Hanae tidak sempat menghitung, berapa kali mamanya menjambak rambutnya dalam sehari. Kadang jika hari sedang cerah, rambut Hanae akan tetap terkuncir rapi dan lucu. Pitanya tertali dengan cantik, ujungnya melambai ketika ia berlari atau tertiup angin. Namun, jika pagi hari Mama sudah menghabiskan dua botol alkohol, pita di kepala Hanae tidak akan bertahan lama di tempatnya. Kadang masuk perapian, kadang tergeletak dan terinjak-injak.
Bagi Hanae, Mama adalah wanita yang sangat dipuja, meskipun tak layak menjadi panutan dan tak layak pula mendapat sanjungan.
Mama memang sangat cantik, Hanae suka. Rambut Mama pirang bergelombang, matanya hijau seperti emerald, kulitnya putih bak pualam. Seorang pelukis dari kota yang sudah tersohor bahkan pernah memuji Mama sebagai malaikat yang sengaja diturunkan ke bumi oleh Tuhan, mungkin saja seseorang akan menyembahnya jika saja Mama dilahirkan di keluarga yang lebih ningrat. Seorang penyair jalanan juga pernah membuatkan puisi tentang kecantikan Mama, meskipun sayangnya penyair tersebut tidak juga terkenal akan puisinya yang dibuat menggebu-gebu itu.
Sayangnya, Hanae tidak bisa seperti Mama. Hanae tidak berambut pirang, tidak juga bermata emerald. Wajah Hanae tidak lonjong dengan dagu runcing, tidak juga punya rambut cerah yang seperti ombak. Tentu Hanae tidak buruk rupa, tetapi ia juga bukan primadona. Wajah yang biasa dengan mata abu-abu cerah, sangat mirip Papa, Hanae terlalu mirip Papa.
Entah mengapa, padahal Hanae adalah anak perempuan Mama, tetapi yang mewarisi paras memikat bukanlah Hanae, melainkan Kak Samuel yang seorang laki-laki. Kak Samuel lebih mirip Mama, dari perangai hingga caranya tersenyum, dari caranya menanggapi orang lain hingga gestur tubuhnya. Tidak heran jika Kak Samuel mendapat cinta yang lebih banyak dan berlimpah dari Mama, tidak seperti Hanae yang hanya akan ditatap kala Mama sedang bahagia.
Namun, ketika berusia sepuluh tahun, Kak Samuel harus bersekolah ke Eton. Jauh sekali dari rumah, dan tidak lantas bisa pulang kapan saja. Mama pun kesepian, dan merana, dan menderita. Pagi dia menghabiskan sebotol wine, siang sudah lima botol, saat malam tiba, Mama akan tertidur sambil memegangi leher botol.
Hanae selalu berada di samping Mama, menemani dengan setia, mirip anjing buluk yang ingin mendapat perhatian dari orang-orang di jalanan. Meskipun dijambak, meskipun juga disembur dengan ucapan yang kotor dan tidak manusiawi, Hanae tetap mengekor dengan setia, tetap menunggu dengan sabar dan perhatian. Tak jarang, Hanae bahkan disembur dengan alkohol yang muncrat dari mulut Mama. Saat Mama seperti itu, Hanae bisa sampai lima kali dalam sehari membersihkan muntahan Mama.
Muntahan yang bercecer di lantai, di gaun, di sofa, di tempat tidur, di tangga, dan dimana pun itu sesuka Mama. Hampir semua tempat yang didatangi Mama, pernah dimuntahinya.
“Kenapa kau, hik. Mirip sekali dengan papamu. Mirip sekali dengan suamiku yang busuk itu. Di mana dia sekarang? Di London, ya? Untuk mengurus gelarnya itu? Atau mencari selingkuhan, ha? Bwajhingan tengik, hik. Bwajhingan!”
Hanae selalu siap mendengarkan racauan yang tidak jelas pengucapannya itu, sesekali mengusap mulut Mama dengan saputangan karena belepotan muntahan.
Akhir-akhir ini Papa sangat sibuk. Sering bolak-balik ke London untuk mengurus gelar kebangsawanan yang diwariskan untuknya dari pamannya. Papa hanya putra ke tiga, dan seharusnya tidak punya gelar, tetapi paman Papa tidak punya ahli waris, sehingga Papa mendapatkan gelar bangsawan itu. Hanya sebagai baron, tapi cukup membuat Papa sibuk berbulan-bulan di London.
Hanae mengerti jika mengurus gelar adalah perkara yang tidak bisa cepat, dan tidak mudah. Padahal Hanae baru delapan tahun, tapi dia sudah paham situasi Papa. Namun, Mama tidak mengerti, mungkin tidak mau mengerti.
Hanae ingin mengatakan pada Mama. Ingin mengatakan bahwa Papa sibuk dengan orang-orang pemerintahan, bukan dengan gundiknya. Sayangnya, Hanae tidak bisa mengatakannya, karena Mama tidak mungkin mau mengerti. Sekecap saja Hanae membela Papa, pasti seribu u*****n sudah Mama semburkan ke wajah Hanae saat itu juga.
Semuanya karena salah Papa. Papa bersalah karena telah memelihara gundik, bahkan sampai punya anak dari gundiknya.
Untungnya gundik Papa mati, anak yang masih bayi juga mati. Mama menyuruh orang untuk membunuhnya, tapi Papa tidak tahu. Hanae tahu.
Di antara semua rasa sakit yang diberikan Papa dan Mama, Hanae menyukai kedua orang tuanya. Apalagi ketika Papa membelikan gaun baru, atau mainan baru.
Hanae juga suka ketika Mama mengajaknya ke hutan, mencari buah-buahan. Yang paling disukai Hanae adalah jeruk hutan, rasanya manis. Setiap kali Mama memakannya, Mama akan tersenyum, tidak lagi menjambak rambut Hanae. Mama juga membagi buahnya dengan Hanae. Berdua menikmati buah jeruk di bawah pohon willow, lalu tertidur sampai sore, dan pulang dalam keadaan yang bahagia.
Hanya saja, di musim dingin ketika Hanae berusia sembilan tahun, Mama sering sakit. Terbaring terus di ranjang tanpa bisa ke mana-mana. Hanae selalu menemani, dan rambutnya yang dikuncir kuda selalu dijambak, setiap hari, tanpa ada waktu ke hutan untuk memakan buah jeruk yang manis.
Di pagi hari yang sangat dingin, Hanae memutuskan untuk memotong pendek rambutnya. Mungkin Mama tidak suka rambut panjang Hanae, jadi Mama sering menjambaknya, maka lebih baik dipotong saja.
Ketika Mama melihat Hanae dengan rambut pendek, Mama meracau.
“Anakku, anakku Hanae yang cantik. Kau cantik sekali.”
Namun, siang harinya, Mama meninggal.
Ketika Mama mati, Nenek menangis, Samuel datang dan menangis, pelayan menangis, bahkan Papa juga menangis. Entah mereka menangisi apa. Mama adalah biang onar di rumah, untuk apa mereka menangisinya? Padahal setiap hari juga selalu mengeluh tentang kelakuan Mama.
Hanae tidak menangis. Hanae yang paling kehilangan tetapi tidak menangis. Hanae senang Mama pergi, semoga saja ke surga. Di surga Mama bisa minum alkohol sebanyak yang dia mau, bisa melakukan apa saja tanpa harus memikirkan Papa, atau gundik Papa.
Oh, apa Mama akan bertemu gundik Papa di surga? Mungkin mereka akan berkelahi, atau malah akur di sana?
Pikiran-pikiran tentang Mama selalu menghantui, setiap hari, sampai membuat Hanae suka melamun berjam-jam. Supaya kenangan tentang Mama tidak memudar, Hanae akan mengabadikan Mama dalam sebuah tulisan. Ia bahkan jadi ketagihan menuliskan kemungkinan-kemungkinan kondisi Mama di surga. Berlembar-lembar ia menulis. Saat sadar, sebuah buku sudah tercipta dari tumpukan kertas dengan tulisan tangannya yang berantakan.
Lalu Hanae menulis yang lainnya. Ia mengingat-ingat racauan Mama setiap hari. Ia tulis semuanya dengan teliti, berhari-hari.
Setidaknya, setidaknya jika orang-orang mulai lupa dengan Mama, Hanae akan menyodorkan bukunya.
“Ini. Ini adalah Mama. Isi kepala Mama.”
.
Sweet Continue_