Hanae Denison, memasuki gereja. Semua mata tertuju padanya. Mungkin penasaran, mungkin juga tidak sabar ingin mencibir di hari pernikahan putri Gilbert itu. Namun nyatanya, mereka semua diam.
Avery juga diam, membeku dan hanya bisa menggerakkan bola mata untuk mengikuti pergerakan Hanae. Tamu undangan juga ikut terdiam, tidak kalah beku dan membisu.
Entah mengapa, saat itu Miss Hanae Denison jadi terlihat berbeda. Di dalam gereja beratap tinggi dengan kaca-kaca patri yang tertembus cahaya, Hanae tetap wanita yang sama, yang memiliki bola mata besar berwarna abu-abu, dan rambut marmalade-nya pendek sebahu. Namun, ada yang berbeda. Apa ya, apa ya? Orang-orang mulai bertanya-tanya.
Apakah karena hari ini gaun Miss Denison sangat cantik? Putih bersih, mengembang, berenda, dan dari kain sutra mahal yang memantulkan kilau cahaya. Katanya, gaun yang cantik juga akan membuat pemakainya berubah, bahkan seorang kaum papa akan berubah seperti puteri raja. Atau, apakah karena memang sedari awal Miss Hanae sudah memiliki kecantikan seperti itu?
Lihatlah, ternyata tubuh wanita itu juga bagus. Kulit lengannya tampak halus dan bersih, putih menawan meskipun tidak pucat seperti wanita bangsawan lainnya. Siapa sangka jika bunga dinding yang sering diremehkan itu, bisa tampak bersinar di hari pernikahannya. Bahkan tanpa sadar, beberapa pria mulai meneguk ludah.
Seharusnya, gadis itu cukup menawan, tetapi mengapa selama ini diabaikan?
‘Avery sialan. Pantas saja dia selalu menyimpan gadis itu untuk dirinya sendiri.’
Beberapa bujangan membatin pilu.
Namun, bagi Avery, Hanae tidak hanya itu. Hanae bukan hanya wanita yang sekarang tampil memukau dengan gaun indah dan senyum lebar di balik kerudung transparan. Hanae bukan hanya wanita dengan kulit yang tampak licin dan berkilat. Hanae-nya lebih dari itu.
Avery tidak bisa menjelaskannya, dan dia juga tidak tahu apakah dia sudah jatuh cinta pada Hanae dengan benar. Hanya saja, Hanae memang memiliki arti yang penting. Sosok yang selalu ingin dilihatnya ketika gundah maupun bahagia. Gadis aneh yang dirindukannya ketika ia berada di tempat yang jauh.
Oleh sebab itu, saat Hanae menerima uluran tangannya, lalu mereka berdua sama-sama saling berucap sumpah, Avery merasa dunianya menjadi jelas. Kebahagiannya sulit digambarkan, tapi ia yakin sedang merasa sangat bahagia. Kebahagiaan yang melebihi tingginya gunung, lebih besar dari luasnya lautan. Dan dengan sangat-sangat sadar, Avery memang sedari tadi tersenyum. Sampai Hanae berhadapan dengannya pun, Avery masih tersenyum.
“Hari ini kau berdandan berlebihan,” bisik Avery di depan altar.
Saat itu, janji sudah diucapkan, cincin sudah disematkan, hanya menunggu sebuah ciuman kecil sebagai penutup hidangan.
“Saya melakukannya untuk Anda. Apa Anda suka?”
“Secara garis besar aku suka, tetapi secara emosional aku tidak suka.” Avery mulai mencondongkan wajahnya, sebelah tangan meraih pinggang Hanae, sebelahnya lagi menuntun tangan Hanae untuk memeluk tubuhnya.
“Bagian mana yang tidak Anda sukai?” Kepala Hanae mendongak, bersitatap dengan Avery untuk sama-sama saling membagi embusan napas.
“Bagian ketika orang lain melihatmu sampai terbengong.”
“Tapi Anda bisa membungkam mereka, ‘kan?”
“Dengan senang hati.”
Avery menyeringai, Hanae tersenyum ringan. Sampai akhirnya keduanya menyatu dalam perpaduan lembut sebuah ciuman. Ciuman manis yang mendebarkan, hangat, sampai menerbangkan kupu-kupu yang sebelumnya hanya bersemayam dalam perut.
Hanae merasa asing dengan sensasi itu, tetapi ia menerimanya dengan hati terbuka. Dalam ciuman yang tidak banyak menuntut, Hanae sempat membuka matanya, saling bersitatap dengan Avery yang ternyata juga tidak ingin memejam.
Dalam khusuknya ciuman itu, banyak sekali pikiran yang berseliweran dan bercabang di kepala Hanae.
Terutama tentang pernikahan.
Ah, Hanae tidak begitu paham dengan hal-hal rumit seperti ini. Dia menikah hanya karena begitulah seharusnya, karena Avery melamarnya, Avery menginginkannya. Namun, untuk Hanae sendiri, ia tidak mengerti. Benar-benar tidak mengerti. Ia harap suatu saat Avery akan memberitahunya, mengapa dia harus menikah, mengapa manusia harus mengikat sumpah sampai mati dan menyerahkan hidupnya untuk orang lain.
Apakah setelah menikah, Hanae bisa memberikan kebahagiaan untuk orang di sekitarnya? untuk papanya, untuk Samuel, untuk Avery ….
Lebih rumit lagi, karena pasangan yang telah menikah juga harus memiliki anak, buah cinta kasih dari dirinya dan Avery. Jika memiliki anak, apakah Hanae akan memperlakukan mereka dengan baik? Apa dia tidak akan mencoba untuk menjambak rambut mereka? Apa tidak akan pilih kasih?
Ciuman pun terlepas, Hanae bisa melihat wajah bahagia Avery, jadi dia pun mengulum senyum lembut. Tersenyum adalah hal yang mudah, dan jika tersenyum bisa membuat semua orang bahagia, Hanae tidak keberatan melakukannya seumur hidup. Meskipun dia sendiri tidak tahu, mengapa orang-orang bisa sebegitu emosional hanya karena ekspresi wajah yang berbeda-beda.
Hanya saja, khusus untuk Avery, Hanae bisa memberikan senyumnya kapan saja tanpa diminta. Ia merasa, memang sudah begitu seharusnya. Bukankah kewajiban seorang istri adalah menyenangkan hati suaminya?
.
oOo
.
Pesta pernikahan yang meriah itu berakhir pada siang hari. Pesta diselenggarakan di rumah utama Marquess of Ripon, setelah pesta usai, Avery mengajak Hanae pergi ke rumahnya sendiri. Tidak begitu jauh, karena rumah Avery dan keluarganya bahkan ada dalam satu halaman. Bangunan itu berjejer dan disatukan dengan lorong panjang untuk memudahkan akomodasi.
Charles bilang, keluarga Ripon membangun rumah seperti itu supaya kepala keluarga dan ahli waris tidak terpisah tapi tetap memiliki privasi untuk masing-masing rumah tangga.
Setelahnya, Hanae harus mengarahkan para pelayan untuk menata barang-barangnya yang diangkut dari Londesborough. Belum selesai ia melakukannya, Samuel terus merecokinya, tidak mau pulang sebelum puas berkelahi dengan Hanae. Avery yang sejak awal sudah tahu bagaimana interaksi liar kakak beradik itu, berkali-kali harus bersabar dan menjadi wasit tanpa ia sadari.
Pada akhirnya, keluarga Avery yang menginap pun tidak membiarkan pasangan pengantin baru itu untuk beristirahat sampai malam.
Hanae dan Avery memasuki kamar dalam keadaan yang sudah di luar kendali. Penat, lelah, mood yang anjlok sampai ke palung, dan perasaan menggebu untuk segera tidur.
Tidak lagi ada pikiran tentang malam pertama dan hal-hal berbau s*****l yang melelahkan. Usai melepas segala atribut pesta dan hanya mengenakan gaun tidur putih yang sederhana, keduanya tenggelam dalam lembutnya kasur dan seprai yang harum.
Perbincangan mereka malam itu bahkan sama sekali tidak berisi dan tidak punya tujuan.
“Hanae, kau masih sadar?” tanya Avery ketika ia sendiri sudah menyelimuti diri. Mata sudah terpejam, tetapi pikiran masih setengah sadar.
“Hm?” Hanae, meskipun samar ketika mendengar suara Avery, tetap berusaha menjawab walau hanya bergumam.
“Hmm.”
Setelah itu hening. Sangat hening. Keduanya masuk ke alam mimpi sendiri-sendiri, dan menutup pintunya rapat-rapat.
Sampai pukul tujuh pagi, ternyata Hanae terbangun dalam posisi yang sama sekali tidak berubah. Ia semalam tidur tengkurap, dan bangun juga dalam keadaan tengkurap. Ketika membuka mata, ada Avery yang tidur menyamping, menghadap ke arahnya.
Hanae mencoba bergerak, tetapi begitu sulit, dan malas, dan malas, dan sangat malas. Setelah dengan perjuangan yang begitu besar, ia akhirnya bisa bangkit untuk duduk, lalu menggaruk kepalanya. Rambutnya yang digerai tampak berantakan, begitu pula wajahnya. Pikirannya bahkan masih kosong, dan sepertinya memang sengaja dikosongkan. Tidak ingin berpikir tentang apa pun.
Avery yang menyadari ada pergerakan, akhirnya juga membuka mata. Seharusnya, pemandangan bangun tidur usai menjadi pengantin baru adalah melihat wajah istrinya yang berbinar dan cantik jelita. Namun, ekspektasi itu terobek-robek dengan kejamnya. Kenyataannya, Hanae istrinya, telah terbangun dalam keadaan yang sangat … kacau. Mungkin bukan kacau, tapi porak-poranda.
Siapa itu, para penulis novel romantis yang selalu menggambarkan hal-hal indah bagi para pengantin baru? Dasar pembual.
“Hanae, kau sudah sadar?” tanya Avery pada akhirnya. Suaranya serak dan parau, tenggorokannya terasa sangat kering.
“Sebentar, sisa-sisa nyawaku masih beterbangan di udara.”
Avery menunggu, memperhatikan istrinya yang masih seperti orang linglung.
Rambut Hanae yang sebahu itu terkumpul ke depan wajah karena pemiliknya menunduk, matanya terpejam meskipun ia sudah duduk tegap.
Tidak tahan, akhirnya Avery ikut bangkit untuk duduk. Ia menggeser tubuh istrinya untuk dihadapkan padanya, lalu menyingkap rambut yang mengganggu. Ia celingak-celinguk, dan menemukan sebuah pita di atas meja di samping ranjang. Diambilnya pita itu, kemudian mengumpulkan rambut Hanae ke belakang dan diikat menggunakan pita.
Hanae membuka mata, mengerjap, lalu tersenyum lebar. “Terima kasih,” ucapnya.
Avery geleng-geleng kepala. “Sudah sadar?”
“Seratus persen.”
Sekali lagi, Avery menggelengkan kepala. Ingin rasanya ia tertawa keras-keras. Merasa bahwa malam pertama dengan istrinya jauh sekali berbeda dari cerita teman-temannya. Padahal, malam pertama harusnya panas membara, tapi ini apa?
Namun, jika diperhatikan lagi, Hanae sekarang dalam keadaan yang cukup … apa ya. Berantakan, dan pasrah. Sesuatu yang membangkitkan gairah dengan mudah. Diperhatikan lagi, lagi, dan lagi, Avery baru sadar jika baju tidur Hanae itu tipis sekali. Avery sampai mengedip beberapa kali, sangat cepat, lalu mengucek matanya.
Kamar tidurnya masih remang-remang. Terang tapi remang. Gorden bermotif floral itu belum disingkap, lilin semalam juga mati semua. Avery meneguk ludahnya. “Hanae, aku ingin memakanmu,” ucapnya dengan suara serak dan napas yang tertahan.
“Hm?” Hanae menelengkan kepala, lalu mengedip dua kali.
Avery membulatkan tekad. Mungkin ia bisa melakukannya sekarang. Jika ia tidak bisa mendapatkan malam pertama yang panas membara, ia akan membuat sendiri versinya, yaitu pagi pertama yang berkobar dan bergelora.
“Hanae … jika nanti sakit, bilang saja.”
Belum Hanae sempat menanggapi, Avery sudah menerkamnya seperti binatang buas di hutan belantara.
.
Sweet Continue_