Satu Tenda

1235 Kata
Kini Amanda duduk lebih mendekat dengan Senja. Setelah Brilian menyelesaikan ucapannya mengenai kesepakatan bersama selama perkemahan pesisir pantai dimulai, tiap-tiap pasangan dipersilakan menuju tenda masing-masing sampai pukul sembilan datang. Ternyata, proyek ini memerlukan bantuan banyak kru acara. Perekaman tertunda karena menunggu beberapa juru kamera datang ke lokasi. Tentunya membutuhkan waktu cukup lama mengingat jarak antar kota Kota Jakarta dengan pantai terpencil ini jelas jauh jaraknya. Dan sebenarnya, itu membuat Amanda sedikit lebih rileks. Ia sempat merasa gugup bukan main saat Brilian menjelaskan bahwa dua hari ke depan, kegiatan yang akan mereka lakukan akan berhubungan dengan air. Amanda takut ada kompetensi berenang karena ia tidak bisa berenang, terlebih ia tidak bisa terlalu lama berada di dalam air karena riwayat asmanya. Lebih baik dan lebih disarankan untuk dihindari. Namun jika nanti memang benar ada dan Amanda menghindarinya, Bianca pasti akan mengatainya habis-habisan bahwa ia tidak bisa bersikap profesional. “Ada apa? Sesuatu sedang mengganggu pikiranmu?” Senja mengudarakan suara. Pria itu serta mengangkat alis, tatapan teduh itu tertuju penuh pada Amanda yang kini tengah menoleh ke arahnya. Manda mengerjapkan pandangan sebentar, lalu mengembuskan napas panjang. Sepertinya, orang terdekat yang saat ini ia punya hanyalah Senja. Bahkan saat suasana hatinya tengah runyam, Senja adalah orang yang pertama kali menyadarinya. “Tidak, hanya berpikir tentang perkemahan dua hari ke depan,” balas Amanda memberi tanggapan. Senja langsung mengerutkan dahi, “Apa yang perlu dikhawatirkan, Manda?” “Tentang aku yang tidak bisa berenang, aku khawatir ini akan sedikit merepotkan.” Amanda lantas meringis, ia menggaruk pipi kanannya yang tiba-tiba terasa gatal. Mendengar itu, Sontak Senja terbahak di tempat. Tawa lepas itu mengundang dengusan kesal Amanda. Mengapa Senja malah tertawa di atas penderitaan yang tengah dirasakannya? Ralat, bukan penderitaan. Lebih tepatnya ketakutannya. “Manda, tidak perlu khawatir. Pun jika nanti ada permainan balap renang, aku bisa menjamin jika hanya peserta pria yang dipersilakan panitia,” jelas Senja. Pria itu terang-terangan ingin meredakan resah dalam hati pasangannya. Amanda lantas menoleh seraya mengangkat kedua alis, “Benar begitu?” tanyanya ulang untuk memastikan. “Untuk apa aku berbohong?” Amanda langsung mengangguk-angguk, benar juga. Dilihat dari ekspresi wajah Senja saat ini, pria itu tidak terlihat sedang berbohong sama sekali. “Kau bisa berenang, Senja?” tanya Amanda kembali. Nada bicaranya memang terdengar bertanya, tetapi Senja malah seolah menangkap dialog tanya itu sebagai dialog Amanda yang tengah meragukannya. “Huh, kau meragukan kemampuanku?” sinisnya bertanya. Sontak Amanda mendelik, ia menggeleng-gelengkan kepala untuk merespon cepat. Toh bukan itu yang sebenarnya terjadi. “B-bukan, aku tidak berani meragukanmu,” balas Amanda sedikit terbata. Ia memang tidak bohong, sejak awal pertemuan mereka, Amanda tidak pernah sedikit pun merasa ragu dengan Senja. Kelebihan dan penguasaan Senja terhadap banyak hal membuat Amanda sempat merasa iri. Senja sering bercerita jika pria itu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Senja sering naik gunung bersama teman-teman alamnya, pria itu bisa hidup mandiri tanpa bantuan dari siapapun. Jelas berbanding terbalik Amanda sendiri. Menjadi pribadi yang mandiri dan menguasai banyak hal seperti halnya Senja adalah keinginannya. Namun apalah daya, Amanda telah dibuat nyaman dengan rasa santai saat ia hidup sebagai nona muda yang manja. Mungkin akan sedikit tidak rela melepasnya. “Aku bisa berenang, Amanda. Kamu ingin aku ajari?” tanya Senja menggoda. Alis pria itu naik turun. Mendengar itu, Amanda langsung mengerjapkan mata cepat. Ia sempat memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menghindari tatapan menggoda yang kini masih dilayangkan Senja. Oh ayolah, Senja bertindak tidak sesuai pada tempatnya. “I-itu tidak perlu. Lagipula kau berkata hanya peserta pria yang berkemungkinan lomba berenang. Jadi tidak ada gunanya melatihku, lebih baik mengasah keahlianmu agar lebih tajam,” sanggahnya. Apa yang dikatakannya jelas berbanding terbalik dengan apa yang terjadi, Amanda bahkan sempat berpikir yang tidak-tidak. Ia membayangkan bagaimana saat Senja mengajarinya berenang dengan perlahan-lahan. Sial, ini memalukan. Amanda sadar jika pipinya merah merona sekarang. Senja yang menyadari Amanda tengah merona langsung terbahak, bahkan sampai menggeleng-gelengkan kepala. Ada dua wajah Amanda yang menurut Senja terlalu menggemaskan di matanya. Saat gadis itu menggerutu marah dan saat ia sedang merasa salah tingkah. *** Amanda mengembuskan napas panjang, ia merasa tidak senang dengan pemandangan yang tengah dilihatnya sekarang. Ternyata, yang diutus ayahnya untuk mempersiapkan acara dua hari ke depan tidak hanya kru dan juru kamera saja. Tim tata rias juga diminta ikut serta dalam acara perkemahan pesisir pantai kali ini. Sebagian besar tim tata rias jelas seorang wanita lajang, dan menurut Amanda mereka terlalu mencari perhatian Senja. Dari arah tenda, Amanda menatap Senja yang tengah dikerubungi banyak tim tata rias wanita dengan decakkan kesal. Bahkan Senja terlihat tidak keberatan saat tubuhnya dikerubungi oleh banyak gadis. Tidak ada raut wajah tertekan yang bisa Amanda lihat dari posisinya saat ini. Mungkinkah Senja tengah menikmati situasi? Memikirkan itu malah membuat Amanda kian hilang konsentrasi. “Cih, tidak ada bedanya dengan pria lain. Sangat menyebalkan!” gerutu Amanda untuk ke sekian kalinya. Posisi gadis itu berdiri di depan tenda, sementara kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Fokus atensinya jelas tertuju pada Senja, menatap pria itu dengan tatapan tidak suka yang jelas diperlihatkannya. “Cih, berani sekali dia!” seru Amanda. Gadis itu tampak tidak terima saat salah seorang tim tata rias berusaha menggapai dahi mulus milik Senja untuk menghapus keringat yang ada di sana. Begitu lancang, bahkan Amanda yang sudah lumayan dekat dan tinggal di satu atap yang sama tidak pernah melakukan hal sedemikian. Hatinya seolah tengah terbakar sekarang. Sungguh, Amanda tidak terima! Dan ia tak lagi bisa menahan dirinya! Kedua kakinya berjalan maju, ia ingin membelah kerumunan gadis yang mengerubungi Senja. Di antara tiga peserta pria lain, Senja lah yang begitu diperhatikan oleh banyak tim tata rias. Mereka merasa Senja paling macho dan tampan. Apalagi pria itu ramah, itu menjadi nilai plus. Amanda malah tidak senang begitu mendengar penilaian mereka terhadap pasangannya, Senja. “Menyingkir!” Seruan Amanda begitu memekikkan telinga. Gadis itu menerobos paksa kerumunan gadis dengan satu kali teriakkan. Siapapun yang mendengar suaranya pasti sudah familiar, tidak mungkin mereka tak mengenali siapa Amanda. Dia putri tunggal pemilik stasiun yang selalu dimanjakan. Tim tata rias langsung menyingkir, mereka memberikan jalan pada Amanda yang entah ingin melakukan apa. Senja mengangkat kedua alis begitu mendapati Amanda berdiri di sampingnya. Tubuh gadis itu merapat, tidak meninggalkan sedikit pun jarak dengan sengaja. Belum selesai sedemikian, Senja dikejutkan begitu mendapati Amanda melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya. Kedua bola mata Senja bahkan sempat membola. “Manda, apa yang sedang kamu lakukan?” tanyanya. Amanda malah mengedikkan bahu tidak peduli, “Hanya menjauhkanmu dari gadis-gadis ini,” sindirnya dengan volume cukup kencang. Setelahnya, Amanda memaksa Senja ikut serta berjalan menjauhi kerumunan. Bobot tubuh Senja yang jelas lebih berat dibandingkan memaksa Amanda untuk mengadahkan wajah sebentar. Ia menatap sang pria sembari mendelik, berusaha untuk membuat Senja memahami keadaanya saat ini. Seluruh pasang mata setiap gadis yang tengah mengerubungi Senja kini tertuju ke arahnya, mereka jelas menatap Amanda dengan tatapan bingung sekaligus terkejut begitu mendapatinya memeluk Senja tanpa berpikir panjang. Namun Amanda sadar, sepertinya Senja sulit memahami situasi saat ini. Tentunya merasa terkejut karena mendapatinya memeluk tanpa aba-aba. Jadi, Amanda hanya bisa membuat sebuah alasan yang bisa Senja percaya. “Aku merasa tidak enak badan, perutku terasa mual. Bisakah kau membantuku mencari obat dan minyak kayu putih di dalam tenda?” Amanda bertanya, kini dengan wajah semelas mungkin agar Senja mempercayai ucapannya. Namun Senja malah terkekeh sebentar, Amanda hanya membual. Ia menyadarinya, tetapi lebih baik ia menurut daripada didiami Amanda seperti sebelumnya. “Ayo pergi ke tenda.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN