Episode 10

1377 Kata
Sebulan sudah usia pernikahan Satria dan Bianka semua masih sama, tak ada perubahan yang berarti sibuk dengan kehidupan masing-masing. Satria tengah berkutat dengan pekerjaannya duduk di belakang meja. Tak ada angin tak ada hujan, Bram datang ke kantornya tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Erika, sekertaris Satria memberitahukan lewat sambungan interkom ada Bram di lobby kantor yang menunggunya. Tidak mungkin seorang Bram datang menemuinya tanpa tujuan tertentu, pasti ada sesuatu yang ingin disampaikan. Satria memberikan perintah pada Erika untuk mengantarkan Bram ke ruangannya. Pintu diketuk Erika masuk ke dalam ruangannya mengantar Bram, setelah Satria mempersilahkan masuk. ''Sibuk, Sat?'' tanya Bram berdiri di hadapan Satria setelah memasuki ruangannya. ''Ya seperti ini, Pa. Silahkan duduk.'' Satria mempersilahkan Bram duduk di sofa yang tersedia di ruangannya, hening sesaat sibuk dengan pikiran masing-masing. ''Gimana? Sudah ada kabar baik belum? Papa dah gak sabar pengen menimang cucu.'' Seketika lidah Satria terasa tercekat, tak tau harus menjawab apa. Ia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, boro-boro hamil nyentuh aja belum. Melihat gelagat Satria, Bram hanya geleng-geleng kepala dan berdecak mengelus jenggot tipisnya. ''Segitu gak menariknya anak Papa?'' ''Enggak, Pa. Bukan gitu?'' ''Terus?'' Bram memicing curiga menatap Satria. "Astaga! Jangan-jangan ....'' tebak Bram dengan ucapan yang menggantung seolah bisa tau tentang apa yang terjadi dengan rumah tangga anaknya. Apa lagi ekspresi Satria terlihat jelas, tak bisa membohonginya yang sudah banyak makan garam kehidupan, tak perlu bercerita Bram bisa memprediksi apa yang terjadi dalam rumah tangga anaknya, terutama jika melihat sikap Bianka yang sedari awal menolak untuk dijodohkan. Gak mungkin ia pasrah begitu saja tanpa perlawanan. ''Kamu yang sabar, ya, Sat. Papa yakin Bianka lambat laun pasti akan berubah, ini semua salah Papa yang egois gak pernah ada waktu, kurang memperhatikan pergaulannya siapa kawannya apa aja yang dia lakukan diluar sana, yang Papa tau bekerja dan bekerja. Tanpa pernah memikirkan dampak kedepannya, tapi Papa yakin Bianka bisa berubah suatu hari nanti karena sebenarnya dia anak yang baik dan penurut.'' ''Satria juga yakin Bianka pasti akan berubah suatu hari nanti, pa.'' Bram menepuk bahu Satria pelan, menguatkan lalu memberikan kode pada Satria untuk mendekat ke arahnya dan membisikkan sesuatu di telinganya. Bibir Satria terkatup mendapat ide gila dari Bram. ''Bagus kan ide Papa.'' ''Apa harus seperti itu, Pa?'' tanya Satria yang dilanda kebingungan. ''Gak masalah, apapun akan kita lakukan demi kebaikan Bianka.'' Satria hanya mengangguk sebagai jawaban dan tersenyum tipis. ''Kalau gitu Papa pulang dulu, ada banyak hal yang harus Papa kerjakan. Jangan sungkan kalau butuh bantuan segera hubungi Papa, Papa akan selalu dukung kamu,'' ucapnya sebelum berpamitan. Satria mengangguk mengiyakan mengantarkan hingga ambang pintu. * Bianka masih asyik bergulung dengan selimut tak tau harus melakukan apa, pasalnya hari ini libur gak ada rencana apapun selain menjadi tim rebahan dan nonton drakor favoritnya. ''Bosen.'' Bianka menyingkap selimut duduk di tepi ranjang. ''Ahgt, iya, bentar lagi kan David ulang tahun kasih kado apa, ya? Coba searching kali ada yang menarik.'' Bianka meraih ponsel yang berada di nakas, jemari lentiknya bergerak lincah mengetik aksara mencari sesuatu di pencarian. ''Sepertinya ini bagus,'' gumam Bianka saat menatap jam tangan di situs belanja online. ''Iya, deh, ini aja. Aku mau buat kejutan pasti dia suka.'' Kini jemari Bianka bergulir mencari kontak Sarah untuk meminta menemaninya ke mall, tapi sayang no Sarah tidak aktif ia hanya bisa mengembuskan napas. ''Ke mana, sih, tuh anak giliran dibutuhin aja gak ada ngilang kaya hantu. Dah lah telepon David aja kali dia gak sibuk.'' Bianka mendial nomer David, butuh beberapa menit menunggu barulah David mengangkat teleponnya. Mata Bianka berbinar saat mendengar suara David di sebrang sana. ''Hallo, Dav. Sibuk gak?'' tanya Bianka. ''Iya, Bi, gimana? Lumayan.'' ''Jalan, yuk?'' ''Sorry. Hari ini aku gak bisa lagi nemenin nyokap, nih di mall. Kalau besok gimana?'' ''Yah ... ya udah deh gak pa-pa. '' ''Udah dulu ya, Bi. Sinyalnya jelek banget, nih. Suaranya putus-putus, Bi--'' David memutuskan sambungan secara sepihak. ''Dav, David yah mati deh. Aku,' kan belum selesai ngomong,'' desah Bianka kecewa. ''Ya udah deh jalan sendiri aja, gak surprise juga kalau jalan sama dia.'' * Bianka turun dari mobil melangkahkan kakinya memasuki sebuah mall mencari barang yang ia cari, tak sengaja iris berwarna coklat itu seperti menangkap sosok Sarah dan David berjalan bersama memasuki sebuah butik sambil bergandengan tangan. Bianka mengucek mata beberapa kali untuk memastikan pandangannya. Ia berjalan mengendap-endap mengikuti. ''Aku gak salah liat, 'kan? Kayanya itu David dan Sarah deh. Mereka berdua ngapain di sini? Katanya tadi nemenin Mamanya ke mall kok sama Sarah, apa kebetulan ketemu, ya? Terus Mama David di mana? Aku harus ikuti?'' gumam Bianka. Suasana mall cukup ramai membuat jarak pandangnya tak begitu jelas. Saat berhasil mendekat dan menghampiri David ia tak menemukan Sarah hanya ada David seorang diri. ''Kemana mereka?'' ucap Bianka bermonolog sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru ruangan, tiba-tiba sebuah tepukan mengagetkannya. Membuatnya terperanjat kaget. ''Kamu di sini, Bi?'' ucap seseorang. ''Ngagetin, aja, deh,'' balas Bianka mencoba menekan daada yang berdetak dua kali lebih cepat, seperti maling yang tertangkap basah. ''David,'' lirih Bianka. ''Sarah mana?'' ''Sarah?'' Kening Dafid berkerut mendengar ucapan Bianka. ''Aku gak sama Sarah kok, salah liat mungkin . ''Enggak, aku gak salah liat. Ada Sarah bareng sama kamu tadi.'' ''Mana orangnya? Kamu bisa lihat sendiri kan? Kalau aku sendirian.'' Bianka tampak berpikir menelengkan kepa ''Mama kamu ke mana?'' ''Lagi ke toilet.'' ''Serius?'' ''Serius, Bi. Swear deh, mau nyusul ke toilet?'' tawar David. ''Gak usah. Ya udah deh aku percaya sama, kamu.'' ''Nah gitu dong baru namanya pacar yang baik. Kamu ke sini sama siapa?'' ''Sendiri.'' ''Mau aku temenin?'' ''Gak usah, aku, sendiri aja. Lagian kamu lagi sama Mamamu, 'kan? Ya udah kalau gitu aku pergi dulu.'' ''Hati-hati, Bi.'' Bianka mengangguk mengiyakannya. David mengembuskan napas lega setelah kepergian Bianka. Diam-diam Sarah keluar dari persembunyiannya menghampiri David. ''Udah pergi, dia?'' ''Aman. Untung dia percaya,'' jawab David. ''Dunia sempit banget, sih, dari sekian banyak mall kenapa harus ketemu di sini. Kayanya gak aman, Dav kalau kita masih di sini,'' gerutu Sarah menatap punggung belakang Bianka. ''Iya, benar juga. Ke apartemen aja kalau gitu di sana lebih leluasa.'' Tanpa berpikir dua kali David langsung merangkul pinggang Sarah keluar dari butik setelah memastikan ke adaan aman. ''Tapi, aku masih mau belanja,'' keluh Sarah. ''Nanti aku temenin sekarang kita ....'' David mengedipkan sebelah matanya. ''Sekarang apa?'' ''Kaya gak tau aja.'' Setelah mendapat kado yang diinginkan Bianka memutuskan untuk langsung pulang ke rumah. Mau ke club masih terlalu sore gak enak juga kalau sendirian, seperti orang ilang. ''Tumben, Bi, di rumah,'' sindir Satria saat melihat Bianka duduk di ruang televisi sambil menonton gosip, tak lupa aneka cemilan terhidang di meja kentang goreng dengan limpahan saos pedas, burger, boba, dan anek snak lainnya. ''Gak boleh, aku di rumah,'' ketus Bianka ''Boleh, boleh banget malah yang sering-sering aja kaya gini. Salim dulu sini sama suami baru pulang kerja.'' ''Ihgt males,'' cibir Bianka. ''Ganti baju sana jangan ganggu aku. Bau tau gak?'' ''Wangi gini kok.'' Dengan sengaja Satria mengenyangkan diri duduk di samping Bianka menggodanya adalah salah satu kesenangannya. ''Cium aja kalau gak percaya.'' Bianka mengambil ancang-ancang beringsut menjauh, tau sendiri Satria orangnya suka nekat main sosor sembarangan. ''Ada yang mau aku omongin.'' ''Apa?'' sahut Bianka cuek. ''Papa mau nginep di sini?'' ''Hah ... kapan?'' Mau tidak mau Bianka menoleh menatap Satria dengan bibir menganga. ''Gak tau kapan pastinya, beliau gak bilang.'' ''Terus gimana dong?'' Satria mengedikan bahu. ''Gak tau pikir sendiri aja. Mandi, ahgt gerah.'' Satria mengendurkan dasi beranjak dari duduknya. Bianka masih termenung mencerna ucapan Satria, detik berikutnya dia berlari mengejar Satria. ''Sat, tunggu.'' ''Apa? Mau ikut mandi?'' ''Ngimpi.'' ''Terus ngapain ikut-ikut ke sini, mau ngintip?'' ''Ngaco! Bisa serius dikit gak, sih, jadi orang. Papa gimana?'' ''Ya, gak gimana-gimana? Emang kenapa? Banyak kamar di sini kenapa mesti repot.'' ''Nanti kalau Papa tau kita gak satu kamar gimana?'' ''Kita tinggal satu kamar gampang kan.'' Bianka mengigit jari telunjuknya. ''Gak ada ide yang lain?'' ''Gak mau juga gak pa-pa, gak maksa.'' ''Dasar gak bisa diandalkan. Percuma ngomong sama, kamu. Mau telepon Papa langsung aja. Siapa tau cuma akal bulus doang.'' ''Terserah kalau gak percaya.'' Bianka pun pergi meninggalkan Satria yang masih berdiri di ambang pintu dengan tubuh bersandar. Ia harus memastikan ucapan Satria bisa gawat nanti kalau Papanya sampai tau pisah kamar. Bisa-bisa dicoret dari ahli waris dan KK keluarga. ''Apa, sih, maunya Papa. Nikah udah diturutin sekarang apalagi coba. Gak cukup bikin anaknya menderita.''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN