “ Cieeee....Cie…” pekik anak sekolahan makin keras. Dan mereka sukses membuatku tertunduk malu. Duh kok aku jadi gemetaran gini yah? Mana tinggi banget lagi ni orang. Aku jadi cebol kan deket dia. “Nah ini rotinya, masing-masing kalian berenam pegang roti, kemudian saling menyuapi,” ucap Kak Ridho sambil memberikan roti pada kami. Aku ternganga, kemudian melotot. Iya sih hukumannya ngak berat-berat amat. Tapi aduh ngak kebayang wajahku jadi kayak apa. Aku dan Kak Jems saling pandang. Kemudian ia tersenyum. Sepertinya dia juga malu, kulihat dari ekspesinya. “ Kami hitung sampai tiga, mulai ya!” ucap Kak Ridho “Ayo adek-adek... hitung bareng-bareng ya.” “Satu…Dua...tigaa…” pekik mereka serentak. Aku dan Kak Jems malah tertawa, karna kami berdua sama-sama ragu untuk saling menyuapi. Aku tidak menoleh kanan dan kiri apakah teman yang lain sudah selesai atau belum. Ketika tangan ku dekat dengan mulut kak Jems, aku dan dia buru-buru memasukkan makanan, dan aku pun segera menunduk tak ingin menatapnya lagi. Di sekelilling kami terdengar sorakkan mereka benar-benar keras dengan tawa cekikikan, tapi terasa samar ku dengar. Karna aku sedang menetralkan detak jantung ku. Setelah deretan panjang kegiatan masa orientasi, tibalah kami di penghujung kegiatan yaitu menulis surat cinta kepada panitia Osis yang mengurus masa orientasi. Risa menulis suratnya untuk Kak Ridho, karna Kak Rhido banyak diminati akupun melakuan hal yang sama yaitu menulis surat cintaku pada Kak Rhido. Entah bagaimana menulis surat cinta, seumur - umur aku belum pernah melakukan itu. Aku mengintip punya Risa dan menulisnya dengan membedakan sedikit kata. Ya elah, nulis surat beginian aja aku harus nyontek. Apa nanti cowok yang aku suka harus nyontek punya Risa juga. Kegiatan penutup kakak-kakak panitia membaca surat dengan suara lantang di lapangan. Sungguh memalukan. Terakhir kami saling meminta maaf dengan kakak-kakak penitia MOS untuk selanjutnya menjadikan situasi normal kembali ketika sekolah nanti.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dear Pak Dosen

read
434.2K
bc

Undesirable Baby 2 : With You

read
168.2K
bc

Undesirable Baby (Tamat)

read
1.1M
bc

T E A R S

read
317.7K
bc

Cici BenCi Uncle (Benar-benar Cinta)

read
204.5K
bc

MANTAN TERINDAH

read
10.1K
bc

Daddy Next Door

read
232.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook