Perlakuan Lembut

1128 Kata
“Kamu bicara apa?” tanya Senja. Laki-laki itu sempat mendengar gumaman tidak jelas yang Amanda udarakan sembari menatap lautan lepas. Gadis itu menoleh, menghembuskan napas panjang. Raut wajah bertanya Senja membuatnya kesal. “Bukan urusanmu!” ketusnya. Manda langsung berjalan menjauhi Senja, mencoba merasakan dinginnya air laut lebih lama dari perkiraan. Ia tidak benar-benar kesal terhadap Senja, hanya saja Amanda tidak akan bisa mengendalikan raut wajah bersemunya jika terus menerus ditatap lembut sedemikian. Jadi, ia memilih untuk bersikap ketus. Sikap yang biasa ia paparkan saat berada di dekat Senja. Salahkan saja pria itu, siapa suruh membuat jantungnya berdegup kencang? Padahal ia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Senja tersenyum sebentar, pria itu langsung menyusul Amanda dengan kedua kaki lebarnya. Raut wajah lembut itu sama sekali tidak berbeda. Senja bahkan kembali menampakkan senyuman terbaiknya saat Amanda menatap ke arahnya dengan raut wajah tak bersahabat. “Sepertinya, satu minggu berada di sini tidak membuatmu merasa senang,” ujarnya menilai. Mendengar itu, Amanda menoleh. Lalu menghela napas untuk kesekian kalinya. Senja tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi. Amanda bukannya tidak senang, hanya saja ada beberapa hal yang membuat suasana hatinya tidak karuan. Mungkin ia bisa memaklumi saat Senja membuatnya jantungan, tetapi perihal keberadaan Bianca yang selalu mengacaukan hari-harinya, Amanda merasa tidak bisa tahan lebih lama. Ia sebisa mungkin menghindari pertemuan dengan Bianca jika tidak dalam lingkup acara, tetapi sekali bertemu wanita itu langsung mengolok-oloknya sama seperti pertemuan sebelum-sebelumnya. “Hanya ada beberapa hal yang membuatku tidak senang,” jawab Amanda memberitahu. Senja langsung mengangkat satu alis, 6“Beberapa hal?” Ulangnya bertanya. Gadis itu mengangguk beberapa kali untuk dijadikan respon balasan. “Bianca terlalu menyebalkan,” tukas Amanda. Wajahnya tertekuk masam saat mengatakannya. Senja langsung terbahak, rupanya itu yang membuat Amanda merasa tidak senang. Tapi dalam satu minggu ini, Manda hanya terhitung beberapa kali bertemu Bianca. Mungkin karena pagi ini keduanya saling berseteru. “Jadi, hari ini suasana hatimu tidak baik?” tanya Senja. Amanda langsung berdecak, hal seperti itu pun harus dipertanyakan? “Aku sedang datang bulan, jadi berhentilah bertanya!” Setelah mengatakannya, Amanda langsung meninggalkan Senja di tepi pantai. Kedua kakinya berjalan dengan cara dihentak-hentakkan, Manda berusaha memberitahu Senja sebagaimana buruk suasana hatinya. Senja ditinggalkan begitu saja. Pria itu menggeleng-geleng pelan, lalu tertawa sebentar. Amanda memang berbeda, pembawaanya ngegas dan selalu menantang lawan bicara saat bersuara. “Datang bulan?” Senja bertanya pada dirinya sendiri. Ia tertawa geli, mengapa Amanda harus memberitahukan hal sensitif seperti ini? Apa faedahnya untuk Senja? “Manda, tunggu aku!” seru Senja. Laki-laki itu berlari mengejar ketertinggalan kedua langkah kaki. Gadis itu sudah sampai di tenda, lebih tepatnya sedang mencuci kaki di samping tenda. Senja memperhatikan raut wajahnya sebentar, lalu kembali tersenyum. Sepertinya memang sedang datang bulan di hari pertama, pasti cukup menyakitkan. Pria itu malah masuk ke dalam tenda tanpa memperdulikan Manda yang tengah mencuci kedua kakinya. Mendapati dirinya diabaikan, Amanda tertawa sumbang. Ia menyugar rambutnya sendiri, “Aku? Diabaikan?” tanyanya pada diri sendiri. Manda menoleh singkat ke arah tenda, ia mencoba mencari tahu apa yang sedang Senja lakukan. Pria itu hanya memasukkan setengah tubuhnya karena kedua kakinya masih kotor. Amanda tidak peduli, yang jelas, Senja mencoba mengabaikannya. “Dasar menyebalkan! Sama sekali tidak peka, mengapa aku menyukai pria sepertinya?” gerutunya pelan sambil melanjutkan sesi membersihkan kaki. Senja tiba-tiba berjongkok tepat di depan Amanda. Keberadaan pria itu berhasil membuatnya terkejut bukan main. Senja dan Amanda bersitatap sebentar, tetapi Manda lebih dulu memutus kontak mata antar keduanya. Gadis itu memalingkan wajah, terlihat enggan menatap Senja yang entah ingin melakukan apa. Senja kembali tersenyum begitu gadis di hadapannya memalingkan wajah, ia menggeleng-geleng pelan sebelum memusatkan atensi penuh pada kedua kaki milik Amanda. “Pinjam kakimu sebentar,” izin Senja. Tanpa menunggu respon dari sang pemilik, Senja sudah lebih dulu meletakkan kedua kaki Manda di atas paha miliknya. Amanda kaget bukan main, aliran darahnya berdesir saat tangan kekar milik Senja mengarahkan kedua kakinya bertumpu pada paha milik pria itu. Perlakukan Senja kembali membuat pipinya memanas, mungkin wajahnya ikut memerah sekarang. “A-apa maksudnya ini?” tanya Amanda, nada bicaranya terbata. Ia memusatkan atensi penuh pada Senja, menatap pria itu dengan tatapan bertanya untuk mendapatkan pencerahan atas apa yang kini tengah Senja lakukan. Senja lebih dulu tersenyum, sepertinya tidak berniat untuk mengutarakan suara. Amanda langsung mengerti begitu mendapati handuk kecil yang tersampir pada pundak pria itu. Senja meraihnya, lalu ia letakan sebagai alas kedua kakinya. Lagi-lagi, sensasi menggelitik itu kembali dirasakannya. Jantungnya berdebar bukan main saat permukaan tangan milik Senja mengusap pelan kedua telapak kakinya dengan handuk kecil itu. Senja mengeringkan kaki Amanda setelah dibersihkan oleh pemiliknya. Amanda bahkan tidak berpikir sejauh ini. Lantas, apa yang membuat Senja tiba-tiba berlaku tak biasa? Ia tidak melewatkan sesuatu yang penting bukan? Amanda menatap keadaan sekitar, ada banyak pasang mata yang tertuju ke arahnya dan Senja. Beberapa tim tata rias juga terlihat menatap iri ke arahnya, ia juga bisa melihat Marsha yang menatapnya dengan pandangan menggoda. Melihat itu, Manda kembali merasa salah tingkah. “Aku bisa melakukannya sendiri.” Amanda bersiap menarik kedua kaki, tetapi pergerakannya tertahan saat Senja membatasi pergerakannya dengan cara melilitkan handuk pada telapak kakinya. “Bukan masalah besar, aku hanya ingin membuatmu senang,” balas Senja. Pria itu berusaha memberitahu jika ia tidak keberatan mengeringkan kaki basah milik gadis di depannya. Amanda menghembuskan napas panjang, memang bukan masalah besar, tetapi banyaknya pasang mata yang kini tertuju ke arah mereka membuatnya merasa tidak nyaman. “Kenapa tiba-tiba melakukan ini?” tanya Amanda kembali. Senja menatap gadis itu sebentar, lalu kembali melanjutkan kegiatan. Amanda setia menunggu respon balasan. Segala hal di dunia ini harus memiliki sebuah alasan agar bisa dilakukan. “Entahlah, aku merasa ingin memanjakanmu.” Oh sial, wajah Amanda memerah sempurna sekarang. Amanda langsung diam, ia tidak berniat mengudarakan suara setelah mendengar balasan Senja yang selalu tak terduga. Pria itu sama sekali tidak gugup seperti dirinya, Senja melanjutkan sesi mengeringkan kedua telapak kaki miliknya dengan begitu telaten. Sesekali, Amanda menatap bingkaian wajah milik pria itu. Begitu menenangkan, ia baru sadar jika Senja memiliki wajah yang begitu sejuk jika dipandang lama. Amanda melamun tanpa sadar, sepertinya cukup lama. Ia baru tersadar begitu Senja memasangkan sandal rumahahan pada kedua kakinya. Matanya mengerjap sebentar, lalu kembali memusatkan atensi pada pergerakkan tangan Senja pada kedua kakinya. “Sudah selesai,” ujarnya. Senja meletakkan kedua kaki milik Amanda di atas pasir pantai, gadis itu tak perlu merasa takut kakinya kotor terkena pasir pantai karena sudah dikeringkan. Amanda menatap Senja, “Terima kasih,” balasnya pelan dan tulus. Sama sekali tidak dengan suara yang ditinggikan seperti sebelumnya. Mendengar itu, Senja tersenyum seraya menganggukkan kepala satu kali. Senja bangkit dari posisi berjongkok, memaksa Amanda menengadahkan wajah untuk menatap ke arahnya. Ia menatap arloji pada pergelangan tangan kiri sebentar, lalu mengulurkan tangan. “Ayo, tujuh menit lagi acara dimulai.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN