"Mouza kita udah lebih dari sebulan sekolah dan kamu belum sekalipun piket kelas."
Seni sudah menghadangku depan kelas dengan sapu. dia marah-marah karna aku belum pernah piket kelas yang terjadwal sama dengannya, yaitu Rabu.
" Kan kamu tahu aku suka telat," jawabku santai, sambil menyingkirkan sapu di tangannya.
"Ya berhenti telat donk!" Suara Seni yang keras mendapat pantulan dari ruang kelas.
" Gini aja nih, nanti Rabu depan kamu piketnya jangan di selesein semua, di tinggal sebagian biar jadi tugas aku."
"Keburu guru masuk kelas Mouza, nanti malah aku yang di semprot"
"Lah terus gimana?" ucapku merentangkan tangan
"Ya kamu datengnya pagi Mouza."
" Ya ngak bisa Seni, aku ikut Zul dan dia selalu telat" ucapku yang mulai kuwalahan.
"Aku ngak mau tahu. Rabu depan kamu harus dateng pagi, piket kelas. Capek tau aku terus yang di andelin," Seni terus menggerutu hingga sampai ke mejanya.
"Oh My God. berani-berani nya lu nyenggol gwa. Minta di goreng lu," bentak Risa pada Anwar. begitulah Risa, setiap hari kalau ngak mau ngegoreng orang, ngerebus orang, nanti manggang orang.
Tapi belum sekalipun aku melihatnya berkelahi. Kalau Salsa ngak tanggung-tanggung, langsung nonjok.
"Siapa juga yang nyenggol elu. Kepadean amat sih lu jadi orang," ucap Anwar dengan mulut sengaja ia monyongkan.
"Lu tadi nyenggol gwa, najis tau ngak jadinya baju gwa tuh," ucap Risa mengibas-ngibaskan bajunya pakai tangan.
"Eh lu, kalo ngak bisa ketemu sama orang tinggal aja di hutan sono. Dasar cewek aneh."
"Elu yang aneh. jalan ngak pake' mata."
"Nich mata gwa dua nih," Anwar menunjuk bola matanya
"Udalah, kalian ribut mulu pusing gwa ah," aku mencoba menengahi
"Mouza cowok kayak dia nih harus di kasih pelajaran, kalo ngak kebiasan jadinya," ucap Risa mulai duduk.
"Iya, iya udah. Bapak gurunya udah mau dateng kemari. Diem,.. diem yah."
Setelah kami memberi salam pada Pak Pian. Pak Pian memulai pelajaran, dan inilah yang membosankan. materi PKN dengan penjelasan Pak Pian yang lemah lembut jadi membuat se isi kelas amburadul. ada yang mengobrol cengengesan, ada yang tidur, ada yang main handphone dan lain sebagainya. Tapi Pak Pian santai tetap menjelaskan materi sampe selesai. Sepertinya bapak ini hanya menyelesakai tugasnya saja. masa bodo' mau ngerti apa ngak.
Jam pelajaran PKN selesai aku blank. Yang di jelasin tadi apaan yak? ngak ada yang kedengeran. Padahal akunya duduk paling depan, pas di depan papan tulis nya.
Amsyong dah.
#
"Dek udah di prospek yang kemaren?" tanya Kak Adi.
"Belum kak, dia jarang dateng ke sekolah. paling dateng kayaknya sekali seminggu itupun kayaknya ngak sampe selesai sekolah udah pulang duluan."
Aku sedang berada di kamar Kak Adi.
kami berdua menonton TV yang ada di kamar Kak Adi
"Hari ini ikut pertemuan kan kamunya?"
"Iya ikut kak."
Aku sering ikut kak Adi di bisnis MLM yang di jalankannya. hitung-hitung cari pengalaman.
Herry adalah targerku untuk gabung dalam jaringan MLM kami.
Tapi Herry jarang sekali terlihat ada di sekolah.
Sesekali dia menelponku, sedikit ku jelaskan tentang bisnis kami. Tapi aku kurang leluasa jika tidak menjelaskan secara langsung.
Tapi akhir-akhir ini Herry malah tak pernah lagi terlihat di sekolah dan tak pernah lagi menelponku.
Ya sudahlah. Ku pikir lebih baik cari target lain saja, tapi siapa?
#
Pertemuan di mulai jam 07 malam, dan Zul sudah dalam jaringanku.
Kami sharing tentang kegiatan satu minggu ke belakang, tidak ada yang spesial hanya saling menyemangati satu sama lain dalam menjalankan bisnis.
Kemudian menentukan target untuk seminggu ke depan. Lalu selesai dan kami pulang ke rumah masing-masing.
Aku berpikir untuk mencoba prospek Risa dan Salsa minggu ini.
#
Jam menunjukkan pukul 06.45 aku sudah berada di sekolah.
Hari pertama aku datang lebih awal.
“Tumben lu datang jam segini,” Risa bertanya tanpa menoleh kepadaku. Ia sibuk menulis sesuatu.
“Hari ini Zul ngak sekolah dan aku kesekolah sendiri.”
“Oh,...” jawab Risa panjang.
“Lagi ngapain?” tanyaku pada Risa.
“Itu, PR MTK kemaren lagi aku benerin kayaknya salah deh yang nomor 10.”
Aku ternganga. Aku lupa dan bahkan belum mengerjakan satupun.
“Aiiiisssttt,” umpatku
“Kenapa belum di kerjain?” tanya Risa santai karna sudah terlalu paham.
“Aku lupa Risa,hehe."
“Lu bukan lupa. Emang dasarnya aja lu males,” ucap Ris Yang masih menulis.
"Nyontek yah,Yah, yah... Boleh kan,” aku menangkupkan tangan memohon.
“Ya udah tinggal tulis.”
Untung lah temanku satu ini sangat–sangat pengertian. Dia bahkan sering bertanya padaku apa aku sudah menerjakan PR atau belum dan dengan mudah nya menyodorkan bukunya untuk aku contek. Mempunyai teman sepertinya sungguh luar biasa rasanya. Walaupun dia terkenal sangar di depan teman-teman yang lain tapi dia begitu lembut di depan ku.
“Woi, jalan pakek mata. Lu nyenggol sepatu gwa nih”
Aduh Ri.sa mulai lagi, pikirku. Risa dan Andi saling menghujani kata–kata lagi. Aku enggan menanggapi mereka. Lagian mereka begitu-begitu aja, ngak mungkin berkelahi.
Setelah menulis aku meminta penjelasan dari Risa tentang jawaban pada soal–saolnya. Risa dengan sabar menjelaskan mengapa hasilnya begini, ini dari mana bisa dapet yang ini dan lain sebagainya tentang pertanyaanku yang segudang dengan soal hanya sepuluh saja.
#
“Pagi anak-anak.”
Pak Dedi sudah di kelas dan hendak memulai pelajaran.
“Seperti janji saya minggu lalu ya. Hari ini kita ada ulangan.”
“Aiiiisssttt.’
Aku langsung menutup mulutku dengan kedua tangan. Sungguh itu hanya kata yang keluar refleks karna aku lupa belajar.
“ Kenapa kamu. Ngak belajar?” tanya Pak Dedi menatapku.
Aku hanya tersenyum kecut
“Kan sudah bapak bilang minggu ini ada ulangan. Menguji seberapa banyak kalian mengusai materi yang bapak ajarkan.”
“Emang dasarnya Mouza pemalas pak,” celetuk dari teman di belakang yang entah siapa.
“Oke. Kita mulai. Buku simpan dalam laci. Kita hanya menggunakan satu lembar kertas saja,” perintah Pak Dedi.
“Soalnya tidak banyak. Cuma lima soal saja. Catet dulu soalnya yang bapak sebutkan , abis itu kalin jawab. Lalu kita koreksi bareng-bareng.”
“Ya Pak.”
Satu kelas kompak hanya aku yang tidak mengeluarkan suara. Membayangkan telor yang aka ada di kertas jawabanku nanti.
“Ah tidak,” gumamku
“Dan kamu awas kalau mencontek. Bapak awasi kamu terus.”
Pak Dedi berbicara dengan telunjuknya di depan wajahku. Dan aku tetap cengengesan walaupun dalam hatiku seperti ada gunung yang mau runtuh.
Setelah pak Dedi meberikan soal aku makin tersenyum-senyum.
“Apa kamu ketawa–tawa. Awas ya kamu nyotek,” ucap Papk Dedi mengancam.
“Risa,” aku memanggil Risa untuk menggoda Pak Dedi.
“Eh diem. Makanya belajar.”
Tangan Pak Dedi sudah berada di pundakku.
Hal itu membuat mulutku mengerucut dan sedikit mengeser kursi. Karna biar bagaimanapun bagiku Pak Dedi seorang laki-laki yang tak pantas dengan sengaja menyentuhku apalagi aku yakin statusnya masih bujangan.
Pak Dedi terus tersenyum-senyum dan mengamatiku. Aku mulai diam dan menjawab soal. Karna sejak Pak Dedi selesai memberikan soal aku sebenarnya sudah tahu jawabannya. Hanya satu soal saja yang aku tidak ingat jawabannya. Sebernya aku bukan lupa sepenuhnya kalau hari ini ada ulangan. Hanya saja materi yang di berikan Pak Dedi di papan tulis tempo hari aku tidak mencatatnya. Karna bagiku mencatat adalah hal yang membosankan. Aku ingat hanya saja tidak bisa membaca ulang di buku catatan dan aku berencana untuk membaca catatan Risa dan yang ini lah bagian yang aku lupakan. Dan beruntungnya aku tidak bodoh-bodoh amat, aku bisa mengingat yang di jelaskan Pak Dedi tempo hari, dan itulah yang di soalkan sekarang.
Aku selesai menjawab dan mengumpulkan kertasku duluan. Ku lihat pak Dedi membacanya lalu mengerutkan kening.
“Kamu ngak nyontek kan?”
Aku hanya tersenyum, karna sudah enggan menaggapi Pak Dedi.
Setelah semua jawaban sekelas di Kumpulkan kami mengoreksi bareng dengan menukar lembar kerja kami. Dan kertasku bertuliskan 80. Dari lima soal yang di berikan empat soal berhasil ku jawab dengan benar dan yang satunya salah.
"Kok bisa kamu banyak benernya?" tanya Pak Dedi padaku dengan heran.
"Ya bisa lah pak. kan bapak kasih soalnya ngak susah."
"Iya kali yak, bapak kasih soalnya kemudahan."
Ulangan berakhir dengan hasil yang tidak ku duga sebelumnya.