Akhirnya dengan terpaksa Bianka memilih dicium daripada harus menyerahkan sesuatu yang berharga miliknya pada orang yang tidak dicintai. Setelah berdebat panjang lebar mereka sepakat untuk tidur berbagai ranjang dengan syarat yang Bianka ajukan. Terlalu lelah untuk berdebat setelah seharian melewati serangkaian banyak acara, nyaris tanpa jeda.
''Ingat, Sat. Batas ini, kamu gak boleh melewatinya.'' Bianka menjadikan bantal guling sebagai sekat tidur agar tidak melewati batas.
''Nevermaind.''
''Awas, aja, kalau sampai melanggar anumu aku potong.''
''Kalau kebalikannya gimana? Kamu yang yang melanggar.''
''Gak mungkin!''
''Siapa yang tau,'' sahut Satria santai dengan memasukkan tangan ke dalam saku celana.
''Terserah! Aku mau tidur ngantuk, minggir!'' Bianka meletakkan guling di tengah mereka. ''Ingat, Sat! Jangan macam-macam, atau aku hiih kamu.'' Bianka mengancam dengan gerakan yang siap memotong leher Satria.
''Owh, seram,'' ujar Satria berpura-pura ketakutan.
Mereka pun berbaring ke posisi masing-masing dengan sorot mata penuh permusuhan.
''Udah tidur waspada banget. Aku gak bakal apa-apain, kok atau mau aku tidurin?'' imbuh Satria dengan mengedipkan sebelah mata yang langsung mendapat tatapan tajam.
''Ngimpi aja, sana. Jangan harap,'' ketus Bianka lalu menarik selimut rapat-rapat hingga menutupi seluruh tubuhnya, berbaring membelakangi Satria.
''Gak panas, tuh.''
''Brisik!''
Satria memilih diam kali ini, memejamkan mata berusaha untuk tidur tak lagi mengganggu atau pun menggoda Bianka, ia sendiri juga merasa lelah. Diam-diam Bianka bergerak ke arah Satria untuk memastikan, setelah yakin barulah ia tertidur.
''Ini orang gak mati,'kan tidurnya kok gini? Gak gerak sama sekali. Mati sekalian juga gak pa-pa, sih. Eh, jangan ding nanti aku dikira pembunuh.'' Bianka menutup bibirnya dengan ke dua tangan, lalu ia beringsut berbaring di tepi ranjang. ''Hoam ... ngantuk, aku juga mau tidur.''
Kelopak mata Satria terbuka, tersenyum tipis saat melihat Bianka yang kini telah tertidur nyenyak. Deru napasnya teratur, tak ada pergerakan lagi darinya.
''Kamu cantik, Bi sebenarnya tapi galaknya gak ada obat. Met malam, mimpi indah, ya,'' gumam Satria seraya membenahi letak selimut Bianka yang tersingkap. ''s**t! Sepertinya lebih butuh kamar mandi daripada tidur.''
Pagi menyapa sinar mentari masuk melalui celah-celah jendela, alis Bianka berkerut saat ia merasa sinar mentari itu terasa mengusik indra penglihatannya dengan cahayanya yang menyilaukan. Ia berusaha menghalau sinar itu dengan mencari bantal terdekat untuk menutupi wajahnya, ia masih mau tidur tak ingin siapapun mengusiknya saat ini.
Tangannya terulur meraba mencari bantal, untuk menutupi wajahnya lalu mengeratkan pelukan pada guling, alisnya sesaat berkerut saat ia merasa ada yang berbeda guling yang dipeluk tak seperti biasanya. Penasaran. Bianka pun akhirnya membuka mata alangkah terkejutnya saat justru ia sendiri yang memeluk Satria erat. Menyandarkan kepalanya di daadanya yang bidang. Buru-buru ia menjauhkan diri sebelum Satria bangun dari tidurnya. Bisa-bisa ia diledek nanti karena sudah menjilat ludah sendiri.
''Iyuh kok aku meluk dia, sih, untung aja orangnya masih tidur. Tengsin dong,'' gumam Bianka.
Buru-buru ia mengecek baju yang dikenakan takut Satria macam-macam, saat tak sadarkan diri, Bianka menghela napas lega. Baju yang ia kenakan masih utuh tak ada koyak sedikit pun dan tak merasakan sakit di area sensitifnya, bahkan tak cukup sampai disitu Bianka menyingkap selimut untuk memastikan ada bercak darah atau tidak.
''Aman. Jam berapa, sih ini?'' ucapnya bermonolog. Bianka meraih jam weker yang berada di nakas. Jarum jam masih menunjukkan pukul 05.30 wib. Masih terlalu pagi untuknya. ''Ngantuk. Aku masih mau tidur, tapi aku harus mandi sebelum si Bang Sat bangun.''
Bianka beranjak menuju kamar mandi, sebelum itu ia mencari ponselnya barulah meminta Bik Darmi untuk mengantarkan baju untuknya. Gak mungkin kan ia keluar kamar dengan menggunakan lingerie. Natar dikira perempuan BO lagi, diam-diam Satria tersenyum saat melihat Bianka masuk ke dalam kamar mandi, sebenarnya ia sudah bangun dari tadi tapi hanya pura-pura tidur aja. Bahkan nyaris semalaman Satria terjaga menahan gejolak untuk tidak menyentuh Bianka dan ia harus rela bolak-balik pergi ke kamar mandi demi meredam hasrat terpendamnya.
*
Denting pintu lift terbuka, Bianka dan Satria segera melangkah memasuki lift, kerena mereka sudah ditunggu oleh keluarga besar untuk makan siang bersama dan membicarakan banyak hal, sebelum mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mereka berdiri saling berjauhan seperti orang yang tak saling mengenal.
''Apaan, sih, ngumpul-ngumpul segala males,'' keluh Bianka saat memasuki lift bersama Satria. ''Heh, jawab dong kok diam aja.''
''Ohw ... kamu ngomong sama, aku?''
''Ya, iyalah siapa lagi. Ya kali sama tembok.''
''Aku punya nama, sebut namanya yang bener.'' Bianka mengedikan bahu acuh.
Entah di lantai berapa segerombolan orang ikut memasuki lift tersebut hingga saling berdesakan, membuat Satria dan Bianka berdiri saling berhadapan mengikis jarak.
Tangan Satria terulur memeluknya, melindungi Bianka dari para pria yang nyaris menghimpit ke dinding lift, tak akan Satria biarkan orang lain menyentuh istrinya meski hanya seujung kulit. Kini pandangan mereka saling bertemu dengan detak jantung yang bertalu-talu bahkan aroma maskulin terasa menembus indra penciumannya.
''Kenapa liatin mulu, baru sadar kalau aku ganteng?'' ucap Satria.
''Ck. Ganteng dari Hongkong yang ada aku risih harus berdekatan sama, kamu cih, jauh-jauh sana,'' decak Bianka sinis.
''Tapi, buktinya nempel-nempel terus kaya perangko.''
''Dih geer, kamu gak liat lift penuh gini. Terpaksa.''
''Mana? Mereka dah pada keluar, kok.''
Bianka mengedarkan pandangan benar ternyata hanya tinggal mereka berdua, dan dua orang yang tersisa, tapi sejak kapan? Kok dia gak sadar, saat orang-orang itu keluar dari lift. Buru-buru Bianka mendorong tubuh Satria hingga menjauh.
''Terpesona?''
''Cih, percaya diri sekali.''
''Gak usah ngelak, fakta kok.''
''Kurang-kurangin Pedenya, gak usah sok kecakepan deh,'' ujar Bianka seraya melipat tangan di depan d**a. ''Ada yang mau aku omongin setelah ini, penting.''
''Ngomong aja di sini.''
''Gak bisa, aku gak mau ada orang lain yang mendengarnya.''
Pintu lift berdenting dilantai yang mereka tuju, banyak pasang mata menatap ke arahnya sambil berbisik dan sesekali terkikik, membuat Bianka jengah.
''Jangan lupa kita harus pura-pura mesra di depan mereka,'' ucap Satria berbisik.
''Pandai sekali kamu berakting, daebak. Aku yakin kamu akan memenangkan piala penghargaan berkata aktingmu yang mumpuni.'' Bianka terkesiap saat Satria merangkul pinggangnya posesif dan tersenyum ke arah mereka.
''Tentu saja, mungkin para aktor akan minder melihat bakat aktingku,'' sahutnya dengan seringai menyebalkan.
''Cie pengantin baru, jam segini baru bangun. Ada yang habis kermas nih kayaknya, gila Bang Sat bibir kenapa, tuh bibir sampai begitu. Mbak Bianka hot nih kayanya,'' ucap Rangga adik Satria yang kerap berbicara ceplas-ceplos.
Seketika Bianka menatap bibir Satria, teringat ia yang menggigitnya semalam. Siapa peduli.
''Ini semua gara-gara kamu,'' desis Bianka tertahan.
''Jelas-jelas, kamu yang gigit semalam kenapa jadi aku yang disalahin,'' desisnya tepat di kuping Bianka.
''Hust ... Rangga jaga ucapan kamu gak sopan,'' tegur Amira -Mama Satria. ''Duduk sini, Bi sama Mama.''
''Bianka biar sama Satria aja, Ma. Iya kan, Bi?'' ucap Satria mengedipkan sebelah mata dan mengecup pipinya tanpa permisi.
Ingin rasanya Bianka mengumpat melihat tingkah Satria yang seenaknya mencium pipinya di depan umum.
''I-ya, Ma. Biar Bianka duduk disebelah Satria aja.''
''Mentang-mentang pengantin baru gak mau dipisahkan,'' ucap Rangga menyela.
''Kamu mau pesan apa, sayang?'' tanya Satria sambil memyampirkan anak rambut ke belakang telinga Bianka.
''Gak usah sok nyari kesempatan! Sayang-sayang kepalamu peyang,'' desis Bianka. Satria mengedikan bahu acuh menanggapi ucapan Bianka seolah tak terganggu.
Setelah menyelesaikan makan siang Bianka dan Satri memilih untuk pamit terlebih dahulu ke kamar, sontak saja membuat para keluarga bersorak ria meledek pengantin baru yang baru saja melangsungkan pesta pernikahan kemarin seolah tak ingin dipisahkan, tapi siapa yang tau jika mereka hanya bersandiwara di depan mereka.
''Gas pol Sat.''
''Jangan lupa minum jamu dulu biar kuat.''
''Semoga tokcer biar aku cepet punya keponakan.''
Satria hanya mengancungkan jempol sebagai tanggapan dari gurauan mereka.
''Semoga saja Satria bisa mengubah Bianka,'' ujar Bram pada Dirga dan Amira-besannya yang kini tengah duduk disatu meja menikmati makan siang.
''Iya kita doakan saja yang terbaik,'' jawab Dirga sambil meminum satu cangkir kopi ditangan.
***
Flash back.
Hampir jam 12.00 wib, Salman berjalan mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan putri semata wayangnya karena sudah selarut ini Bianka belum pulang juga. Berkali-kali menghubungi tapi nomernya tak diangkat juga, kecemasan kian melanda takut sesuatu yang buruk terjadi padanya.
''Ke mana kamu, Bi? Kenapa selarut ini belum pulang juga.'' Bram memijit pangkal hidung yang terasa berdenyut.
Suara dentuman musik electro house menggema, menghentakkan semua pengunjung bergoyang larut dalam alunan musik di salah satu clube elite di kota Jakarta seorang gadis berjoget meliuk-liuk di bawah lampu disko dengan luwesnya mengikuti irama, banyak pasang mata memandang lapar ke arahnya apa lagi cara berpakaiannya yang sangat minim seperti kurang bahan, ya baginya itu sudah menjadi hal biasa. Waktunya sering ia habiskan disebuah night club.
Cahaya ruang tampak redup, sementara musik terdengar menghentak keras hingga membuat jantung ikut berdentam seiring dengan ritmenya.
''Bi pulang yuk udah malam,'' seru David kekasih Bianka.
''Nanggung masih asyik nih,'' sahutnya sambil asyik bergoyang dibawah lampu disko.
''Tar Papa kamu marah, Bi. Besok lagi aja balik ke sini lagi,'' ujar Sarah menimpali.
''Gak seru pada, masih sore juga belum pagi,'' sahut Bianka dengan suara lantang.
''Gila nih anak! Kita paksa aja deh, dah teler juga. Bisa berabe kalau ketahuan Papanya,'' cetus Sarah memberikan ide. David pun mengangguk setuju.
David dan Sarah pun berinisiatif memapah tubuh Bianka karena ia tadi sempat menengak alkohol beberapa gelas sebelum turun berjoget bersama mereka. Jadilah kini ia berjalan sempoyong merancau tak jelas.
"Gila nih anak, berat juga ternyata,'' ucap Sarah kesusahan membawa tubuh Bianka apalagi saat melewati lorong penuh orang-orang yang sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Ada yang b******u dipojokan, berjudi dan berjoget menikmati alunan musik yang menghentak.
Akhirnya Sarah dan David sampai juga di depan rumah Bianka, rumah tiga lantai bergaya Amerika modern dengan gerbang besi yang tinggi menjulang. David turun terlebih dulu menghampiri Satpam bernama Atmo yang sudah mengenalnya sebagai salah satu teman majikannya. Tanpa buang waktu Pak Atmo pun membukakan pintu untuknya.
''Makasih, Pak,' ucap David melalui kaca jendela yang dibiarkan sedikit terbuka, melaju memasuki halaman rumah Bianka dan membantunya turun dari mobil.
''Hey ... aku masih bisa jalan sendiri, kalian pikir aku nenek apa,'' ucap Bianka pada Sarah saat membantunya memapah keluar dari mobil.
''Sok kuat banget nih anak. Jalan aja udah oleng gitu,'' ucap Sarah yang terlihat kewalahan.
''Thank,'s udah dianterin,'' ucap Bianka dengan mata setengah terpejam.
''Santai, Bi. Aku pulang, ya baik-baik di rumah semoga gak dimarahi Papa,'' tutur David sebelum pulang. ''Yaudah kalau gitu, aku pulang dulu sama Sarah.''
''Heumm ... hati-hati kalian.''
''Sip tenang, aja, Bi.'' Kali ini Sarah yang menjawab.
David dan Sarah pulang setelah berpamitan mobil meluncur keluar gerbang membelah pekat malam.
Bianka merogoh kunci dari dalam tasnya, lalu mencoba membuka pintu utama. Memutar gagang pintu perlahan, berjalan mengendap-endap seperti maling agar tidak ketahuan Papa heels yang ia kenakan dilepas agar tidak menimbulkan suara. Baru beberapa langkah lampu yang tadinya padam kini menjadi benderang, Salaman menatap tajam ke arah Bianka hingga heels yang berada dalam dekapannya terjatuh ke lantai.
''Ke mana aja jam segini baru pulang! Gak usah pulang sekalian kalau gak mau nurut apa kata Papa. Mau jadi apa kamu jam segini masih keluyuran, apa kata tetangga nanti ngeliat tingkah kamu seperti ini.''
''Buat apa peduli apa kata tetangga, toh Bianka gak merugikan mereka.''
''Iya, tapi Papa peduli karena itu bisa mencoreng nama baik keluarga. Papa gak mau liat kamu pulang selarut ini, apalagi sampai menyentuh minuman beralkohol lagi. Minuman haram itu bisa merusak kesehatan kamu Bianka!''
''Sejak kapan Papa peduli? Urus aja kerjaan Papa gak usah pedulikan Bianka lagi! Toh selama ini Papa juga gak pernah ada waktu, aku muak sama semua ini!''
''BIANKA!'' Hampir saja tangan Bram melayang ingin menampar pipi anak semata wayangnya, untunglah masih bisa ditahan. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dadaany bergemuruh menahan geram.
''Tampar, Pa tampar.'' Bianka mencondongkan wajahnya ke arah Bram menantangnya.
Sejak kematian Mamanya hidup Bianka berubah seratus delapan puluh derajat, keluarga yang dulu hangat penuh cinta kini lenyap sudah, hanya luka dan kesepian yang tercipta, Bram selalu sibuk bekerja tak pernah ada waktu untuk Bianka. Bahkan saat momen penting seperti kelulusan di sekolah Bram tak pernah menghadirinya. Hanya Bi Darmi yang selalu menjadi wali merawatnya dari kecil hingga saat ini, jadi jangan salah kan Bianka jika seperti ini yang berusaha mencari kebahagian dengan caranya sendiri.
''Masuk kamar! Papa bilang masuk ke kamar!'' tegas Bram dengan jari menunjuk ke arah tangga.
Bianka menghentakkan kaki ke lantai sebagai bentuk protesnya dengan jalan sedikit terhuyung-huyung, efek minuman alkohol yang ditenggaknya.
Bram terduduk dikursi single mengusap kasar wajahnya menyesali perbuatannya, seandainya ia tidak egois, Bianka tidak mungkin jadi anak pembangkang seperti sekarang. Kehilangan Rani mengakibatkan pukulan dan luka untuk Bram, sebagai bentuk pelarian atas kehilangan istrinya ia melampiaskan pada pekerjaan. Bekerja tak kenal waktu siang dan malam hingga lupa satu hal ada seorang anak yang membutuhkan perhatiannya. Bahkan ia tak pernah mengira akan berakibat seperti ini,
Hubungannya dengan Bianka semakin hari terasa semakin jauh, hanya materi yang selalu Bram berikan dan mengabulkan setia keinginannya. Bram pikir semua itu cukup, tapi ternyata apa yang dilakukan selama ini adalah sebuah kesalahan. Bahkan ia tak sadar kalau putrinya kini telah tumbuh dewasa. Begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia harusnya ia lebih memperhatikan Bianka anak satu-satunya, buah cintanya dengan Rani.
''Aku adalah Papa yang gagal, kalau Rani tau pasti dia akan sangat kecewa,'' desah Bram.