Gadis Berkerudung

1228 Kata
Aku memandang keluar dari jendela kamarku. Ku dengar di luar kamar ada banyak gadis berceloteh ria, dengan guyonan ala mereka. Gadis itu teman-teman nya kak adi, kakak bujangku. Mereka sedang membuat rujak jambu air. Aku enggan keluar karna kurang kenal dengan mereka. Di depan rumah tetangga ku, aku lihat ada gadis berkerudung hitam panjang, sedang mengobrol dengan tetanggaku. Seingat ku, tetangga ku ini baru pindah ke sini atau aku yang baru tahu. Karna waktu SMP aku di kota. Dan aku baru ingat, tetangga ku ini baru menikah lagi setelah istrinya meninggal. Ku amati gadis itu dan aku baru ngeh. "Oh... dia yang waktu itu sama-sama di hukum denganku, iya deh kayaknya," celotehku sendiri. Wajah nya sangat mirip dengan istri barunya Pak Arif. "Kayaknya dia adiknya deh, eh tapi... siapa ya namanya dulu, aku lupa." # Aku duduk di atas meja di samping jendela kelas, sedang memandang keluar. Jam kosong memang di nanti semua murid. Sementara anak-anak yang lain sibuk dengan keributan mereka. Sangat amburadul pikirku. Ada ya main silat dengan sapu dan pel. Ada yang main gendang di meja dan temannya bernyanyi sembari memegang sapu yang dikhayalan mereka itu adalah gitar. Anak-anak perempuan sibuk mengobrol, cekakak cekikikan. Sementara ku lihat di luar kelas bagian belakang, gadis berkerudung itu lagi. Tadinya dia duduk, lalu ada cowok ngedeketin dia. Tidak lama gadis itu berdiri dan marah-marah dan kemudian cowok itu di dorong hingga terjerembab ke semak-semak. "Wkwkwk," aku terkekeh sendiri. Aku lihat gadis itu juga tertawa terbahak-bahak. Cowok itu bangkit kemudian pergi dengan wajah tidak suka nya. Sementara gadis berkerudung itu masih tertawa terpingkal-pingkal. "Tett... tett... tett," bel pulang di bunyikkan, entah para guru punya urusan apa, hari ini kami pulang cepat. Kami memasukkan buku ke dalam tas. Aku keluar kelas bareng Risa. "Dadah mouza sayang, duluan ya," ucap Risa dengan melambai-lambaikan tangan di atas motor. "Dah,.." aku membalas melambaikan tangan. Pikirku Risa ini kadang sungguh terlihat manis. Aku beretemu gadis berkerudung itu lagi, dia tersenyum. Aku membalas senyumnya. Aku pikir aku ingin mengobrol dengannya,tapi tidak sekarang. "Duluan ya," dia tersenyum menyapaku sambil naik motor temannya. Tak lama zul sudah di depanku dengan motornya, akupun langsung naik. "Zul, gadis yang di depan kita itu siapa namanya?" "Oh itu, namanya Salsabila," Zul menjawab dengan terua mengendarai motor. "Kok kamu tau sih, sering ngamatin ya," tanyaku penasaran. "Ya tau aja, kan tiap hari pulang searah masak ngak tahu sih. Yang ngebonceng namanya Eja, aku sering main ke desa mereka. Temenku banyak yang sedesa dengan mereka, jadi pasti tahu lah," Zul menjelaskan panjang mungkin tak ingin aku salah paham. "Oh gitu, aku pikir kamu kagum sama dia," jawabku cengengesan "Wkwk. ya ngak lah." # "Aku Herry," cowok yang menurut anak sekolahan ganteng itu mengulurkan tangannya di depan ku. "Mouza," jawabku dengan senyuman, tapi aku tidak menjabat tangannya. Dia menarik tangannya kembali, kemudian tertawa. "Kamu ada kerjaan?"tanya Herry. "Ngak ada, lagi santai aja," jawabku. "Kantin yuk, aku yang traktir deh," ajaknya. "Mmmm... boleh," nadaku santai. Mungkin hampir keseluruhan anak-anak di kelas sedang memandangku. Entah, apa yang mereka pikirkan. Sebenarnya aku sudah tahu namanya Herry, sebab dia cukup terkenal sebagai playboy di daerah kampung ini. Ketika masa orientasi dia selalu curi - curi pandang, dia selalu kepergok oleh ku sedang mamandangiku. Entah apa yang sebenarnya ia inginkan. Mungkin akulah target berikutnya. Kami berjalan menuju ke kantin yang letaknya ada di depan. "Kamu imut, kayaknya kamu orangnya asik deh," Herry mulai menggombal. Aku hanya tersenyum. Dan tersenyum juga dengan orang-orang di sekitarku yang menatapku dengan berbagai eksppresi. "Yah, depan orang aja tuh pakek kerudung, nanti pas ngak ada orang semuanya di buka," celetuk kakak kelas perempuan yang aku tidak tahu namanya. "Wkwkwk," teman-temannya terbahak, aku tersenyum dengan mengerutkan kening.Ya elah, kayaknya deket sama ni orang bakalan di kenal satu sekolahan. Harry malah tersenyum geli menghadapi kakak-kakak kelas itu. Sepertinya herry mengenalnya. Yah, mereka memang sedaerah dan aku jauh, wajar saja. aku tidak ambil pusing, toh aku tahu jelas siapa diriku. kami berlalu, melewati sekumpulan siswi yang berbisik-bisik sambil melirik kami. "Mau pesen apa?" tanya Herry setelah berada di kantin. "Model ajalah," jawabku. Model adalah makanan khas palembang yang terbuat dari ikan, seperti mpek-mpek tapi kuahnya beda. Makanan ini paling di minati daerah kami, umumnya bagi para wanita yang doyan kuah. "Minumnya?" lanjut Herry "Es teh manis deh," jawabku sambil melihat Ibu kantin. Kami pun makan di selingi obrolan rayuan gombal Herry yang ku yakin sudah di ucapkannya dengan banyak wanita. "Kamu udah punya pacar?" Herry mulai masuk ke tujuannya. "Aku belum pernah pacaran sih seingat ku," jawabku santai sambil memakan makananku tanpa gengsi. "Haha. Hadi kalau pernah, bisa lupa ya?" Herry tertawa dan memang manis. "Mungkin, kurang tau kan ngak ngalamin," aku masih santai makan dengan sesekali menghirup es teh manisku. "Kalau aku nawarin diri buat jadi pacar kamu gimana?" ucap Herry dengan menampilkan senyum termanisnya "Mmm, butuh seleksi dulu," aku membalas senyumnya. "Haha. kayak mau masuk sekolah bola aja," Herry berbicara dengan mengaduk-aduk minumannya. "Sekolah bola hampir sama kayak kehidupanku yang kadang seperti kompetisi dalam sebuah permainan," aku bercanda dengan nada santai. "Hehe. ternyata kamu datar namun humoris juga ya," Herry mengambil gorengan dan baru mulai makan. "Humor ku turun temurun dari Ibu, bapak, kemudianmendarah daging," ucapku ngelantur. "Bararti deket sama kamu seru ya. Bisa ketawa terus," Herry berbicara dengan mengunyah gorengannya. "Mmm. bisa jadi." Eett dah, dia pikir aku sepolos itu apa, pikirku. Selesai makan herry pun mengantarku ke kelas dengan tatapan siswi-siswi lain seperti tadi. "Udah deh dek, ngaku aja kalo lu udah ngak suci?" ucap kakak kelas yang tadi dan ternyata masih di tempat yang sama. "Wkwkwk," tawa kakak-kakak kelas itu pecah. Herry ku lihat senyum-senyum santai seolah-olah dia sudah berhasil menaklukan dunia. Aku tertawa kecil. Kalian tahu apa? benakku. # "Gimana udah ada target belum?" Kak Adi bertanya, di selingi minum kopi dan menghisap rokoknya. Kami duduk di sopa ruang tamu. "Udah donk kak," jawabku santai dengan mengetis sms ke Risa. "Udah di prospek?" tambah kak Adi "Belum, hehe," aku cengengesan dengan sesekali tetap memandangi handphone. "Okeh. Rabu udah harus di prospek ya. nanti pas pertemuan kita sharing bareng temen-temen yang lain," perintah Kak Adi "Okeh," jawabku dengan masih mengirim SMS, karna SMS gratis yang kelewat banyak. "Kenapa dia kamu jadiin target?" tanyak Kak Adi yang masih menghisap rokoknya. "Dia punya motor, motornya vixion lagi. Itu artinya dia anak orang berada, di sekolah cuma dia pake' motor vixion," ucapku mulai menatap Kak Adi "Oke lanjutkan!" Kak Adi mengedipkan matanya. Aku membalas dengan dengan cengengesan. # Aku berjalan menuju warung hendak membeli mie instan. "Hai," sapa seorang gadis berkerudung panjang. "Hai, Salsabila kan?" tanyaku "Ya, nama kamu?" tanya Salsa. "Aku mouza," jawabku dengan senyuman. "Jadi ini rumah kamu?" ia bertanya sembari menunjuk rumah panggung. berbahan kayu dengan bawahan yang sudah di beton, jadilah rumah itu seperti dua tingkatan. "Iya," kami diam sejenak. "Aku lihat kamu sering kesini?" lanjutku "Iya, jadi mbak aku itu nikah sama orang sini. Ini rumahnya," dia menunjuk rumah kayu. tanpa tiang di sebelah rumah ku. "Ohhh, karumah yuk main!" ajakku "Lain kali aja deh aku mau pulang, udah sore soalnya." Senyumnya manis, walaupun matanya setajam elang, dia cantik alami tanpa skincare. " Oh gitu, ya deh lain kali maen ke rumah ya! atau bisa donk kita janjian buat keluar bareng," ajakku sembarangan karna kami belum terlalu akrab "Oke deh. siip."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN