Bianka membuka lemari baju memindai satu persatu isinya, buru-buru mencari baju yang akan ia kenakan sebelum Satria keluar dari kamar mandi.
''s**t! Apa-apaan ini? Astaga,'' decak Bianka kesal dengan berkacak pinggang saat melihat isi lemari tak ada satu pun baju yang layak ia kenakan, semua berisi lingerie yang transparan dan kurang bahan. Bianka hanya bisa mengembuskan napas kasar, kecewa pada keadaan yang tak berpihak padanya. ''Kalau pakai baju gini nanti dikira mau menggoda Satria lagi. Ngapain amat goda dia, gak penting. Tapi kalau aku tetap pakai bathrobe bisa masuk angin. Duh ... aku pakai baju apa dong?'' ucap Bianka bermonolog sambil menatap baju-baju yang berantakan akibat ulahnya.
Seseorang tolong aku yang bener aja, masa pakai baju kaya gini. Papa .... benar-benar deh bikin sengsara anaknya.
Akhirnya setelah menimbang beberapa saat Bianka memutuskan untuk tetap memakai lingerie itu, dari pada masuk angin. Terserah Satria mau berpikir apa tentangnya, ia tak peduli. Akhirnya lingerie berwarna hitam dengan model babydoll dan G-String yang ia pilih, berbentuk tali tipis seperti mie sebagai penyangga bahu dengan leher berbelahan rendah membentuk V nyaris menampakkan bagian dadanya yang terekspos sempurna. Hanya baju itu yang sedikit layak untuk dikenakan. Sedangkan lingerie lainnya semua transparan menampakkan setiap inci lekuk tubuhnya.
What the hell!
Bianka memutuskan untuk segera tidur. menutupi tubuhnya dengan selimut hingga d**a agar Satria tidak berpikir macam-macam tentangnya. Baru saja mencoba memejamkan mata ia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, ya siapa lagi orang itu kalau bukan Satria. Bianka mengetatkan selimut memegang kuat-kuat
Baru saja memejamkan mata sejenak ia merasa ada seseorang naik ke ranjang yang kini sedang ia tiduri. Tentu saja Bianka tau siapa orang itu yang bisa dilakukan hanya mengigit bawah bibir dan mencengkeram kuat menutupi tubuhnya rapat-rapat. Jangan sampai Satria melihat penampilannya yang menurutnya jauh dari kata layak, bisa-bisa dikira sedang menggoda.
Baru kali ini Bianka satu kamar dengan pria asing, ia pun memutuskan untuk mengabaikan Satria. Mata Bianka terbuka lebar saat Satria mencoba menarik selimut yang ia pakai, cuaca di Bandung cukup dingin memang jadi butuh sesuatu untuk menghangatkan tubuh, kalau gak mau mati kedinginan dan kebetulan pihak hotel hanya menyedihkan satu selimut.
''Kamu mau ngapain?'' tanya Bianka dengan tangan mencengkeram kuat selimut menatap tajam pada Satria, ia tidak ingin berbagi selimut dengan Satria atau siapapun. Biar saja Satria kedinginan toh bukan urusannya.
''Tidurlah mau apalagi,'' jawab Satria santai.
''Enak aja tidur di sini! Kamu tidur di sofa, aku gak mau satu ranjang sama kamu!''
''Gak mau, ya gak masalah. Tapi kamu aja yang pindah. Aku maunya di sini kalau kamu keberatan kamu aja yang tidur di sofa. Simpel kan,'' tegas Satria tak mau mengalah.
''Ngalah dong sama cewek.''
''Kamu cewek? Aku pikir papan penggilesan.''
''Satria!'' pekik Bianka hingga pupil matanya melebar menahan geram. ''Apa kamu bilang? Papa penggilesan? Heh ... enak aja ngatain orang sembarangan kamu tuh, ya ....'' Bianka nyaris saja memukul Satria, seketika ia tersadar dengan kondisi penampilannya lalu mengeratkan kembali selimut hingga menutupi dadaa. Hanya decakan yang keluar dari bibir sambil mengucapkan sumpah serapah.
Setelah dia cium bibirku tadi, terus nanti ... no. Bianka menggeleng kuat ia tak sanggup membayangkan malam pertama dengan orang yang tidak disuka, tanpa cinta mana enak. David aja dia tolak, apalagi Satria jangan harap bisa menyentuhnya.
''Oke, kamu boleh tidur di sini. Awas aja kalau macam-macam aku tendang kamu!'' tegas Bianka.
''Siapa juga yang mau macem-macem sama kamu. Napsu aja enggak. Dasar daada rata, organ tubuh belum tumbuh sempurna aja bangga. Udahlah, aku mau tidur ngantuk, capek. Jangan berisik,'' ujar Satria memunggungi Bianka.
Bianka yang mendengar ucapan Satria pun tak terima, seketika darahnya terasa mendidih ia sangat terhina dengan kata-kata itu enak aja ngatain dadanya rata. Apa kabar punya dia? Dengan sengaja Bianka menendang tubuh Satria sekuat tenaga hingga terjatuh terjungkal ke lantai.
''s**t! Sakit, Bi,'' ringis Satria mencoba berdiri setelah pantatnya mencium lantai marmer bahkan pinggangnya kini terasa pegal seperti encok.
''Syukurin, enak aja ngatain daada rata, kaya punya kamu besar aja. Kalau perlu aku kirim kamu ke neraka sekarang juga sekalian!'' sungut Bianka tak terima dengan berkacak pinggang hingga tanpa sadar selimut yang ia pegang merosot menampakkan bentuk tubuhnya.
''Kalau gak percaya ayo kita buktikan dengan senang hati. kalau punyaku panjang, besar, kuat dan tahan lama. Kebetulan suasana mendukung, come on baby,'' ucap Satria dengan bibir menyeringai.
''In your dream.''
''Sepertinya kamu yang udah gak sabar diunboxing?''
''Ngarep.''
''Ngarep dari mana cara penampilan kamu sudah menjelaskan semua, Bi.''
Seketika Bianka tersadar jika selimut yang ia gunakan kini merosot, buru-buru meraih kembali selimut itu untuk menutupi tubuhnya.
''Percuma di tutupi juga, aku dah lihat semua.''
''Ahgt! Bang Sat ... sumpah, ya kamu manusia menyebalkan yang pernah aku temui.'' Satria hanya tersenyum menyeringai seperti orang tanpa dosa dan sukses membuat Bianka makin naik darah dibuatnya.
Kesal.
Bianka melempar seluruh barang-barang ke arah Satria dari bantal, guling, semua yang ada di dekatnya ia lempar termasuk selimut yang ia kenakan untuk menutupi tubuhnya dilempar juga. Demi meluapkan rasa kesalnya.
Mata Satria tak berkedip menatap tubuh Bianka lingerie yang ia gunakan tersingkap memperlihatkan beberapa area sensitif yang tidak tertutup sempurna. Semua tercetak jelas di balik kain tipis itu, hingga susah payah menelan saliva belum dua puluh empat jam ia harus melihat bentuk tubuh Bianka yang terlihat menggoda. Please man Satria pria normal. Sial! Sudut bibir tertarik ke atas tersenyum miring. Ia berderap ke arah ranjang dengan gerak selmotion, penuh hati-hati dan intimidasi.
''Ka-mu ma-u ngapain?'' ucap Bianka terbata saat Satria mengikis jarak.
''Menurut kamu ngapain?'' jawab Satria dengan menaik turunkan alis tebalnya.
''Awas aja kalau sampai macam-macam kamu akan tau akibatnya!'' ancam Bianka berusaha menutupi rasa gugupnya, perlahan beringsut turun dari ranjang bergerak mundur, ia takut Satria bertindak aneh-aneh mencoba mengambil apa yang menjadi haknya. Sungguh ia tidak rela.
''Aku gak akan macam-macam kok, cukup satu macam aja.'' Seringai di wajah Satria semakin lebar saat menatap Bianka yang terlihat pucat dan ketakutan bahkan kini tubuhnya membentur tembok tak ada celah untuk bisa kabur dari kungkungannya. ''Wow sexy. Niat banget mau godaain, aku?''
''Sorry, godaain kamu? Ngapain amat.''
''Pakai bohong lagi, terus ngapain pakai baju kaya gini kalau ga godain, ngaku aja?'' Satria menatap Bianka lekat tangannya terayun menaik turunkan tali tipis yang tersampir di bahu Bianka. Tetapi tangannya langsung di tepis kasar oleh perempuan yang beberapa jam lalu baru sah menjadi istrinya.
''Jangan macam-macam Bang Sat atau aku teriak!'' Satria justru tergelak mendengar ancaman Bianka yang menurutnya lucu.
''Teriak aja, gak ada yang larang kok. Paling mereka pikir kita sedang melakukan percintaan panas. Kamu lupa kalau kita sedang malam pertama.''
Diam-diam Bianka menggigit bawah bibir ada geram tertahan, bahkan tangannya terkepal kuat hingga buku kukunya memutih. Ingin sekali rasanya meninju pria di depannya yang kini memakai polo shirt berwarna putih dan celana boxer berwarna abu-abu menggantung di pinggang. Tak kehabisan akal Bianka menginjak Kaki Satria kuat-kuat hingga ia bisa lolos, berlari tak tentu arah. Jadilah mereka saling berkejaran Bianka bingung ingin kabur ke mana, ponselnya tidak ada pula, ia lupa menyimpan di mana. Mengesedihkan.
Andai ada ponselnya mungkin ia bisa menghubungi David atau Sarah menyelinap diam-diam, kabur. menyuruh David menjemputnya dan kabur dari pernikahan yang tak diinginkannya. Bianka tak peduli jika Bram akan marah tentang perbuatannya yang penting ia sudah mau dijodohkan, tapi kenyataannya untuk kabur barang sedikitpun tak bisa. Sibuk dengan pemikirannya hingga tanpa sadar kakinya tersandung tubuhnya oleng seketika. Tubuh Bianka terasa melayang ia sama sekali tak merasa sakit, apa dia sedang berada di surga sekarang? Mata Bianka tak berkedip saat Satria berada di atasnya menahan pinggangnya, agar tubuhnya agar tidak menyentuh lantai.
Jika diamati dengan seksama wajah Satria lumayan juga. Lumayan, ya, lumayan tolong garis bawahi, alis tebal berwarna hitam, hidung mancung, bibir sedikit bervolume yang justru terlihat sexy. Jangan lupa rahang tegasnya menambah kadar ketampanannya, satu lagi iris matanya yang sehitam jelaga terasa menghunus saat bertatapan. Seketika ia tersadar dari lamunan menggeleng kan kepala apa-apaan tadi mengagumi dia. Dah gak waras kali atau dia pakai pelet.
''Lepasin tangan kamu, jangan curi-curi kesempatan, ya?'' desis Bianka sinis.
''Ooh, minta dilepas. Ok.'' Tanpa di duga Satria melepas begitu saja tangannya dari pinggang Bianka hingga jatuh terjerembab ke lantai.
''Bang Sat ... kok di lepas? Dasar cowok gak ada akhlak. Gak berperik kemanusiaan.'' Bianka yang tak siap hanya bisa meringis kesakitan pinggangnya, seperti mau patah saat bokongnya mencium lantai.
Mama tolong! Anakmu dianiaya.
''Kata kamu minta dilepas tadi, ya, aku lepas lah salahku di mana?'' jawab Satria santai, tanpa rasa bersalah.
Ia pandangi wajah Bianka yang terlihat meringis kesakitan. Bukannya menolong Satria justru terkekeh geli melihat wajah Bianka yang ditekuk bibirnya terus berkomat-kamit seperti tengah merapalkan doa. ''Itu namanya karma dibayar tunai, makanya sama suami yang sopan kasih servis memuaskan biar seneng. Nyenengin suami banyak lho pahalanya.'' Bukannya mendengarkan Bianka justru menutup ke dua kupingnya.
''Pait-pait! Gak denger, kamu ngomong apa, wle ....'' Bianka menutup ke dua kupingnya dengan tangan agar tidak mendengar ucapan Satria. Ia baru membukanya setelah pria di depannya berhenti bicara.
Bianka mencoba bangun dari duduknya, ia tak sudi meminta bantuan Satria tapi saat mencoba untuk bangun pinggangnya terasa sakit. Efek menjadi ratu sehari dan harus menyalami banyak tamu yang memberi ucapan selamat, hampir dua puluh empat jam membuat energinya nyaris terkuras habis.
Satria benar-benar raja tega, bukannya menolong ia hanya menatap Bianka dengan wajah datar memerhatikan tiap gerak-gerik Bianka. Hanya senyum tipis yang tersungging di bibirnya saat melihat Bianka kesusahan mencoba untuk berdiri. Beberapa kali mencoba bangun, masih saja kesusahan beberapa kali terjatuh kembali.
''Kalau butuh bantuan tuh bilang. Jangan diam aja punya mulut, 'kan?''
Satria mengulurkan tangan membantu Bianka, tapi tangannya di tepis hanya tatapan tajam yang Bianka beri, ia bisa bangun sendiri tanpa bantuan Satria. Tak ada tanda-tanda Bianka menerima uluran tangannya, akhirnya Satria berinisiatif untuk menggendong Bianka membawanya menuju ranjang meski Bianka terus meronta meminta di turunkan. Satria tak peduli. ''Turunin, Bang Sat. Aku bisa jalan sendiri.''
''Bisa diam nggak, kamu mau kita jatuh sama-sama. Kamu berat tau, gak? Kebanyakan dosa, sih, kayanya.''
Kesal, Bianka memukul bahu Satria. Namun aksinya tak diindahkan, ia tetap menggendong Bianka menuju ranjang. Tak habis akal Bianka justru mengigit bahu Satria sangat keras hingga meninggalkan bekas gigitan, pertahanannya pun runtuh dan mereka jatuh terjerembab, untung saja mereka terjatuh di atas ranjang dengan posisi Bianka berada di bawah Satria.
''Ohw, great view,'' ucap Satria saat melihat dadaa Bianka menyembul mengintip dari bra yang ia kenakan seolah meminnta disapa.
Wajah Bianka memerah mendengar ucapan Satria, rasanya ia ingin menenggelamkan diri ke sungai Gangga. Malu. Andai bisa ia ingin hilang ingatan dan melupakan kejadian memalukan ini. Satria memperhatikan wajah Bianka yang memerah, seperti kepiting rebus ia tak pernah kontak fisik dengan perempuan hingga seintens ini
. Bahkan ia bisa merasakan kelembutan kulit Bianka saat saling bersentuhan. Menimbulkan sensasi aneh yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan celana boxer yang Satria kenakan mendadak mengembang, sesak dalam waktu bersamaan. Apalagi penampilan Bianka membuat Satria ingin menerkamnya, matanya kini berubah penuh kabut gairah.
''Sampai kapan di atasku? Kamu berat tau, gak? Kayanya kamu deh yang kebanyakan dosa,'' cibir Bianka seraya berusaha melepaskan diri dari Satria.
''Jangan banyak gerak, Bi. Atau aku akan memakamu?''
''Suruh siapa-siapa gendong-gendong, aku juga gak minta,'' sanggah Bianka tak mau menuruti permintaan Satria. Bukan salahnya jika Satria mulai tergoda, please man dia pria normal.
Satria menekan dua tangan Bianka di atas kepala, hingga mampu menghentikan pergerakan Bianka yang terus saja meronta. Mata Bianka melotot tajam pupil matanya seperti ingin lepas dari tempatnya saat Satria mulai mengikis jarak mencium keningnya dengan teramat lembut. Hingga membuat Bianka sesak napas dan susah menelan saliva.
''Kamu mau, apa?''
''Menurut, kamu apa?,'' tanya Satria dengan suara berat seraya membelai wajah mulus Bianka dengan lembut.
Bianka yang mendengar hal itu semakin ketakutan, bahkan wajahnya kini mulai memucat. Ia benar-benar belum siap dan takut jika sampai Satria menuntut haknya.
''Please! Jangan, Sat. Aku belum siap?'' jawab Bianka seraya mengigit bawah bibir untuk mengurai rasa gugup dan takutnya.
''Memang siapa yang meminta persetujuan?'' Satria kembali menghapus jarak hingga Bianka mampu menghidu aroma mint yang keluar dari bibirnya.
''Please! Jangan, Sat, aku belum siap,'' lirih Bianka untuk ke dua kali dan berusaha memasang wajah semelas mungkin. Siapa tau dengan begitu Satria menjadi iba. Kini wajah mereka tinggal beberapa inchi, bahkan hidung mereka kini sudah saling bersentuhan. Bianka sungguh tak bisa kabur, jangankan kabur lepas dari jerat Satria pun tak bisa. Tenaganya tak sebanding meski ia sudah berusaha sekuat tenaga meronta agar bisa lepas dari kungkungan pria di atasnya yang kini menekan ke dua tangannya di atas kepala Bianka tak mampu bergerak sama sekali.
''Siapa yang peduli.''
''Sat ....'' ucap Bianka setengah memohon dengan suara selembut mungkin Siapa tau dengan begitu Satria jadi tak tega dan melepasnya. Satria terdiam sejenak terus mengamati wajah Bianka sebelum membisikkan sesuatu.
''Mau dicium atau unboxing?''