Amanda setia bergeming. Bahkan setelah tangannya membuka kotak makan pemberian Senja, ia belum berniat mengudarakan suara. Fokus atensinya tertuju pada isi kotak makan dalam pangkuan, olahan daging kesukaanya dengan nasi sebagai pelengkap. Senja pasti berusaha keras untuk mendapatkannya, pria itu berkata disiapkan saat subuh tadi. Jika seperti ini, bukannya sepadan atas apa yang pria itu katakan semalam, Amanda malah merasa berhutang. Sudah cukup lama ia tidak memakan daging, dan sekarang keinginan terpendamnya terpenuhi oleh Senja. Pria itu selalu memiliki kejutan tidak terduga.
“Makanah, acara hari ini sangat santai. Hanya perlu bertindak seolah sedang bermain, aku harus pergi membantu Michel mengangkut beberapa ranting kayu untuk api unggun malam nanti,” jelas Senja panjang lebar. Pria itu siap bangkit dari posisi terduduk, tetapi gerakannya terhenti begitu Amanda mencekal pergelangan tangannya.
“Darimana kamu mendapatkan ini?” Amanda bertanya, gadis itu terpaksa menengadahkan wajah karena posisi Senja sudah setengah berdiri. Ada beberapa jeda, Amanda setia mengangkat kedua alis menunggu tanggapan Senja.
“Pagi tadi aku meminjam kendaraan milik kru, lalu membelikan ini. Walau sebenarnya cukup jauh, setidaknya mereka tidak mempermasalahkan. Mungkin karena aku membelikannya khusus untuk putri tunggal pemilik stasiun televisi?” Pada akhirnya, Senja menggoda Amanda di akhir dialognya.
Pipi Amanda langsung bersemu, sontak gadis itu melepaskan tangannya pada pergelangan tangan milik Senja. Lalu memalingkan wajah ke arah lain sembari mengerjap cepat.
Senja tersenyum melihatnya. Sebenarnya, dibanding saat Amanda sedang marah-marah tidak jelas, sifat malu-malu seperti sekarang juga tidak buruk. Terlihat lebih menggemaskan.
“Makanlah,” titah pria itu kembali. Senja tidak bisa mengendalikan diri, tangannya mengudara begitu saja. Ia mendaratkannya di puncak kepala milik Amanda, lalu mengusap rambut terawat itu dengan perlahan. Sementara senyumannya setia dipertahankan.
Perlakuan tak biasa itu langsung membuat Amanda membeku, bahkan sampai mengerjapkan mata dengan pandangan lurus ke depan. Amanda tidak sadar jika Senja sudah berjalan menjauh dari posisi tenda yang mereka tempati.
“Oh, apa yang baru saja dia lakukan? Itu terlalu berisiko untuk detak jantung kecilku,” gumam Amanda. Tangannya mengudara, ia menekan pelan dadanya sendiri untuk mengenyahkan degupan tak biasa yang terdengar begitu saja. Napasnya juga terlihat memburu beberapa saat.
Walau begitu, Amanda cukup bisa beradaptasi. Ia kembali memusatkan atensi pada kotak makan dalam pangkuan, lalu menghirupnya dalam. Aroma khas yang begitu wangi ini begitu Manda rindukan. Terasa sudah satu abad lamanya ia tidak merasakan bagaimana lezatnya daging saat ia kunyah perlahan.
Tak bisa dipungkiri, ia memang harus berterima kasih pada Senja kali ini. Berkatnya, rasa ingin Amanda untuk memakan olahan daging berhasil ditangani.
***
Tepat pukul delapan, Amanda memilih untuk menuju tenda yang Marsha tempati. Senja tidak tampak dalam indra penglihatan. Sepertinya tiga pria dalam acara ini menghilang untuk mencari ranting jatuh di sekitar. Amanda tidak melihatnya sejak ia menyelesaikan sarapan.
“Marsha? Apa yang sedang kamu lakukan?” Amanda bertanya. Gadis itu membenarkan posisi rambut saat angin pantai membawanya terbebas.
Merasa dipanggil, Marsha menoleh dari dalam tenda. Wanita itu langsung merekahkan senyum, lalu melambai seolah meminta Amanda ikut serta masuk ke dalam.
“Mungkin siang nanti cuacanya akan panas, jadi aku mengaplikasikan sunblock pada tubuh,” ujar Marsha menjawab. Dia menunjukan botol sunblock dalam genggaman tangannya pada Manda. Mendapatinya, ia mengangguk paham beberapa kali.
“Kau ingin mencobanya juga, Manda? Sepertinya pesiapanmu ke mari tidak terlalu lengkap, kau bisa meminta bantuanku kapanpun kau mau,” ungkap Marsha dengan diakhiri senyum tulus.
Senyuman itu menurun pada Amanda, gadis itu mengangguk beberapa kali untuk dijadikan tanggapan.
“Baiklah, pakailah segera. Kudengar kita harus berkumpul sebenar, acara luar kali ini penanggung jawabnya Bianca dan Brilian,” ujar Marsha kembali.
Amanda tahu itu, penanggung jawab dilimpahkan pada mereka setelah kru mempertimbangkan berbagai hal. Selain itu, hanya Bianca satu-satunya perempuan yang bisa berenang di sini. Jadi karena nanti mereka memiliki agenda berenang bersama, wanita itu bisa untuk dijadikan tumpuan. Walau sebenarnya Amanda enggan, apa yang bisa ia lakukan? Hanya bisa mengembuskan napas panjang.
Keduanya keluar dari tenda setelah Amanda selesai membalurkan sunblock pada bagian tubuh yang nantinya akan terpapar sinar matahari langsung. Begitu mengedarkan pandang, atensi Amanda langsung bersitubruk dengan mata milik Senja yang baru saja sampai. Pria itu berjalan bersama Brilian dan Michel dengan tangan membawa ranting untuk acara api unggun.
Amanda berinisiatif untuk mengambilkan Senja air mineral, pasti pria itu merasa haus sekarang.
“Senja! Kemari sebentar!” Amanda melambaikan tangan, ia meminta sang pria berjalan ke arahnya. Senja sempat mengangkat kedua alis bingung, tetapi begitu mendapati gelas satu kali pakai dalam genggaman tangan Amanda, dia langsung paham.
Kedua langkah kakinya berjalan mendekat setelah menepuk pelan punggung Michel yang tengah menyusun ranting-ranting yang mereka kumpulkan.
Amanda menyodorkan gelas sekali pakai itu pada Senja, “Kau pasti merasa haus,” katanya.
Senja tersenyum, sepertinya sifat Amanda mulai melunak setelah ia beri daging sebagai sarapan.
“Terima kasih, Manda.” Tangannya terulur mengambil alih gelas satu kali pakai itu dalam genggaman tangan Amanda, lalu dengan segera meneguknya tanpa sedikit pun sisa.
Amanda tidak memperhatikan isi dalam gelas yang mulai tandas, fokus atensinya malah tertuju pada jakun yang naik turun. Katakan jika Manda telah gila, ia bahkan sempat membayangkan yang tidak-tidak.
“Manda, tidak boleh melamun,” nasehat Senja mengudara. Ucapan dengan nada amat lembut itu menyadarkan gadis itu, Amanda langsung berdehem dengan wajah menengadah. Menatap Senja yang berdiri dengan tegap di hadapannya.
“Ayo berkumpul bersama yang lain sebelum kamera dinyalakan,” ujar Senja. Ucapan pria itu hanya ditanggapi anggukkan satu kali. Amanda langsung berlari mendahului menuju Marsha guna menghindari rasa gugup yang tiba-tiba mendera. Sudah dikatakan berulang kali, Senja tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
Kini, tiga pasang peserta sudah duduk dengan posisi melingkar. Amanda duduk di samping kanan Marsha, sementara samping kirinya ditempati oleh Senja.
“Baiklah, karena aku yang memimpin kali ini, ada beberapa aturan yang harus ditaati selama dua hari ke depan. Semoga kalian tidak merasa keberatan,” ujar Brilian. Pria itu kembali menatap satu persatu peserta yang duduk melingkar dengan sebuah senyuman. Amanda sendiri berusaha untuk tidak membalas tatapan sengit yang kini tengah Bianca layangkan. Wanita dengan bedak tebal dan lipstik merah menyala itu menatap ke arah Amanda seolah menjadikannya mangsa.
Amanda menyadari, tetapi tidak menanggapinya.
“Aturan pertama, semua orang harus berpartisipasi. Dalam dua hari ini, kegiatan kita banyak dihabiskan bersama air, jadi butuh kerjasama antar kelompok.” Penjelasan Brilian mengundang berbagai reaksi. Sebagian besar mengangguk-anggukkan kepala.
“Ini tidak memberatkan, sudah seharusnya tiap-tiap peserta ikut berpartisipasi,” sambung Bianca, kali ini wanita itu ikut mengudarakan suara.
“Yang jelas tidak ada yang boleh menyusahkan pasangan, itu pasti sangat merepotkan,” sindir Bianca. Tatapan wanita itu jelas tertuju pada Amanda.
Mendengar sindiran itu, emosi Amanda tersulut. Ia menatap Bianca dnegan pandangan tajam, siap mengudarakan balasan. Bianca jelas sedang menyindirnya mengingat kegiatan satu Minggu ke belakang, Senja selalu ia susahkan. Namun itu Minggu lalu, tidak untuk minggu ini.
Senja menyadarinya, pria itu langsung menahan lembut pergelangan tangan Amanda agar gadis itu mengurungkan niat untuk mengudarakan suara. Amanda beralih menatap ke arah Senja dengan pandangan protes, tetapi pria itu malah menggeleng dengan wajah damai yang menenangkan.
“Jangan ditanggapi, hanya perlu buktikan jika kamu tidak seperti yang dia katakan,” tutur Senja dengan lembut. Lagi-lagi, pria itu mengudarakan tangan. Senja mengusap kepala belakang Amanda untuk meredam amarah yang tersisa.
Amanda langsung luluh, wajah damai milik Senja menenangkannya. Senja benar, ia hanya perlu membuktikan.