Chapter 68: Not a Traitor Mendungnya langit pagi ini seolah mengerti jika orang-orang itu, yang saat ini sedang berdiri berbaris rapi di depan sebuah gundukan tanah itu sedang berduka. Walau tak ada tangis pilu yang pecah, semua orang di sana tengah berduka dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ada yang berduka tapi sekaligus berterimakasih, ada yang berduka diiringi dengan penyesalan yang cukup mendalam. Untuk terakhir kalinya, Aranhe memberikan hormatnya di hadapan gundukan tanah yang kini menjadi tempat peristirahatan terakhir ayahnya, Gard Meridiam. Meski satu tetes airmata pun tidak dia tumpahkan, semua tahu jika duka di hati Aranhe telah membuat luka yang begitu dalam. Setelah Gard roboh beberapa malam yang lalu, Aranhe selalu ada di samping pria itu untuk memeriksanya secara berk

