Bianka dan Sarah keluar dari kelas, mereka jalan bersisian menuju tempat parkir. Namun sebelum itu David datang menghampiri, meminta waktu pada Bianka untuk berbicara ada hal yang ingin dibicarakan sekaligus meminta maaf.
''Bi, tunggu.'' David menghentikan langkah Bianka, menghadang jalannya.
''Mau apalagi, Dav? Mau ngomel lagi? Nuduh yang engga-engga, iya, gitu. Sorry gak ada waktu, ayo, Sarah kita pergi,'' ketus Bianka seraya menarik lengan sahabatnya.
''Engga, Bi. Bukan gitu, aku cuma mau minta maaf. Oke aku salah udah nuduh yang engga-engga, tapi melakukan semua itu karena cemburu. Aku sayang banget sama, Kamu,'' ucap David mencoba meraih tangan Bianka. ''Coba bayangin dua orang tinggal dalam satu atap nyaris tiap hari ketemu, bisa jaminan gak mereka, gak ngapa-ngapain?''
Bianka mendengus kesal menatap David. ''Kamu pikir, aku semudah itu?''
''Sorry, aku gak masuk gitu kok. Iya, aku percaya sama kamu. Maafin aku please? Aku janji gak bakal nuduh sembarangan lagi,'' ujar David penuh penyesalan.
Bianka menatap wajah David yang kini memasang wajah memelas, seperti orang terluka hingga membuatnya merasa tak enak hati.
''Ya udah, iya, aku maafin tapi lain kali jangan asal tuduh sembarangan. Gak enak tau, gak? Dituduh yang enggak-enggak tanpa bukti. Kamu tau kan, aku gak suka sama Satria cuma menikah terpaksa. Satu tahun lagi juga pisah.''
''Iya, aku janji gak bakal nuduh gitu lagi. Swear.'' David mengangkat jari membentuk huruf V.
''Ya udah iya, aku maafin.''
''By the way mau ke mana? Mau aku antar,'' tawar David.
''Mau ke mall males di rumah suntuk.''
''Kalau gitu biar, aku yang antar,'' tawar David.
''Boleh,'' jawab Bianka tersenyum senang.
''Uhuk ... kacang itu gurih, tapi kalau dikacangin perih,'' ujar Sarah menyela. ''Gini amat, ya, nasib jomlo berasa jadi obat nyamuk. Susah emang kalau dekat sama pasangan bucin.''
Bianka dan David menoleh ke arah Sarah saling pandang bergantian, lalu tergelak bersama.
''Sorry, Sar. Lupa aku kalau di sini ada jones, cari pacar gih biar gak jomlo,'' ringis Bianka mengelus lembut lengan Sarah.
''Sindir terus. Udah biasa kok. Dah kebal. Kalau gitu aku balik duluan deh.''
''Kok balik? Gak jadi ikut?'' tanya Bianka pada Sarah.
''Engga, deh makasih. Daripada jadi obat nyamuk makin ngenes nanti yang ada, liat keuwoan kalian.''
''Yakin?'' Kini giliran David yang bertanya, memastikan.
''Yakinlah.'' Sarah mengangguk pasti. ''Kalau gitu aku duluan, ya, bye. Ingat! Jangan berantem dah kaya Tom and Jerry aja,'' pesan Sarah sebelum meninggalkan mereka.
''Siap tenang aja, Sar,'' sahut David seraya melambaikan tangan.
*
''Ini bagus gak, Dav?'' tanya Bianka pada David meminta pendapat setelah mereka berada di toko baju. Ia bingung memilih antara dress atau crop top semua terlihat lucu dan menarik dimatanya jadi ingin beli semua. Jiwa shopping meronta-ronta.
''Bagus.''
''Kalau yang ini.''
''Bagus juga. Pokoknya apa aja baju yang kamu pakai selalu bagus, apalagi kalau gak pakai baju lebih bagus,'' sahut David santai.
''Apaan, sih, gak jelas,'' cibir Bianka.
Bianka melangkahkan kaki menyusuri lorong, ia masih ingin membeli beberapa potong baju lagi. Matanya berbinar melihat baju keluaran terbaru yang di pajang di manekin. ''Dav, ayok ke sana aku mau baju itu.''
Tak sabar Bianka meraih tangan David yang sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Bianka merasa raga David ada bersamanya, tapi hati dan pikiran entah di mana.
''Ini bagus, gak?''
''Bagus,'' jawab David tanpa menoleh asyik menekuri layar ponselnya, bahkan sesekali David mengulum senyum.
''Kalau yang ini?''
''Bagus banget cocok buat kamu.''
''Bagus warna hitam atau ungu?''
''Hitam.''
''David!'' pekik Bianka melotot tajam melempar asal baju yang ia pegang ke arah David. ''Dari tadi aku tanyain pendapat cuma bilang bagus-bagus, mulu. Lihat, ini tuh warna putih sama maroon, bukan hitam. Baju kaya gini kamu bilang bagus?'' Bianka memutar bola mata.
''Kamu gak liat ini baju apa? Ini baju buat emak-emak tau, ga? dari tadi aku minta pendapat kamu cuma asal jawab. Sibuk sama HP sendiri chat sama siapa, sih sebenarnya?'' ucap Bianka curiga.
Bianka pergi meninggalkan David begitu saja jalan tergesa keluar dari area toko. Dengan langkah lebar David mengejarnya mencekal pergelangan lengan Bianka.
''Maaf, Bi. Tadi aku sibuk chat sama Lia, dia bilang Mama lagi sakit sekarang dan butuh biaya,'' lirih David. ''Wajarkan kalau aku khawatir.
''Mama, kamu sakit kok senyum-senyum dari tadi ekspresinya.''
''Mana ada, aku senyum. Aku lagi khawatir banget, kok,'' ucap David memasang wajah muram. ''Kamu mulai curiga, Bi sama aku? Kata kamu kita harus saling percaya. Baru gini aja udah curiga, coba bayangkan gimana perasaanku yang harus ngertiin posisi kamu. Aku cemburu kaya tadi aja, kamu marah.''
''Ya udah, iya, aku percaya.''
''Nah gitu dong, itu baru namanya pacar, aku.''
''Terus gimana keadaan Mama, kamu sekarang?''
Bianka yang tadinya kesel kini merasa iba dan kasihan apalagi kalau sudah menyangkut soal seorang ibu ia mudah tersentuh.
''Lia bilang asmanya kambuh dan harus dirawat.''
''Terus udah dibawa ke rumah sakit?''
''Udah, sih, tapi ....''
''Tapi apa?'' tanya Bianka penasaran.
''Aduh gimana, ya ngomongnya?'' David memegang hidungnya yang terasa gatal.
''Udah ngomong aja, kenapa? Ada apa?''
''Aku takut kurang buat bayar rumah sakitnya.''
''Ohw soal itu, udah tenang aja. Gak usah khawatir butuh berapa biar nanti aku yang nambahin.''
''Aduh, aku jadi gak enak, Bi,'' ringis David. ''Selalu ngerepotin kamu.''
''Udah santai, aja, gak usah dipikirin yang penting Mama kamu sembuh. Uang bukan masalah nyawa lebih berharga dari apapun di dunia ini.''
''Makasih, Bi. Kamu emang pacar yang pengertian.'' David merangkul bahu Bianka.
''Butuh berapa?'' tanya Bianka sekali lagi.
''Terserah kamu. Aku gak mau nentuin nominalnya ini aja udah ngerasa gak enak.''
''Udah santai kaya sama siapa, aja?'' Bianka merogoh ponsel di dalam tas, lalu tangannya bergerak lincah membuka aplikasi mobile banking mengirimkan sejumlah uang untuk David. ''Untung aja Satria kasih aku kartu kredit, lumayanlah bisa dipakai.''
''Terus kartu kredit yang disita Papa kamu gimana, Bi?''
''Aku gak mau pakai kartu dari Papa lagi, aku masih kesel. Coba cek dah masuk belum uangnya?''
''Wait.'' David membuka notif yang masuk ke dalam ponselnya. Mata David berbinar melihat nominal yang tertera di layar. ''Udah, Bi makasih sayang. Kamu emang pacar terbaik,'' ucap David sambil mencium kening Bianka. ''Sekarang mau kemana lagi?''
''Pulang aja deh dah mau jam sepuluh nanti yang ada aku bisa interogasi macam-macam sama Satria. Iyuh malas banget.''
''Padahal aku masih pengen jalan. Kalau sama kamu bawaannya tuh gak mau pisah, maunya deket terus.''
''Sama aku juga.''
''Kalau gitu mampir, yuk, ke apartemen biar lebih leluasa ngobrol di sana.''
''Aduh gimana, ya?'' Bianka mengigit bawah bibir tampak berpikir.'' Ehm ... lain kali aja deh udah kemalaman soalnya.''
''Ya udah deh kalau gak bisa, mau gimana lagi. Tapi janji, ya lain kali mampir?'' desah David kecewa.
''Heumm.''
Satria mondar-mandir di ruang tamu, sesekali menatap jam yang menempel di dinding hampir setengah sebelas malam Bianka belum pulang juga. Bahkan ponselnya sulit di hubungi, pesan yang ia kirim centang satu.
''Kamu ke mana, sih, Bi?'' decak Satria. ''Bikin orang khawatir aja.''
Satria berinisiatif untuk mencari keberadaan Bianka, takut sesuatu buruk menimpa dia meski ngeselin dan susah di atur ia tetap mengkhawatirkannya. Satria punya keyakinan bahwa suatu hari nanti Bianka pasti akan berubah. Satria menaiki anak tangga menuju kamar mengambil kunci mobil dan jaket untuk menghalau dingin. Baru saja Satria membuka pintu utama ia mendengar deru mobil tepat di depan rumah.
Sejenak ia menghembuskan napas lega saat melihat Bianka turun dari mobil, senyum di wajahnya menghilang hatinya teremas perih saat melihat David mencium Bianka rasa sesak terasa menghujam daada. Tangannya terkepal kuat menahan geram. Buru-buru Satria menutup pintu, Bianka melayangkan kaki memasuki rumah sepelan mungkin agar tida menimbulkan suara. Perlahan ia membuka handel pintu sebelum suara bariton mengagetkannya.
''Bagus ya, Bi, kamu jam segini baru pulang?'' hardik Satria dengan sorot mata tajam. Matanya menyipit menatap benda bulat yang melingkar di pergelangan tangan.
''Kamu tuh bikin kaget tau gak, sih? Kalau aku jantung gimana,'' sanggah Bianka sambil menekan d**a yang berdegup kencang ia pikir Satria sudah tidur.
''Tinggal bawa aja ke rumah sakit. UGD buka dua puluh empat jam.''
''Jadi, kamu pengen aku cepat mati?''
''Aku gak bilang gitu. Kamu aja yang over thingking.''
''Sama aja,'' ujar Bianka dengan berkacak pinggang. ''Minggir, aku mau ke kamar,'' ucap Bianka saat melihat Satria mencegah langkah kakinya.
''Aku belum selesai bicara! Aku butuh penjelasan. Pergi ke mana aja jam segini baru pulang?''
''Kuliah lah apalagi.''
''Kuliah sampai jam segini yang bener, aja. Kuliah atau keluyuran?'' Satria menatap paper bag yang berada di tangan dengan Bianka.
''Mau kuliah kek, mau keluyuran, kek bukan urusan kamu. Ingat perjanjian kita di larang ikut campur urusan masing-masing.''
''Ohw, oke! Kalau itu yang kamu mau. Fine! Satu lagi, apa-apan ini?'' Satria menunjukkan sejumlah tagihan yang masuk ke dalam ponselnya. ''Baru beberapa hari lalu, kamu belanja sekarang belanja lagi.''
''Gak usah lebay deh, segitu aja dah kaya orang kebakaran jenggot. Biasanya lebih dari itu, Papa juga gak protes. Lagian dah tugas kamu ngasih nafkah, gak boleh perhitungan,'' sindri Bianka.
''Berarti gak salah dong, kalau aku nuntut nafkah batin?'' Lidah Bianka tercekat mendengar ucapan Satria. Ia bergerak mundur kebelakang saat Satria berjalan mendekat ke arahnya
''Enak, aja. Ingat perjanjian kita gak ada kontak fisik.''
''Siapa yang peduli!''
''Sat, kamu mau ap-a?'' ucap Bianka tergagap saat Satria berjalan mendekat penuh hati-hati dan intimidasi mengukungnya di antara pembatas tangga, hingga membuat Bianka tak mampu bergerak. Ditambah tangannya yang memegang paper bag.
''Kalau kamu macem-macem, aku janji akan jebloskan kamu ke penjara.'' Satria tergelak mendengar ucapan Bianka seolah ada yang lucu.
''Silahkan. Aku suami kamu kalau lupa, gak ada dalam kamus Suami masuk penjara hanya gara-gara menyentuh istrinya. Selama tidak melakukan tindak kekerasan.''
''Sat--'' ucap Bianka terpotong saat Satria membungkam bibir Bianka dengan kasar.
''Aku gak suka milikku disentuh orang lain,'' ujar Satria setelah melepas tautan bibirnya. ''Di mana lagi dia nyentuh kamu?''
Bianka menggeleng dengan napas naik turun ada geram tertahan, ingin sekali dia menendang Satria karena sudah seenaknya mencium tanpa ijin. Kenapa sih harus terjebak dipernikahan sialan ini.
''Bohong, aku gak percaya. Bilang, Bi dia nyentuh kamu di mana lagi?''
''Gak ada cuma itu,'' kilah Bianka.
''Yakin cuma di situ?'' tanya Satria memastikan ia tak yakin dengan jawaban Bianka. ''Atau mau aku cari tau sendiri?''
''Kamu pikir, aku perempuan gampangan hah,'' sinis Bianka yang merasa direndahkan harga dirinya.
''Siapa yang tau, di depan umum aja kamu berani berciuman. Wajar kalau, aku curiga. Ingat Bi status kamu sekarang.''
''Cuma pernikahan sementara, sebentar lagi juga pisah kalau kamu lupa. Jangan mentang-mentang udah jadi suami, kamu bisa ngatur hidupku seenaknya. Ingat satu hal gak akan bisa.''
''Bisa! Kenapa enggak?'' jawab Satria tak mau kalah.
''Kamu tuh nyebelin tau gak, sih.''
''Emang. Kenapa? Gak terima?''
''Aku yakin papa kenapa pelet, makanya dia percaya banget sama, kamu.''
''Mungkin,'' sahut Satria santai.
''Kamu tuh nyebelin banget tau gak, sih.'' Bianka memukul d**a bidang Satria bertubi-tubi, setelah Satria mengendurkan kungkungannya. Ia membiarkan Bianka memukul sampai lelah sendiri, setelah itu Satria menggendong Bianka menuju kamar memanggulnya persis seperti mengangkat karung beras.
''Turunin, Bang Sat.''
''Bisa diam gak? Kamu mau kita jatuh.''
Bianka merasa ngeri saat menaiki anak tangga ia pun memutuskan pasrah tak ingin mati konyol jatuh dari tangga dan masuk laman berita dengan tagar sepasang suami istri mati akibat jatuh dari tangga. Membayangkan itu membuat Bianka bergidik ngeri. Satria mendorong handel pintu kamar Bianka yang kebetulan tidak terkunci hingga memudahkannya untuk masuk.
Sampai di kamar Bianka kembali meronta minta di turunkan, tetapi Satria tak mengindahkan permintaan Bianka. Tubuh Satria pun oleng tak bisa mempertahankan keseimbangan.
''Kalau kamu gerak terus kita bisa jatuh, Bi.''
''Biarin aja biar jatuh sekalian. Turunin Bang Sat, aku punya kaki bisa jalan sendiri.''
Bener saja kini mereka jatuh terjerembab dengan posisi Bianka di bawah dan Satria di atas. Beruntung mereka terjatuh di kasur hingga tak merasa sakit. Bianka menatap nyalang Satria penuh dengan kebencian.
''Sekali lagi aku lihat David nyentuh kamu, kamu akan tau akibatnya.''
Satria pergi meninggalkan Bianka yang kini tengah menahan kesal. Tak lupa ia memberikan satu ciuman lembut sebelum meninggalkannya.
''Bang Sat!''