Perpotongan lehernya terasa basah, Amanda tertegun saat menyadari Senja sedang menumpahkan tangis. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa merasakan tubuh dingin milik Senja yang jelas tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
“Kau berada dalam pengaruh obat,” ujar Amanda membalas. Senja tak langsung menanggapi. Amanda mematung saat merasakan embusan napas milik Senja pada perpotongan lehernya. Ini memang tidak benar, tetapi sensasi tubuhnya tidak bisa berbohong. Amanda tidak mempermasalahkan apa yang sebelumnya dilakukan Senja. Toh, pada ujungnya ia turut serta menikmatinya.
“K-kau sudah sadar?” tanyanya. Amanda bertanya dengan nada terbata, ia tetap merasa gugup saat merasakan embusan napas Senja untuk kesekian kalinya.
“Tidak, obatnya malah semakin bereaksi,” jawab Senja dengan nada rendah, terdengar tertekan.
Amanda tahu itu, lagipula sangat tidak mungkin reaksi obat perangsang akan menghilang dengan cepat. Paling tidak, Senja harus mendapatkan puncak kenikmatan.
Yang paling membuatnya heran, Senja enggan untuk melanjutkan permainan. Pria itu menghentikan ciuman penuh gairah yang sebelumnya mereka lakukan dan lebih memilih memeluk tubuhnya kencang sembari menyembunyikan wajah pada ceruk lehernya. Senja benar-benar menahan hasrat terpendamnya. Itu pasti sulit, jelas sangat sulit.
“Manda,” panggil Senja dengan nada serak. Suara menggelitik itu langsung menyadarkan gadis dalam pelukannya, rupanya Amanda tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. Ia mengerjap sebentar, lalu menetralkan nafas sebelum menatap balik Senja. Kini pria itu kembali memposisikan diri di atas tubuhnya, tatapan pria itu sama sekali tidak berubah. Masih tatapan dalam dengan gairah yang disembunyikan. Amanda bisa melihatnya.
“Kamu bersedia membantuku kali ini?” tanyanya kembali. Nada rendahnya masih sama. Tubuh Amanda langsung meremang begitu mendengarnya. Ia langsung bergerak tidak nyaman, matannya mengedar ke sembarang arah asal tidak menatap Senja. Tatapan pria itu terlalu berbahaya.
Ia bukan gadis polos yang tidak mengerti apa-apa, pertanyaan yang Senja katakan barusan merujuk pada pertempuran panas di ujung terbenamnya surya hari ini. Amanda memahaminya, tetapi ia tidak tahu harus membalasnya dengan balasan seperti apa.
“B-bantu? Dengan apa?” tanyanya dengan nada lirih. Ia berusaha bersikap tenang walau yang terjadi sebenarnya adalah sebaliknya.
Tidak seperti yang beberapa detik lalu ia bayangkan, Amanda mengerutkan dahi kebingungan saat Senja memilih untuk turun dari posisi sebelumnya. Pria itu melepaskan kungkungan pada tubuh Manda, lalu berbaring terlentang di samping kanan gadis itu sembari memijat pangkal hidungnya.
Amanda terus menatap Senja dengan raut wajah bertanya, ia tidak memahami apa yang tengah terjadi. Bukankah pria itu ingin Amanda membantu melepaskan gairah di ujung tanduknya?
“Tolong keluar dari tenda, aku tidak yakin bisa menahan diri lebih lama jika kau masih berada di sini,” tekan Senja. Pria itu menutup kedua mata dengan lengan tangan kanannya sendiri. Ia menolak menatap Amanda yang entah tengah menampakkan reaksi seperti apa. Keberadaan Amanda terlalu mencolok, seperti yang sudah ia katakan sebelumnya, gadis itu bagaikan candu. Bahkan saat ia menghirup dalam wangi khas perpotongan leher Amanda, Senja merasa tidak bisa mengendalikan diri. Jadi hal paling utama untuk meredam hasratnya adalah memaksa Amanda menajauhinya untuk semantara waktu.
Biarkan Senja menikmati rasa tak nyaman ini sendiri, tidak seharusnya ia melibatkan Amanda. Mau bagaimanapun, Manda tidak boleh dirusaknya begitu saja. Ia tidak bisa mengecewakan Paman Gustav.
Katakan Amanda tidak rela, ia merasa tidak percaya dengan arti permintaan Senja beberapa sekon lalu. Jadi, pria itu ingin ia keluar dari tenda dan menikmati sisa-sisa obat perangsang itu sendiri? Sungguh, Amanda benar-benar tidak memahami jalan pikirannya.
“Mengapa?” tanyanya pelan. Amanda menatap sang pria, sementara Senja masih memejamkan kedua mata. Napasnya masih tidak beraturan, Manda juga bisa melihat dengan jelas keringat pada pelipis milik Senja. Lagi-lagi, pria itu memilih bertarung dengan dirinya sendiri.
“Tidak ada mengapa, aku hanya tidak ingin melakukan apa yang tidak seharusnya dilakukan,” papar Senja memberi balasan.
Amanda tertawa sumbang, “Aku tidak keberatan. Kamu bisa meminta bantuanku, Senja,” balasnya tak ingin kalah. Bantuan yang Amanda maksud tidak merujuk pada hal baik, ia ingin tetap berada di dalam tenda untuk menemani Senja meredakan gairah pada dirinya.
“Jika kamu keluar dari tenda, secara tidak langsung kamu sudah membantuku,” respon Senja kembali. Amanda terdiam, jawaban Senja membuatnya bungkam.
Senja menghembuskan nafas berat, pria itu bergerak memunggungi Amanda yang terlihat tak berniat memalingkan tatapannya. Kini, posisi Senja membelakangi Amanda, berharap gadis itu segera keluar dari tenda sebelum ia tak lagi bisa mengendalikan diri sendiri.
“Keluar sekarang, Manda,” tekan Senja untuk kali keduanya. Amanda yang sebelumnya berniat mengudarakan suara kini kembali bungkam, ia sedang berpikir tentang apa yang harus ia katakan.
“Katakan alasan yang logis, mengapa kau tidak ingin melanjutkan permainan hingga tuntas? Apa yang sedang kamu takutkan, Senja. Toh tidak ada yang merasa keberatan, aku hanya ingin membantu,” ungkap Amanda kembali. Gadis itu masih teguh pada pendirian, menolak keluar sebelum Senja mengatakan alasan yang sejelas-jelasnya.
Helaan napas terdengar, Senja menyadari jika keras kepala adalah bagian dari diri Amanda. Gadis itu sangat sulit diajak bekerja sama, padahal situasi saat ini jelas tidak baik untuk memperpanjang percakapan. Tidakkah gadis itu tahu jika saat mendengar suara lembutnya, Senja terus menekan titik negatif dari dalam dirinya.
Ia berusaha untuk tidak menyerang Amanda apapun yang terjadi, Amanda tidak bersalah dalam hal ini. Tidak peduli gadis itu mengizinkan, itu tidak akan ia benarkan. Pun jika Amanda berkata hanya ingin membantunya, bantuan yang Senja inginkan bukan seperti ini. Melainkan bantuan dalam lingkup lain. Amanda hanya perlu keluar, maka masalah akan terselesaikan.
“Keluar, Manda,” geram Senja untuk ketiga kalinya. Nada bicara pria itu semakin terdengar tidak menyenangkan, Senja menahan diri saat reaksi obat perangsang yang tak sengaja ia konsumsi berada di puncak. Jika gadis itu tidak segera keluar, Senja ragu apakah bisa menahan diri seperti sebelumnya.
“Katakan alasannya, mengapa aku harus keluar sementara keberadaanku bisa membantumu?” tanya Amanda mengulang. Tampak sedang menuntut sebuah jawaban. Senja masih pada posisi memunggunginya, pria itu sama sekali tidak berniat membalikkan tubuh saat mengudarakan suara. Amanda tahu pria itu sedang menahan diri, tetapi ia sudah terlanjur kesal karena Senja menolak bantuan. Padahal, ia sama sekali tidak keberatan.
Senja memejamkan mata dan menarik napas. Baginya, Amanda adalah gadis paling dungu yang pernah dirinya temui. Sudah berada di kandang singa, malah menampakkan diri seolah siap untuk dijadikan mangsa. Jalan pikirnya memang benar-benar luar biasa.
“Katakan alasannya, setelah itu aku akan keluar,” final Amanda. Sungguh, ia hanya ingin mengetahui Alasan Senja. Bisa saja pria itu menolak karena tidak memiliki perasaan apa-apa padanya. Namun, ia berharap itu tidak Senja jadikan sebagai alasan, ia tidak siap patah hati setelah menyadari perasaan dirinya sendiri.
“Karena pagi tadi kamu berkata, masa menstruasimu datang. Itu alasannya, puas sekarang?” Amanda langsung mengerjapkan pandangan, ia langsung merasa malu dan kesal dalam satu waktu. Senja benar, ia sedang datang bulan. Oh, demi neptunus, ini benar-benar memalukan!