Pukul satu siang, Avery baru keluar dari kamarnya. Ia sudah mandi, mencuci rambutnya, dan memakai parfum. Setelannya rapi meskipun saat itu hanya memakai vest. Wajahnya berseri-seri dengan senyum ke atas yang mencurigakan. Langkahnya ringan dan riang. Pelayan yang lewat pun tahu bahwa majikannya itu pasti baru mendapatkan jackpot dari istrinya.
Ketika sampai di ruang makan, ternyata keluarganya juga tengah berkumpul di sana. Melihat kedatangan Avery yang bercahaya, setiap pasang mata di sana langsung memandangnya dengan wajah yang … m***m? Lebih tepatnya wajah penasaran tetapi dengan seringai yang seolah tahu segalanya.
“Selamat pagi?” tanya Avery berbasa-basi. Ia duduk di kursi yang kosong, di samping saudara iparnya, George Hamilton, Earl of Dufferin, suami adiknya.
“Jika kau sempat melihat jam, sekarang sudah pukul satu siang,” balas Charles. Tangannya memotong-motong bacon di pinggan, tetapi senyum miringnya itu tersemat lama, sulit diturunkan.
“Tidak apa-apa, Brother. Kami semua juga baru saja bangun,” sahut George seraya menepuk bahu Avery pelan. “Lagi pula, bukankah pengantin baru memang seperti itu?” George menaik turunkan alisnya.
“Di mana istrimu, Kakak? Apa dia masih tidur?” Lilian Hamilton, anak perempuan pasangan Robinson, tidak ingin ketinggalan obrolan. Matanya menyipit dengan wajah yang kurang bersahabat. “Seharusnya dia bangun lebih pagi untuk menyapa keluarga barunya. Tidak sopan.”
Grace Robinson memelototi putrinya. “Jaga ucapanmu, Nak.”
“Dia memang tidak sopan, kan, Bu? Sejak dulu juga begitu. Aku masih ingat debut pertamanya dulu berbarengan denganku. Pada awal dia diperkenalkan saja sudah membuat rusuh. Aku memang tidak bisa suka dengan Miss Denison.”
Avery memandang adiknya dengan tatapan yang agak sengit. “Lily, jika kau tidak mau menerimanya sebagai saudaramu, aku tidak akan mau bertemu denganmu lagi.”
“Aku menerimanya. Aku hanya tidak suka.” Setelah itu Lilian memotong-motong makanannya dengan gerakan yang asal-asalan, menumpahkan amarah.
“Terima kasih, itu tadi pengakuan yang berani.”
“Astaga!” Lilian menjerit, karena tiba-tiba Hanae ada di belakangnya, berbisik tepat di samping telinga. Ia sampai menjatuhkan pisaunya, dan akhirnya seorang pelayan datang mengambilkan pisau yang baru, lalu memungut pisau yang jatuh.
Hanae terkekeh tanpa suara, Avery memberi acungan jempol.
“Nice shoot!” celetuk Avery bangga.
Grace dan Charles Robinson terbengong, George Hamilton juga ikut terbengong. Itu tadi interaksi yang sangat aneh, dan tidak terduga. Juga, sejak kapan Avery jadi begitu ramah dan penuh selera humor? Apakah benar itu Avery Robinson yang mereka kenal? Si congkak yang wajahnya selalu masam itu?!
“Apa yang kau lakukan, Miss Denison?! Kau mengejutkanku! Tidak sopan!” Lilian sudah kehilangan kesabaran. Ia bahkan tidak mengontrol caranya bicara, yang sebenarnya, terlalu keras, terlalu nyalang, dan tidak beretika.
Namun, Hanae malah menekuk kaki. “Hanae saja, Milady.” Kemudian tersenyum semanis gula-gula. “Selamat pagi, Bu,” sapa Hanae kepada Grace. Ia memberikan kecupan singkat di pipi Grace, lalu duduk di samping Lilian yang memandangnya tidak suka. “Selamat pagi juga, Lord Robinson dan Lord Hamilton,” tambahnya.
Charles dan George mengangguk seraya tersenyum.
“Bagaimana tidurmu, Nak? Apa nyenyak? Semoga kau cepat krasan tinggal di rumah barumu.” Charles mencoba menjadi kepala rumah tangga yang baik. Meskipun dia sudah tahu betapa sembrononya Hanae dari cerita Avery. Namun, berkat Hanae pula Avery berubah, perubahan yang baik dan agak mengejutkan. Rasanya tidak sulit untuk menyukai istri Avery itu. Lagi pula, gadis itu juga pandai membawa suasana, meskipun kadang di luar kewajaran. Charles memperhatikannya sejak kemarin, di pesta pernikahan anaknya.
“Sangat nyenyak. Rumah ini punya aroma yang enak, saya rasa cukup mudah beradaptasi di tempat seindah ini.”
Aroma rumah?
“Kau pandai memuji.”
‘Meskipun pujianmu terdengar aneh,’ tambah Charles dalam hati.
“Kalau Ayah merasa pujiannya aneh, bilang saja. Hanae selalu bicara seperti itu. Biasakan diri Ayah.” Avery menjelaskan ketika melihat wajah kaku ayahnya. Awal-awal dia berinterakasi dengan Hanae juga selalu mengalami gangguan frekuensi. Namun sekarang, hal itu seperti ia sedang menyelesaikan sebuah teka-teki. Cukup menyenangkan meskipun harus berpikir dulu.
Charles hanya tertawa kering.
Namun, Grace melotot pada anak sulungnya itu. “Avery, bagaimana bisa kau memperlakukan istrimu seperti itu,” hardiknya kesal.
Avery hanya mengedikkan bahu.
Akhirnya, Hanae ikut angkat bicara. “Tidak apa-apa, Bu. Avery memang selalu blak-blakan seperti itu. Saya rasa, itu cukup menarik.”
“Menarik?” Grace kini menaikkan satu alis. Ia menatap putranya yang nyengir-nyengir kecil seraya mengunyah makanan.
Di samping Hanae, Lilian menggumam angkuh. “Kau memang aneh, Miss Denison.”
“Anda bisa memanggil saya Hanae.”
Lilian mencengkeram garpu dan pisaunya. Rasanya, dari tadi hanya dirinya yang hatinya mendidih, sedangkan Miss Denison, maksudnya Hanae, tidak sekali pun tersinggung dengan apa pun yang diucapkannya. Lilian merinding, takut, tapi juga kesal. Benar-benar percampuran emosi yang melelahkan.
Grace mengabaikan kekesalan anak bungsunya. Ia tersenyum pada Hanae untuk menguatkan mental menantunya. “Oh, oh, aku sampai lupa. Apa kalian sudah merencanakan untuk berbulan madu? Ke mana kalian akan pergi?”
Hanae dan Avery saling berpandangan. Avery mengedik, Hanae mengedip.
“Kami masih belum tahu,” jawab Hanae pada akhirnya. “Tapi, sebenarnya saya berencana untuk mengunjungi rumah Musashi-sensei, tutor saya. Istri beliau melahirkan, dan saya belum sempat menjenguk karena mengurusi pernikahan,” tambahnya.
Grace mengernyit. “Musashi-sensei? Apa dia tutor ken … kenjutsu? Benar kenjutsu?” tanya Grace ragu. Yang dia ingat hanya jika itu adalah sebutan untuk bela diri berpedang yang pernah diberitahukan Hanae.
“Benar,” jawab Hanae. “Dia guru kenjutsu.”
“Apa ini, kenjutsu?” tanya George yang mulai penasaran.
Dengan cepat, Grace menjawabnya, merasa dia sangat tahu dengan hal ini. “Itu ilmu berpedang.”
“Astaga, kau belajar berpedang?!” Lilian memelototi Hanae, bola matanya yang hijau cerah mirip Grace, seolah hampir menggelinding ke luar.
“Ya, apa ada masalah?” tanya Hanae.
Dengan tidak sopan, Lilian menodongkan garpunya tepat di depan hidung Hanae. “Kau ini seorang lady. Istri seorang Viscount, dan calon Marchioness di masa depan. Mengapa kau belajar bela diri?!”
“Avery tidak keberatan saya melakukannya. Lagi pula, bukankah beberapa wanita juga belajar anggar?”
“Aku tidak keberatan,” sahut Avery tiba-tiba.
“Kenjutsu ini, apa seperti anggar?” tanya George yang penasaran, mengabaikan pelototan istrinya.
“George!” Garpu di tangan Lilian menusuk daging di atas piringnya dengan keras.
“Tenanglah Lily, aku hanya ingin tahu.”
Lilian mencebik, lalu melanjutkan sarapannya yang terganggu.
“Bagaimana, Hanae? Oh, bolehkan aku juga memanggilmu Hanae?” tanya George lagi.
Hanae mengangguk. “Silakan,” jawabnya riang. “Soal kenjutsu ini,” lanjutnya, menjawab pertanyaan George yang sempat terabaikan. “Sebenarnya lebih kepada seni berpedang menggunakan katana. Anda tahu, kan, pedang yang berasal dari Nippon?”
George mengangguk cepat. “Oh, kudengar katana bahkan bisa digunakan untuk membelah batu.”
“Ketajamannya memang mengagumkan.” Hanae tersenyum kecil.
Mengira pembicaraan usai, Hanae pun mulai memakan sarapannya.
Namun, ternyata itu bukan akhir. Di ruangan itu, selain Lilian, tidak ada yang tahu seberapa antusiasnya George Hamilton ketika sudah menemukan ketertarikan baru.
“Lalu, berarti kau bisa menggunakan katana, Hanae?” tanya George lagi. Sudut matanya berkilat-kilat, senyumnya lebar dan melengkung ke atas.
“George!” Sekali lagi Lilian menghardik. Namun, George malah memberi isyarat supaya istrinya itu diam.
“Bagaimana, Hanae? Kau juga menggunakan katana?”
“Belum. Saya masih baru belajar, jadi saya menggunakan bokken.”
“Bokken?”
Tidak disangka, Avery menyahut. “Itu pedang kayu. Untuk latihan,” terangnya bangga. Entah mengapa, ia tersenyum saat melihat keluarganya mengangguk-angguk dengan wajah kagum. Menutupi kenyataan bahwa dia pernah terpukul bokken sampai memar-memar.
Setelah itu Grace pun mengalihkan pembicaraan. Dia masih kukuh untuk mengetahui rencana bulan madu anaknya dan menantu barunya. Berbagai tempat direkomendasikan, hingga Hanae dan Avery memutuskan untuk memikirkannya nanti saja.
.
Sweet Continue_