Risa Prov
Aku Risa Ayudia.
Aku adalah angin rindu.
Bagiku rindu pada Ibu seperti BOM yang yang akan segera meledak.
Bagiku rindu pada Ibu seperti mencekat tenggorokan dan menyumbat pembuluh darah.
Aku adalah angin rindu.
Rinduku pada Ibu membuat ku selalu berkata “Andai, andai, andai. Ah, andaikan saja.”
Aku berharap angin menyampaikan rinduku pada ibu,
Aku tidak membenci Ayah hanya saja rindu pada Ibu ini rasanya semakin berdarah.
Aku tidak menyalahkan Ayah hanya saja luka ini terasa semakin menganga.
Mendapati ingatanku tentang malam terakhir keluarga kita bersama.
Malam yang sangat hebat yang membuatku tak bisa kembali melihat senyum Ibu.
Malam di mana Ibu pergi setelah pertengkaran hebatnya dengan Ayah.
Aku hanyalah anak kecil yang tak paham akan situasi.
Semenjak itu ibu menghilang. Dan entahlah.
Andai saja hujan kala itu bisa membawa kesedihanku,
Aku bersedia menangis di bawah hujan hingga pagi menjelang.
Tapi hujan tidaklah turun kala itu.
Aku Risa ayudia, aku adalah perindu hujan.
Aroma hujan dan desahannya akan membawa kesedihanku walaupun hanya sepersekian detik saja.
Oh hujan turunlah!
Aku hanya ingin menumpahkan segalanya tanpa ada yang tahu,
Karna di duina ini tidak ada satupun yang mengerti.
Ayah telah berubah sekarang, ayah bukan lagi ayah yang dulu, yang begitu menyayangi dan memanjakanku.
Dan Ibu, Ibu sudah tidak lagi di sini, disisi ku.
Aku akan tumbuh tanpa ibu.
Hanya saja ada orang asing yang terpaksa harus ku panggil Ibu, sebagai rasa hormatku pada Ayah.
Dan ku yakin orang asing itu juga terpaksa mengurusku karna Ayah.
Oh Tuhan seperti apakah kata orang indah pada waktunya itu.
Aku tak mendapati bahagia, meskipun hanya bayangan di sisa hidupku.
Aku hanya merasa setiap hari hatiku bagai tercabik-cabik.
Setelah sekian tahun, mengapa masih sulit bagi ku menerima.
Tuhan aku hanya ingin bahagia, apa permintaanku ini sulit untuk di kabulkan?
#
“Tet.. tet,..."
Bel masuk sudah berbunyi. Dan seperti biasa Mouza belum ada di kelas. Anak itu selalu saja telat.
Tidak lama Mouza masuk dengan ngos-ngosan.
Tawanya yang khas dengan dua gigi kelinci yang besar namun tetap menarik selalu menghiasi wajahnya. Dia ceria dan humoris menambah daya tarik tersendiri bagiku.
“Bisa ngak sehari ngak telat?”
“Udah kebiasaan.” jawabnya ringan.
“Telat kok dibiasakan.”
Mouza sibuk membuka buku pelajaran. Seperti biasa dia belum mengerjakan PR dan mau mencontek. Lihat saja sebentar lagi juga bia bakalan kemari dan nanya PR. Beruntung PR nya di jam pelajaran terakhir, kalau saja jam pertama ngak bakal keburu pasti.
“Kamu udah ngerjain PR?”
Seperti dugaanku.
“Mmm,” jawabku singkat
Mouza.. Mouza mau jadi apa dia. Kalo ngak lupa ngerjain PR, lupa belajar pas mau ujian harian, Telat, ngak pernah piket kelas, sampai beberapa kali di semprot Seni karna ngak pernah piket. Begitulah segudang kelakuaannya, dan tempo hari ampun dia cengengesan menadahkan tangan mendapat hukuman dari wali kelas karna kabur dari sekolah pas guru rapat, dan mistar besar itu mendarat di tanganya yang mulus, dia masih saja cengengesan hingga wali kelas menimpal dengan cubitan pada bagian perutnya. Bener-bener dia tuh. Dan aku, tetap saja masih tertarik untuk dekat dengannya. Entah hal apa yang bisa di kerjakan olehnya dengan benar.
“Sini buku kamu.”
Tu kan dengan gampangnya dia mengambil buku ku dari tas dan membawanya ke mejanya. Sepertinya hidupnya memang ngak punya beban, semua di entengkan. Emang dasar nya dia males mikir. Tapi kok di mataku dia malah terlihat anggun. Padahal anggun dari mananya coba. Nada bicaranya memang lemah lembut. Tapi kelakuannya itu loh.
“Mouza senin depan kita ujian.”
“Aku tahu.”
“Iya. Makanya belajar.”
“Iya dong masak ngak belajar,” jawabnya enteng, selalu saja dia begitu. Pas hari ujian dia bakalan bilang kalau dia lupa belajar. Begitulah kebiasaanya, yang aku sudah bisa menebaknya.
#
Tibalah ujian semester pertama sekolah. Seperti dugaanku Mouza tidak belajar. Semalam ngapain aja dia semalaman.
Tapi yang berubah adalah ketika ujian dia bisa datang pagi dan sepertinya dia belajar di pagi harinya.
Jam pertama Bahasa Indonesia, Menurutku tidak ada yang sulit dan aku telah menyelesaikannya.
Setelah istirahat kami akan memasuki kelas dan jam berikutnya adalah Matematika.
Gawat pikirku, kalau tidak ada kalkulator akan lama bagiku mengerjakan soal, dengan waktu yang terbatas bisa-bisa tidak belum selesai jamnya sudah habis.
Aku punya handphone untuk ku jadikan kalkulator namun sayangnya SIM cardnya tidak ada. Kemarin SIM card ku habis masa tenggang dan telah ku buang. Namun pada kenyataannya aku lupa membeli yang baru.
Segera aku bergegas ke ruangan Mouza untuk meminjam ponselnya.
“Mouza pinjem HP dong!”
“Aku ngak bawa, lagian ujian mana ada bawa HP.”
“Aku mau pakek buat kalkulator, HP ku ngak ada SIM cardnya jadi ngak bisa di buka.”
Handphone nokia jadul memang tidak bisa di buka ketika tidak ada SIM card. Jangan kan di buka dihidupkan saja tidak bisa, layarnya hanya akan berwarna putih saja.
“Yah mau gimana akunya ngak bawa HP.”
“Deni kamu punya dua SIM card ngak?”
Aku beralih pada ketua kelas yang berada di samping Mouza.
Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu, apa yang mereka bicarakan. Mengapa mereka berdiri di depan kelas.
Deni hanya tersenyum menanggapi pertanyaanku.
“Ada sih,...” jawaban Deni terdengar ragu-ragu.
“Kalo gitu pinjem dong, yah, yah,” aku memohon pada Deni dengan menagkupkan tangan di depan.
“Tapi,...” ia tetap ragu
“Ayolah Deni aku butuh.”
“Ya udah deh," dengan tetap ragu Deni akhirnya memberikan SIM cardnya padaku.
Tapi Mouza menatapku dengan tatapan aneh, apa dia cemburu.
Aku masuk keruanganku sambil memasang SIM card lalu menghidupkan handphone.
Tiba-tiba saja Mouza sudah menarik handphone di tangan ku.
“Pinjem bentar!”
“Apa sih Mouza, ngagetin aja.”
Dia melihat dengan serius pada layar handphone ku, akupun penasaran. Mouza membaca satu per satu SMS di handphoneku yang ku yakin itu SMS bawaan dari SIM cardnya Deni.
Ku coba melirik dan ternyata itu SMS dari pacarnya Deni dan aku paham betul dengan pacarnya Deni.
“Ohh… Jadi gitu.”
Mouza tersenyum-senyum seolah telah menemukan gunung emas yang tersembunyi.
“Kenapa?”
“Tau ngak dua minggu lalu aku jadian sama Deni. Dan waktu itu dia bilang kalau dia udah putus sama Tiana.”
“Dan kamu percaya?”
“Percaya-percaya aja, orang aku ngak tahu. Tiana aja aku ngak tahu orangnya.”
“Terus gimana?”
“Mau ku putusin lah, enak aja dia jadiin aku selingkuhan.”
“Wkwkwk.”
Ketinggalan info banget akunya, sampe Mouza jadian sama Deni aku ngak tahu. Pantes sikap Mouza agak aneh beberapa hari ini.
“Sebenarmya aku memang udah mau putus, dan mau cari alasan yang tepat aja dulu. And then makasih kamu tanpa sengaja bantuin aku.”
“Idih,...”
“Iya. Ternyata pas udah pacaran tiba-tiba aja bosen.”
“Wkwkwk.”
Udah ketebak orang kayak Mouza pacaran, pasti ngak bakalan lama udah bosen. Secara aku tahu betul wataknya kayak apa.
#
Mouza Prov
“Kita temenan aja yah.”
Ucapan itu yang selama ini tercekat di tenggorokanku, sudah lama rasanya ingin ku ucapkan. Deni menembakku dengan selembar kertas dua minggu lalu, dan aku langsung menjawab “IYA” pada kertas yang ia tulis. Aku pikir aku menyukainya, ternyata aku salah. Nyatanya ketika sudah jadian aku baru berpikir lebih baik untuk menjadi teman saja.
Deni tersenyum, terdiam sejenak.
“Udah ku duga kamu pasti udah baca.”
“Ternyata wajah kamu aja yang terlihat polos, soal bohong kamu jago juga ya," aku berbicara dengan cengengesan.
Tapi ku yakin itu sangat menusuk di hatinya. Kenyataan sungguh terbalik, seharusnya aku yang merasa tersakiti disini. Tapi nyatanya dia yang serpertinya sangat terluka, apa Cuma felling aku saja.
Deni melebarkan senyumnya. Berbeda dari senyum biasanya, senyumnya kali ini sungguh tidak enak untuk di pandang.
“Ya udah, makanya jangan suka bohong. Kan kalau ketahuan jadinya ngak enak sendiri. Aku keluar ya!”
Aku keluar ruangan, meninggalkan Deni yang sedari tadi mematung di depan. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi semenjak itu aku tahu dia menjauhi aku. Entah karna tak enak atau ada hal lainnya.
Sikapnya yang menghindar dari ku membuat aku merasa sedikit tak enak. Karna sebelumnya kami berteman dan bersikap biasa saja. Jadi setelah kejadian seperti ini dan dia menjauh menurutku tidak sewajarnya saja.