Episode 8

1788 Kata
Setelah masuk ke dalam kamar hotel, Bianka langsung menghempas tangan Satria sambil berkacak pinggang. ''Bagus! Pinter banget, Kamu ambil kesempatan dalam kesempitan,'' tuduh Bianka menatap nyalang. Satria hanya menanggapi dengan senyum yang sukses membuat Bianka makin kesal. ''Ngapain sih senyum-senyum gak ada yang lucu tau gak! Kamu pikir aku ngelawak?'' ''Mukamu lucu kalau lagi marah-marah,'' sahutnya santai tangan Satria terulur menarik hidung Bianka. Gemas. ''Sinting! Gak usah pegang-pegang, aku alergi dipegang Kamu. Gatal-gatal yang ada.'' Bianka menepis kasar tangan Satria. ''Tenang, aku bersedia garukin, kok dengan senang hati. Gratis, tanpa pungutan sepeserpun.'' ''Makin lama otaknya, makin gak waras aja. Kayanya Kamu perlu di bawa ke rumah sakit jiwa,'' ucap Bianka ketus. ''Iya, Bi aku gila karena sudah lama cinta sama, Kamu.'' ''Sinting!'' Bianka melayangkan kaki mencari kertas kosong, membuka laci lemari satu persatu hingga menemukan benda yang ia cari. ''Nyari apa, Bi?'' ''Gak usah bawel, deh, nanti juga tau jawabannya.'' Bianka menarik kursi menghempaskan pinggulnya ia ingin membuat perjanjian agar Satria tak seenaknya menyentuhnya, menulis apa saja yang Bianka anggap merugikan dirinya. Tangannya bergerak lincah menari di atas kertas, sesekali ia menengadah menatap plafon kamar yang berwarna putih. Terserah Satria setuju atau engga ia tak peduli. Harusnya bersyukur kerena tidak kabur di hari pernikahannya kemarin. Setelah merasa cukup dengan apa yang diinginkan ia menyerahkan pada Satria untuk meminta tanda tangannya biar sah hitam di atas putih dan bisa menuntut jika ada salah satu pasal yang dilanggar. ''Baca ini! Tanda tangan.'' ''Apa ini?'' tanya Satria dengan alis berkerut setelah membaca tulisan yang berada di kertas. ''Apa perlu aku jelasin biar semuanya jelas. Please, deh, Kamu gak sebodoh itu kan?'' ''Kekanak-kanakan. Gak. Aku gak setuju. Enak aja,'' decak Satria kesal. ''Terserah setuju atau engga, perjanjian itu tetap berlaku,'' pungkas Bianka dengan pendiriannya. ''Kamu tinggal tanda tangan mudah kan?'' Satria membaca kembali kertas yang ada dalam genggamannya, membaca dengan seksama. Rahangnya terlihat mengeras terkatup rapat. 1. Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing. 2.Tidur berbeda kamar. 3. Punya rumah sendiri gak mau tinggal sama Papa. 4. Gak membebani dengan pekerjaan rumah tangga. 5. Gak ada kontak fisik. ''Aku kira kamu cukup pintar dan memahami isinya jadi, aku gak perlu jelaskan apa-apa lagi yang perlu kamu lakukan simpel, cuma tanda tangan aja. Selesaikan!'' sahut Bianka enteng. ''Sorry, aku gak setuju terutama poin nomer lima yang bener aja menyentuh istri sendiri gak boleh, kamu gak lupakan kalau aku pria normal yang punya kebutuhan biologis, percuma dong dinikahi kalau bisa memperoleh haknya.'' Begitulah Satria ia akan selalu berkata apa adanya mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya dengan gaya bicaranya yang santai. Tak peduli dengan pendapat orang lain tentangnya, bagaimana pun ia adalah kepala keluarga yang harus dihormati dan lebih berhak dalam mengambil keputusan. ''Kamu minta aja sama Papa, dari awal aku juga gak pernah setuju untuk menikah, lagi pula aku sudah pacar kalau kamu lupa!'' tandas Bianka. ''Kamu pikir aku terong-terongan.'' ''Terserah!'' Bianka terperangah tak percaya saat Satria menyobek kertas itu hingga menjadi bagian kecil dan menabur di atas kepalanya. ''Gak ada yang namanya perjanjian, aku berhak atas kamu!'' tegasnya. Satria berlalu begitu saja keluar dari unit tak peduli pada Bianka yang terlihat kesal. Ia butuh menyendiri sebelum emosinya meledak. ''Terserah! kamu setuju atau enggak. Perjanjian ini tetap berlaku,'' raungnya tak mau kalah. Satria memilih untuk menyendiri di kafe yang letaknya tak jauh dari tempatnya menginap. Butuh waktu menyendiri, ia bukan orang yang sabar sebenernya. Jadi lebih baik menghindari dari Bianka dari pada bertindak bodoh dengan mengendapkan amarah yang bakal memperburuk keadaan. Gak lucu kan baru menikah udah cerai, seharusnya ia sudah tau tentang konsekuensinya sebelum menyetujui perjodohan ini. Satria menyandarkan punggungnya ke belakang kursi sambil menyesap kopi yang uapnya masih terasa mengepul. ''Jiah ... pengantin baru malah di sini, harusnya tuh lagi ngamar sekarang. Belum juga dua hari dah lecek gini mukanya kaga dapat jatah?'' seloroh Adit menepuk bahu Satria lalu menarik kursi duduk di sebelahnya. ''Masih di sini?'' ''Balik nanya malah. Ada sedikit urusan kebetulan, kamu sendiri ngapain bengong sendirian.'' Satria bergeming, mengedikan bahu tak tau harus menjawab apa? Ia hanya butuh ketenangan untuk menghadapi Bianka untuk kedepannya. Gak mungkin juga kan ia cerita tentang masalah rumah tangganya yang baru saja terjalin pada orang lain. ''Sabar, Sat namanya baru menikah pasti banyak perbedaan yang terjadi dan harus belajar adaptasi dengan pasangan. Gak mudah memang menyatukan dua kepala menjadi satu, lagian kamu sendiri tau sendiri tabiat Bianka seperti apa. Sebelum menikah. Pelan-pelan, Sat jangan lawan keras dengan keras yang ada akan terus berbenturan. Coba aja hadapi dia dengan kelembutan mungkin lama-lama akan luluh, tapi kalau berbagai cara dia tidak bisa berubah ya gimana lagi yang penting kita dah berusaha.'' ''Sok tau kamu.'' ''Hey, jangan lupa aku ini udah menikah sekian tahun. Jadi tau apa yang kamu alami sekarang, lagian kita berteman sudah cukup lama tanpa bicara juga tau apa yang terjadi. Jangan lupa sejak dalam embrio kita sudah berteman. Kamu bisa menutupi dari orang lain tapi enggak dari aku, kamu gak mau kan jadi duda kembang.'' Satria terkekeh mendengarnya bisa aja dia memakai istilah untuk mengungkapkan persahabatannya. Perkataan Adit ada benarnya juga memang gak seharusnya ia bersikap keras yang ada makin memperburuk keadaan. Satria yakin Bianka bisa berubah seperti dulu jika menilik rekam jejaknya ke belakang, mungkin hanya masalah waktu. ''Baru tau ada istilah duda kembang.'' ''Bikin istilah sendiri, janda kembang ada duda kembang juga ada harusnya.'' ''Serah kamu ajalah.'' Satria tersenyum miring.'' Satria beranjak dari duduknya setelah merasa cukup menenangkan diri, ia gak mungkin mundur dari pernikahan ini dan akan mencoba bertahan dengan segenap kemampuan yang ia miliki, entah bagaimana kedepannya biar waktu yang menjawab. ''Mau kemana, Sat?'' ''Belah duren. Mau ikut?'' ''Semoga berhasil deh, semangat berjuang.'' Satria mengacungkan jempol sebagai jawaban. Saat Satria memutar handel pintu ia tertegun saat mendengar pembicaraan Bianka dengan Davit, sejenak ia mematung sebelum akhirnya mencoba bersikap tak peduli seolah tak mendengar pembicaraan mereka. Satria melangkahkan kaki menuju ranjang merebahkan tubuhnya. ''Dav, udah dulu nanti aku telepon lagi,'' ucap Bianka memutuskan sambungan telepon. ''Sampai ketemu nanti malam.'' Sambungan pun terputus ia meletakkan ponselnya di nakas. Waktu tiga hari yang harusnya menjadi momen honey moon berlalu begitu saj tanpa arti, kini mereka sudah kembali pada rutinitas biasa. Jauh sebelum menikah Satria memang sudah memiliki rumah sendiri, jadi saat Bianka mengajukan gak mau tinggal sama Bram bukan masalah. Hanya saja ia merasa sepi, nyaris tak pernah ada komunikasi dengan Bianka. Bianka jalan tergopoh menuruni anak tangga dengan tas tersampir di bahu, ia kesiangan gara-gara semalam pergi ke club pulang jam dua pagi, bahkan kepalanya masih sedikit pening hampir saja terpeleset saat menuruni anak tangga. Untung saja ada Satria yang menahan pinggangnya. Jika tidak ada matkul yang penting mungkin ia akan memilih melanjutkan tidurnya saja. ''Gak usah pegang-pegang!'' ''Ohw, oke. Kamu mau aku lepas, 'kan?'' ''Jangan!'' sergah Bianka berubah pikiran ia teringat akan kejadian di hotel saat Satria melepas rengkuhan pinggangnya saat itu, Sakit. Satria menegakan tubuh, begitu juga Bianka kini mereka berdiri berhadapan tanpa kata dan suara. ''Pak Satria sarapan udah siap?'' ucap Bi Darmi dari arah tangga. ''Iya, Bik bentar lagi kita turun. Satria berjalan terlebih dahulu melewati Bianka begitu saja menuju ruang makan, tak lama Bianka menyusulnya bukan untuk sarapan tetapi untuk langsung pergi ke kampus karena ia sudah kesiangan. ''Makan dulu, Bi,'' ucap Satria saat melihat Bianka yang melewatinya begitu saja. ''Sarapan aja sendiri.'' ''Kalau gitu kamu gak aku ijinin ke kampus.'' ''Coba aja kalau bisa!'' hardik Bianka menantang. Satria merogoh sakunya mengambil ponsel dan mendial nomer seseorang yang tak lain adalah satpam penjaga gerbang. ''Jangan bukakan gerbang kalau Bianka ingin keluar rumah.'' ''Baik Pak.'' Satria pun menutup sambungan teleponnya. ''Aku tuh dah telat tau gak.'' ''Siapa suruh keluyuran sampai malam. Tanggung sendiri akibatnya.'' ''Kamu ngeselin banget, sumpah!'' ''Terserah. Aku tuh nyuruh kamu makan bukan melakukan hal yang aneh, perjanjian sudah aku setujui kurang apalagi? Aku gak minta banyak cukup temani aku makan dan selalu beri kabar kemanapun kamu pergi gak sulit, kan. Dari pada perjanjian konyol yang kamu buat.'' ''Aish ... menyebalkan. Nanti kalau aku telat gimana?'' ''Kamu udah, tau resikonya. Kenapa pulang sampai pagi.'' Mau tidak mau Bianka pun menurut, menarik kursi menghempas kan bobotnya. Menyantap nasi goreng yang terhidang di meja mengunyah dengan tergesa. ''Selesai, aku berangkat.'' ''Aku antar.'' ''Gak perlu aku bisa sendiri.'' ''Dengan kondisi kamu kaya gini? Kamu mau nyari mati, jalan aja gak bener.'' Tak ingin buang waktu Bianka pun akhirnya menurut memang bener sih apa yang dikatakan Satria, rasa pusing dan mual masih terasa. Tapi rasa gengsi lebih mendominasi, sepanjang jalan Satria dengan setia mengajak Bianka bicara meski hanya ditanggapi sekedarnya. Mobil berhenti tepat di depan kampus, buru buru Bianka melepas seat belt ingin segera turun bertemu David dan Sarah. ''Nanti pulangnya aku jemput.'' ''Gak usah, aku pulang diantar David.'' Satria tak memberi tanggapan apapun membiarkan Bianka turun dari mobil begitu saja. Ia melajukan mobilnya menuju kantor dengan pikiran berkecamuk. Bianka melangkahkan kaki mencari keberadaan David dan Sarah biasanya mereka masih nongkrong di kantin. Waktu jam kuliah pun masih ada sekitar tiga puluh menit, masih bisalah untuk sekedar nongki-nongki bertemu sang kekasih. Bianka merogoh ponsel di dalam saku celananya mendial nomer David, ''Lagi dimana, Dav?'' ''Di kantin.'' ''Aku ke situ sekarang.'' ''Oke.'' Hampir satu setengah tahun David dan Bianka menjalin kasih, bahkan setelah menikah pun mereka masih berhubungan masih sering jalan bersama seperti semalam. Di kantin sudah ada David dan Sarah yang sedang menyantap makanan, tangan David terulur menghapus jejak saus yang menempel di bibir Sarah pemandangan itu tak sengaja Bianka lihat, tapi ia mencoba berpikir positif meski ada sedikit yang terasa janggal. Entah Bianka sendiri tak mengerti kenapa bisa berpikiran seperti itu, semoga saja hanya perasaannya saja. ''Uhuk.'' Bianka terbatuk berdiri di depan mereka, David segera menarik tangannya dari bibir Sarah yang terlihat salah tingkah. ''Udah datang, mau aku pesenin makanan?'' tawar David. ''Gak usah, Dav. Aku dah makan tadi.'' ''Sama Satria?'' ''Iya, siapa lagi.'' "Enak, ya, sekarang ada orang lain yang bisa diajak nemenin sarapan satu rumah pula.'' ''Maksud kamu apa?'' tanya Bianka tak mengerti. Kamu cemburu?'' ''Cemburu lah, kamu satu atap sama dia. Gak ada jaminan kan kamu gak ngapa-ngapain sama dia.'' Bianka melotot tajam mendengar ucapan David, bisa-bisanya berpikir begitu padahal ia lebih sering menghabiskan waktunya bersama David, ketimbang sama Satria yang udah jelas suaminya. ''Aku gak ngerti ya sama kamu, bisa-bisanya berpikir sepicik itu.'' Bianka pun pergi meninggalkan David, disusul Sarah yang mengekorinya. ''Kamu apa-apa, sih, Dav. Nuduh Bianka sembarangan,'' ucap Sarah sebelum meninggalkan David seorang diri. ''Aku cuma ngomong apa adanya kok,'' ujar David. ''Sabar, Bi gak usah dipikirin. Ya, bagus dong David cemburu berarti dia cinta banget sama kamu,'' ucap Sarah berusaha menenangkan. ''Tapi jangan cemburu buta gitu dong, sumpah beneran aku sama Satria gak pernah ngapa-ngapain. Kita aja tidur di kamar terpisah.'' ''Iya, Bi aku percaya kok.'' ''Bisa-bisanya David berpikir seperti itu, menuduh sembarangan tanpa bukti yang jelas.'' Bianka mengembuskan napas kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN