Episode 11

1750 Kata
Matahari tampak bersinar cerah, tetapi berbanding terbalik dengan suasana hati Bianka semenjak menikah hidupnya sudah tidak setenang dan senyaman dulu. Penuh dengan aturan bahkan untuk pergi ke club harus sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan Satria. Dengan langkah gontai Bianka berderap menuju kamar mandi melakukan rutinitas paginya, mandi dan berangkat kuliah. Sebenarnya Bianka masih ingin bergulung dengan selimut tidur sampai siang kalau perlu. Ia masih ngantuk, tapi semua ia urung lakukan karena hari ini ada info pengumuman program magang yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Bisa gagal skripsi nanti kalau gak ikut magang. Gak mau dong ngulang lagi semester depan, bisa dicap mahasiswa abadi yang ada. Hallo ... mau ditaro di mana mukanya nanti. ''Tuhan ... bisakah kau turunkan hujan dan petir aku ingin Satria menghilang dari muka bumi. Aku ingin uwow-uwowan sama David, tanpa ada yang mengganggu. Aku benci dia!'' pekik Bianka tepat di depan pintu kamar, kebetulan kamar mereka saling berhadapan dan Tepat saat itu Satria keluar dari kamarnya. ''Btw dia dengar gak, ya sama yang aku omongin barusan? Bodo amat denger juga gak pa-pa, siapa yang peduli. Cerai sekalian juga gak pa-pa.'' Bianka melewati Satria begitu saja dengan mengibaskan rambut di depannya. Wangi aroma shampo terasa menguar menembus indra penciuman. Sejenak Satria tertegun, tapi detik berikutnya ia menggelengkan kepala menyusul Bianka. ''Ngomong apa barusan?'' Satria mencegah langkah Bianka tepat berdiri di depannya. ''Ngomong apa? Aku gak ngomong apa-apa,'' sinis Bianka. ''Aku belum budeg, ya. Aku dengar tadi apa yang kamu ngomongin.'' ''Ya bagus gak perlu pakai alat pendengaran berarti. Minggir aku mau lewat.'' ''Lewat-lewat aja, gak ada yang ngelarang.'' ''Iya, tapi kamu ngalangin jalan.'' Satria memutar bola mata. ''Minggir Bang Sat, aku mau lewat kalau sampai aku telat semua gara-gara, kamu.'' ''Belum diapa-apain udah telat.'' Wajah Bianka terlihat merah padam mendengar jawaban Satria. Ia menjejakkan kakinya kelantai mendorong bahu Satria. ''Ngomong sama kamu bikin emosi emang.'' ''Siapa suruh nyari gara-gara.'' ''Terserah!'' ketus Bianka melewati Satria begitu saja bahkan sempat menyenggol bahunya hingga sedikit terhuyung. Satria tersenyum tipis menatap punggung Bianka yang perlahan menghilang. Sebagai mahasiswa semester lima Bianka dan para teman-temannya diwajibkan untuk mengikuti program magang, yang memakan waktu antara tiga sampai enam bulan ke depan. Kebetulan pihak kampus sudah menyiapkan tempat untuk mereka nanti magang. Sebagai bentuk kerjasama antar kampus dan perusahaan. Jadi, tak perlu repot-repot mencari tempat magang sendiri yang perlu mereka siapkan adalah CV, KTP, Kartu Keluarga, pas foto, persiapan diri, pakta integritas (surat perjanjian magang) dokumen pribadi, transkrip nilai dan lain-lain. ''Yah, Bi, kok kita gak satu tempat sih magangnya,'' keluh Sarah saat menatap info pengumuman di mading. ''Iya nih gak seru. Eh, kamu enak banget tempatnya dekat sama David, lah aku kaya orang ilang mana gak gitu kenal lagi sama anak-anak yang lain.'' ''Tetap aja gak asyik. Ibarat kata, nih, gak ada lo gak rame. Kita kan biasanya selalu kompak bareng, sama-sama tak terpisahkan.'' ''Iya juga, sih. Mau gimana lagi.'' Bianka mengedikan bahu. ''David ke mana, sih, akhir-akhir ini dia dah kaya jelangkung suka tiba-tiba ngilang, tiba-tiba muncul heran deh.'' ''Dia lagi sibuk mungkin.'' ''Sibuk apaan? Sibuk nyeri yang lain. Tau lah ngeselin.'' Sarah mengedikan bahu sebagai tanggapan. ''Kantin aja, yuk daripada bete. Laper, nih.'' Bianka dan Sarah pun kini duduk di kantin menyantap makan siang sesekali saling bercanda. ''Nitip David, ya, Sar kalau dia macem-macem jangan lupa lapor ke aku. Biar aku hiih nanti.'' ''Siap, Bi tenang aja. Aku pastikan David gak bakal lirik cewek lain, kalau perlu aku pakein kaca mata kuda.'' Bianka tergelak mendengar ucapan Sarah. ''Biasa, aja, kamu,'' ujar Bianka sambil menyuapkan baso ke dalam mulut. ''Panjang umur, tuh yang diomongin datang,'' ucap Sarah memberikan kode dengan lirikan mata. Bianka menoleh mengikuti arah pandang Sarah, sedetik kemudian ia membuang muka. Kesal. Dengan langkah penuh percaya diri David menghampiri meja Bianka dan Sarah, dengan senyum yang terpatri di wajahnya. ''Hay, kesayangan,'' sapa David seraya menarik kursi duduk di samping Bianka. ''Kok mukanya cemberut, sih, tar cantiknya ilang lho.'' ''Bodo! Ngeselin. Ngilang-ngilang mulu dari kemarin.'' ''Ohw ceritanya ada yang ngambek, nih,'' ucap David sambil menangkup wajah Bianka. ''Gak usah pegang-pegang males.'' Bianka menepis tangan David. ''Sorry, kalau rada sibuk akhir-akhir ini. Tapi aku punya alasan kok.'' ''Apa? Nyari cewek lain, iya, gitu?'' ''Enggak dong. Satu aja gak habis-habis ngapain nambah lagi.'' ''Halah ... bullshit!'' ''Swear, Bi. Aku gak gitu kok. Jadi, aku tuh punya kerja sampingan sekarang ... jadi sorry kalau rada sibuk.'' ''Kerja apa emang?'' ''Ada deh, rahasia.'' ''Jadi, sekarang gitu main rahasia-rahasian sama, aku?'' ''Enggak bukan gitu. Ehmm ... belum waktunya aja kamu tau. Nanti deh pasti aku kasih tau.'' ''Beneran?'' ''Janji. Senyum dong jangan cemberut.'' ''Oke.'' ''Nah gitu dong makin cantik jadinya. Ohw iya satu lagi ... malam ini jalan, yuk? Aku traktir deh. Kamu juga, Sar. Tar malam aku tunggu di club.'' ''Asyik yang habis gajian,'' ucap Sarah. ''Yoi dong, aku kan bukan beban keluarga,'' imbuh David bangga. ''Masih ada kuliah gak, Bi?'' tanya David Bianka. ''Udah selesai kok.'' ''Jalan, yuk?'' ''Ke mana?'' ''Ke mana aja, tar juga tau.'' ''Oke.'' Kini pandangan Bianka tertuju pada sahabatnya. ''Sarah, aku duluan ya. Eh, antar Sarah pulang dulu gimana, Dav?'' ''Boleh, ayo.'' ''Eh, gak usah aku bawa mobil kok.'' ''Beneran, Sar?'' tanya Bianka menyakinkan. ''Heumm ... have fun kalian.'' ''Oke deh kalau gitu, bye Sarah.'' David mengajak Bianka berbelanja, tanpa ragu Bianka setuju saja karena ia salah satu perempuan yang hobby berbelanja, baginya shopping adalah healing. Paling gak bisa nolak kalau diajak berbelanja mau kapan pun di mana pun hayok aja. Setelah puas berbelanja dan keliling kota mereka memutuskan untuk mampir ke apartemen David, singgah sejenak sebelum berlanjut pergi ke klub. Mau pulang nanggung jadilah ia berada di apartemen David sekarang. bukan sekali aja sih Bianka mampir ke apartemennya beberapa kali pernah masuk juga. Segala password kode masuk Bianka juga tau rasanya seperti sudah tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Sebesar itu kepercayaannya. Bianka mengenyakan diri duduk di sofa. Disusul David duduk di sampingnya. ''Mau minum apa, Bi?'' ''Biasa soft drink.'' ''Oke bentar aku ambil dulu.'' David pun beranjak dari duduk menuju kulkas mengambil beberapa botol minuman ringan lalu meletakkannya di meja. Tanpa diminta dengan pengertian David membukakan tutup minuman untuk Bianka. ''Thank's Dav.'' David mengangguk sebagai jawaban ia tersenyum tipis memperhatikan cara Bianka minum yang terlihat sexy. Bagaimana leher jenjangnya meneguk tiap air yang melewati kerongkongan. David mendekat ke arah Bianka, hingga wajah mereka tinggal beberapa inci. ''Ngapain Dav?'' ''Mau minum.'' ''Ya udah minum, gih. Tuh masih banyak.'' Tunjuk Bianka dengan gerak bibirnya. ''Minumnya dari sini.'' Mata Bianka membeliak, tapi juga tak bisa mengelak saat David meraup bibir Bianka menyesap minum yang tersisa. Tak ingin munafik ia pun membalas karena bukan hanya sekali mereka berciuman selama berpacaran wajarlah hampir dua tahun menjalani tali asmara baginya sudah menjadi hal yang biasa, hanya sebatas itu saja gak lebih. Saling membelit dan menyesep menikmati rasa. Bianka tidak akan pernah mau diajak lebih. Sebebas apapun gaya hidupnya ia akan mengingat pesan sang mama agar bisa menjaga diri. Untuk tidak melewati batas, karena perempuan yang akan sangat dirugikan dan banyak menerima dampaknya. David merebahkan tubuh Bianka hingga terpojok ke sofa, ciuman yang hanya sebatas bibir itu kini beralih ke leher dengan tangan David yang aktif bergerilya. Bianka mendorong bahu David, saat ciuman itu perlahan mulai turun ke leher dan d**a. Baju Bianka pun kini mulai berantakan dua kancing teratasnya sudah terlepas. ''Kenapa, Bi?'' tanya David yang tampak sedikit kesal karena Bianka tiba-tiba menghentikan aktivitasnya. ''Cukup udah nanti kebabelasan.'' ''Gak pa-pa nanti aku pasti tanggung jawab, kok. Kalau sampai kamu kenapa-kenapa.'' ''Aku gak mau hamil.'' ''Tenang aja, kita bisa ngeluarin di luar.'' ''Siapa yang jamin.'' ''Hanya sekali ini, Bi. Gak mungkin langsung hamil. Ada Satria juga, 'kan orang-orang juga nanti pasti ngiranya anak dia.'' Bianka menggeleng menolak David sehalus mungkin. ''Yang bener aja masa satu tahun pacaran cuma gini-gini, aja. Mana buktinya Bi katanya kamu cinta sama aku? Aku butuh bukti.'' ''Emang harus sampai kaya gitu?'' ''Haruslah untuk membuktikan keseriusan. Kalau kaya gini aku jadi ragu sama perasaan kamu? Jujur aja sebenernya kamu gak cinta kan sama, aku?'' ''Cinta Dav, aku sayang banget sama kamu kok. kalau gak cinta ngapain masih bela-belain pacaran sama kamu sampai sekarang.'' ''Tapi bukti cinta aja gak ada. Kamu selalu nolak kalau aku ajak. Gimana aku percaya coba. Mau, ya sekali ini aja.'' David masih berusaha membujuk Bianka, ia menatap lekat manik mata Bianka membelai lembut rambutnya. Sejenak Bianka terpaku tersentuh oleh kelembutan sikap pria yang berada di atasnya. David kembali mencoba melabuhkan ciuman penuh napsu, tatapannya kini dipenuhi kabut gairah. Untuk kesekian kali Bianka menolak, kewarasannya masih terjaga nasihat Mama sebelum meninggal terus terniang di kepala. Ia tidak ingin mengkhianati kepercayaan sang Mama meski sudah tak ada di dunia ini. ''Sorry, aku gak bisa.'' Bianka menegakkan tubuhnya menjadi duduk. ''Kenapa?'' desah David nampak kecewa ada rasa kesal yang terlihat jelas dari pancaran matanya. ''Kalau kamu takut hamil aku ada kok kondom.'' Seketika mata Bianka membeliak lebar menatap David dengan tatapan penuh tanya. "Kondom? Kamu punya kondom, buat apa? Jangan-jangan kamu--?'' tanya Bianka curiga. ''Pu-nya temen ....'' jawab David terbata.'' kemarin pas ngumpul ada yang bawa. Mereka ninggalin beberapa kotak. Ayolah mereka aja making love biasa aja masa kita engga pernah sama sekali. Cupu banget. Anggap aja sebagai kado ulangtahun, aku mau kado itu aja.'' Bianka menggelengkan kepala, meski ada bimbing yang merasuki. Ucapan David yang terlihat begitu manis begitu juga dengan sikapnya. ''Kamu beneran cinta, 'kan Bi sama aku? Atau cuma pura-pura?'' cerca David membuat Bianka merasa bersalah. ''Kalau gitu buktikan dong, aku aja bisa bertahan walaupun kamu udah nikah tetap setia nunggu kamu, masa aku minta gini aja gak bisa atau jangan-jangan kamu udah cinta sama Satria.'' Bianka menggeleng menatap lekat mata David ''Beneran, Dav. Aku gak pernah ngapa-ngapain sama Satria kita aja tidur pisah kamar. Aku mau kok, tapi nunggu kita nikah dulu, ya.'' Bianka mengusap bahu David menyakinkan. ''Kelamaan, Bi. Aku maunya sekarang. Kamu gak liat aku tersiksa gini. Sakit, Bi.'' Bianka tetap menolak kekeh dengan pendiriannya. David mengacak rambut frustasi ia butuh pelampiasan, tak semudah itu ternyata membawanya keranjang. ''Ayolah, please sekali ini aja. Bentar lagi jarang ketemu lho, kita mau magang, 'kan?''' ''Sorry, aku gak bisa. Kalau terus maksa mending aku balik aja, deh. Berantem terus yang ada kalau kaya gini ceritanya, aku tuh butuh ketenangan. Di rumah pusing di sini jauh lebih pusing. Bukannya bantu ngeringanin beban, nambah beban pikiran yang ada. Bikin pusing kepala, aja. Otaknya bisa gak sih dibayclin biar gak m***m mulu isinya, kebanyakan nonton bokep, sih, jadi gini deh. Viktor! Sarkas Bianka yang mulai tersulut emosi. ''Oke, aku gak maksa. Bantu lemesin bolehkan?'' Mata Bianka membeliak lebar menatap David.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN