15. Waktu yang Berjalan Terlalu Cepat

1086 Kata
Ada hal baru yang akhir-akhir ini Avery mulai sadari. Sepertinya, hari-harinya jadi lebih membahagiakan untuk dijalani. Padahal, pekerjaan dari ayahnya masih sama banyaknya dan menyusahkan, tapi setiap kali ia mengunjungi rumah Hanae dan berbincang sebentar dengan wanita itu, rasa kesal dan lelah Avery seketika hilang tanpa sisa. Seminggu ini, Avery sangat merasakan perubahan tersebut. Ia lebih sering membantu pekerjaan ayahnya di parlemen. Mungkin berkat suasana hati yang berbunga-bunga, semangatnya pun selalu berapi-api untuk bekerja. Padahal selama ini, ia agak ogah-ogahan mengurusi masalah di pemerintahan. Ia bahkan tidak keberatan bolak-balik dari Yorkshire ke London atau sebaliknya. Avery berterima kasih pada siapa pun yang membangun jalur kereta api, sehingga ia tidak perlu capek-capek naik kereta kuda yang lemot. Lagi pula, Avery tidak bisa berlama-lama di London. Ia selalu kangen untuk pulang, lalu berkunjung ke rumah Hanae dan menemani gadis itu melakukan berbagai kegiatan. Kadang berlatih pedang, kadang melukis, kadang menulis, kadang meramu teh, kadang memanah, dan kadang menulis sebaris puisi yang aneh. Sampai-sampai, Avery sekarang pun mulai ahli menulis puisi aneh. Salah satu puisinya yang paling aneh adalah tentang semut. Ia pernah membacanya keras-keras di depan kedua orang tuanya, dan reaksinya memang seperti dugaan. Avery benar-benar ditertawakan. . Semut merayap Semut mengendap Memakan muffin dan cookies tanpa mengucap salam Mati tersiram teh panas By Avery Robinson . Namun, seaneh apa pun puisinya, Hanae akan memujinya. Hal itu membuat Avery selalu merasa tersanjung, dihargai sedemikian rupa. Meskipun juga pernah sekali bahunya terpukul bokken dan menimbulkan memar panjang mengerikan. Sampai sekarang, memar itu masih ada. Kenang-kenangan dari Hanae yang secara impulsif menyerangnya, padahal Avery hanya ingin mengejutkan dengan memeluk Hanae dari belakang. Sejak saat itu, Avery tidak berani lagi berbuat ulah ketika Hanae sedang memegang senjata. Beruntung hanya pedang kayu, jika itu tadi katana sungguhan, mungkin kepala Avery sudah menggelinding, mati tanpa sempat menikahi Hanae. . . . Di sisi lain, Gilbert Denison merasa bahwa akhir-akhir ini waktu di sekitarnya berjalan terlalu cepat. Ia merasa, kedatangan Avery ke rumahnya untuk melamar Hanae barulah terjadi kemarin, tapi saat sadar sudah lewat tiga minggu dari hari itu. Ia juga menyadari jika Avery, sejak menyatakan pertunangan dengan putrinya, jadi sering berkunjung ke rumahnya. Gilbert semakin merasa jika semua kejadian yang berlangsung akhir-akhir ini adalah bunga tidurnya semata. Gilbert pernah meminta Hanae untuk memukulnya, menyadarkan dirinya dari mimpi aneh yang dikirinya adalah parasit di kepala. Namun, saat Hanae benar-benar memukulnya—tepat  di perut—rasa sakitnya bertahan sampai dua hari kemudian. Jadi tidak mungkin jika pertunangan putrinya dengan Lord paling populer di Yorkshire itu hanya bualan. Gilbert pusing bukan kepalang. Terlebih, sekarang di tangan Gilbert ada dokumen-dokumen hasil penyelidikan orang kepercayaannya. Yang diselidikinya? Siapa lagi jika bukan Avery Robinson. Meskipun memiliki nama baik yang bersih dan suci, Gilbert tentu tidak bisa terlena begitu saja. Dia harus tetap mengorek latar belakang Avery supaya tak ada hal buruk yang nantinya bisa terjadi pada putrinya Hanae. Dalam dokumen yang bertumpuk-tumpuk, terungkap beberapa fakta mengejutkan yang cukup membuat Gilbert terkesiap. “Aah, Lord bergelar santo ini ternyata tak berbeda dengan laki-laki pada umumnya.” Gilbert mengangguk-angguk mafhum. Di atas kertas, tertulis keterangan yang berisi fakta bahwa Avery Robinson ternyata pernah memelihara gundik beberapa kali. Yang cukup Gilbert salut adalah bahwa pria itu ternyata tidak pernah bermain dengan sembarang wanita karena memang memiliki pribadi yang pemilih. “Setidaknya, Hanae akan cukup aman,” gumam Gilbert seraya mengambil napas dalam.  “Lalu, bagaimana dengan kesehatannya?” Seorang pelayan yang sedari tadi berdiri di depan meja Gilbert, akhirnya membuka mulut. “Sangat sehat, My Lord. Sepertinya beliau memang menjaga kesehatannya dengan baik, sama seperti Lord Charles Robinson.” Gilbert mengangguk-angguk. “Marquis of Ripon memang terkenal sangat bugar. Di pemerintahan beliau juga aktif tanpa banyak keluhan penyakit tertentu.” Ia kemudian membalik satu demi satu lembaran dan membacanya lagi dengan khidmat. Saat sampai di halaman terakhir, ia mengernyitkan dahi, merasa tidak terlalu nyaman. “Lord Avery menjalankan sebuah bisnis?” “Benar, My Lord,” jawab si pelayan. “Dia seorang bangsawan terpandang, untuk apa menjatuhkan harga diri dengan melakukan bisnis dengan orang-orang borjuis itu. Tidak bisa dipercaya!” Gilbert melempar tumpukan kertas yang dipegangnya ke atas meja. Lemparannya cukup keras sampai membuat beberapa alat tulisnya berguncang. “Beliau melakukannya diam-diam. Tidak banyak yang tahu masalah ini selain orang terdekat. Lagi pula, bukankah Anda juga menginvestasikan beberapa dana untuk pembangunan rel kereta api? Mengapa begitu marah jika Lord Avery Robinson juga melakukannya?” Mengambil napas dalam, Gilbert kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. “Dia adalah bangsawan dengan gelar sejak lahir, berbeda denganku yang harus bertahan hidup sebagai bangsawan tanpa gelar untuk waktu yang begitu lama. Status kita jelas berbeda di masyarakat.” “Nona Hanae tidak akan suka jika Anda membeda-bedakan orang lain.” Gilbert melambaikan tangan di depan wajah. “Lupakan masalah ini. Berurusan dengan Viscount Goderich tidak akan mudah. Tapi pria progresif seperti itu sepertinya memang cocok dengan Hanae.” “Mereka terlihat akrab. Apalagi akhir-akhir ini Viscount Goderich sering ke rumah.” “Ah!” Tiba-tiba saja Gilbert menegakkan punggung. “Apa dia pernah menyentuh putriku?” tanya Gilbert cepat. Namun, pelayan pribadi tersebut menggeleng kalem. “Setahu saya belum pernah. Lebih tepatnya, tidak bisa.” Gilbert menaikkan satu alis. “Tidak bisa?” “Nona Hanae, pernah memukul beliau dengan cukup parah. Saya rasa beliau trauma.” Gilbert mengembuskan napas seraya tersenyum miring, agak mengejek. “Baguslah, pria itu harus tahu bahwa anakku tidak mudah ditakhlukkan. Untung saja Hanae itu sedikit … aneh.” “Dia putri Anda, Milord.” “Iya, tidak apa-apa. Hanae tidak akan keberatan disebut aneh.” Namun, meskipun saat itu perasaan Gilbert lega bukan kepalang, nyatanya, pernikahan Hanae dan Avery tetap dilangsungkan dengan waktu yang terlalu cepat. Berkali-kali Gilbert menanyakan keputusan Hanae untuk menikah, tetapi gadis itu tampak tenang-tenang saja. Oh persetan dengan Hanae dan pikirannya yang gila. Mengapa gadis itu tidak pernah sadar betapa Gilbert mengkhawatirkannya. . . . Dan lihatlah apa yang terjadi setelah seminggu kemudian. Pernikahan yang mengejutkan itu benar-benar terjadi. “Papa, apa papa sedang trans? Jika Papa tidak sadar juga, kita tidak akan segera masuk gereja.” Gilbert tersentak dari lamunan. Dipandanginya Hanae yang ada di sampingnya, menggandeng lengannya. Wajah putrinya tersenyum, lembut dan bercahaya. Hari ini gaunnya putih, dengan mahkota putih bersemat berlian. Rambutnya dikepang ke belakang, berpita putih dan disemat juga dengan mawar putih. Dalam keadaan yang begini membahagiakan, Gilbert tiba-tiba ingin menangis. “Hanae. Jika nanti kau ada masalah dengan suamimu, pulang saja ke rumah Papa. Jika Papa meninggal, pulang saja ke rumah yang ada di Kent. Rumah itu, Papa berikan padamu.” Hanae terkekeh kecil. “Kenapa Papa seperti putus asa begitu? Aku ini pintar beradaptasi, Papa. Tenang saja.” “Boleh Papa memelukmu?” Tanpa banyak bicara, Hanae memeluk papanya lebih dulu. Dibalas Gilbert dengan pelukan erat yang lembut. “Aku akan merindukan keanehanmu,” celetuk Gilbert. Matanya sudah berkaca-kaca. “Aku juga akan merindukan keanehan Papa.” Gilbert tertawa pelan, lirih. Ia pun melepaskan pelukannya dari Hanae dan menyentil dahi putrinya. “Kau memang anak Papa.” Hanae tidak menyahuti, tidak tahu apakah harus bangga menjadi anak Papa. Setelah itu ia memasang kerudung pengantinnya, menutupi wajah. Lengannya menggandeng lengan papanya, dan dengan langkah seriang bocah-bocah di taman, kaki Hanae memasuki gereja. Mendatangi calon suaminya yang sudah berdiri mentereng menunggunya. . Sweet Continue_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN