Erinna memandang malas ke arah seorang pemuda dan seorang gadis yang tengah berbicara empat mata. Sejak tadi, ia memperhatikan mereka, tetapi keduanya masih belum menyelesaikan pembicaraan tak bermutu itu. Membuat banyak waktu terbuang sia-sia. Erinna menghela napas sembari berkacak pinggang. Ia memutar bola matanya jengah. Melihat hal tersebut, Sisi dan Seno saling memandang dan terkekeh bersama. Mereka merasa jika Erinna tengah cemburu atas interaksi Reyhan dengan gadis lain. "Lo bisa biasa aja nggak sih, Lin?" tegurnya saat menatap ekspresi wajahnya yang tak biasa. "Jangan-jangan, lo cemburu lagi?!" pekik Seno membuat Erinna mendelik. Tidak. Erinna tidak cemburu sama sekali. Meskipun, ia merasa kesal saat Sherly menggenggam tangan kekasih bohongannya itu. "Ya kali gue cemburu. Gue itu

