Tet... tet...tet..."
Begitulah bunyinya kalau ada sms masuk di ponsel Nokia jadul, hampir samalah dengan bel sekolah, biarlah ngak keren asal pemiliknya beken, hehe.
" Haiiii, ini nomor Mouza kan, aku Herry."
Aku mebaca sembari bepikir, gimana cara bales nih. orang aku ngak ada pulsa, sms gratis juga ngak ada lagi.
Akhirnya ku taruh lagi ponselnya di atas kasur dan aku berajak untuk meonton tv.
"Mouza, makan, abis itu minum obat, kamu itu kerjanya begadang aja. Bla,.. bla,.. bla."
Terdengar samar teriakan Mamak di dapur, yang kalau udah ngomong susah berhenti, nyari koma nya aja susah apalagi nyari titik nya.
"Bentar lagi Mak," jawabku
"Kring... kring...kring," suara hp ku makin keras.
Ku lihat di layar tertera nomor tak di kenal.
"Halo, assalamu'alaikum," aku menjawab panggilan
"Wa'alaikum salam, kok ngak di bales tadi?" terdengar suara cowok di seberang sana.
"Mmm..."
Aku agak linglung, lalu mengerutkan kaning, berepa detik kemudian barulah koneksi di otakku terhubung.
"Ohh...ngak ada pulsa akunya," jawabku
"Oh, ngak ada pulsa ya. Minta di isiin ngak?" tawar Herry.
"Ngak usah deh, nanti besok aku isi sendiri," tolakku.
Kami mulai mengobrol, Herry sepertinya memang playboy cap kapak. Cara merayunya bagi wanita sepertinya sungguh keren.
Aku hanya jawab seadanya,
lebih banyak bilang iya, iya dan iya.
"Eh, besok boleh kita ngobrol, kamu boleh bawa temen kok, aku pengen ngasih tahu kamu sesuatu."
Aku mulai melancarkan serangan seperti kata Kak Adi.
Ku pikir tidak efektif jika bicara tujuanku di handphone saja.
"Bisa, dimana?" Herry terdengar antusias.
"Di bawah pohon depan Perpus aja ya," jawabku
"Oke," Herry langsung menyetujui.
"Yaudah deh aku mau makan dulu, udah dulu ya," aku mulai menutup pembicaraan. Sebenarnya aku mulai jengah dengan rayuan gombalnya.
"Ya udah deh, assalamu'alaikum Mouza cantik," Herry masih saja menggombal.
"Wa'alaikum salam."
"Huek, huek," mulutku repleks setelah handphon ku matikan.
Mendengar semua omongannya membuat perutku terasa mual.
Hedeh, dasar play boy, playboy.
#
"Hari ini aku mau ke Desa kamu!" ucap Salsa yang sedang duduk di bangku depan perpustakaan.
Aku memutuskan duduk di bawah pohon depan perpustakaan yang yang bersebelahan dengan kelas Salsa.
Sementara Risa sibuk belajar di kelas, meski sedang waktunya istirahat.
Risa memang gigih, sering belajar demi menggapai cita-citanya.
Berbeda kontras denganku yang begitu malas.
"Oh ya, dalam rangka apa?" aku menjawab dengan senyum dan antusias.
"Kakak Iparku mau yasinan di rumahnya, jadi mau bantu-bantu nyiapin gitu"ucap salsa juga dengan senyuman.
"Oh... ya udah nanti aku kesana juga deh," sambungku.
Tak lama sosok Herry mendekat,
ia cengengesan menghadap ke kami berdua.
"Apa lu?" bentak Salsa
"Salsa, jangan galak-galak donk"
Herry menjawab tetap dengan cengengesannya.
"Lu berani deketin dia, gwa kasih bogem lu," Salsa berkata sambil mengepalkan tangannya di depan wajah Herry.
Aku tertawa kecil melihat kelakuan mereka berdua.
"Gwa ngak deketin Salsa, cuma temenan aja," sangkal Herry.
" Alesan lu, tuh yang kemaren-kemaren gwa liat apa namanya kalo bukan PDKT," omel Salsa.
"Yang mana?" Herry pura-pura lupa.
"Awas lu, gwa laporin tau rasa lu," ancam Salsa
"Jangan suka mengambil asumsi sendiri lah Salsa," Herry berkata dengan sok bijak.
"Asumsi apaan, awas ya lu berani deketin dia. Dia ini masi polos, kalo lu berani, lu bakalan tau akibatnya." Salsa berkata dengan serius dan terlihat berapi-api
"Jangan gitulah Salsa," Herry sok memelas.
"Udah pergi lu sono,pergi ngak!" Salsa membentak dengan melotot.
"Iya, iya.... gwa pergi" jawab Herry tetap santai dan senyum-senyum menghadap ke wajahku.
Yah... padahal ada yang mau aku omongin ke Herry, jadi kacau. Ya udahlah, lain kali aja.
"Kamu jangan percaya sama orang kayak dia," Salsa berbicara dengan ku dan hanya ku balas dengan senyuman.
"Dia itu pacaran sama sepupu aku dan sepupu aku itu bisa ngelabrak siapa aja yang pacaran sama dia. Mereka udah pacaran lama banget dan udah ngak kehitung berapa kali sepupu aku itu di selingkuhin. Tiap kali dia tahu soal selingkuhan Herry, dia selalu ngedatengin mereka satu-pesatu. Dia ngak takut kalau pun harus berantem. Kamu ngertikan Mouza, kenapa aku ngak suka kamu deket - deket sama dia. Dia itu playboy dan pembual kelas ulung," papar Salsa teramat panjang.
"Oh...gitu," jawabku sok polos.
"Dan kamu ingat Kakak kelas yang ngehina kamu waktu kamu jalan sama Herry mau ke kantin," tanya Salsa dengan wajah yang serius.
"Ya, walaupun aku ngak tahun namanya, tapi wajahnya aku inget," jawabku tetap dengan wajah polos.
"Itu namanya Bella dan dia mantannya Herry Mouza. Jadi Herry udah pacaran sama anak SMA sini waktu dia masih SMP," penjelasan Salsa terlihat menggebu -gebu.
"Wah boleh juga tu orang," cetusku datar.
"Mantannya di sekolah ini udah banyak, apalagi di SMP dulu," tambahnya.
"Kalian satu SMP?" tanya ku heran karna Salsa sepertinya tahu semua tentang Herry.
"Iya,. tapi dia masuknya pagi dan aku sore. Kami SMP di tempat yang sama tapi dia SMP resmi dan aku SMP terbukanya, jadi masuknya sore," jelas Salsa.
"Oh... gitu," aku mengangguk-anggukan kepala
"Kamu tau ngak yang suka ngebonceng aku pas pulang pergi sekolah?" Salsa bertanya sambil matanya yang seperti sedang mencari seseorang.
"Iya, tahu dari zul," jawabku melihat Salsa heran.
"Dia itu suka sama kamu," timpal Salsa.
Aku hanya mengerutkan kening.
"Ia dia suka sama kamu dari kita baru masuk sekolah. Waktu MOS dia selalu perhatiin kamu dari jauh dan suka nanya-nanya tentang kamu juga ke aku," Salsa menjelaskan dengan lebih serius.
"Massak?" ucapku kurang yakin.
Aku tak pernah mendapati gelagatnya yang menunjukkan kalau dia suka sama aku, benakku.
"Iya bener, mending sama dia kemana-mana deh."
Pernyataan Salsa barusan, mengapa aku tidak mempercayainya.
Entahlah.
"Tet.. tet...tet.."
bel masuk kelas berbunyi,
menyudahi obrolan yang aku yakin belum semuanya di tuntaskan Salsa.
Sepertinya salsa juga sudah lama memperhatikanku dan ingin bicara denganku.
"Aku masuk dulu ya sal. nanti kita ketemu di tempat kakak ipar kamu aja ya," ucapku yang langsung berdiri ketika bel di bunyikan
"Oke deh."
#
Setelah lelah mencuci piring dan menyapu di rumah aku duduk di depan TV menyeruput kopi moka yang memang memjadi kesukaan ku.
Aku menonton FTV yang enaknya dua jam langsung kelar kisahnya, tidak seperti sinetron yang butuh waktu berapa tahun baru kelar.
Aku melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul 04 sore.
"Sset dah, aku ada janji sama Salsa, kok lupa ya," aku berbicara sendiri dengan menepuk dahiku.
Aku bergegas sholat ashar terlebih dahulu, barulah menemui Salsa.
Sampai di sana aku melihat Salsa sedang mendadar telur. Telurnya tidak tanggung - tanggung, satu baskom full.
Kalau Salsa kerjakan sendiri sampe malem juga ngak bakal kelar.
Aku memimta bantuan orang-orang di sana untuk mencarikan kompor dan wajan satu lagi, agar aku bisa membantu Salsa.
"Kamu tahu ngak kenapa telur bentuk nya ngak bulat?" celetuk Salsa di sela-sela menggoreng telur.
"Emang kenapa?" jawabku
"Ya kalau bulat di kira bola tenis lah, kan bahaya kalo di mainin, pecah. Huhaaha."
Tawa Salsa pecah dengan becandanya yang memang ngak jelas.
"Emang lucu?" tanyaku yang sedang enggan tertawa.
"Ya, emang ngak lucu, tapi kamu tau ngak aku udah bosen. Kamu liat nih sekarang jam berapa?" ia menunjukkan jam di handphone nya.
"Jam 17.05 kenapa?" tanyaku.
"Dan aku udah ngedadar ni telor dari jam tiga sore tadi, dua jam begini aja ngak ada temen ngobrol tau," ucap Salsa sambil membalik dadar telor di wajan.
"Hahaha," aku hanya tertawa
"Dan... kamu tahu ngak di balik jilbab aku ini nich, ada keringet yang keluar segede jagung bangkok," canda Salsa yang semakin ngawur.
"Wkwkwk," tawaku makin pecah
"Kebetulan ayam di rumah aku tuh makan jagung, berarti ngak perlu beli, mungutin keringet kamu aja," timpalku.
"Wkwkwk."
Tawa kami berdua membuat seisi rumah terpaksa memandang kami.
"Eh kamu nginep ngak?" aku menyudahi tawa dan mencoba menetralkan rahang yang tegang karna kata - kata Salsa.
"Kayaknya iya. Besok pagi-pagi banget paling pulang akunya," jawabnya.
"Ya udah nginep tempat aku aja," tawarku dengan senyum manis.
"Boleh juga tuh," Salsa menyetujui.
"Oke, nanti pulang dari sini mandi tempat aku aja ya," ajakku
"Oke deh."
Azdan magrib kerjaan kami selsai.
kami pulang, mandi bareng. Sholat magrib,lalu kembali lagi ke tempat yasinan.
Setelah ikut beres-beres di tempat Kakak Ipar Salsa kami pulang.
Sholat isya kemudian mengobrol sejenak.
Sama seperti anak ABG lainnya. di setiap obrolan entah apa pun itu, lucu atau tidak lucu, tawa kamilah lah tidak henti-hentinya.
sebelum akhirnya terlelap.
#
"Risa, Risa liat noh, ngapain tuh orang?" aku menunjuk orang berpakaian serba hitam yang ada di depan ruang guru.
Kami dudu di meja paling depan. Dari pintu terlihat ruang guru dan juga koridor.
"Hahaha, itu dukun Mouza. Kayaknya mau ganti tumbal," ucap Risa yang baru menoleh ke arah mbah dukun.
"Ganti tumbal gimana maksudnya?" tanyaku yang tidak paham.
"Mouza jadi di tengah-tengah lapangan itu ada kepala kambing."
"What, buat apaan coba?"
"Tumbal Mouza, tumbal. Jadi katanya kalo ngak di kasih kepala kambing Jinnya mau anak sekolahan kita ini."
"Itu musyrik namanya."
"Aku kurang paham lah. Cuma ku pikir kepala kambing itu mau di tambah lagi kali. Entah lah."
Memang benar kesurupan masih terus saja terjadi di sekolah ini. setiap harinya ada saja yang kesurupan dan kami benar-benar sudah terbiasa dengan pemandangan itu.
Satu kelas sudah berjejer di pinggir jendela mengintip apa yang hendak di lakukan dukun dan kepala sekolah.
Jam ini kosong, sepertinya para guru sibuk di ruangannya.
Tak lama kemudian orang yang berpakaian serba hitam itu membuka bungkusan plastik dan kemudian menghambur-hamburkan sesuatu.
"Apa itu Risa?"
"Kayaknya garam."
Kami sudah ada di jejeran anak- anak kelas yang mengintip dari jendela.
Tak lama dukun itu berpindah ke belakang.
Jejeran kamipun berpindah ke jendela bagian belakang.
"Wkwkwk."
tawa satu kelas pecah, saat mbah dukun melempar garam dengan mulut komat kamitnya.
Adegan pun selesai.
Mbah dukun sepertinya, bergegas pulang.
Dan tak lama, siswi kelas dua sudah memboyong temannya ke ruang guru.
Itu seperti hiburan bagi anak-anak, mereka malah tertawa makin keras.
Itu tandanya dukun itu benar-benar di langkahi Jin disana, ngak ada pengaruhnya.
Tak lama raungan siswi kesurupan di ruang guru terdengar.
"Noh dengerkan?"kata winda
"Wkwkwk," kami tertawa
"Ngak guna tuh dukun," kata Anwar
"Wkwk."
"Udah ah Risa mending kita ke kantin, laper."
"Yuk, kantin enak, garem ngak enak. Haha."
Sebenarnya Risa tidak semeja denganku, dia duduk dengan Desi, tapi meja kami bersebelahan.
Awalnya aku duduk dengan Ani, tapi ani pindah karna kesal dengan sikapku yang malas. Aku sering ngak mau nulis materi yang di jelasin sama guru.
Dan sering ngajak ani ngobrol saat dia sedang fokus nulis. Hasilnya dia kesal dan pindah ke belakang sama siti.
Aku tidak ambil pusing. Karna aku juga sebenarnya jengah, dia selalu bercerita tantang pacarnya. Setiap hari, dia jalan, ngobrol, pergi ke pesta bareng pacarnya. Entah apapun ujung-unjung nya balik lagi cerita pacarnya. Bagiku kami benar-benar berbeda. Aku kurang setuju jika perempuan sering jalan sama cowoknya. Apalagi jalan-jalan jauh dari perkampungan dan pulang malem. Pergi ke pesta tengah malem dan lain sebagainya. Sungguh bagiku itu tidaklah pantas kami lakukan sebagai kaum hawa yang terhormat.
Dan bagiku perempuan selalu di lihat dari masa lalunya. Apakah dia baik atau tidak. Sedang laki-laki selalu di lihat dari masa depannya. Apakah dia sukses atau tidak. Begitulah qodrat manusia memandang.