Rupanya, keterdiaman Senja berlangsung hingga malam semakin larut. Amanda tak bisa mengalihkan pandang dari pria itu semenjak api unggun menyala.
Bahkan saat ia memiliki kesempatan untuk mengajak pria itu berbicara, Senja memilih untuk menghindarinya. Manda tidak mengerti mengapa segalanya berakhir serumit ini. Apa tingkahnya saat berada di dalam tenda kelewat berlebihan? Mungkinkah itu yang Senja merasa kesal?
Untuk kesekian kalinya, embusan napas Manda mengudara. Senja benar-benar membentangkan jarak, sama seperti yang Marsha katakan.
"Manda, kamu tidak berniat masuk ke dalam tenda?" Marsha mendekati gadis itu, kini Manda masih terduduk di depan api unggun yang mulai padam. Kerumunan manusia sudah sirna, mereka sudah kembali pada kesibukan masing-masing. Para kru dan tim sibuk mempersiapkan agenda besok pagi.
Amanda menoleh sebentar, ia menatap Marsha sembari memberikan senyuman simpul.
"Senja sudah di dalam tenda, dia mendiamiku. Rasanya canggung jika aku ikut masuk," ujar Manda memberikan alasan.
Mendengar itu, Marsha mengangguk-anggukkan kepala, antara Senja dan Manda memang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. Marsha tetap tidak berani menanyakan alasannya, ini privasi. Jadi yang bisa ia lakukan hanyalah menghibur Manda. Gadis itu terlihat gundah karena Senja mengabaikannya.
"Menurutku, suasana hati Senja mungkin tidak baik. Besok pagi kalian bisa membicarakannya kembali," saran Marsha.
Manda diam sebentar, tidak langsung mengudarakan balasan. Gadis itu menghela napas, lalu menopang dagu sembari menatap api unggun yang mulai mengecil.
Apa yang dikatakan Marsha sepertinya tidak salah, mungkin setelah obat perangsang diminumnya secara tidak sengaja, emosi pria itu menjadi tidak stabil. Apalagi hasratnya sebagai seorang pria tidak tuntas sepenuhnya. Senja mungkin memang tertekan karena keadaan, Manda seharusnya memahami pria itu. Namun, Senja tak harus langsung mendiami dan membentangkan jarak dengannya, bukan? Pria itu bisa mengatakan yang baik-baik agar tidak menciptakan kecanggungan.
"Sudahlah, hari semakin larut. Kembalilah ke tenda, pikirkan masalah kalian besok." Marsha menepuk punggung milik Manda beberapa kali, berusaha untuk menenangkan.
Manda mengangguk-angguk, menyetujui saran yang baru saja Marsha udarkan. Ia memang sudah mulai mengantuk, apalagi besok pagi kegiatan perkemahan pesisir pantai sudah resmi dimulai, pasti akan menjadi hari yang melelahkan.
"Baiklah, ayo kembali ke tenda," final Manda. Gadis itu bangkit lebih dulu, sementara Marsha menyusul sembari menampakkan senyum.
"Selamat malam, Manda," ujarnya tulus.
"Terima kasih sudah menemaniku," balas Manda, gadis itu juga memberikan senyuman terbaiknya.
Marsha mengangguk, lalu keduanya berpisah. Sama-sama menuju tenda masing-masing untuk meregangkan tubuh.
Manda beberapa kali membalas sapaan kru yang kebetulan melintas. Walau hari sudah larut, sekitar tenda masih banyak orang-orang yang berlalu lalang.
Manda mencuci kakinya seperti biasa sembari memantapkan hati untuk masuk ke dalam tenda.
Senja sudah masuk lebih dulu telat setelah acara pembukaan dinyatakan selesai. Jika diprediksi, mungkin pria itu sudah terlelap saat ini. Pria itu tidak akan kesulitan untuk tidur walau berada di tempat asing sekali pun.
Setelah memantapkan hati dan menahan napas, Manda masuk ke dalam tenda dengan degupan pada jantung yang menggila. Ia takut Senja masih terjaga, karena jika begitu, suasananya akan semakin canggung.
Pemandangan yang kali pertama Manda lihat adalah punggung milik Senja yang terbaring membelakanginya. Rupanya pria itu sudah tidur, tapi Amanda merasa sedikit tidak rela.
Ia malah berharap semuanya tuntas malam ini, Manda ingin mengetahui alasan Senja mendiaminya. Jadi besok pagi, tidak ada kecanggungan yang begitu mengganjal hati.
"Senja, sudah tidur, ya?" tanya Manda dengan nada lirih. Gadis itu setia terduduk sembari menatap punggung milik sang pria dengan pandangan nanar yang dipertahankan. Anggap saja Amanda sedang bertanya pada semilir angin, tidak ada balasan yang mengudara. Itu sudah cukup untuk membuktikan jika pria itu sudah masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
Pada akhirnya, Amanda ikut merebahkan tubuh. Gadis itu enggan memunggungi atau menatap punggung milik Senja. Jadi Manda memilih tidur dengan posisi terlentang.
Ternyata, memiliki perasaan terhadap seseorang tak melulu menyenangkan. Ada saat dimana Manda merasa tidak nyaman karena diabaikan tanpa adanya kejelasan. Dan itu benar-benar membuat pikirannya runyam.
Tidak seperti biasanya, kali ini Amanda bisa memejamkan matanya dengan cepat. Gadis itu memerahkan persepsi jika tempat baru nan asing bisa membuat durasi tidurnya terganggu. Terhitung lima belas menit setelahnya, Manda ikut masuk ke dalam alam bawah sadarnya.
Senja membuka kedua mata setelah tak merasakan pergerakan dari belakang tubuh. Masih dengan posisi yang sama, pria itu menghembuskan napas panjangnya.
Senja merasa serba salah karena mengabaikan Amanda, mau bagaimanapun gadis itu tidak ada kaitannya.
Namun, beberapa jam yang lalu, masih ada sisa obat perangsang yang membuatnya terpaksa membentangkan jarak. Amanda terlalu agresif dan menggoda, ia takut tidak bisa mengendalikan diri. Jadi, ia sudah memilih keputusan yang paling benar.
Saat pembukaan perkemahan pesisir pantai, Senja tahu gadis itu terus menatapnya dengan pandangan khawatir. Ia tidak menyangka Amanda akan memikirkannya terlalu over, gadis itu memang peduli dengan keadaannya.
Senja sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri, sisi negatif yang tercipta karena obat perangsang telah sirna sepenuhnya. Keberadaan Amanda bukan lagi menjadi permasalahan yang perlu diperpanjang.
Laki-laki itu membalikkan tubuh, kini Senja memposisikan tubuhnya terbaring menghadap Manda. Gadis itu benar-benar tidur dengan posisi terlentang. Senja bisa melihat kerutan pada dahi sang gadis walau kedua mata Manda terpejam sempurna.
Tampak memiliki beban yang belum terselesaikan sebelum memejamkan pandang. Tanpa aba-aba, tangan Senja mengudara. Pria itu mengusap pelan dahi milik Amanda agar kerutan rasa cemas itu menghilang, tetapi itu sia-sia karena pemiliknya enggan melepaskan beban yang dibawanya.
"Manda," panggilnya pelan. Tidak ada sahutan, gadis itu masih setia memejamkan mata tanpa terganggu sama sekali.
"Kamu sedang memikirkan apa?" Senja bertanya walau tahu tidak ada balasan yang akan mengudara. Namun pria itu ikut mengerutkan dahi saat mengutarakan pertanyaan.
Manda bergerak tidak nyaman, gadis itu menggerakkan tubuhnya secara abstrak dengan keringat pada pelipis yang bisa Senja lihat walau dengan suasana remang-remang. Walau bisa tidur dengan cepat, Manda tidak bisa tertidur dengan tenang.
Perlahan, Senja mengarahkan Amanda agar gadis itu menumpukan tubuh pada d**a bidangnya. Ia meletakan satu tangannya agar dijadikan bantalan, lalu menarik pelan tubuh sang gadis agar kepalanya bersandar. Ia mengusap puncak kepala Amanda untuk sekadar menenangkan.
Selain merasa tidak nyenyak, Amanda sepertinya tidak terbiasa tidur di dalam tenda. Walau samar-samar bisa merasakan angin, gadis itu tetap mengeluarkan keringat.
"Engh." Manda mencari posisi bersandar yang nyaman, tangannya juga memeluk perut kekar milik Senja yang kini tidur dengan posisi terlentang. Semua itu terjadi tanpa Amanda sadari.
Senja sama sekali tidak mempermasalahkan, setidaknya kali ini ia harus memastikan tidur Manda tenang. Beban pikiran yang gadis itu bawa dalam tidur pasti karena Senja mendiaminya.
Senja menundukkan wajah untuk menatap Amanda, kini napas gadis itu teratur dan tidak lagi bergerak gusar. Ini cukup melegakan.
"Maaf," gumam Senja. Setelahnya, pria itu menyematkan sebuah kecupan dengan durasi amat lama pada kening milik Amanda.