Bab 1: Senja di Salatiga
Kabut tipis menari pelan di lereng Merbabu saat matahari mulai meredup menjadi bola jingga yang lelah. Salatiga terasa lebih dingin dari biasanya, angin sore membawa aroma daun basah dan tanah yang baru saja terbangun dari mimpi siang. Di teras sebuah rumah kecil berpagar bambu di pinggiran kota, Sekar Ayu Larasati duduk sendirian. Gaun katun sederhana berwarna krem menjuntai hingga mata kakinya, rambut hitamnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai tanpa ikatan. Secangkir teh jahe masih mengepul di pangkuannya, uapnya bercampur dengan hembusan udara yang menusuk.
Ia menyukai saat-saat seperti ini. Kesunyian yang tak terganggu. Tak ada dering telepon yang memaksa, tak ada suara langkah kaki pengacara yang datang membawa dokumen rahasia, tak ada tatapan penuh perhitungan dari orang-orang yang hanya melihatnya sebagai sumber kekayaan. Di sini, di Salatiga, ia hanya Sekar—seorang wanita yang katanya bekerja sebagai konsultan manajemen lepas. Tak ada yang tahu bahwa di balik nama itu tersembunyi Raden Rara Sekar Ayu Larasati, pemilik grup perusahaan yang menguasai sebagian besar rantai pasok di Semarang. Tak ada yang tahu bahwa setiap keputusan besar di gedung-gedung kaca itu melewati tangannya, meski ia tak pernah muncul di rapat.
Sekar menyesap tehnya perlahan. Rasa hangat menjalar ke d**a, tapi tak mampu menghangatkan sesuatu yang lebih dalam. Sudah lama ia lelah dengan kepalsuan ini. Setiap pagi ia bangun dengan topeng yang sama: senyum lembut, bicara pelan, berpakaian biasa. Ia sengaja memilih rumah ini—bukan vila mewah di lereng, bukan penthouse di Semarang—hanya agar bisa bernapas tanpa diawasi. Di Singapura dulu, saat menyelesaikan S2 Manajemen Bisnis Internasional, ia belajar bahwa kekuasaan sejati tak perlu terlihat. Tapi belajar itu tak mengajarinya bagaimana menahan rasa hampa yang datang setiap senja.
“Kenapa harus terus begini?” gumamnya pelan ke angin. Suaranya hampir tak terdengar, seperti daun yang jatuh ke tanah. Ia sudah dua puluh sembilan tahun, dan hidupnya terasa seperti lukisan yang indah tapi tak boleh disentuh. Pria-pria di lingkaran bisnisnya selalu mendekat dengan kata-kata manis yang berbau uang. Mereka tak mencintai Sekar, mereka mencintai apa yang bisa mereka dapatkan darinya. Karena itu ia memilih bersembunyi. Karena itu ia memilih Salatiga—kota kecil yang masih ingat aroma kopi dan kabut, bukan deru mobil mewah dan senyum palsu.
Tangan Sekar menyentuh pagar bambu yang dingin. Matanya yang cokelat gelap menatap ke kejauhan, ke arah jalan setapak yang menurun ke pusat kota. Kadang ia membayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa rahasia. Menikah dengan pria biasa yang tak tahu apa-apa tentang hartanya. Tertawa lepas tanpa takut ada yang mendengar. Tapi setiap kali bayangan itu datang, ia langsung mengusirnya. Cinta yang ia impikan terlalu berbahaya. Satu kali ia buka hati, satu kali ia tunjukkan siapa dirinya sebenarnya, maka segalanya akan berubah. Orang-orang akan datang bukan karena ia, tapi karena apa yang ia miliki.
Ia bangkit berdiri, meletakkan cangkir di meja kayu kecil. Langit mulai gelap lebih cepat hari ini. Awan hitam menggumpal di ufuk barat, membawa bau hujan yang sudah lama tak turun. Sekar melangkah masuk ke rumah, tapi tak langsung menutup pintu. Ia masih ingin menikmati detik-detik terakhir senja ini. Ruangan dalam rumahnya sederhana: sofa kain yang sudah agak usang, rak buku penuh novel klasik, dapur kecil dengan kompor gas yang ia gunakan sendiri. Tak ada pelayan. Tak ada sopir yang menunggu di luar. Hanya ia dan keheningan yang ia pelihara dengan susah payah.
Telepon di meja bergetar pelan. Layar menunjukkan nama Aditya Wicaksono. Sekar menghela napas sebelum mengangkatnya.
“Ya, Adit?”
Suara pengacara kepercayaannya terdengar tenang seperti biasa. “Bu, laporan triwulan sudah selesai. Ada sedikit masalah di divisi logistik Semarang. Mau saya kirim ringkasannya malam ini?”
Sekar tersenyum tipis, senyum yang tak sampai ke matanya. “Kirim saja. Besok pagi saya baca. Jangan hubungi saya lagi malam ini.”
“Baik, Bu. Istirahat yang cukup.”
Panggilan berakhir. Sekar meletakkan ponsel dengan gerakan pelan, seolah benda itu terbuat dari kaca. Aditya tahu segalanya—setiap rahasia perusahaan, setiap keputusan yang ia ambil dari balik layar. Tapi bahkan ia tak tahu betapa lelahnya Sekar hari ini. Tak tahu bahwa di balik sikap tenang itu, ada perasaan yang semakin hari semakin berat: ingin melepaskan segalanya, ingin hidup seperti orang biasa, ingin dicintai bukan karena nama atau kekuasaan.
Ia kembali ke teras. Angin kini lebih kencang, membawa butiran air pertama yang dingin menyentuh pipinya. Hujan mulai turun. Awalnya hanya gerimis halus, tapi dalam hitungan detik menjadi deras. Air membasahi tanah di depan rumah, menciptakan genangan kecil yang memantulkan cahaya lampu teras. Sekar tak bergerak. Ia berdiri di sana, membiarkan ujung rambutnya basah, membiarkan gaunnya menempel di kulit.
Matanya menyipit menembus tirai hujan. Di ujung jalan setapak yang remang-remang, sebuah bayangan muncul. Seorang pria. Tubuhnya membungkuk sedikit melawan angin, bajunya basah kuyup menempel di bahu yang tegap. Ia berjalan cepat, tapi langkahnya terlihat lelah. Tak ada payung. Tak ada jaket. Hanya siluet gelap yang semakin mendekat ke arah rumah Sekar.
Siapa dia? pikir Sekar. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang tak bisa ia jelaskan. Pria itu bukan tetangga. Bukan kurir yang biasa lewat. Gerakannya terlalu… jujur. Seolah ia tak peduli basah kuyup, seolah hujan malam ini hanya bagian dari perjalanan yang harus ia tempuh.
Sekar tetap berdiri. Air hujan kini mengalir di wajahnya, bercampur dengan embun dingin yang membuat kulitnya merinding. Pria itu semakin dekat. Wajahnya masih samar di balik tirai air, tapi Sekar bisa melihat bahunya yang naik turun karena napas yang tersengal. Ia berhenti sebentar di depan pagar bambu, seolah ragu.
Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Sekar merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan kepalsuan. Bukan perhitungan. Hanya rasa penasaran yang murni, yang membuat dadanya terasa hangat meski tubuhnya menggigil.
Siapa pria yang datang di tengah hujan deras ini?
(bersambung)