Bianka melambaikan tangan pada David setelah mengantarnya sampai ke depan rumah lalu perlahan memasukkan anak kunci membuka handel pintu berjalan mengendap-endap memasuki rumah, takut ketahuan Satria untung saja punya kunci duplikat. Jadi, tidak perlu repot-repot meminta dibukakan pintu. Ia menjinjing sepatunya agar tidak menimbulkan suara, perlahan ia berderap menuju anak tangga dengan jalan sedikit sempoyongan. Sesekali nyaris membentur barang di sekitar.
''Ck ... ngapain, sih kursi ada di sini ngalangin jalan aja,'' gerutu Bianka ia melanjutkan langkah kini nyaris menabrak vas bunga. ''Hampir ... ini juga ngapain vas ada di sini untung gak jatuh, ngerepotin.'' Baru saja akan menaikinya tiba-tiba lampu yang tadinya gelap menjadi terang.
''Setan!''
Buru-buru Bianka membekap bibirnya setelah tau ada Satria yang berdiri menjulang di samping saklar lampu dengan tatapan tajam ke arahnya. Ia pikir makhluk tak kasat mata, jantungnya nyaris seperti mau copot gara-gara melihat kejadian itu tapi gak ada bedanya juga sih Satria sama setan mukanya sama-sama horor.
''Bang Sat ngagetin aja deh,'' sungutnya kesal.
''Kamu yang kaya setan jalan ngedap-ngendap. Kenapa takut ketahuan?''
''Engga tuh biasa aja. Mana ada setan secantik aku,'' sahutnya cuek.
'Ada. Kamu buktinya. Gak liat penampilan acak-acakan kaya gitu. Ngaca makanya gak usah sok kecakapan.''
''Ck! Ngeselin.''
''Masih ingat pulang? Gak usah pulang aja sekalian.''
''Masih mending aku pulang, daripada gak pulang sama sekali? Elah ... baru jam berapa,'' ujar Bianka sambil menyampirkan tasnya di bahu.
''Jam berapa katamu?'' hardik Satria dengan tatapan tajam. ''Liat, Bi hampir jam dua. Gila kamu, ya? Mau sampai kapan kaya gini terus.''
''Sampai kapan kek, suka-suka akulah. Kamu gak berhak ikut campur. Lagian kaku banget jadi orang, kamu mau pulang jam berapa aja aku juga gak pernah ngelarang. Santai aja kali. Udah ahgt, aku mau tidur ngantuk.''
Bianka berjalan melewati Satria begitu saja, tapi Satria mencekal pergelangan tangannya. ''Aku belum selesai bicara BIANKA,'' ucap Satria penuh penekanan.
''Mau ngomong apa lagi, sih, capek tau.''
''Suruh siapa keluyuran sampai larut kaya gini.''
''Please deh daripada kamu ceramah mending, kamu minggir. Ngabisin waktu aja tau gak. Kalau besok sampai telat ke tempat magang semua salahmu.''
Mau tidak mau Satria melonggarkan cekalnya membiarkan Bianka pergi begitu saja. Percuma juga berantem malam-malam ganggu istirahat penghuni rumah yang ada dan hanya akan menimbulkan gosip di sekitar mereka bahwa hubungannya tidak harmonis. Satria menjambak rambut kuat. Tidak semudah itu ternyata menjalani rumah tangga selalu saja ada pertengkaran yang terjadi, sehari aja hidup tenang sepertinya gak bisa. Ia ingin keluarga yang utuh dan harmonis seperti orang tuanya.
Benar saja hampir Bianka datang terlambat ke tempat magang untung saja masih diperbolehkan masuk. Semua staf perusahaan berkumpul untuk memperkenalkan diri sesuai bidang dan jabatan masing-masing. Tak banyak yang Bianka kenal di kelompok magangnya hanya beberapa orang saja, karena mereka gabungan dari kelas lain yang digabung secara acak. Untung aja ada Rasti teman satu kelasnya yang ia kenal lumayanlah daripada gak ada yang kenal sama sekali bisa diajak ngobrol.
''Untung aja masih boleh masuk,'' ucap Bianka ngos-ngosan. Berdiri di belakang Rasti
''Iya, tapi kamu ngelewatin satu hal, Bi.''
''Apa?'' tanya Bianka penasaran. Menoleh pada Rasti teman satu magangnya.
''Pemilik perusahaan ini tadi dah kenalan lebih dulu. Sekarang orangnya udah pergi ada meeting penting katanya jadi gak bisa perkenalan lama-lama.''
''Bodo amat gak penting juga,'' sahut Bianka acuh.
''Ganteng banget tau, Bi. Kaya Oh Sehun.''
''Gak minat.''
''Ya, deh yang matanya dah ketutup sama David. Ati-ati, Bi sama dia.''
''Kenapa emang?'' Alis Bianka berkerut menatap Rasti penuh selidik.
''Kemarin aku liat dia jalan sama sahabat, kamu tuh.''
''Ohw itu dah biasa kali.''
''Kamu gak curiga, Bi. Mereka mesra banget lho.''
''Gak lah, aku percaya sama mereka.''
''Hey ... kalian anak magang ngomongin apa dibelakang? Ini bukan waktunya ngobrol, ya? Kalau gak serius mending keluar aja sekarang. Kita gak butuh anak magang yang sok belagu dan banyak tingkah!'' tegur Bu Dina selaku staf senior penanggung jawab anak magang.
''Maaf, Bu kami berjanji tidak akan berbuat seperti itu lagi.''
''Baik kali ini, saya maafkan tapi tidak untuk lain kali.''
Bianka dan Rasti pun saling sikut lalu menunduk.
***
Hampir dua minggu Bianka magang di perusahaan swasta yang ditunjuk oleh pihak kampus sebagai mahasiswa jurusan bisnis manajemen ia di tempatkan di bagian akunting, tapi sesekali diperintahkan juga untuk melihat jalannya proses produksi. Semua peserta magang diperlukan sama gak ada yang dibedakan, mau itu anak orang kaya, rakyat jelata semua sama. Kebetulan perusahaan tempat ia magang bergerak di bidang startup Jenis e-commerce yang bergerak di bidang jual beli, kebutuhan masyarakat. SHOPAAY adalah nama toko online rintisannya yang kini namanya mulai dikenal masyarakat Indonesia.
Bianka banyak belajar bagaimana proses barang-barang itu sampai kepada customer dari pengepakan, pengiriman dan mekanisme pembayaran dari saller ke buyer. Bahkan kini layanan pembayarannya di buat semakin mudah. Jika dulu hanya bisa dilakukan transfer antar bank, sekarang mulai menjalankan sistem baru yaitu pembayaran dengan sistem COD atau yang lebih dikenal dengan cash order delivery, sistem bayar di tempat dan DO atau yang lebih dikenal dengan delivery order bayar setelah barang sampai.
Jadi, kita tidak perlu repot-repot lagi keluar rumah untuk membeli sesuatu. Cukup dengan duduk manis di rumah barang akan datang sesuai pesanan dan di antar oleh seorang kurir. Intensitas pertemuannya dengan David pun semakin berkurang baru sekali bertemu dengannya, tetapi gak masalah untuk Bianka. Toh masih bisa berkirim pesan lewat smartphone, ia juga ingin cepat lulus kuliah. Merasakan yang namanya kerja dan punya uang hasil jerih payah sendiri.
''Tolong fotokopi ini, Bi,'' ucap Bu Dina yang melihat Bianka terlihat santai di balik kubikel.
Dih, kok, aku sih? Ini kan bukan tugasku. Ngeselin banget ibu satu ini. Ngerjain mulu dari tadi. Tadi minta bikinin kopi sekarang fotocopy lama-lama aku sianida juga dia. Kaya gak ada OB aja.
''Kenapa? Keberatan?'' tambah Bu Dina melewati kacamata yang sengaja ia turunkan dengan tatapan galak.
''Engga kok.'' Bianka pun bangkit dari duduknya mengambil sebendel berkas di meja Bu Dina, lalu melayangkan kaki menuju mesin fotocopy. Mengcopy satu-persatu kertas itu. ''Gini banget ya orang kerja, aku pikir enak tinggal duduk manis dapat uang. Emang paling bener tinggal minta. Fiuh ....''
Jam makan siang tiba Bianka dan Rasti kini duduk di kantin, kebetulan pihak perusahaan memberi jatah makan pada karyawannya. Mereka bebas memilih menu apa saja sesuai jadwal harian yang tersedia, tapi terkadang ada juga karyawan yang memilih makan diluar seperti restoran, nasi Padang, saung, misalnya. Semua terserah mereka tak ada paksaan.
''Makan, Bi. Bentar lagi masuk lho main hp mulu.''
''Males ihgt makanannya gak enak,'' bisiknya.
''Enak kok aku seneng malah dapat jatah makan di sini, bisa hemat uang bulanan Kamu mah enak anak sultan gak perlu hemat mau apa aja tinggal tunjuk. Gara-gara magang aja makannya kamu mau kerja dan disuruh-suruh iya, 'kan?''
''Iyalah kalau ada yang mudah ngapain nyari yang susah, demi skripsi aja nih aku rela begini. Tapi pengen juga, sih, ngerasain kerja juga, biar tambah pengalaman. Tapi enak tinggal minta emang sama ngabisin duit gak perlu capek-capek disuruh-suruh kaya gini.''
''Dasar, kamu.''
''Dah buruan makan, tar keburu habis waktunya.''
''Besok gofood aja lah, atau ke restoran.'' Bianka pun menyantap makanannya walaupun enggan.
''Terserah.''
.
Setelah pulang dari magang Bianka memutuskan untuk pulang ke apartemen David ia ingin memberi kejutan ulang tahunnya, tanpa memberi tahu kedatangannya lebih dulu. Ia membuka mobil dengan membawa kue ulang tahun dan kado yang telah ia siapkan beberapa waktu lalu. Bianka melayangkan kali dengan hati riang sepanjang koridor tak hentinya ia bernyanyi kecil.
Bianka sengaja beberapa hari ini tidak memberi kabar pada David rencananya ingin ngeprank dan memberi surprise. Tapi sekarang dia yang mendapat kejutan terlebih dulu. Dua manusia sedang berciuman di depan unit apartemen dengan begitu mesra seolah dunia hanya milik berdua.
Seketika ia terpaku menatap pemandangan menyesakkan di depan mata, segera Bianka bersembunyi ke belakang tembok saat melihat orang yang tak asing sedang berciuman, bahkan urat malunya seperti sudah putus bermesraan di tempat umum. Bisa-bisanya di depan pintu unitnya melakukan hal itu, mentang-mentang gak ada orang. Pandangan matanya terlihat mengabur air mata lolos begitu saja, segera ia menghapus jejak air mata itu membekap bibirnya agar tidak menimbulkan suara. Bianka menguatkan tekad untuk tetap masuk mengikuti mereka meski hatinya terasa hancur berkeping-keping, baginya lebih baik sakit sekarang daripada harus terus menerus dibohongi dan dibodohi seumur hidup. Tubuhnya nyaris seperti tak bertulang semua terasa lemas butuh beberapa menit untuk menguatkan tekad dan meyakinkan diri.
''Sejak kapan mereka ....?'' ucapnya dengan bibir bergetar. Ia meletakkan kue ulangtahunnya begitu saja di lantai.
Dengan menyeret langkah yang terasa berat, Bianka mengikuti dua manusia laknat itu ingin tahu seberapa jauh mereka bermain di belakangnya. Ironis memang orang yang kamu percaya ternyata mengkhianati kepercayaan yang telah diberikan. Tak perlu susah payah untuk memasuki unit itu, terlalu asyik b******u sampai mereka lupa mengunci pintu.
Mata Bianka membeliak lebar saat melihat baju dan celana berserakan di lantai, nyaris saja tubuhnya limbung. Ia menguatkan pegangan pada tembok, butuh beberapa waktu untuk menegakan tubuhnya. Bianka mengembuskan napas mengisi rongga paru-parunya sebanyak yang ia mau, tapi rasanya begitu sesak teriris perih. Rasa sesak terasa menghimpit d**a, seperti dihantam godam hingga membuat kepalanya terasa berdenyut. Tapi, ia bertekad untuk tetap mencari tau sejauh apa hubungan mereka di belakangnya meski sakit terasa menyayat. Baginya kepercayaan itu mahal harganya sekali dikhianati ia tak akan pernah percaya lagi.
Bianka menyeret langkah, melepaskan sepatu terlebih dahulu agar tidak menimbulkan suara. Ia berjalan mengendap-endap untuk memastikan semua. Suara erangan dan lenguhan di ruang kamar terasa memenuhi indra pendengaran, dengan mata kepalanya sendiri Bianka menyaksikan dua manusia laknat sedang asik bergumul mesra. David berada di atas tubuh sarah menjamah tiap lekuk tubuh yang tak memakai pakaian satu helai benang pun.
''Terima kasih, Sarah ini kado ulang tahun spesial yang pernah aku terima. Kamu emang terbaik. Aku minta gini aja gak dikasih sama Bianka pacar apaan kaya gitu.'' Sarah tersenyum menatap David
''Please deh, kita lagi seperti ini kamu masih sebut nama Bianka di depanku,'' sungut Sarah.
''Sorry. Janji, aku gak bakal sebut nama dia lagi.''
''Heumm.''
''Mau, kan maafin aku?'' Sarah mengangguk mengiyakan.
''Udah ada, aku sekarang. Kapanpun kamu butuh, aku siap kok,'' ucap Sarah dengan mata setengah terpejam menikmati tiap sentuhan yang David beri. ''Kamu janji, 'kan gak bakal ninggalin aku.''
''Tenang aja, aku gak bakal ninggalin kamu, sayang.'' Rasanya Bianka ingin muntah mendengar gombalan yang keluar dari mulut David. Semua terasa memuakan di telinga bisa-bisanya David berkata seperti itu di belakangnya.
Bianka berinsiatif untuk mengambil gambar mereka siapa tau suatu hari nanti bermanfaat
''Tapi ... kapan kamu putusin Binka?''
''Kalau itu, aku belum bisa jawab sekarang. Aku masih butuh dia, kamu tau kan dia seperti mesin atm berjalan. Kamu sendiri ikut menikmatinya, 'kan?
''Tapi--'' David membungkam bibir Sarah dengan ciuman hingga kata-kata yang akan ia ucapkan terhenti begitu saja dan larut dalam sentuhan yang melenakan. Mereka pun kini terkulai lemas bersimbah keringat.
''Aku mau lagi,'' ucap David parau.
Buru-buru Bianka pergi meninggalkan dua manusia laknat itu, sebelum menyaksikan hal yang lebih menjijikan lagi tapi jangan panggil Bianka jika akan diam saja menerima penghianatan mereka. Sebelum pergi Bianka sudah mengambil gambar dan video mereka siapa tau suatu hari nanti berguna.
Hatinya remuk redam masih tak menyangka jika orang yang dianggap tulus ternyata menusuk dibelakang mengkhianati kepercayaannya, terutama Sarah yang sudah dianggap sebagai sahabat terbaiknya. Ternyata benar apa yang dikatakan Rasti kalau mereka ada main dibelakangnya, seketika Bianka merutuki kebodohannya.
''Awas aja kalian, tunggu pembalasanku. Kalian sudah menabuh genderang perang, lihat aja! pembalasan akan lebih menyakitkan!'' tandasnya dengan gigi bergemelatuk tangannya terkepal kuat hingga buku kukunya memutih.
Hati Bianka teremas perih mengingat kilas kejadian beberapa menit lalu begitu membekas di ingatan dan tak akan mungkin melupakan begitu saja, matanya memerah menahan tangis yang hampir pecah. Buru-buru ia menyeka air mata yang hendak luruh, menghalau sakit yang terasa menyesakan d**a. Orang seperti David tidak pantas ditangisi, air matanya terlalu berharga untuk manusia k*****t macam David dan Sarah.
"David b******k! Dasar ... Sarah jalang! Ahgt ...!'' umpatnya Bianka sambil memukul stir kemudi melupakan emosinya.