14. Wangi Jeruk dan Perasaan Ingin Menggigit

1119 Kata
Malam itu, bintang pesta yang paling bersinar adalah putri Lord Thomson. Namanya Maria, Miss Maria Thomson. Rambutnya pirang, matanya biru, kulitnya putih. Hal itu sudah cukup menegaskan betapa cantik Maria. Wajahnya oval, sehingga tampak sangat dewasa. Padahal usianya baru tujuh belas tahun, baru saja diperkenalkan ke dunia luar. Buah kedewasaan miliknya juga tampak padat, menyembul sesak tertekan korset dan pakaian berlapis-lapis. Sehingga malam itu, hampir semua gentleman memintanya untuk berdansa. Avery juga berdansa dengan Maria. Mana mungkin melewatkan hal semacam itu. Meskipun hanya kebagian quadrille, tetapi dansa Avery dan Maria terlihat sangat mencolok. Seperti pasangan yang pas. Seperti lukisan di atas kanvas. Banyak sekali yang memandang iri, tetapi dalam hati diam-diam mengagumi. Saat itu terjadi, Hanae tidak ada di ruangan. Dia sedang menepi untuk mengunyah muffin, dengan pensil kecil dan selembar kertas yang penuh coretan. Kata Lord Gilbert, Hanae yang seperti itu berarti sedang kesurupan, tidak bisa diganggu siapa pun. Sayangnya, banyak yang menyalahartikan. Spekulasi yang berkembang adalah bahwa Miss Denison cemburu melihat tunangannya berdansa dengan bintang pesta. Kalah cantik, kalah menarik. Kalah segala-galanya. “Miss Denison sepertinya tidak ada di ruangan ini, My Lord,” ujar Maria melihat grasak-grusuk di dalam ruang dansa. “Apakah … saya telah berbuat kesalahan?” tanyanya takut-takut. Dansa masih berlanjut, sambil melompat-lompat mengikuti irama musik, Maria hampir menggigit bibirnya. Avery hanya tersenyum kecil. “Dia sedang ada urusan. Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.” “Oh, syukurlah.” Maria mengangguk-angguk. Hampir saja Avery menghela napas di tengah dansa. Matanya juga sedang bergerilnya ke mana-mana, mencari keberadaan Hanae. Gadis itu sangat mencolok, rambutnya tadi dikepang dengan pita, ujung pitanya menjuntai sampai pinggang, gaunnya berwarna jingga, dan poninya belah tengah. Avery benar-benar tidak bisa melupakan poni belah tengah itu. Seharusnya, Hanae mudah ditemukan, sayangnya gadis itu memang sedang tidak ada di ruangan. Ke mana dia sebenarnya? . . . Bukan Avery yang menemukan Hanae di pojok taman yang remang sedang duduk di atas kursi, tetapi Nicholas. Awalnya, Nicholas mengira sedang menemukan hantu perempuan bergaun jingga di bawah temaram pelita taman, tetapi saat diperhatikan, ternyata itu Miss Denison yang tampak serius. Sangat serius sampai tidak menyadari bahwa Nicholas sudah berdiri menjulang di depannya. Dan, apa-apaan cara duduk Miss Denison itu. Mengapa seorang lady duduk berjongkok di atas kursi taman seperti itu. Nicholas kehabisan ide. “Selamat malam, Miss Denison,” sapa Nicholas seraya tersenyum lebar. Tidak sabar melihat ekspresi Miss Denison yang terpergok sedang bersikap tidak sopan. “Selamat malam.” Sayangnya, Miss Denison menjawab dengan begitu natural, kasual, dan sama sekali tidak mendongak untuk melihat siapa yang sekarang ada di depannya. Lebih menyebalkan lagi, karena Miss Denison tidak kaget seperti yang Nicholas kira. Kenapa ada wanita semenyebalkan ini?! Entah mengapa, Nicholas merasa kalah. “Apa yang sedang seorang lady lakukan di taman begini, sendirian?” Nicholas mencondongkan tubuh, ingin mengintip sesuatu di kertas Miss Denison, sekaligus menggoda gadis yang dianggapnya kekanakan itu. “Tolong jauhkan kepala Anda, saya tidak bisa melihat dengan jelas.” Nicholas menyeringai. “Hmm, apa mau saya bantu? Saya ini cukup cerdas untuk urusan tertentu.” Dan ia semakin mencondongkan kepalanya, hampir saja hidungnya menyentuh kening sang lady. Buah jeruk. Nicholas membatin, merasa aneh dengan aroma yang tiba-tiba menyerang indera penciumnya. Dihidunya lebih dalam aroma samar yang kian menguat itu. Diendus, diendus, dan sampai pada kesimpulan bahwa buah jeruk itu adalah aroma tubuh Miss Denison. Enak. Nicholas memejamkan mata, melanjutkan menghimpun wangi yang membuatnya nyaman dan tenang. Namun, saat pikirannya mulai waras, cepat-cepat ia mengangkat kepalanya, dan kembali berdiri tegap. Dipandanginya Miss Denison yang masih dalam posisi sama, lalu Nicholas meneguk ludah. Tungguh dulu, mengapa ia meneguk ludah? Apa dia gugup? Gugup karena Miss Denison? Tidak mungkin. “Selesai.” Hampir saja Nicholas terjengkang, karena Miss Denison tiba-tiba berdiri, masih dalam posisi di atas kursi. “Oh, Mr. Nicholas Roux? Sejak kapan Anda di sini?” Nicholas belum mampu menjawab, karena Miss Denison melompat dari atas kursi, lalu berdiri di depannya. Nicholas ingin sekali memeluk gadis ini, memeluk sampai remuk. Terselip pula perasaan gemas yang berlebihan. Gemas ingin mencincang Miss Denison karena terlalu menyebalkan. “Sejak tadi saya di sini, dan Anda mengabaikan saya selama itu,” ungkap Nicholas jengkel. “Mengapa Anda tidak pergi saja jika kesal saya abaikan? Anda benar-benar pria yang sabar.” Gigi Nicholas bergemelutuk di dalam mulut. “Miss Denison, Anda sangat menyebalkan.” Namun, Miss Denison hanya tersenyum kecil. “Anda pria yang menyenangkan.” Gadis itu menepuk lengan Nicholas dua kali. “Terima kasih sudah menemani saya. Sampai jumpa.” Nicholas pun ditinggalkan begitu saja. Angin malam berembus kecil, tetapi tubuh Nicholas merinding seluruh badan. Ia hampir menggigil. Diusapnya pelan lengan yang sempat ditepuk Miss Denison, sedangkan matanya terus terpusat pada sang lady yang berjalan riang meninggalkannya, masuk ke dalam ruang pesta dan hilang bersama gemerlap cahaya. Rasa-rasanya, Miss Denison memang cocok dengan sesuatu yang bersinar. Seperti cahaya, dan matahari. Dan buah jeruk. . . . Avery melihatnya. Pandangan mata Nicholas kepada Hanae. Itu bukan sesuatu yang bisa dibiarkan. Entah mengapa, d**a Avery terasa panas. Seharusnya, dia memang tidak setertarik itu dengan Hanae. Hanya saja … dia tidak suka ketika miliknya diinginkan orang lain. Ketika Hanae kembali memasuki ruang pesta, Avery langsung menyeretnya dan mengajak berdansa. Saat itu adalah waktunya waltz, tetapi langkah Avery tidak terasa lembut. “Avery, Anda sedang marah.” Avery mengerjap-ngerjap. Dirasakannya langkahnya sendiri, dan memang terasa tergesa-gesa. Ia pun menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. “Maafkan aku.” Hanae mengusapkan tangannya ke punggung Avery, disamarkan sebagai gerakan dansa yang wajar. “Apa yang membuat Anda marah? Mungkin saya bisa mengusirnya dengan mantra tertentu.” Sebelah tangan Avery yang berada di pinggang Hanae, memberikan gerakan halus. Mendorong tubuh Hanae supaya lebih dekat dengannya. “Coba berikan aku mantra yang menyenangkan,” ucapnya seraya tersenyum kalem. “Avery Robinson, seperti buah jeruk.” Avery mengernyitkan dahi. “Mengapa buah jeruk?” “Karena saya sangat suka dengan buah jeruk.” “Apa kau menyamakanku dengan buah-buahan?” Hanae tertawa kecil, agak merasa lucu dengan emosi Avery yang mudah sekali memercik. “Tidak mungkin sama. Anda tidak mungkin sama dengan apa pun,” ucapnya merdu. Mata abu-abu miliknya bersitatap langsung dengan netra hijau cerah Avery. Dari tatapana itu pula Hanae dapat meneruskan alasannya. “Karena Avery Robinson hanya ada satu-satunya di dunia.” Gigi geraham Avery bergemelutukan sendiri, dan serta merta sulit untuk menahan lengkung senyuman di bibirnya. Paling buruk, ia tidak tahan ingin menggigit. Ingin menggigit pipi merah muda Hanae, menggigit bahunya yang beraroma jeruk, atau bahkan menggigit ujung hidung Hanae yang seperti biji bunga matahari. Jika bisa, mungkin sekalian menelan Hanae ke dalam dirinya. “Hanae, ayo menikah secepatnya,” celetuk Avery. “Wah, Anda sangat bersemangat.” Ya, supaya aku bisa cepat-cepat menggigitmu. . Sweet Continue_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN