Lepas Kendali

1145 Kata
Tidak seperti yang Amanda bayangkan, rupanya hari ini hanya acara pembukaan. Bahkan saat hari mulai menjelang petang, tepatnya saat matahari terbenam, hanya ada beberapa hal penting yang bisa disimpulkan. Pertama, acara perkemahan pesisir pantai ini diubah menjadi tiga hari. Kedua, acara dimulai tepat saat api unggun malam nanti. Dan yang terakhir, ia harus menelan fakta jika setiap pasangan tidur dalam satu tenda yang sama. Hal yang terakhir ini, sebenarnya Amanda sudah menduga. Namun ia tetap berharap ada sedikit jarak. Ia bukan tidak percaya pada Senja, hanya saja Amanda takut tidak bisa mengendalikan dirinya. Bagaimana jika tubuhnya bereaksi abnormal saat berada di dekat pria yang ia sukai? Memikirkannya, Manda langsung membuang napas kasar. Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya sendiri, Amanda tersentak saat tubuhnya sedikit terhuyung ke belakang. Laki-laki dengan pakaian serba hitam lengkap dengan masker yang menutupi wajahnya baru saja melintas. Amanda mengerutkan dahi, mengapa terlihat mencurigakan sekali? Kedua langkah kakinya siap mengikuti, tetapi arah pandangannya tidak sengaja melihat Senja yang berjalan tergesa memasuki tenda. Mengapa wajah pria itu tampak memerah padam? Amanda merasa penasaran sehingga melupakan pria mencurigakan itu, langkah kakinya berjalan menuju tenda untuk menemui Senja. “Senja, kau merasa tidak enak badan? Mengapa kau masuk begitu saja?” Amanda bertanya dengan suara pelan di depan tenda. Gadis itu enggan membuka resleting tenda yang tertutup rapat, ia ingin mengamankan dirinya sendiri. Siapa tahu pria itu sedang mengganti baju? Namun hingga menit ke tiga, tidak ada suara Senja yang masuk ke dalam indra pendengarannya. Amanda langsung merasa bingung, haruskah ia masuk ke dalam untuk memastikan Senja dalam kondisi baik-baik saja? “Senja?” panggilnya ulang. Namun lagi-lagi sama sekali tidak ada sahutan. Amanda bahkan sudah berjongkok di depan tenda sembari memusatkan indra pendengaran, berharap ada sedikit saja suara yang bisa ia dengar untuk memastikan keadaan Senja di dalam tenda. Hening sebentar, tak berselang setelahnya, resleting tenda yang bergerak terbuka memecah atensi Amanda. Belum sempat mengudarakan tanya, gadis itu tertegun begitu mendapati Senja menatapnya dengan pandangan sayu. “Apa yang terjadi?” Gadis itu bertanya untuk ketiga kalinya. Tak sadar, Amanda melembutkan suara, ia hanya ingin memastikan pria itu baik-baik saja. Sungguh. Senja merasa tubuhnya terbakar. Napasnya tidak beraturan dengan d**a yang naik turun. Pandangannya begitu dalam pada Amanda. Ini salah, tidak seharusnya ia menatap gadis itu. Senja tidak bisa menjamin dirinya bisa mengendalikan diri. Aliran darahnya tak normal saat Amanda menempelkan permukaan telapak tangan di atas dahinya. Amanda sedang memastikan Senja tidak demam, mungkin saja angin laut membuat pria itu merasa tidak enak badan. Senja langsung menggeram, ia tidak bisa menahan diri lebih lama lagi. Tarikkan kecil ia lakukan, Senja menarik Amanda masuk ke dalam tenda dan menutup resleting seperti sedia kala. Degupan jantung Manda kembali tak normal saat merasakan embusan napas Senja dalam jarak sedekat ini. Pria itu masih menatapnya dengan pandangan sayu, sebenarnya apa yang terjadi? Ia tidak bisa memahami. “Senja?” Amanda mulai bergerak tak nyaman saat pria itu melingkarkan kedua tangan pada pinggangnya. Ia terbaring kaku di atas tubuh pria itu, Amanda tidak leluasa bergerak karena posisi ini terlalu rawan. Banyak yang ingin dipertanyakan. Amanda tidak sadar jika nada melirih yang baru saja diutarakannya semakin mengundang hasrat terpendam dalam diri Senja. Pria itu menggeram satu kali, rengkuhannya pada pinggang Amanda semakin menguat. Senja berada di puncak, ia laki-laki normal. Atas sebuah kecerobohan, ia tidak sengaja meminum air yang telah dicampur dengan obat perangsang. Ini alasan Senja berlaku seperti sekarang. Apalagi Amanda mendekat tanpa ia minta, ia semakin tidak bisa mengendalikan hasratnya sebagai seorang pria. Embusan napas tak teratur milik pria itu mengundang kerutan bingung pada dahi Manda. Gadis itu menyadari ada yang salah dari Senja, ia mulai menerka lewat tingkah tak biasa yang dipaparkannya. “Obat perangsang,” jelas Senja singkat begitu mendapati raut wajah menyelidik gadis dalam rengkuhannya. Amanda tertegun, sontak ia ingin melepaskan tubuh dari rengkuhan Senja. Namun pergerakannya tertahan, Senja tidak akan melepaskan tangan pada pinggangnya. Pria itu berada di bawah pengaruh obat. Senja membalikkan tubuh, ia meletakan tangan kirinya di belakang kepala sang gadis saat membalikkan tubuh Amanda. Ia kembali memekik kecil, pergerakan tak terduga itu memaksa degupan pada jantung Amanda menggila. “Seharusnya, kamu tidak kemari, Manda. Jika seperti ini, aku semakin tidak bisa menahan diri,” lirih pria itu. Amanda menatap Senja yang masih menatap ke arahnya dengan pandangan kelewat sayu. Begitu tertekan, ini pertama kalinya ia melihat ekspresi wajah Senja selain raut wajah tenang. Siapa yang berlaku iseng hingga menggunakan obat perangsang seperti ini? Amanda harus mencari tahu segera! Ia tidak akan membiarkan Senja menderita cuma-cuma. “Aku tidak tahu kau sedang seperti ini,” balas Amanda. Ia bersuara sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia merasa bingung dan takut dalam satu waktu. Bingung tentang apa yang harus dirinya lakukan sekarang, serta takut Senja berubah menjadi monster yang tidak diharapkan. “Apa yang bisa aku lakukan, Senja?” tanya Amanda. Namun pria itu tak membalasnya. Senja terus menerus menatapnya dengan pandangan dalam tanpa berniat melepas arah pandang. Sensasi menggelitik terasa. Amanda merasa nyaman bukan main saat Senja mengusap puncak kepalanya dengan penuh kelembutan, persetan ia masuk ke dalam jebakan. Toh, ia menyukai Senja. Ia bersiap menerima risiko yang ada, anggap Manda buta. Senja tidak bisa menahan lebih lama lagi, cara kerja obat yang tidak sengaja dikonsumsinya mulai terasa. Gejolak panas dari dalam diri membuatnya hilang kendali. Senja menahan tengkuk belakang sang gadis, meraup permukaan kenyal milik Amanda dengan wajah gusar yang setia dipertahankan. “Nghh ...,” desahan Amanda terdengar. Amanda tidak mahir dalam berciuman, ia hanya ikut menikmati lumatan tak terkendali Senja pada bibirnya. Pria itu menerobos masuk, memaksa Amanda membuka lebar mulut sepenuhnya. Senja menekan tengkuk Manda guna memperdalam lumatannya. Amanda ikut masuk ke dalam permainan, ia berusaha membalas tiap-tiap lumatan walau tak sepenuhnya paham. Kedua tangannya reflek mengalun pada leher sang pria sembari memejamkan kedua matanya. Sensasi ini, akhirnya Amanda merasakannya. Senja seorang pria normal, ia jelas terangsang dengan keberadaan Amanda. Gadis itu terlalu memabukkan, ia tidak bisa mengontrol diri lebih lama. Namun ada sebuah dorongan dari akal sehatnya yang mengatakan jika apa yang tengah ia lakukan sekarang tidak benar. Jika Senja terus melanjutkan ini, Amanda bisa saja membencinya setengah mati. Kisah mereka belum dimulai, Senja belum mengungkapkan perasaan. Ia berperang dengan dirinya sendiri, mencoba melawan hasrat yang memberontak ingin dituntaskan tanpa berpikir panjang. Geraman Senja kembali terdengar, Senja melepaskan tautan bibirnya. Ia kembali menatap Manda yang terlihat ketakutan. Napas gadis itu tidak beraturan dengan bibir yang cukup membengkak, entah berapa menit ia menyesapnya kencang. Senja meneguk ludahnya sendiri, kali ini ia tidak boleh lepas kendali. “Senja,” lirih Amanda memanggil di sisa tenaga yang gadis itu punya. Senja langsung ambruk, laki-laki itu meletakkan wajahnya pada perpotongan leher Amanda. Ia menyembunyikan raut wajah bersalah karena menjadikan gadis itu pelampiasan hasrat hasil dari obat perangsang yang diminumnya. Senja meneteskan air mata tanpa tanpa sadar, pria itu sedang menahan diri sembari menyalahkan dirinya sendiri. “Maaf, Manda. Aku benar-benar tidak berniat melakukan ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN