Aku langsung masuk barisan upacara bendera setelah keponakan yang memboncengku memarkir motornya.
Ya, aku seangkatan dengan keponakan ku dan memang asli keponakan yaitu anak dari kakak perempuan ku yang pertama. Jadi ibuku menikah ketika umur 15 - 16 tahun. Dan kakak pertama ku menikah umur 18 tahun. Kakak ku ini menikah sebelum aku lahir. Dia juga ngelahirin Zul (Nama keponakanku) ketika aku belum ada. Setahun lebih kemudian barulah aku lahir. Hampir barengan dengan anak kedua dari kakak perempuan ku ini yang namanya Silvi.
Dan hal ini sukses membuat orang lain bingung, sehingga membuat Zul tidak mau lagi memanggil ku tante ketika sudah masuk SMA. Tidak normal katanya. Hehhe.
Sebenarnya aku datang agak telat, aku berada di bagian paling belakang. Untungnya tidak di hukum.
Setelah berbagai rentetan upacara bendera di lakukan, tibalah di "Amanat upacara". Ini seperti nasihat dari pembina upacara yaitu Kepala Sekolah kami sendiri.
Setelah beberapa kata yang terucap dari Kepala Sekolah yang aku pun tidak terlalu mendengar, ada satu siswi yang jatuh pingsan.
"Itu makanya sarapan dulu sebelum pergi sekolah," tegas Kepala Sekolah
"Sudah bawa keruang guru," lanjut perintah Kepala Sekolah.
Lalu Kepala Sekolah melanjutkan pidatonya.
Tiba-tiba!!!
"Aaaaaaa..." terdengar teriakan dari dalam ruang guru
"Bug... bug.. bug"
Seketika di sekelilingku banyak siswi yang pingsan. Akupun bingung sebenarnya apa yang terjadi?
Kemudian aku merasa ada yang menarik tangan ku.
"Ayo kita lari," ternyata itu Risa, dia satu lokal dengan ku ketika orientasi dan kemudian jadi satu kelas juga.
"Apa yang terjadi?" tanya ku panik.
Aku lihat di sekeliling sungguh terasa aneh, dan rambutku seakan tidak lagi ada di kepala.
"Mereka kesurupan," ucap Risa mengagetkan ku.
"Haaaaaaa," mulutku ternganga.
Sebanyak ini?
Memangnya Jin di sini segitu banyaknya?
Aku pun menoleh kiri dan ke kanan, ku lihat ada seorang siswi yang ingin masuk sumur dan di tahan oleh banyak murid-murid yang lain. Lalu kami pun berlari sambil terus komat-kamit membaca ayat kursi.
Katika ingin berlari ke kelas, di depan kami ada yang jatuh pingsan, kemudian bangkit lagi meronta-ronta karna ada empat temannya yang memeganginya.
Kami berhenti dan merubah arah ke luar gerbang sekolah.
Aku pikir aku sedang bermimpi, rasanya seperti kakiku tidak menapaki tanah. Mungkin kalau di hitung ada lebih dari 40 siswi yang kesurupan. Pemandangannya sungguh mencekam layaknya film-film horor di televisi, namun biasanya film horor bernuansa gelap atau remang-remang, tapi ini terjadi siang bolong dan ketika matahari begitu terik.
Dari luar sekolah kulihat ada banyak siswi yang tergeletak di halaman rumput yang sangat hijau dan luas dengan teman yang lain memegangi siswi yang tergeletak agar ia tidak meronta-ronta dan lari.
Ada juga ketika siswi yang kesurupan menendang siswi yang lain yang sedang memeganginya lalu siswi yang di tendang jatuh pingsan dan alhasil ikut kesurupan.
Rasanya aku tidak dapat mempercayai ini, ku pikir adegan seperti ini hanya ada di film-film horor semata.
Aku terus komat kamit membaca ayat kursi dan ayat-ayat pendek yang aku hafal.
"Anak-anak yang di luar masuk ke kelas sekarang," terdengar suara dari ruang guru yang di keraskan dengan microfon.
Aku dan Risa masuk ke kelas.
Dari jendela kelas kami mengintip suasana di halaman bagian dalam, lalu Zul keponakan ku datang.
"Jangan di liatin! duduk aja di sana, kalo liat suka nular," ucap Zul dari luar jendela, kemudian dia pergi.
Aku duduk menuruti perkataan Zul dan tak mau melihat lagi.
Benar juga kata Zul.
Kami menunggu di kelas an pikiran masing-masing dan mulut yang terus komat kamit.
Ada apa dengan sekolah ini?
Kenapa begitu seram?
Apa yang sebenarnya terjadi ya Allah?
Mungkin di balik ini ada kisahnya dulu, mana mungkin tiba-tiba aja seperti ini.
Mungkin sekolah ini dulunya kuburan?
Atau mungkin tempat p*********n zaman belanda?
Pikiran ku terus melayang mencoba mencerna kenapa bisa seperti ini?
Setelah hampir dua jam dalam suasana sangat mencekam bagiku, kami di izinkan pulang. Dan hari ini tidak ada kegiatan, hanya teman-teman yang lain sibuk mengurusi temannya yang kesurupan.
Tidak ada satupun murid laki-laki yang kesurupan, itu juga menjadi pertanyaan bagiku.
Mungkin Jinnya suka sama perempuan saja, atau mungkin Jinnya laki-laki yang hanya mau menggoda perempuan. Entahlah.
Hatiku rasanya plong ketika pengumuman di perbolehkan pulang. Ku lihat Zul sudah duduk di parkiran menunggukku.
Kami bergegas pulang dengan motor Jupiter MX milik Zul yang lagi trend dimasanya.
#
Jam menunjukkan pukul 06.30, aku sudah siap berangkat ke sekolah, hanya menunggu jemputan dari Zul yang aku yakin bakalan lama. Karna biasanya selalu kesiangan.
Aku duduk sembari memainkan ponsel Nokia jadul yang tebelnya dua jari, yang kalo di lempar ke anjing, anjingnya bakalan mati.
Tidak ada permainan yang lebih menarik selain Snack Zenzia, mainan ular kalo nabrak diri sendiri baru mati.
Akhirnya setelah lebih dari satu jam Zul pun menampakkan batang hidungnya.
Yang bikin aku kesal adalah wajah nya itu loh, wajah tanpa dosa banget. Cengangas-cengenges sesuka dia.
Aku yakin sekarang mulutku sudah maju 5 cm.
Jarak tempuh ke sekolah sekitar 13 km, dan kadang Zul bisa tempuh dangan waktu kurang dari 15 menit, dengan jalan yang amburadul dan lobang di mana-mana.
Oh, jantung ku rasanya mau copot.
Sekarang sudah jam 07.45 itu artinya dari rumah saja sudah telat, sebab sekolahnya masuk jam 07.30.
Dan benar belum jam 08 pagi kami sudah di sekolah, dengan jilbabku yang berantakan. Hedehh.
"Zul, Zu, tiap hari aja begini," ucapku memelas.
"Wkwkwk."
Begitulah jawaban Zul ketika aku marah-marah padanya, dia hanya tertawa terbahak-bahak.
Sekolah ini penjagaannya tidak ketak, kami langsung masuk kelas dan untungnya aku lebih dulu masuk kelas ketimbang gurunya.
Uhhhhh lega, setidaknya hari ini bebas dari hukuman.
"Woy telat lagi, telat lagi,telat teros," suara Risa membuatku terkejut.
"Ahh, diem ajalah, Lu ngoceh gwa tambah kesel tau," ucapku manyun.
"Bruk," Asep menyenggol buku yang di pegang Risa dan terjatuh.
"Minta di hajar lu," bentak Risa.
"Ya maaf, kan ngak sengaja."
"Ngak sengaja lu bilang, makanya mata itu taro' di kepala bukan di dengkul," ucap Risa tambah berapi.
"Eh kok lu nyolot sih, lagian di bilang ngak sengaja juga," Aseppun mulai ngotot.
Aku hanya jadi penonton dengan dagu yang sudah di papah dua telapak tanganku.
"Alasan lu, lu sengaja kan cari masalah sama gwa," timpal Risa.
"PD amat sih lu, lagian ya lu jadi orang cerewet amat. Gwa sumpahin lu perawan tua," ucap Asep dengan menunjuk wajah Risa.
"Bodo' amat, pergi lu sono!" ucap Risa dengan mengibas-ngibaskan tangannya mengisyaratkan menyuruh pergi.
"Gwa juga ogah deket-deket lu," Asep berbicara sambil berjalan menuju mejanya.
"Udah?" tanya ku
"Ih.. ngeselin ya dia," Risa malah menggerutu.
"Sadar ngak, Ibuk gurunya udah di depan," ucapku menunjuk ke depan.
Risa menganga, ekspresi kakagetnya sudah seperti di sinetron damban emak-emak.
Syukurlah ibuknya tidak suka marah-marah, ia hanya tersenyum saja melihat kelakuan Risa tadi.
"Bersiap!" Ketua kelas memberi aba-aba.
"Beri salam!" lanjutnya.
"Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh," ucap kami serentak.
Ibu guru menjawab salam dan kami duduk lalu memulai pelajaran.
#
Aku dan Risa duduk di bawah pohon kayu Akasia, yang katanya bisa di bikin jadi kertas.
Sekarang jam istirahat sekolah.
Kebanyakan di sekolah kami adalah pohon Akasia, sepertinya tumbuh alami di halaman bagian dalam sekolah.
Pemandangan di sini cukup indah.
Di belakang sekolah seperti ada lembah yang dulunya mereka bilang di situ ada sebuah sumur tapi sudah di timbun.
Di halaman bagian depan sekolah di isi dengan tanaman sawit berjejer di sisi pagar sekolah.
Halamannya cukup luas, sehingga siswa sering menggunakannya untuk main sepak bola ketika jam istirahat.
Halaman dalam sekolah lebih luas lagi, sebagian sudah di jadikan lapangan volly ball.
Di sini sangat indah dengan hamparan rumput hijau dan angin yang memang selalu terasa sejuk.
"Risa," aku memecah diam di antara kami berdua.
"Hemmm..." jawab Risa sembari menggores- gores tanah di bawah pohon.
"Sudah berapa lama murid sekolah ini sering kesurupan?" tanyaku dengan serius karna penasaran.
"Aku sih kurang tahu, ada yang bilang sejak satu tahun yang lalu. Jadi anak SMP dan SMA di sini bergabung buat kemah gitu, dari situlah awalnya," Risa menerangkan dengan memainkan tangan seolah sedang persentase di depan kelas.
"Oh... aku pikir dari awal sekolah di buat," jawabku dengan manganggut-anggut.
"Ngak juga, dulu di sini aman katanya," timpal Risa
"Kok bisa gitu, pasti tuh ada kesalahan yang mereka buat," ucapku dengan pandangan menghadap hamparan rumput hijau.
"Iya, katanya ada siswa yang kencing sembarangan, lalu ngak lama banyak siswi yang kesurupan, kemah pun ngak selesai dan mereka pulang tengah malem, katanya sih... gwa kuarang paham za," terang Risa.
"Oh,.. ngak ada kisah lain gitu, misal di sini banyak jin karna bekas tanah kuburan atau tempat p*********n gitu?"
ucapku manatap risa dengan menaikan kedua alis menanti jawaban yang pas.
"Ngak juga, aku dengar dari penduduk lokal di sini dulunya tanah ini tempat kalangan (pasar 1 hari dalam seminggu)," jawab Risa.
"Ngak ada yang aneh donk berarti?" ucapku yang memandang serius ke wajah Risa.
"Iya... tapi katanya juga dulu ada pembunuhan disini dan mayatnya di buang di sumur yang sudah di timbun sekarang dan karna itu pasarnya pindah."
Risa bebicara dengan santai, seolah yang dia bicarakan barusan hanyalah sebuah dongeng.
"Ah masak?" ekspresiku malah sangat terkejut.
"Kan udah gwa bilang katanya, ngak boleh percaya jugalah.Ya udalah, ngak usah ngebahas yang begituan," ucap Risa malas.
Aku hanya terdiam mencerna omongan Risa barusan.
"Aaaa..."
Terdengar teriakan dari kakak kelas XII
dan tak lama kemudian mereka memboyong siswi yang sepertinya pingsan ke ruang guru.
Kami mengamati dari kejauhan.
"Kita harus terbiasa dengan pemandangan yang seperti ini setiap harinya Mouza," ucap Risa dengan memandangi rombongan siswi yang menuju ke ruang guru.
Aku hanya terdiam, dalam hati aku membaca ayat kursi.
"Kenapa yang kesurupan selalu perempuan?" tanyaku.
"Karna kebanyakan perempuan lemah sima," jawab Risa.
Aku mengerutkan dahi mendengar jawaban Risa
"Sima? apaan itu, jenis asma?" tanya ku heran karna baru pertama kali mendengar.
"Haha," Risa terkekeh
"Entahlah, sima itu apa, yang jelas orang-orang di sini nyebut nya gitu. Mungkin sejenis daya tahan tubuh," papar Risa yang memandangku masih dengan sisa tawanya.
"Kalo b*****g gimana tuh?" tanyaku dengan cengengesan.
"Wkwkwk," tawa Risa keras
"Ada lo kemaren yang gaya nya kayak b*****g gitu, kesurupan juga. Lu ngak tau apa?" ucap Risa seperti berbisik namun keras.
"Serius?" tanyaku kaget.
seingat ku. aku tidak pernah melihat ada laki-laki ke peremuanan di sekolah ini.
"Serius, dia anak kelas dua, nanti deh aku tunjukin orangnya."
"Yaudah ngak penting juga," jawabku tak ingin tahu.