Membentangkan Jarak

1117 Kata
Dengan wajah bersemu, Amanda memilih untuk segera keluar dari tenda. Wajahnya bahkan memanas hanya karena mendengar alasan yang beberapa detik lalu baru saja Senja udarakan. Ia merutuki diri dalam hati, mengapa ia harus melupakan hal sebesar ini? Apalagi Senja yang mengingatkannya, mau Manda letakkan dimana wajahnya? “Aish, benar-benar memalukkan,” rutuk Amnanda. Gadis itu berdiri di sisi tenda, lalu memukul pelan kepala sembari mengumpat pelan. Merutuki dirinya sendiri yang sama sekali tidak peka dengan kondisi. Jika permainan panas mereka terus berlanjut, rasa malunya pasti berlipat-lipat. Sepertinya ia harus bersyukur karena Senja memberitahukan hal ini lebih cepat. Amanda mengipasi wajahnya yang terasa panas, sensasi menggairahkan itu masih bisa dirinya rasakan. Ia mengedarkan pandangan sebentar, lantas memilih untuk berjalan menjauhi kawasan tenda. Kerongkongannya terasa kering, jadi ia memilih meraih gelas satu kali pakai untuk meneguk air dingin yang tersedia pada pos berbentuk tenda. Amanda meneguknya tanpa berhenti, ia menghabiskan satu gelas penuh dalam beberapa kali tegukkan saja. Nafasnya tetap tidak beraturan, Manda ikut merasa terbakar. Pandangan Amanda terlihat menerawang, gadis itu menatap ke arah tenda dengan sorot kosong. Dalam hati, ia mengkhawatirkan kondisi Senja saat ini. Tidak ada yang merasa baik-baik saja saat mereka berada di bawah pengaruh obat. Amanda bisa meyakini jika Senja amat tersiksa saat ini. Tidak ada yang membantunya menuntaskan hasrat, bahkan dirinya sendiri. Pria itu memilih menekan diri dan mengenyahkan keinginan untuk mendapatkan pelepasan. Amanda memang tidak cukup yakin pria itu akan bertahan, tetapi sepertinya akan sulit. Senja adalah pria baik-baik, jelas tidak pernah mengkonsumsi hal tak berfaedah seperti ini. Embusan napas mengudara, Amanda benar-benar ikut merasa terbakar. Ada gelayar aneh dari dalam dirinya yang memaksa dituntaskan. Ia kembali menormalkan deru napas, Manda berusahaa berekspresi senetral mungkin. Namun ia tidak bisa, tetap saja beban pikirannya tertuju pada senja. “Aku harap kamu baik-baik saja,” gumam Amanda. Tatapan gadis itu terus tertuju pada tenda. Tidak ada tanda-tanda Senja akan keluar dari dalam sana. “Manda!” Panggilan dari belakang tubuhnya memaksa Amanda membalikan tubuh seratus delapan puluh derajat. Ia memberikan senyum tipis begitu mendapati Marsha berlari kecil menuju ke arahnya. “Kau sendirian? Dimana Senja?” tanya Marsha. Wanita itu baru sadar jika Senja tidak dapat ditemukan. Lantas pandangannya kembali jatuh pada Amanda, meminta jawaban dari narasumber terpercaya. Amanda kembali tersenyum singkat, “Dia masih di tenda,” jawabnya memberitahu. Mendengarnya, Marsha mengangguk-angguk beberapa kali. Manda juga sempat mendapati Marsha mengecek jam di arloji pada pergelangan tangan. “Sebentar lagi pembukaan dimulai, kita harus duduk dulu di sana.” Marsha menunjuk pada sebuah karpet yang sudah digelar entah sejak kapan. Amanda mengikuti arah jari tangan wanita itu, lalu menganggukkan kepala satu kali. Sepertinya, untuk saat ini lebih baik Amanda tidak menunggu Senja. Posisi pembukaan cukup sederhana, semua peserta, kru, dan tim yang serta dalam acara ini akan duduk bersama. Lebih tepatnya duduk melingkar dengan api unggun di tengah-tengah. Terdapat beberapa juru kamera yang tampak siap di titik masing-masing. “Sembari menunggu Senja keluar, bolehkah aku duduk bersamamu?” tanya Amanda. Sebenarnya ia cukup ragu Senja akan hadir, mau bagaimanapun pria itu masih sibuk dengan rasa gelisahnya. “Tentu saja, aku malah merasa senang. Banyak hal yang ingin aku bicarakan,” jawab Marsha dengan nada tak kalah antusias. Mendengar itu, Amanda menghembuskan napas lega. “Baiklah, ayo pergi sekarang!” ajak Marsha. Amanda tidak menanggapinya dengan perkataan, ia hanya menganggukkan kepala satu kali sebelum ikut serta berjalan di samping Marsha. Sebelum benar-benar melangkah menjauhi tenda, Amanda sempat menatap ke belakang. Ia menatap nanar tenda yang ia tempati, sungguh berharap Senja bisa mengatasi konfliknya sendiri dengan baik. Amanda juga berharap pria itu bisa hadir dalam pembukaan perkemahan pesisir pantai, Senja tidak boleh melewatkan ini. Namun semuanya kembali pada pria itu sendiri. Amanda tidak bisa menerka, pun jika pada akhirnya Senja tidak hadir, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Mungkin Amanda hanya bisa memberi alasan jika Senja sedang merasa tidak enak badan. *** Suara tepuk tangan dari berbagai penjuru terdengar, Brilian dan Bianca selaku penanggung jawab acara kali ini baru saja meresmikan acara perkemahan pesisir pantai yang akan berlangsung selama tiga hari kedepan. Amanda ikut bertepuk tangan, tetapi arah pandangnya terus menerus mengedar. Ia mencoba menemukan Senja di antara banyaknya orang yang mengelilingi api unggun. Namun nihil, keberadaan pria itu tidak tertangkap pandangan. Helaan napas mengudara untuk kesekian kalinya, rasa khawatir Amanda terhadap Senja sama sekali belum sirna. Karena terlalu fokus pada acara pembuka, ia tidak tahu apakah Senja masih berada di dalam tenda atau sudah keluar dari dalam sana. “Manda, itu Senja! Kamu mencari dia kan?” Michel menunjuk seorang pria yang baru saja mendudukkan diri, pria itu membaur dengan baik bersama beberapa tim pria begitu saja. Amanda langsung mencari keberadaan Senja dengan cara mengikuti arah tunjuk Michel, benar saja, Senja tampak mendudukkan diri dengan tenang di sana. “Sepertinya kalian sedang tidak baik-baik saja, benar begitu?” tebak Marsha yang duduk di samping Amanda. Manda diam, tidak tahu harus membalasnya dengan balasan seperti apa. Fokus atensi gadis itu tertuju pada Senja yang belum menyadari keberadaanya. Namun itu tidak berlaku lama. Terbukti beberapa detik setelahnya, Senja menyadari ada pasang mata yang menatapnya dengan durasi yang cukup lama. Keduanya bersitatap, Amanda menatap Senja dengan sisa pandangan khawatir yang tampak amat jelas. Amanda sendiri tidak tahu tatapan semacam apa yang kini tengah Senja perlihatkan. Amanda merasa tak tela begitu mendapati Senja memalingkan pandangannya. Pria itu menolak berlama-lama menatap ke arahnya. Apa yang terjadi? Mengapa ia malah merasa sedang bertikai dengan Senja seperti yang Marsha tebak beberapa menit yang lalu? Namun setidaknya ada beberapa hal yang bisa Manda syukuri. Keberadaan Senja yang keluar dari tenda sudah cukup untuk membuktikan jika pengaruh obat perangsang yang tidak sengaja pria itu minum sudah tidak terlalu mempengaruhi. Senja perlu diberikan acungan jempol karena bisa bertahan. “Benar, Manda?” tanya Marsha kembali. Amanda tersentak, rupanya gadis itu sibuk dengan dunianya sendiri. Marsha hanya tersenyum simpul mendapati teman barunya ini enggan melepaskan pandangan dari Senja. “Apa yang benar?” Manda bertanya balik, fokus atensinya tetap tertuju pada sang pria walau Senja sama sekali tidak memperhatikannya. “Kalian sedang bertengkar?” jelas Marsha. Amanda langsung meredupkan pandangan, bahu gadis itu juga ikut merosot. Pertanyaan Marsha sama sekali tidak bisa ditanggapi. Senja dan dirinya baik-baik saja saat berada di dalam tenda. Namun mengapa sekarang pria itu seolah sedang menghindarinya. Apa Manda membuat kesalahan yang tidak disadarinya? “Marsha, memangnya sangat mudah ditebak ya?” tanya Manda. Marsha langsung mengangguk tanpa pikir panjang, “Senja tidak menghampirimu, dia juga menolak bertatapan. Orang lain yang melihatnya pasti mengerti jika salah satu dari kalian sedang membentangkan jarak,” jelas Marsha. Amanda langsung terdiam, ia tidak sedang membentangkan jarak. Jadi disini, Senja lah yang sedang berusaha menjaga jarak. Namun Amanda tidak terima, atas dasar apa pria itu berniat mendiaminya?!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN