"Risa kantin yok!"
"Ngak mod."
"Idih emang ke kantin pake' mod, kantin itu pakek duit bukan pake' mod Risa."
"Tau ah. lagi males aja."
"Ada masalah?"
"Memang hidup gwa bermasalah, masalahnya gwa di lahirin."
"Wkwkwk."
"Ketawa dia."
"Oke. Yaudah kita kebelakang aja, curhat. Mau?"
"Lu mau curhat ke gwa, gwa yang punya masalah kok lu yang curhat?"
"Bukan gwa yang curhat Risa, tapi elu dodol."
"Gwa?" tunjuk Risa pada wajahnya.
"Kenapa dengan gwa?" timpalnya
"Obat lu abis."
Aku langsung menyeret Risa ke belakang kelas. Di belakang adalah tempat paling strategis untuk curhat, di karenakan sepi. jangan bayangkan kalau di belakang kelas adalah tempat yang sempit dan pengap, di sana sangatlah luas ada sedikit semak-semak dan ada seperti ujung dari sebuah sungai yang di sebut lembah. Hawanya sejuk dan dingin. Sekolah ini untuk pemandangan tidak lah bermasalah bagiku hanya saja untuk kedisiplinan dan prestasi saja yang kurang, di tambah lebel seramnya yang membuatnya makin terpuruk.
"Coba ngomong ada masalah apa?"
"Ngak ada duit gwa."
"Itu doang?" tanyaku heran.
"Tanya donk kenapa ngak ada duit!"
"Ya karna Bapak lu ngak ngasih lah," jawabku spontan
"Bukan gitu Mouza, tapi duit gwa tuh ilang. Gwa yakin yang nyuri adek gwa."
"Terus?"
"Masalahnya Emak gwa ngak terima adek gwa yang disalahin"
"Ya, elu sembarangan nyalahin orang"
"Ya bukan gitu, selama ini gwa tuh sering ilang duit dan emang dia tuh yang suka ngambil."
"Ya terus kenapa Emak lu ngak boleh di salahin kalo sering kebukti."
"Iyalah anak kesayangan nya mana boleh di salahin."
"Umur adek lu berapa?"
"5 tahun. Dan umur 5 tahun udah nyuri, kebiasaan nanti dia. Apalagi ngak boleh di salahin, makin ngelunjak tu anak," celoteh Risa yang khas dengan nada cepatnya.
"Baru 5 tahun?" aku terkaget.
"Iya 5 tahun. Dia itu adek dari ibu tiri aku kan, jadi dari ibu kandung aku kami tiga bersaudara, Mbak aku yang pertama udah nikah, aku sama adek tinggal sama Bapak."
"Ibu' kandung kamu di mana sekarang?"
"Itu yang aku kurang paham."
"Oh gitu."
"Jadi kalo adek aku yang bungsu itu minta uang gampang banget di kasih, coba kalo aku yang minta. Beh,... butuh naik tujuh gunung dan turun tujuh gunung dulu dah baru dah di kasih."
Tanpa aku sadar nada bicara Risa berubah jadi lebih lembut.
"Mungkin perasaan kamu aja, ya mungkin karna dia masih kecil jadi labih di turutin, kan kamu udah gede."
"Ngak gitu Mouza, emang kenyataanya begitu. Beda antara yang di sayang ama yang di buang."
"Ya udahlah sabar aja. Makanya kalo punya uang di simpen rapi-rapi biar ngak di curi."
"Mau gwa masukin dalem tanah sekalipun tetep aja ketemu, dia itu pinter banget soal yang begituan."
"Ya udah dah aku kurang paham."
"Emang kamu ngak paham."
#
Saat pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung aku melihat Kepala Sekolah sedang mengobrol dengan seseorang yang sepertinya Ustadz, sesekali mereka menunjuk ke halaman.
Nah kalo yang di undang Ustadz aku setuju. Mungkin permasahan kita bisa di bantu. Sebagai orang yang beragama mengapa kita meminta bantuan selain dari pada Allah. Padahal jelas Allah lah sang pencipta. Walaupun ilmu agamaku kurang tapi aku tahu betul bahwa dosa syirik adalah dosa yang tidak ada ampunan.
Sebuah ketentraman memang jika meminta bantuannya kepada Allah. Setelah Ustadz itu datang sudah jarang ada kesurupan. Aku tidak bilang tidak ada hanya saja jarang sekali. Mereka bilang itu hanya pindahan. Jadi ketika ada seseorang yang ingin menggunakan sebuah tanah atau membangun sesuatu pada tanahnya yang di yakini banyak Jin nya, mereka akan memindahkannya ke sekolah ini. Maka dari itulah di sini memang menumpuk.
Bagiku itu sebuah kewajaran memang.
#
"Kok barang di rak piring tinggal dikit," selidik Mamak padaku.
Lama aku terdiam, mencari alasan apa yang cocok untuk ku pakai.
"Dan Ma lihat di luar sudah numpuk pecahan baik itu piring, cangkir dan lainnya."
Buset dah mau alasan apalagi nih, ternyata Mamak udah tau.
"Kamu setiap kali cuci piring macahin barang atau gimana sih."
Memang benar setiap kali mencuci piring aku selalu memecahkan barang.
"Itu tangan kamu panas atau gimana sih. Gimana mungkin seorang gadis mecahin barang sebanyak itu."
Ya gimana ngak banyak, dalam sekali cuci piring bisa sampai dua atau tiga barang yang pecah dan hampir setiap cuci piring selalu ada yang pecah, gimana ngak numpuk pecahannya.
"Mouza, Mouza kamu itu mau jadi apa sih?"
Ini yang paling aku ngak suka dari marah-marah nya Mamak. Ujung-ujung nya pasti kata itu yang keluar. Mungkin setiap anak merasakan hal yang sama.
"Tiap nyuci piring mecahin barang, tiap mau masak selalu saja luka."
Ya begitulah, kadang belum juga masak, baru mau masak udah luka. Luka pun sudah tidak terasa perih lagi sebab terbiasanya dengan luka. Luka hatilah yang terasa berdarah dan lebih menyakitkan, hehe. Ngak pernah patah hati sih.
Emang ia patah hati itu lebih sakit dari luka nyata yang berdarah-darah?
"Kalo kerja itu di perhatikan, kamu kerja emang pikiran kamu kemana sih?"
Hal itu lah yang masih menjadi teka-teki dalam hidupku. Aku begitu penuh perhatian rasanya,
tetap saja aku mengulangi kesalahan yang sama lagi dan lagi. Rsanya pengen marah juga sama diri sendiri.
"Kamu itu kerjaan ngak ada yang bener, gimana sih?"
Itu juga menjadi misteri, apa saja yang aku pegang juga jadinya bermasalah. Contohnya numpahin minuman, tiba-tiba ngejatohin barang, ngak sengaja ketendang asbak dan lain sebagainya dengan rentetan yang tak bisa di sebutkan.
Sepertinya itu kekurang yang ikut terbawa ketika lahir, seharusnya sebelum lahir aku buang sial dulu kali yak. Haha.
Mereka menamakan itu kecerobohan
dan itu seperti penyakit yang sudah mendarah daging, yang kalo di operasi pun engan hilang.
Menyebalkan.
"kamu denger ngak kalo orang tua ngomong?"
"Ya mak."
"Percuma Mamak ngomong panjang lebar, besok-besok begini lagi kan?"
Ya selalu berusaha untuk hati-hati rasanya, tapi tetap saja. Memang berat merubah sifat bawaan lahir.
"Ya sudah Mamak ganti semua barang disini jadi plastik."
Mmm... ya itu ide bagus mak. Mak emang paling the best.
#
"Dek golden ways udah mulai."
Golden ways adalah acara yang di pandu Pak Mario Teguh yang memang lagi hits di zamannya.
"Ya Kak."
Aku bergegas mematikan tv ku yang ada di ruang tamu, berpindah ke kamar Kak Adi untuk nonton bareng.
Bapak biasanya nonton di ruang keluarga di sebelah ruang tamu dan aku di ruang tamu. Ya di rumah memang ada tiga tv tabung, kami tidak perlu berantem hanya untuk nonton tv bukan.
Setelah menonton acara ini biasanya aku dan Kak Adi sharing tentang apa yang di bicarakan Pak Mario siapa tahu ada yang kurang paham dengan perkataannya.
Aku memang dekat dengan Kak Adi. Tapi baik aku maupun Kak Adi merasa seperti orang asing denga Ayah sendiri. Entahlah, itu lah perasaan yang tercipta sedari kami masih kecil.
Terkadang aku iri melihat kedekatan anak dengan ayahnya. tapi itu dulu, tidak sekarang. Bagiku aku sudah besar, bukan lah seperti anak kecil lagi, yang haus akan kasih sayang. Lagi pula sudah ada sosok Kak Adi yang selalu ada ketika aku butuhkan, begitulah mungkin kalimat yang bisa ku gambarkan untuk Kak Adi.