Di Rumah Pak Sobri
(Halaman belakang rumah)
"Jangan yang ngada-ngada, pakai jurus segala. Nanti kalah, ngeluh lagi!" kata Bu Yani.
Jali, yang nyangsang di pohon rambutan, merengek, "Haduh, yah, nyangsang di mari lagi! Hemm… Nyak, Pak, tolong dong…"
"Baru juga dibilangin! Aah… Nyusahin aja. Biarin dulu deh elu di situ," kata Bu Yani.
"Yah, Nyak, jahat banget sama Jali," rengek Jali, menangis di pohon rambutan.
"Bodo ah," ketus Bu Yani.
"Selanjutnya, Bapak," kata Pak Sobri.
Pak Sobri dan Titah berlatih silat. Sementara itu, Pak Nano dan Naufal sudah cukup lama menunggu di rumah Daffa.
Tak lama kemudian, Daffa, Inah, dan Paijo pulang dari pasar. Melihat Pak Nano dan Naufal, Daffa langsung menghampiri mereka. Mereka masuk ke rumah. Daffa lalu menghubungi Titah lewat telepon rumah, memberi tahu kedatangan Pak Nano dan Naufal.
Setelah makan siang, Pak Sobri dan Bu Yani ikut ke rumah Daffa bersama Titah untuk bertemu Pak Nano dan Naufal.
Paijo, menunggu di warung Daffa, ketakutan melihat Madonna, perempuan yang menyukainya.
Di Rumah Daffa
"Waduh, waduh… Itu ngapain si Madonna nongol? Si banci! Aku harus bersembunyi!" gumam Paijo, panik melihat Madonna menuju rumah Daffa.
Madonna memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
"Waalaikumussalam…" jawab Paijo.
Paijo bersembunyi, masih bergumam, "Eh, dengar nggak ya tuh banci… Duh, mudah-mudahan nggak…"
Madonna memanggil, "Mas, Mas Paijo, Madonna mau beli, Mas…"
Dzaka dan Dzaki memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
"Waalaikumussalam…" jawab Paijo dan Madonna.
Dzaka bertanya, "Loh, Madonna, mau belanja ya?"
"Iya, eh Dzaka dan Dzaki…" jawab Madonna.
Dzaki bertanya, "Mau beli apa? Kok nggak ada yang layani? Paklik Paijo ke mana lagi, hemm…?"
Madonna menjawab, "Mau beli pasta gigi, Dzaki. Tapi Madonna maunya dilayani Mas Paijo, sayang."
Dzaki mencari Paijo, "Lik Jo… Lik…"
Paijo bergumam, "Duh, Dzaki pake ke sini lagi. Lagi enak-enak ngumpet juga. Mudah-mudahan nggak ketahuan deh kalau saya ngumpet di sini."
Dzaka berkata, "Dzaki…"
"Apa, Mas?" tanya Dzaki.
"Itu, Paklik Paijo," jawab Dzaka, menunjuk Paijo yang bersembunyi.
Dzaki meminta, "Oh, tunggu sebentar ya, Mas…"
"Iya," kata Dzaka.
Dzaki berbisik pada Madonna, "Madonna…"
"Iya, Dzaki…"
Dzaki berbisik, "Stss…"
Madonna bertanya, "Kenapa, Dzaki?"
Dzaki berbisik, "Itu Paklik Paijo di situ tuh, pura-pura pergi ya."
Madonna berbisik, "Oh, oke…"
Madonna pura-pura pergi, "Ya sudah deh, Mas Jo-nya nggak ada. Nggak jadi beli deh, Madonna pulang saja. Assalamu'alaikum…"
"Waalaikumussalam…" jawab Dzaka dan Dzaki.
Paijo menghela napas lega, "Alhamdulillah, akhirnya itu… pergi juga dari sini. Huh…"
Dzaka memberi kode, "Eh, ada Lik Jo! Dari mana saja, Lik? Itu tadi pacarnya ke sini loh, nyari Lik Jo. Lik Jo nggak ada, ya sudah dia pergi."
Paijo bertanya, "Siapa pacarku, Dzaka?"
Dzaki menjawab, "Madonna, Paklik…"
Paijo tidak menyadari Madonna di belakangnya, "Si cacing keremi itu pacarku? Ih… Ogah…"
Dzaka dan Dzaki serempak, "Iya deh…"
Madonna memeluk Paijo dari belakang, "Mas Paijo…"
Paijo terkejut, "Haa… Emm, cacing keremi…" Paijo lari, dikejar Madonna. Paijo menabrak Pak Sobri yang akan masuk rumah.
Pak Sobri, "Haduh, bae-bae Jo…"
Paijo menjelaskan, "Inggih, punten Pak Sobri, niki loh Madonna ngejar-ngejar kula terus. Padahal kula sampun bilang mboten kersa kaliyan piyambakipun ugi, tapi taksih kemawon kula ing kejar-kejar."
Bu Yani berkata, "Mau elu di oyok-oyok siapa aja, gue nggak peduli! Asalkan jangan laki gue aja yang elu goda, ya, Jo! Yuk, Bang, masuk ke dalam."
"Iye dah," jawab Pak Sobri.
Di Teras Depan Rumah
Pak Sobri, Bu Yani, dan Titah memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
Dzaka dan Dzaki menjawab, "Waalaikumussalam…"
Titah bertanya, "Loh, kok kalian di sini? Nggak masuk?"
Dzaki menjawab, "Kita mau duduk dulu di sini, Bunda."
Titah, Pak Sobri, dan Bu Yani serempak, "Oh…"
Bu Yani berkata, "Ya sudah, kalau begitu Aki, Nini, dan Bunda masuk dulu ya."
Dzaka dan Dzaki serempak, "Iya, Nini…"
----
Pak Sobri, Bu Yani, dan Titah memberi salam, "Assalamu'alaikum…"
Daffa, Pak Nano, Naufal, dan Zahwa menjawab, "Waalaikumussalam…"
Daffa memanggil Inah, "Nah, Inah…"
Inah menjawab, "Iya, Pak…"
Daffa meminta, "Tolong kamu buatkan minum untuk Bapak dan Ibu saya, ya."
Inah patuh, "Laksanakan, Pak Daffa."
Titah berkata, "Loh, Pak, kok nggak telepon langsung aja ke HP Titah kalau ada di rumah?"
Pak Nano menjelaskan, "Gimana mau telepon ke HP-mu? HP Bapak mati, HP Naufal pulsanya habis."
Titah bertanya lagi, "Oh, lah kan bisa ke rumah mertua ku, Pak…"
Pak Nano menjawab, "Bapak lupa jalannya, Naufal nggak tahu rumahnya, kan dia baru ke sini sekarang. Kamu nggak tahu apa pura-pura nggak tahu sih? Bapak kan sudah tua juga, pelupa."
Titah bertanya, "Oh, iya ya. Emm… terus Bapak jauh-jauh dari Pacitan ke Jakarta mau ngapain?"
Pak Nano menjawab, "Mau tinggal di rumahmu, boleh ya? Bapak nggak betah di Pacitan, selalu disindir-sindir mulu sama tetangga."
Titah bertanya, "Saya sih boleh, boleh saja Bapak dan Naufal tinggal di sini. Tapi itu tergantung Mas Daffa, Mas, bagaimana?"
Daffa menjawab, "Boleh dong, masa nggak boleh sih. Keluargamu kan keluargaku juga."
Pak Nano memastikan, "Jadi boleh Bapak dan Naufal tinggal di rumah kalian, benar nih?"
Titah dan Daffa serempak, "Iya, Pak…"
Daffa bertanya, "Oh ya, Naufal sekolah kelas berapa?"
Naufal menjawab, "Kelas tiga SMA, Om Daffa…"
Daffa berkata, "Lusa kamu sudah bisa masuk sekolah, karena Om Daffa besok mau ke sekolahnya Dzaka dan Dzaki untuk mendaftarkan kamu sekolah."
Naufal menjawab, "Iya, Om…"
Di Dapur
Inah berkata, "Alhamdulillah, akhirnya selesai juga masaknya."
Paijo mencium aroma masakan, "Emm, baunya sedap sekali! Pasti ini bau masakannya Bu Titah. Kalau masakannya Inah kan nggak mungkin seperti ini…"
Inah membentak, "Eh, Joya!" Paijo terkejut.
Paijo berkata, "Iya, loh… saya kira Bu Titah yang masak, ternyata bukan."
Inah bertanya, "Kenapa wangi masakannya sama seperti wangi masakannya Bu Titah, ya, Jo?"
Paijo menjawab, "Iya, Nah…"
Inah menjelaskan, "Emang iya, Jo. Ini yang masak Bu Titah… Inah cuma lanjutin doang masakannya Bu Titah saja kok. Hehe…"
Paijo menjawab, "Oh, gitu, ya ya…"
Di Ruang Tengah
Titah mengamati anak-anaknya, "Pada sibuk ya dengan kegiatannya masing-masing nih?"
Anak-anaknya menjawab, "Iya, Bunda…"
Zahwa mengeluh, "Duuh…"
Titah bertanya, "Kenapa kamu, Zahwa?"
Zahwa menjelaskan, "Ini loh, Bunda, Zahwa ada PR, dan susah banget. Aku minta ajarin Mas Dzaka, malah Mas Dzaka-nya lebih sibuk sama komiknya."
Titah bertanya lagi, "Oh, gitu. Kalau Mas Dzaki juga sama?"
Zahwa menjawab, "Kalau Mas Dzaki sedang mengerjakan PR-nya, susah juga katanya."
Titah mengingatkan, "Oh, gitu. Eh, iya, ngomong-ngomong soal kegiatan kalian di dunia seperti sekarang ini kan sedang kalian kerjakan, lalu kegiatan kalian untuk di akhirat sudah belum kalian kerjakan?"
Dzaki bertanya, "Maksudnya Bunda, salat Isya ya?"
Titah bertanya, "Nah, iya, benar. Sudah apa belum?"
Dzaka, Dzaki, dan Zahwa serempak, "Durung, Bunda…"
Titah menyarankan, "Nah, kalau belum, kalian salat dulu gih. Siapa tahu habis ini dipermudah segala urusannya di dunia. Seperti mengerjakan PR-nya."
Dzaki dan Zahwa semangat, "Siap, Bunda…"
Zahwa berkata, "Kalau begitu Zahwa dan Mas Dzaki salat dulu ya, Bunda."
Titah bertanya, "Iya. Emm, Dzaka kok nggak salat bareng adik-adikmu? Memangnya sudah salat Isya?"
Dzaka menjawab, "Lah, Bunda, bagaimana sih? Kan tadi sudah Dzaka jawab, belum, Bunda, belum salat Isya."
Titah meminta, "Ya sudah, sana salat Isya dulu."
Dzaka mengelak, "Entar ah, Bunda. Lagian juga ya, waktu salat Isya masih lama, sampai mau menjelang subuh kan?"
Titah menyindir, "Loh, kok gitu sih? Nggak baik loh kamu menunda-nunda waktu salat. Nanti kalau Allah menunda-nunda apa yang kamu inginkan, mau? Nih, ada kisahnya loh untuk orang yang suka menunda-nunda salat."
Dzaka mengalah, "Iya, iya deh, Bunda, Dzaka salat Isya."
Titah berkata, "Iih… Dia ngambek…"
Dzaka mengeluh, "Habisnya disindir terus sih, Bunda."
Titah bercanda, "Idih, siapa lagi yang nyindir kamu? Orang Bunda lagi ngomong sama taplak. Ya kan ya, Plak…?"
Dzaka menjawab, "Oh, kalau begitu Dzaka lagi ngomong sama komik juga kok, ya kan, Mik? Ah, sudah ah, Bunda, Dzaka salat Isya dulu deh."
Di Depan Rumah
Daffa melihat Paijo tertidur pulas di depan warung yang pintunya terbuka. Daffa mencoba membangunkan Paijo, tetapi tidak bisa. Daffa akhirnya menutup warung dan meninggalkan Paijo.
Daffa berkata, "Loh, kok Paijo tidur di luar sih? Jo, Jo, bangun, Jo! Pindah ke dalam, Jo! Hemm… susah dibangunin lagi. Ya sudah deh, tutup saja warungnya."