Sesuai dengan jadwal yang sebelumnya sudah disepakati bersama, agenda pagi pukul enam tepat adalah olahraga bersama. Instruksi Brilian sebagai penanggung jawab terdengar, Amanda yang baru saja keluar dari tenda mendengus tidak senang. Ia bangun terlambat dan tidak menemukan Senja di dalam tenda. Pria itu bangun tanpa berniat membantunya bangun seperti hari-hari sebelumnya.
Brilian berseru dengan sebuah speaker dalam genggaman tangan, meminta semua orang segera berkumpul agar kegiatan tidak berakhir terlalu siang.
Amanda kembali mengedarkan pandangannya, ia berharap menemukan Senja di antara banyaknya orang yang mulai berbaris rapi. Harapannya terkabul, ia melihat Senja. Keduanya bersitatap sebentar, tetapi Senja dengan cepat memutuskan kontak mata.
Suasana hati Amanda sedang tidak baik-baik saja pagi ini, mungkin faktor datang bulan yang tak kunjung usai. Begitu melihat Senja memutuskan kontak mata, ia tertawa sumbang dengan wajah kesal.
“Menyebalkan sekali, dia masih berniat mengabaikanku?” tanyanya pada semilir angin dengan nada sinis. Ada nada sedih yang tersiurat dalam kalimatnya, sebelumnya Amanda berharap pagi ini Senja berhenti mendiaminya, ternyata masih sama seperti hari sebelumnya. Itu membuat suasana hatinya semakin tidak baik.
Amanda berjalan mendekat ke arah lokasi berkumpul dengan kedua kaki yang dihentak-hentakkan. Bibirnya maju beberapa centi, berhasil membuat beberapa kru yang melihatnya mengangkat dahi.
Senja juga memperhatikan gadis itu sesekali, pria itu berusaha untuk terlihat mengabaikan walau sebenarnya memperhatikan. Ia sedang mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf pada Amanda, mungkin setelah berolahraga ia akan lebih leluasa.
Senja berdiri tegak, kedua tangan yang sebelumnya bersedekap di depan d**a kini luruh begitu mendapati Amanda didekati oleh kru laki-laki. Matanya memincing, mencoba menerka tentang apa yang mereka jadikan topik pembicaraan utama. Senja merasa ada bagian dari dirinya yang merasa tidak suka melihat kedekatan Amanda dengan pria lain.
Sementara itu, Amanda yang baru saja berbaris tersentak saat bahunya ditepuk dua kali. Ia menoleh dengan wajah kesal yang dipertahankan, lalu senyuman canggungnya terlihat begitu menyadari keberadaan kru pria berdiri di sampingnya.
“Amanda, bisa beradaptasi dengan baik?” tanya pria itu tiba-tiba. Amanda menoleh, kedua alisnya terangkat sebentar. Walau begitu ia tetap menganggukkan kepala beberapa kali untuk dijadikan respon awal.
“Ya, sepertinya aku cukup cepat beradaptasi,” balasnya dengan disertai senyuman tipis.
Pria yang belum Manda ketahui namanya itu ikut tersenyum, “Pasti sulit, mau bagaimanapun kau sudah terbiasa hidup dilayani oleh para pelayan. Benar begitu?”
Amanda langsung tertawa, ia menanggapi pertanyaan itu sebagai gurauan semata walau memang seperti itu pada kenyataanya. Jika dipikir lebih dalam, berada di pulau terpencil ini berhasil membuat Amanda jauh lebih mandiri. Hanya sedikit mandiri, sisanya ia serahkan pada Senja.
Oh ayolah, Senja lagi? Setiap pemikiran Amanda selalu melibatkan pria itu. Memikirkannya, embusan napas panjang mengudara.
“Tidakkah kau merindukkan rumah?” Kru pria itu kembali bertanya, menyadarkan Amanda yang ternyata larut dalam pikirannya. Pria di sampingnya ini sepertinya tahu banyak.
“Bohong jika aku berkata tidak merindukan rumahku sendiri,” balas Amanda. Gadis itu mengakhiri perbincangan ini dengan senyuman tipis. Suara tawa terdengar, Amanda melihat pria itu menganggukkan kepala beberapa kali untuk merespon balasan Amanda yang satu menit lalu baru saja mengudara.
Instruksi Brilian kembali terdengar, kini atensi Amanda tertuju ke depan. Ralat, ia sempat menatap Senja sebentar. Pria itu berdiri di barisan belakang bersama beberapa juru kamera. Padahal pria itu datang lebih dulu, tetapi malah memilih tempat paling belakang. Amanda tidak tahu alasan mengapa Senja memilih posisi tumpuannya saat ini. Ia ingin mengamatinya lebih lama, serta memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja. Saat ini, Amanda merasa Senja mendiaminya, tetapi bukan seperti itu yang sebenarnya terjadi.
“Baiklah, karena sudah lewat pukul enam, kita akan melakukan pemanasan lebih dulu. Setelah itu, semua orang bisa berlari santai menuju batas yang telah dibuat oleh kru, lalu kembali ke titik ini sebelum pukul sembilan.” Suara Brilian terdengar. Setelahnya, pria itu ikut masuk ke dalam barisan dan membiarkan dua tim tata rias memimpin pemanasan.
Amanda mendengus begitu melihat wajah mereka, ia masih ingat jika dua gadis itu adalah gadis yang paling menggilai Senja selama mereka berada di sini. Menyebalkan, suasana hatinya semakin runyam sekarang.
Pemanasan dimulai dengan gerakan tangan, Amanda melakukannya dengan sungguh-sungguh karena ini masuk ke dalam poin plus. Walau dirinya dan Senja sedang terbentang jarak tak kasat mata, ia tetap harus mempertahankan nilai agar acara perkemahan pesisir pantai berjalan dengan lancar. Manda juga tidak bisa bertingkah kekanak-kanakkan. Secara tidak sengaja, matanya menatap Marsha dan Michel yang berdampingan sembari melakukan pemanasan. Bianca dan brilian kini juga berbaris berdampingan, hanya ia dan Senja yang saling berjauhan. Menyadari itu, Amanda menghembuskan napas untuk kesekian kalinya.
Terhitung lima belas menit melakukan pemanasan, kini semua orang mulai berlari santai sembari mengumpulkan keringat. Amanda membiarkan kru pria tadi berlari bersamanya sejak aba-aba mulai terdengar. Sesekali mereka saling melempar pertanyaan, berusaha saling mengisi untuk mengenyahkan kebosanan.
“Kamu dan pasanganmu sedang terjadi masalah?” Kru pria itu kembali mengudarakan suara, kali ini bertanya. Amanda menoleh sebentar, lalu menganggukkan kepala beberapa kali. Ia tidak berniat menyembunyikannya karena semua orang bisa tahu karena ia dan Senja terus menerus berpisah sejak pembukaan perkemahan pesisir pantai.
“Hanya masalah kecil,” balasnya memberitahu. Pria itu mengangguk-angguk menanggapinya.
“Sepertinya dia terus melihat ke arahku dengan pandangan tidak menyenangkan,” ujarnya kembali. Amanda langsung mengangkat kedua alisnya, benarkah? Mengapa ia sama sekali tidak memperhatikannya.
“Jangan mengedarkan pandangan, dia berada di belakang kita,” cegahnya saat pria itu mendapati Amanda siap menolehkan kepala. Amanda menghembuskan napas, jadi Senja memang berada di belakang. Pantas saja aura yang terasa sedikit mencengkram.
Senja semakin tidak suka saat mendapati pria itu mendekatkan tubuh pada Amanda. Apalagi gadis itu tidak mempermasalahkannya sama sekali. Ia merasa hatinya terbakar dan berkobar, Senja ingin berteriak sekeras mungkin sembari mengatakan jika Amanda seharusnya berjalan di sampingnya. Namun keadaan yang terjadi saat ini jelas tidak memungkinkan.
“Benar-benar tidak bisa dibiarkan,” geram Senja. Pria itu mempercepat kedua langkah kakinya. Tangan kekarnya mengudara, ia mengambil alih tangan milik Amanda saat gadis itu berjalan santai karena kelelahan.
Senja membawa gadis itu mundur, tidak mengindahkan raut wajah bingung kru pria yang sejak awal menempeli amanda. Begitu Senja melayangkan raut wajah tajam, pria itu langsung melanjutkan sesi larinya yang tertunda. Meninggalkan Amanda yang tangannya masih dicekal kencang oleh Senja.
“Apa maksudnya? Jangan senang menarik tanganku, ini menyakitkan,” lirih Amanda. Gadis itu melepaskan paksa cengkraman Senja pada pergelangan tangan kirinya. Mendengar suara lirih itu, Senja perlahan mengendurkan cengkraman tangan. Tatapannya tetap tertuju pada Senja, pandangannya begitu dalam. Keduanya sama sekali tidak menyadari jika mereka telah tertinggal, keadaan sekitar sudah mulai sepi.
Sebelumnya, Amanda memang merasa sedih karena Senja terus menerus mendiaminya. Namun sekarang, melihat pria itu tiba-tiba berlaku kasar pada tangannya membuat Amanda sedikit kesal, apalagi mood-nya tidak sedang baik-baik saja sekarang.
“Sebenarnya apa maumu? Katakan dengan jelas. Setelah mendiamiku tanpa alasan, mengapa sekarang malah berlaku kasar?” Nada bicara gadis itu terdengar menusuk. Amanda sengaja, ia memang ingin menyindir keras pria di hadapannya.