Makan malam berakhir dengan situasi canggung luar biasa. Senja hanya bisa melirik beberapa kali ke arah Amanda yang setia duduk di sebelahnya. Gadis itu subuk mengunyah makanan tanpa membuka suara, dan itu membuat suasana menjadi berbeda. Senja tidak terbiasa mendapati Amanda terdiam seperti sekarang ini, ia merasa ini tidak benar.
Mungkin karena sudah terbiasa dengan sifat banyak bicara Amanda, lalu terkejut begitu mendapatinya terdiam dalam kurun waktu cukup lama. Senja merasa jika gadis itu sedikit tersinggung dengan apa yang beberapa waktu lalu ia katakan. Dan jika memang benar begitu, ia menyesal.
“Aku sudah selesai.” Amanda lantas bangkit dari posisi terduduknya. Ia beranjak tanpa berniat menatap Senja yang kini tengah tengadah guna menatap ke arahnya. Amanda merasa suasana hatinya menurun drastis setelah berdialog panjang dengan pria itu. Perkataan Senja terlalu menamparnya, Amanda tidak siap untuk disadarkan paksa. Walau yang dikatakan pria itu tidak salah, Amanda masih sulit berdamai dengan dirinya sendiri.
“Makananmu belum habis,” balas Senja. Pria itu sempat melirik piring yang Manda gunakan. Gadis itu hanya memakan setengah dari isi nasi dan lauk yang tertampung dalam piring. Seharusnya Amanda merasa lapar bukan? Jelas karena sepulang mereka dari Villa Marsha, Amanda tidak memakan apapun.
Namun bukannya membalas ucapan Senja, Amanda malah berlalu dari meja makan. Kedua langkah kakinya berjalan maju, kemanapun asal tidak bertemu Senja untuk saat ini. Pria itu terlalu mengintimidasi.
“Manda, aku sedang berbicara denganmu!” seru Senja. Nada bicaranya terdengar sedikit kesal. Mungkin karena tidak mendapatkan tanggapan dari Amanda. Gadis itu menghiraukannya. Namun seruan itu tidak berhasil menghentikan langkah kaki Manda, kini punggung kecil itu tak lagi tampak dalam mata. Menyisakan Senja yang mengembuskan napas panjangnya.
Senja terdiam, pikirannya berkelana. Mencoba mencari tahu bagian mana dari ucapannya yang memiliki kemungkinan paling besar untuk menyayat hati mungil milik Amanda. Senja menyadari jika perkataanya terlalu kasar, ia seharusnya menahan diri atau menjelaskannya lebih hati-hati. Tidak ada gunanya merasa menyesal, semuanya sudah terjadi.
Rupanya kamar adalah pilihan Amanda yang terakhir. Ia menyadari ada banyak kamera pengawas yang terus menyala. Untung saja, hari ini mereka tidak diliput. Amanda lebih leluasa karena tidak harus berakting seolah memiliki hubungan yang baik dengan Senja.
Amanda langsung merebahkan tubuh di atas petiduran, ia menatap ke arah jam dinding dengan mulut yang setia bungkam. Pikirannya melayang, ia kembali memusatkan atensi pada sederet kalimat yang Senja katakan untuk membuatnya sadar.
“Senja tidak salah, aku yang enggan mengakuinya,” lirih Amanda. Lantas embusan napas mengudara, “Aku terlalu malu untuk mengakui bahwa aku hidup bergantung pada orang lain,” sambungnya.
Rasa sedih nan sendu itu ditutup, Amanda berakhir terlelap dengan posisi tengkurap.
***
Saat mendengar agenda acara satu hari ini, Amanda hanya bisa mengembuskan napas panjang. Sudah genap satu minggu acara variety show ini berlangsung. Karena ratingnya begitu bagus, penanggung jawab acara semakin gencar mengagendakan kegiatan yang mempertahankan rating. Tentu agar tidak tergeser dengan acara televisi lain apapun caranya.
“Pakai cardiganmu,” titah Senja. Pria itu menyodorkan cardigan rajut berwarna pink pastel milik Amanda yang sangat jarang gadis itu kenakan. Angin terlalu kencang hari ini, mungkin bisa membuat masuk angin. Lebih baik mencegah sebelum semuanya terjadi, Senja sudah mengetahui jika imun Amanda tidak terlalu kuat.
Amanda menatap Senja sebentar, ia mengangguk dan mengambil alih cardigan miliknya tanpa berniat mengudarakan suara. Ia memakai pakaian hangat itu di depan Senja, membiarkan pria itu menatap ke arahnya dengan tatapan tidak terbaca. Pikiran Manda masih penuh dengan berbagai pertanyaan, dimana Senja tidur malam tadi? Mengapa ia merasa tidur sangat leluasa, bahkan terbangun dengan posisi menguasai seluruh ranjang.
“Ayo pergi sekarang,” ajak Senja kembali. Pria itu berjalan lebih dulu setelah mendapati anggukkan satu kali oleh Amanda. Keduanya berjalan keluar dari villa beriringan. Tepat setelah mereka keluar, angin tak biasa langsung menerpa. Rambut tergerai milik Amanda bahkan mengudara, membuat pemiliknya terlihat kesulitan membenarkan anak rambutnya.
Acara hari ini, tetap tidak jauh dari pantai. Namun sampai lusa, mereka tidak akan kembali. Semalam Senja menyadari ada beberapa kru dan penanggung jawab acara yang datang ke lokasi untuk menyiapkan agenda pagi ini.
Berkemah di dekat pantai, itu agenda dua hari ke depan. Semalam Senja langsung membantu mendirikan tenda dengan dua peserta pria lain. Juga mengemas beberapa kebutuhan yang akan mereka perlukan selama dua hari ke depan. Dibanding dengan villa yang Amanda tempati, lokasi berkemah malah lebih dekat dengan villa milik Bianca.
“Senja,” panggil Amanda. Mereka masih berjalan menuju lokasi. Dari tempatnya saat ini, Amanda sudah bisa melihat Marsha yang tengah wira-wiri dengan Michel mengangkut sisa perlengkapan mereka.
Senja langsung menoleh, merasa cukup terkejut karena Amanda mengudarakan suara setelah terdiam cukup lama. Ia kira, kebisuan berkepanjangan ini akan terus berlanjut.
“Hm? Kamu membutuhkan sesuatu, Manda?” Senja bertanya sembari mengangkat kedua alisnya.
“Semalam kamu tidak tidur?”
Senja tampak terkejut, lalu kembali menatap ke arah pasangannya. “Kau terjaga dan menyadari aku tidak ada?” tanya Senja balik. Ada sedikit kekehan yang serta pria itu layangkan.
Amanda langsung menggeleng cepat, “Hanya insting. Aku merasa tidur sendiri sepanjang malam,” balasnya.
Mereka sampai di tempat berkemah, Amanda tersenyum sekilas pada Marsha yang melambai ke arahnya. Senja tetap berjalan menuju tenda yang akan mereka tempati dua hari. Berada di sisi kanan, berhadapan langsung dengan tenda milik Bianca. Sementara tenda milik Marsha menghadap laut di tengah-tengah. Pasangan yang diberkati memang memiliki posisi yang tak main-main.
“Duduklah, aku akan mengambil air hangat sebentar.”
Amanda mengangguk patuh. Belum sempat menjawab, Senja berlalu menuju pos kecil di samping tenda milik Michel untuk menyeduh air hangat yang sudah disiapkan sejak subuh. Hanya satu gelas untuk Amanda.
“T-terima kasih,” ucap Amanda, nada bicaranya terbata. Amanda menerima sodoran gelas satu kali pakai itu hingga berada dalam genggaman tangannya. Sensasi hangat langsung terasa, ini cukup berpengaruh untuk membuat permukaan kulitnya tidak terlalu kedinginan.
Amanda merasa terkejut saat mendapati Senja mendudukkan diri tepat di sampingnya. Pintu tenda tidak terlalu luas, alhasil keduanya duduk tanpa jarak sekarang. Amanda tidak keberatan, tetapi degupan jantungnya menggila.
“Semalam aku membantu para kru mendirikan tenda, jadi tidak tidur semalaman. Aku sedikit mengantuk sekarang,” jelas Senja memberitahu. Arah pandang pria itu tertuju pada tumpukan kayu yang akan dijadikan api unggun malam nanti.
Ada beberapa kru yang belum pulang, mereka masih menyiapkan kamera untuk merekam kegiatan tiga pasang peserta.
“Oh, hampir saja lupa!”
Pergerakan Senja mengundang alis Amanda terangkat, ia membiarkan pria itu memasukkan sebagian tubuhnya ke dalam tenda. Karena merasa penasaran, Amanda ikut memasukkan sebagian tubuh untuk mencari tahu.
Pria itu mengeluarkan sebuah tempat makan cukup besar yang tertutup dengan selimut yang disiapkannya semalam. Lalu menunjukkannya pada Amanda dengan senyuman lebar pada wajahnya. Amanda menatap pria itu bingung, dan Senja memahami tatapan itu.
Senja bergegas membuka tempat makan dalam genggaman tangannya. Lalu menyerahkannya pada gadis di sampingnya. Amanda tertegun sebentar, ia merasa tubuhnya tak membumi sebentar.
Amanda tertegun dengan isi dalam kotak makan yang Senja beri. Ia jelas tidak berharap sebesar ini.
“Khusus dibuat subuh tadi, maaf untuk ucapanku semalam. Mungkin itu sedikit membuatmu sedih, aku benar-benar tidak sengaja.”