Episode 14

1394 Kata
Satria pulang hampir jam sepuluh malam, rasanya malas pulang cepat karena di rumah pun terasa sepi seperti tak berpenghuni. Jadi, Satria lebih memilih menyibukkan waktunya di kantor untuk kerja saja. Kebetulan perusahaan rintisannya mulai berkembang pesat dan sebentar lagi akan ada event ulang tahun yang ke empat. Jadi, lumayan banyak menyita waktu dan perhatiannya. Baru saja Satria sampai diambang pintu Bik Darmi jalan tergopoh-gopoh menghampirinya dengan raut wajah cemas. ''Den kok baru pulang? Anu ... itu ....'' Alis Satria berkerut menatap Bi Darmi. ''Ngomong yang jelas, Bik. Aku gak ngerti Bibik ngomong apa kalau cuma anu, itu aja.'' ''Non Bianka... seharian gak keluar kamar dia juga belum makan dari siang. Bibik ketuk-ketuk pintunya tapi gak dibuka, Bibik khawatir Den takut ada apa-apa sama Non Bianka. Belakangan sering keliatan murung, Den.'' Tumben gak bisanya begini. ''Kenapa gak telepon, Bik?'' ''Maaf, Den Bibik lupa saking paniknya.'' Satria pun hanya mampu menghela napas tak ingin menyalahkan siapapun. Tanpa membuang waktu Satria gegas ke kamar Bianka mengetuk pintunya hingga beberapa kali, tapi tak ada jawaban dan tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka juga. Untung Satria ingat kalau ada kunci cadangan di kamarnya. Ia pun pergi ke kamarnya mengambil kunci cadangan itu, kecemasan mulai melanda, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Bianka. Setelah mengambil kunci Satria langsung mencoba membuka kamar Bianka, ia gak peduli pada surat perjanjian yang mereka buat karena telah memasuki kamar Bianka. Baginya keadaan Bianka lebih penting dari apapun. Satria memasukan anak kunci membuka handle pintu perlahan, gelap. Lampu belum dinyalakan. Satria menekan sakelar lampu, syok. Tentu saja, saat mendapati kamar Bianka yang berantakan banyak tisue berserakan di lantai. Ia berderap menuju ranjang menatap Bianka yang tengah tertidur lelap dengan mata sembab, bahkan ada bekas air mata yang hampir mengering. Perlahan Satria mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya, membangunkan Bianka dengan menguncang bahunya perlahan, tetapi Bianka bergeming tak ada reaksi. Sepertinya lelah menangis hingga membuatnya tertidur lelap. ''Ini orang tidur atau mati, sih, nyenyak banget. Bi, bangun makan dulu.'' Bianka tak bangun juga, tangan Satria terulur menempelkan tangannya di kening Bianka, suhu tubuhnya lumayan panas merancau tak jelas. Satria pun meminta Bik Darsih menyiapkan baskom dan air es untuk mengompres sementara ia akan ganti kemeja dengan pakaian rumahan membersihkan diri sebelum kembali ke kamar Bianka. Dengan telaten Satria mengompres Bianka, menyeka keringat dingin yang membasahi keningnya. Lelah, seharian bekerja dan kini harus terjaga merawat Binka yang sedang sakit. Tanpa sadar ia tertidur di kursi semalaman dengan posisi kepala berada di tepi ranjang, tangannya menggenggam jemari Bianka. Pagi menyapa perlahan tapi pasti Bianka terbangun dari tidurnya, kelopak matanya bergerak ke kanan dan ke kiri beradaptasi dengan cahaya mentari yang menyilaukan. Ia merasa ada sesuatu yang menempel di kepalanya tangan Bianka berusaha meraih dan mengambil benda asing yang berada di keningnya. Baru saja akan bergerak tangannya susah digerakkan, pandangannya terpaku pada sosok Satria yang tidur di kursi sambil menggenggam jemarinya. Bianka ingin membangunkan Satria, tetapi tak tega saat melihat wajah Satria begitu terlihat kelelahan. Jadi, ia biarkan saja untuk kali ini demi rasa kemanusiaan sampai Satria bangun sendiri. Bianka pura-pura memejamkan mata saat ia merasa Satria mulai bergerak dan terbangun, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Bahkan punggungnya terasa sakit, entah berapa lama tertidur Satria tak mengingatnya. Satri mengecek suhu badan Bianka panasnya mulai turun tidak sepanas tadi malam. Bi Darsih mengetuk pintu membawakan sarapan pagi berisi bubur ayam dan teh manis. ''Masuk, Bik,'' ujar Satria saat mendengar bunyi ketukan pintu. ''Ini, Den buburnya.'' Bik Darsih berdiri di samping Satria ''Maksih, Bik. Simpan di nakas aja Bik buburnya biar nanti aku yang suapi Bianka.'' ''Baik Den kalau gitu Bibik turun ke bawah dulu mau beres-beres,'' pamitnya pada Satria yang dijawab dengan anggukan. Satria terus memandangi wajah Bianka yang terlihat pucat tapi tidak mengurangi kadar kecantikannya. Satria menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.00 wib. Mau tidak mau Satria membangunkan Bianka karena sudah terlalu lama tertidur dan belum sempat makan dari kemarin, bisa makin parah yang ada sakitnya. ''Bi ... bangun.'' Satria duduk di tepi ranjang. Bianka masih bungkam walaupun sebenarnya sudah terbangun sejak tadi dan tau apa yang dilakukan Bi Darsih dan Satria untuknya, bibirnya kelu sedang tidak ingin berbicara ataupun berdebat dengan siapapun. Satria mendesah frustasi karena susah sekali membangunkan perempuan satu ini. ''Kebo banget, sih, jadi cewek. Kalau gak bangun juga, aku cium kamu. Biar kaya pangeran yang membangunkan putri tidur.'' Tepat di kuping Bianka, sontak saja mata Bianka terbuka dan melotot tajam ke arah Satria. ''Ohw jadi pengen dicium, ya jadi pura-pura tidur.'' ''Enak aja, siapa juga yang mau dicium kepedean banget jadi orang.'' ''Buktinya langsung bangun, 'kan denger mau di cium. Aku suka rela kok ngasih gak usah sampai pura pura tidur segala.'' ''Kamu mau ngapain?'' tanya Bianka saat Satria naik ke atas ranjangnya dan mulai menghapus jarak. ''Mau ngasih apa yang kamu mau.'' ''Jangan giLa deh, Sat.'' Bianka beringsut hingga terpojok ke tembok menahan daAda bidang Satria. ''GiLa gimana? Suami istri sah-sah, aja, ciuman melakukan hal lebih juga gak pa-pa gak ada yang melarang.'' ''Ingat, ya, perjanjian kita. Gak ada kontak fisik.'' ''PerseTan dengan perjanjian, aku gak pernah menganggapnya ada. Udahlah, aku juga gak minat cium kamu kutilang darat. Makan, nih buburnya.'' ''Enak, aja, ngatain kutilang darat. Aku sexy dong ukuran tiga enam B.'' ''Engga segede itu kayanya.'' Satria menatap ke arah d**a Bianka dengan seringai di bibir. Membuat Bianka makin kesal dibuatnya. ''Bang Sat!'' Bianka mengambil beberapa bantal yang berada disekitar melempar asal pada Satria, lemas. Bianka menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang dengan napas memburu. ''Dimana-mana laki-laki emang sama, aja, buaya. Sukanya mandang fisik.'' ''Kalau gak mandang fisik, terus mandang apa? Hati? Gak keliatan lah,'' ujar Satria santai. ''Ayo, makan. Biar kuat kalau ngajak berantem. Baru gitu aja dah loyo, lemah.'' ''Aku gak mau makan. Sana pergi, aku ngantuk mau sendiri gak mau diganggu siapapun.'' ''Enggak, aku gak akan pergi sebelum kamu makan.'' ''Kalau aku bilang gak mau, ya, gak. Jangan maksa! Makan aja sendiri.'' ''Oke, berarti kamu lebih suka pakai caraku kalau gitu.'' ''Maksud kamu?'' sinisnya. ''Memaksa dengan bibir misalnya,'' sahutnya dengan seringai diwajah dan mengedipkan sebelah mata. ''Jangan gila, kamu!'' Bianka bergedik ngeri melihat tatapan Satria yang seperti penuh hasrat. ''Gak ada kontak fisik.'' ''Ya gimana lagi, cuma itu jalan satu-satunya. Kecuali kamu mau makan dengan suka rela, kamu belum makan kan dari kemarin?'' Dengan santai Satria mengambil mangkok bubur yang berada di nakas menyuapkan ke mulutnya lalu meraih tengkuk Bianka. Susah payah Bianka menelan saliva, ia takut Satria merealisasikan ancamannya. ''Ck! Ngeselin banget, sih, dasar tukang paksa.'' ''Wanita, 'kan gitu sukanya dipaksa.'' Tanpa kata Bianka merebut mangkuk dari tangan Satria menyuapkan bubur ke dalam mulutnya hingga penuh, bahkan ia tak mengunyah lebih dulu menelan begitu saja dengan kesal. ''Nah gitu dong, good gril. Makan dulu yang banyak kalau mau ngajak ribut biar imbang. Aku gak bisa ribut sama orang lemah.'' ''Aku gak lemah.'' Ego Bianka mulai terpancing mendengar omongan Satria, enak aja ngatain lemah ia kuat gak ada yang bisa meremehkannya. ''Nice.'' Satria mengedarkan pandangan terlihat banyak tisue berserakan di lantai, jiwa kepo meronta-ronta karena ada seseorang yang membuat Bianka menangis. ''Kamu habis nangis?'' ''Enggak.'' ''Kok banyak tisue atau kamu habis ....'' ucap Satria menggantung menatap Bianka penuh selidik. ''Habis apa? Gak usah ngaco deh.'' ''Memang apa? Aku gak ngomong apa-apa, kok.'' ''Udalah pergi sana dari kamar, aku. Ganggu tau gak?'' decak Bianka. ''Putus ya sama pacar? Diselingkuhi atau dihianati? Hahaha. Kasihan.'' ''Berisik! Bukan urusan kamu! Dasar, gak ada empatinya jadi orang,'' ketusnya dengan memalingkan wajah. ''Memang aku juga gak peduli. Aku cuma takut kamu mati kelaparan di sini, males aja harus jadi saksi dan bolak-balik ke kantor polisi.'' ''Biar aja mati toh ga ada yang peduli, aku mau nyusul Mama ke surga. Aku benci kalian semua,'' pekik Bianka dengan napas memburu. ''Kalau mati kesenangan mantan kamu dong, karena dia berhasil bikin kamu menderita dan sengsara. Patah hati bukan akhir dari segalanya, ya, meski hidup jadi terasa mati. Harusnya kamu tunjukin dan buat dia menyesal karena sudah menyia-nyiakan orang seperti kamu.'' Bianka termenung memikirkan ucapan Satria. Ucapan Satria ada benernya juga. Aku kan mau balas dendam dasar bodoh! Enak aja mereka hidup tenang setelah menyakiti dan mengkhianati aku, jangan mimpi! ''Ngapain masih di sini? Pergi sana,'' ketus Binka. ''Aku akan pergi setelah memastikan kamu menghabiskan buburnya.'' Bianka memutar bola mata jengah dan kembali fokus pada bubur yang berada di tangan. Membiarkan Satria tetap berada di kamarnya, percuma ngusir sampai mulut berbusa gak bakal didengar juga. Batu, emang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN