Bab 01
“Huhh..” Callista membuang nafas kasar
Callista berjalan seorang diri di gelapnya malam. Ia baru saja dipecat dari pekerjaannya. Di kesunyian malam menjadi saksi betapa pedih hidupnya. Tanpa sadar setetes air mata jatuh membasahi pipinya.
“Tuhan, kenapa Engkau memberikan cobaan seberat ini padaku? Aku tidak sanggup melaluinya sendirian.” lirihnya dengan suara bergetar
“Hikss..”
Callista duduk di pinggir jalan sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana. Rasanya tidak sanggup untuk terus melangkah.
“Hikss..”
“Pa, Ma, Callista lelah!”
Sebuah mobil berhenti di depan Callista tanpa ia sadari. Pemilik mobil tersebut keluar lalu menghampiri Callista yang sedang tertunduk. “Hei, kamu ngapain duduk di pinggir jalan seperti ini?” tanyanya
Perlahan Callista mendongak karena mendengar suara seseorang. Dan…
Deg
“Callista!” ucap seseorang tersebut dengan wajah terkejut
“Astagaa, kamu ngapain di sini sendirian, Cal?”
Seseorang itu berlutut menyamakan tubuhnya dengan Callista. Ia terkejut melihat kondisi teman lamanya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu, dan sekalinya bertemu ia melihat kekacauan Callista.
Mata Callista memerah, kedua pipinya dibanjiri oleh air mata. Livia menarik tubuh Callista ke dalam pelukannya dan seketika tangis perempuan itu semakin pecah. Akhirnya Callista menemukan seseorang untuk bisa dijadikan sandaran.
Iya, perempuan itu adalah Livia Cristalia! Livia adalah sahabat baik Callista yang sudah lama tidak bertemu. Tiba-tiba keduanya lost contac yang membuat mereka tidak mengetahui kabar satu sama lain. Dan hari ini Takdir kembali mempertemukan mereka.
Livia mengelus punggung Callista untuk menenangkannya. Entah apa yang terjadi namun untuk sementara ia hanya bisa menenangkan. Setelah dirasa cukup tenang Livia melepas pelukannya.
“Callista what’s wrong?” tanya Livia sembari mengusap sisa-sisa air mata di pipi sahabatnya.
“A-aku…”
“It’s oke. Tarik nafas lalu buang. Lakukan sampai kamu merasa benar-benar tenang.”
Callista melakukan sesuai arahan Livia, dan berhasil. Hatinya sedikit tenang dari sebelumnya. “Sudah bisa cerita?” tanya Livia
Callista mengangguk sebagai jawaban. “Kalau gitu kita masuk mobil dulu! Kita cari tempat untuk bicara dengan tenang.”
Livia mengajak Callista untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia akan mencari tempat untuk mereka berbicara agar bisa lebih tenang dan nyaman. Dadanya terasa sesak melihat sahabatnya menangis sesenggukkan di pinggir jalan. Ia merasa bersalah atas kesedihan Callista.
Cafe Dandelion’s
Livia dan Callista duduk saling berhadapan. Setelah memasan makanan Livia bertanya banyak hal pada sahabatnya itu, termasuk alasannya menangis di pinggir jalan. “Apa yang terjadi, Callista?”
Callista menunduk dalam. Dadanya terasa sesak ketika ingin menjelaskan kehidupannya setelah lama mereka tidak bertemu. “Banyak hal yang berubah dari kehidupanku, Livia.”
“Ceritakan semuanya padaku, Callista! Kita sahabat, bukan!?”
“Kedua Orang Tuaku sudah tiada.”
Deg
Pernyataan Callista membuat Livia terkejut. Seketika Livia menggenggam tangan Callista untuk menguatkannya. “Harta yang dimiliki kedua Orang Tuaku habis tidak tersisa. Bahkan sekarang aku tinggal di sebuah kontrakan kecil.”
“Dan baru malam tadi aku dipecat oleh atasanku. Aku tidak tahu harus melakukan apa Livia.”
“Hikss..” Callista kembali menangis. Rasanya begitu sakit menceritakan kehidupannya saat ini.
“Hei, ada aku, Callista! Lo nggak sendirian.”
Livia duduk di samping Callista lalu memeluk sahabatnya dengan erat. Sekarang Callista tidak akan sendirian lagi. Sahabatnya telah kembali dan akan membantunya untuk hidup lebih baik.
“Udah, jangan nangis ya! Gue nggak akan biarin lo sendirian lagi. Ada gue di sini!”
Callista tersenyum haru sekaligus bahagia mendengarnya. “Terima kasih.”
Karena makanan sudah datang Livia mengajak Callista untuk makan terlebih dulu. Ia bisa menebak jika sahabatnya belum makan. “Sebaiknya kita makan dulu, dan setelah itu kita bicara lagi.” ujar Livia
Beberapa menit kemudian.
“Callista!” panggil Livia
“Iya?”
“Lo mau kerja di tempat gue?”
Tanpa berpikir panjang Callista mengangguk, bahkan ia tidak bertanya apa tempat usaha milik sahabatnya itu. “Mau.”
“Yakin?”
Callista kembali mengangguk. “Aku sangat yakin, Livia. Aku sangat membutuhkan pekerjaan untuk melanjutkan hidupku.”
“Hmm, baiklah.”
“Terima kasih, Livia.”
Livia tersenyum manis. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut tentang perkerjaan yang ia tawarkan karena wajah gembira dari Callista. Livia merasa Callista menerima apapun pekerjaan itu.
“Yaudah. Besok lo bisa datang ke Alamat ini!” Livia memberikan sebuah Alamat tempat di mana Callista akan bekerja.
Callista mengangguk sebagai jawaban. “Sekali lagi terima kasih, Livia.”
“Sama-sama.”
“Oh ya, kalau lo butuh apapun langsung hubungi gue! Jangan sungkan untuk meminta bantuan apapun. Kita sahabat, Callista.”
lagi-lagi Callista mengangguk sebagai jawaban. Ia tidak bisa banyak bicara selain kata terima kasih yang keluar dari mulutnya.
Callista sangat berutung memiliki sahabat seperti Livia. Entah apa yang akan terjadi jika ia tidak bertemu dengan sahabatnya itu. Livia sangat berperan penting di hidupnya setelah kedua Orang Tuanya.
“Gue antar lo pulang!”
"Terima kasih, Livia." dan setelah itu keduanya pulang. Livia mengantar Callista pulang ke rumahnya terlebih dulu.
To be continue