Untuk meluapkan emosi dan sakit hatinya Bianka pergi ke klub seorang diri menengak vodka sebanyak yang ia mau. Merancau tak jelas, sesekali mengumpat tersenyum miris dua orang yang ia anggap sebagai orang terdekatnya, ternyata tega bermain api dibelakangnya. Bianka menelungkupkan kepala di meja sambil terisak, tak pernah ia menyangka akan mengalami nasib menyedihkan seperti ini, hatinya terasa berdenyut nyeri. Bianka menegakkan tubuh menghapus sisa air mata dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Orang seperti David gak pantes ditangisi, air mataku terlalu berharga. Lihat saja nanti, pasti akan aku balas! Awas kalian. Bianka tersenyum sinis.
''Anton, lagi.'' Bianka mengasongkan gelas pada Anton.
''Udah, Bi cukup. Kamu sudah terlalu banyak minum,'' ujar Anton bertander yang sedang meracik minuman di depannya.
''Tenang aja, aku belum mabuk, kok. Segini mana cukup. Cepat Anton, aku mau minum lagi.''
''Gak! Kamu dah terlalu banyak minum. Bahaya nanti nyetirnya. David ke mana, sih, gak biasanya kamu ke sini sendiri.''
''Jangan pernah sebut nama si Brangsek itu lagi depanku!'' berang Bianka dengan sorot mata tajam.
''Kalian ada masalah?'' tanya Anton penasaran.
Bukan rahasia umum jika pengunjung klub tau hubungan David dan Bianka, karena mereka kerap berkunjung berdua layaknya sepasang kekasih. Jadi, tak heran banyak orang yang tau tentang hubungan mereka, apalagi mereka salah satu pengunjung yang sering datang ke klub miliknya. Jadi, Anton cukup mengenal mereka.
''Bukan urusan, Kamu! Kerja aja yang bener. Cepat, aku mau minum lagi.''
Anton hanya bisa mengembuskan napas kasar berdecak kesal dan ia akhirnya memberikan satu sloki vodka seperti yang Bianka mau. Daripada harus mendengar Bianka yang marah-marah dengan ucapan tajamnya.
Bianka membanting diri ke ranjang, melempar asal tas dan sepatu yang ia kenakan. Hatinya terasa hancur berkeping-keping bahkan vodka sekalipun tak mampu menghilangkan rasa sakit di hatinya, terlalu membekas dan menancap ke relung hati. Toleransi alkoholnya cukup tinggi hingga tak mudah membuatnya mabuk. Bianka merasa justru kepalanya yang terasa pening berputar-putar, seperti tertusuk jarum rasanya sesak setengah mati, untung saja tidak ada yang tau keadaannya saat ini. Bisa-bisa Papa dan Satria menertawakan kebodohannya.
''Cukup hari ini, aku hancur dan merenungi nasib. Gak ada dalam kamus meratapi orang seperti dia!'' berang Bianka pada dirinya sendiri sebelum akhirnya tertidur lelap.
*
Patah hati gak akan membuat waktu berhenti berputar, semua berjalan sama seperti hari biasanya yang membedakan adalah hatinya tak lagi sama. Ada lubang besar yang terasa menganga, tau rasanya tidak menyukai siapa pun? Menenangkan, meski terasa sunyi. Begitulah yang di rasakan Bianka. Andai bisa memilih ia ingin mengurung diri di kamar seharian sampai puas dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Tapi, mau tidak mau ia harus berangkat ke tempat magang siapa tau dengan begitu bisa melupakan sakit hatinya.
Satria menatap Bianka yang berjalan begitu saja saat melewatinya, ia terlihat seperti zombie tak ada ekspresi jutek atau keinginan berantem seperti biasa. Bahkan saat sarapan pagi pun, Bianka tak membuka suara. Makan dengan tenang tanpa protes meski hanya sedikit, tak ada drama dipagi hari seperti Biasa.
''Kamu gak pa-pa, Bi?'' tanya Satria penasaran.
''Gak pa-pa.''
''Kamu gak kesurupan, 'kan?''
Bianka hanya mendengus, rasanya ia sedang tak ingin berdebat dengan siapapun. Patah hati membuatnya tak ingin melakukan apapun, ia hanya ingin diam dan diam menenangkan jiwa. Diam adalah cara terbaik untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. Energinya seperti terkuras habis, ia merasa seperti orang yang lemah.
''Berisik! Dah, aght aku mau berangkat.''
''Kamu baru sedikit, Bi makannya nanti sakit. Muka Kamu juga pucat banget.''
''Gak usah sok keer, laki-laki di mana aja sama. Buaya!''
''Gak bisa dong semua dipukul rata, ada juga kok yang bukan buaya yang benar-benar tulus. Hanya karena kesalahan satu orang, kamu jadi berpikir semua pria sama. Ya, gini nih manusia terkadang, yang salah memilih siapa yang disalahin siapa ....''
''Stop! Bawel ... ngomong sama tangan, bye aku mau berangkat. Kalau mau ceramah jangan sama, aku pusing dengernya.''
Satria hanya menggelengkan kepala, menatap Bianka sebelum akhirnya mengangkat bahu. Bianka pergi begitu saja setelah menyelesaikan sarapan paginya, tak ia hiraukan ucapan Satria. Semua terasa seperti angin lalu, dunia ini mungkin sudah tak ada orang yang benar-benar tulus. Mereka baik jika ada maunya dan pergi saat keinginannya tercapai.
Akan ada waktunya dimana kita hanya dicari ketik diperlukan dan dilupa setelah dapat apa yang diinginkan. Ya, seperti sekarang ponsel Bianka terus berdering, tertera nama David di layar dan ada beberapa chat yang masuk dari pop up teratas yang bisa terbaca jika ia sedang butuh uang. Bianka melempar asal ponselnya ke jok belakang mobil. Melajukan mobilnya ke tempat magang.
''Kamu bisa kerja gak, sih, proposal yang kamu buat salah semua. Ini juga bikin kopi pahit begini. Kamu mau buat saya cepat mati, ya?'' tegur Bu Dina.
''Maaf, Bu gak sengaja,'' kilah Bianka. ''Yah, Bu masa bikin lagi. Susah lho ini bikinnya.''
''Pokoknya ibu gak mau tau. Kamu buat proposal lagi saya tunggu setelah makan siang. Gak ada kata protes, mau saya kasih minus nilainya?''
''Jangan, Bu. Dikit juga salahnya, masa ulang lagi,'' keluh Bianka.
''Ya udah kalau gitu, ibu kasih nilai minus aja nanti dilaporan.''
''Eh, jangan. Iya, iya aku perbaiki. Huh ....''
''Apa? Mau protes?'' decak Bu Dina dengan tatapan tajamnya apalagi saat melihat bibir Bianka yang terus berkomat-kamit.''
''Enggak, kok.''
''Ya udah balik sana ke meja, kamu!''
Bianka berjalan gontai menuju mejanya, sesekali ia menghembuskan napas kasar.
''Kenapa, Bi? tanya Rasti saat melihat Bianka menarik kursi mendudukan tubuhnya dengan menekuk wajah.
''Proposalku ditolak. Nyebelin banget Bu Dina, dia gak tau apa aku udah berusaha sebaik mungkin.''
''Sabar, Bi.''
''Kapan, sih, jam pulangnya aku bete,'' ujar Bianka dengan bibir mengerucut.
''Tar jam empat. Lho, kok nangis?'' Rasti menghampiri meja Bianka berdiri disebelahnya. Ia kebingungan sekaligus merasa bersalah takut ada kata-kata yang menyinggung perasaannya. ''Aku ada salah ngomong, ya?''
Bianka menggeleng berhambur memeluk Rasti, ternyata ia tak sekuat itu. ''Ternyata apa yang kamu omongin bener, Ras. Kemarin aku liat David sama Sarah bermesraan di apartemen. Aku bodoh banget, ya. Bisa ditipu mentah-mentah sama mereka, pasti mereka lagi ngetawain aku sekarang.''
''Tuh, 'kan bener apa yang aku bilang kemarin. Kamu, sih, gak percaya. Makanya kalau cinta sama orang itu jangan berlebihan hancur kan, kamu sekarang.'' Bianka makin terisak mendengar ucapan Rasti. ''Udah gak usah sedih lagi, gak guna tau nangisin orang kaya gitu. Fokus aja ngerjain magang biar cepat kelar, skripsi deh.''
''Teori mah gampang, prakteknya gak semudah itu, Rasti. Kamu, sih, gak ngerasain gimana sakitnya?''
''Pantes dari tadi, Kamu salah-salah mulu. Jadi, itu masalahnya. Kan,' dah aku bilangin kemarin lagian anak-anak juga dah banyak yang tau. Kamu, aja yang terlalu bucin dan percaya sama mereka.''
''Sialan memang.'' Bianka mengurai pelukan menghapus kasar air mata yang membasahi pipi. Sebenarnya ia tak ingin menangis tapi air mata lolos begitu saja tak bisa dibendung. ''Make up aku berantakan, ya?''
Rasti tergelak mendengar ucapan Bianka.
''Bisa-bisanya mikirin maka up. Patah hati kadang bikin orang gak waras emang.''
''Rese! Iya lah, aku harus tetap glow up kalau bisa makin bersinar biar mantan makin menyesal.''
''Mantan? Emang udah diputusin?''
''Belum, sih. Tapi bagiku dia udah mantan, sampah,'' geram Bianka.
''Heh, kalian ini bukannya kerja malah ngerumpi!'' tegur Bu Dina yang tak sengaja melintas di depan ruang Bianka dan Rasti. ''Pantes kerjanya gak becus jadi ini yang kalian kerjakan?''
''Engga, Bu bukan gitu, kita lagi diskusi proposal kok,'' sanggah Bianka cepat. Rasti pun kembali ke mejanya yang tepat di sebelah Bianka.
''Kalau gitu cepat kerjakan dasar lelet gitu, aja gak bisa,'' ujar Bu Dina sebelum berlalu.
''Apa dia bilang? Lelet katanya. Dia belum tau, ya siapa Bianka. Awas aja nanti berani meremehkan, aku. Baru jadi staf aja belagu. Dia gak tau apa, siapa Papaku? Ck ... dasar! Aku, beli juga ini perusahaan lama-lama. Aku pecat dia!'' gerutu Bianka sambil mengibaskan rambut.
''Udah-udah gak usah marah, Bu Dina bener, sih, kita kan lagi ngobrol tadi.''
''Iya tapi, 'kan ....'' ucapan Bianka menggantung saat mendapat kode dari Rasti, ada Bu Dina di ujung sana yang masih memperhatikan mereka. Bianka hanya memutar bola mata. Kembali menarik kursi fokus pada layar komputer yang berada di depannya.
Akhirnya jam magang selesai dengan langkah gontai Bianka menuju tempat parkir. Suara sound yang terdengar dari spiker membuatnya kesal dan marah hingga ia menutup kuping.
Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini, melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini, pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini, kau menduakan aku
Teganya hatimu
Permainkan cintaku
Sadisnya caramu
Mengkhianati aku
Sakitnya hatiku
Hancurnya jiwaku
Di depan mataku
Kau sedang bercumbu
Sakitnya tuh di sini, di dalam hatiku
Sakitnya tuh di sini, melihat kau selingkuh
Sakitnya tuh di sini, pas kena hatiku
Sakitnya tuh di sini, kau menduakan aku
Sakit, sakit
Sakitnya tuh di sini
Sakit, sakit
Sakitnya tuh di sini
''Ngeledek banget ini lagu, sialan!'' gerutu Bianka sambil menendang-nendang batu kerikil yang berada di depannya hingga tak sengaja mengenai seseorang.
''Siapa ini yang berani melempar batu,'' ucap seseorang itu sambil mengedarkan pandangan. ''Cepat keluar atau aku cari sendiri dan buat perhitungan.''
''Mampus!'' Bianka merasa ketakutan menutup wajah. ''Duh ngaku gak, ya. Sial banget, sih, hari ini. nasib.
Bianka memberanikan diri mengakui kesalahannya dari pada kena masalah dikemudian hari, bisa aja kan nanti orangnya liat CCTV buat nyari pelaku. Bianka berjalan menghampiri orang itu.
''Saya, Pak maaf gak sengaja, ''ringis Bianka. Alangkah terkejutnya saat tau siapa orang itu.
''Bianka.''
''Satria,'' ucapnya sedikit kaget, karena bisa ketemu di area magangnya. ''Tau gitu aku lempar batu yang gede aja sekalian, biar amnesia.''
''Ck! Ngapain di sini? Nguntit, aku ya?''
''Ngapain amat kaya gak ada kerjaan lain, aja,'' jawab Satria dengan memegang kepalanya yang terasa sedikit berdenyut efek terkena batu.
''Heran, deh, dunia sempit banget, sih, dari sekian banyak orang ketemunya kamu lagi, kamu lagi. Gak ada emang makhluk lain selain, kamu? Gak di rumah, gak di tempat magang kamu lagi, kamu lagi. Males.''
''Berarti kita jodoh.''
''Ngimpi,'' ujar Bianka dengan berkacak pinggang.
''Minggir aku mau pulang ngalangin jalan aja.''
''Minta maaf dulu.''
''Gak mau,'' tolak Bianka.
''Ya udah kalau gitu, aku gak bakal kasih jalan.''
''Udahlah, Sat. Aku lagi kesel, bete jangan bikin moodku makin hancur. Aku mau pulang ngantuk capek, gak ada waktu buat berdebat.''
''Ya udah kalau gitu minta maaf. Urusan selesai, 'kan? Apa, sih, susahnya minta maaf udah salah nyolot lagi.''
''Lagian salah sendiri kenapa kepala taruh disitu.''
''Astaga, Bianka! Ya, emang mau ditaro di mana lagi kepala selain di sini? Di p****t, hah?''
''Serah! Di mana kek.'' Bianka berbalik arah ingin menuju ke mobilnya, tetapi pergelangan tangannya dicekal oleh Satria. ''Lepas, Sat aku mau pulang. Please deh jangan bikin emosi, aku lagi gak mood berantem.''
''Minta maaf dulu baru, aku lepas.'' Bianka memutar bola mata jengah, sebelum akhirnya meminta maaf meski terpaksa.
''Sorry, gak sengaja. Udah, 'kan?'' Akhirnya Satria melepas cekalan tangannya saat melihat wajah Bianka yang keruh dan berantakan tak seperti biasa.
''Nah gitu dong minta maaf. Apa, sih, susahnya minta maaf gengsi banget jadi orang.''
''Terserah! Aku mau pulang capek.'' Bianka berlalu menuju mobilnya, melesat begitu saja dengan kecepatan tinggi ingin segera sampai ke rumah dan tidur. ''Untung, aja besok libur. Klub dulu lah.''