Untuk pertama kalinya Avery mengunjungi club gentleman setelah pengumuman pertunangannya, dan benar saja, dia segera diserbu teman-teman satu klabnya. Sebagian besar menanyakan kronologi mengapa ia bisa bertunangan dengan Miss Denison, sebagian yang lain menggodanya dengan ucapan-ucapan berani.
Namun, siapa sangka, karena Avery tidak kunjung memberi klarifikasi di awal-awal kabar pertunangannya, rumor pun beredar dengan begitu kejamnya.
.
Pasti Avery Robinson dijebak.
Tidak disangka, lady yang terlihat kekanakan itu bisa juga punya rencana licik untuk memerangkap seorang gentleman seperti Avery.
Miss Denison pasti sudah kehilangan akal sampai menjebak Avery.
Kasihan sekali Avery, jika saat menikah nanti dia punya gundik, tidak ada yang akan menyalahkannya.
.
Avery, hanya menaikkan satu alisnya ketika mendengar spekulasi-spekulasi tidak berdasar itu.
“Ah, segerombolan penggosip dan mulut mereka,” desah Avery usai meneguk habis segelas brendi. Teman-temannya masih berkerubung di sekitar, menyesaki tiga sofa panjang di tengah-tengah ruangan.
“Jadi, kau menikah dengan Miss Denison karena terpaksa atau bagaimana? Jelaskan detailnya, Avery. Kau tidak kasihan dengan mata berkilat teman-temanmu ini?” Nicholas, gentleman dengan potongan rambut hitam klimis itu terus saja mengekori Avery sejak temannya masuk ke ruang club. Dia yang paling getol bertanya, dan paling penasaran. Sikapnya memang bukan tanpa alasan, Nicholas sudah mengenal Avery sejak bersekolah di Eton, dan sering bermain bersama sampai kini dewasa. Kabar yang tiba-tiba ini tentu membuatnya agak terperangah, dan shock, dan skeptis.
Mana mungkin Avery tiba-tiba akan menikah padahal baru minggu lalu lelaki itu berkata masih ingin membujang sampai usia empat puluh, masing ingin menjadi penjelajah, entah itu penjelajah kota maupun wanita. Pada akhirnya, di pikiran Nicholas hanya muncul satu kemungkinan, pasti skandal yang menimpa Avery Robinson adalah sebuah jebakan. Demi Tuhan! Calon pengantinnya adalah Miss Denison, yang Nicholas tahu betul bahwa lady satu itu sama sekali bukan tipe Avery.
Tidak dari sifatnya, maupun badannya.
“Jelaskan padaku sekarang, Brother,” desak Nicholas sekali lagi.
Avery mengembus napas penat. “Kami bertemu di pesta kedua orang tuaku, lalu bertemu lagi di pesta piknik Lady Susan Fox. Kami bicara sebentar, dan aku merasa dia orang yang tepat untuk menjadi pendampingku. Hanya itu, sederhana saja. Kelanjutannya kau tahu sendiri, aku melamarnya.”
Nicholas mengernyit.
Banyak yang ditutupi. Nicholas tahu itu.
“Heee, apa mungkin Miss Denison memiliki sesuatu yang kau sukai?” Nicholas menyeringai. “Kau tahu, kan? Dadanya mungkin ….”
Avery tidak segan langsung menghujamkan tatapan mengancam pada Nicholas. “Jangan membicarakan Hanae dengan cara seperti itu.”
“Wow, kau marah?” Nicholas benar-benar tidak sanggup menutupi gejolak penasaran dalam kepala. Bukan hanya dia, beberapa pendengar saat itu juga merasakan perasaan yang sama. “Dan tunggu dulu, kau memanggil nama kecilnya? Jadi kalian memang ingin menikah karena saling mencintai?”
Avery tidak menjawab. Hal itu lantas membuat Nicholas Roux merasakan sebuah kejanggalan.
“Avery Robinson, kau pasti tidak jatuh cinta padanya, ‘kan? Apa kau hanya penasaran dengannya? Dengan Miss Denison? Jika benar, kau seharusnya tidak sampai menikahinya.” Nicholas yang ulet, tidak akan membiarkan Avery menyembunyikan apa pun.
“Aku hanya merasa, dia wanita yang tepat.”
Nicholas mencebik. Banyak sekali spekulasi kejam dalam pikirannya mengenai pertunangan dadakan Avery ini. Ia memang membaca berita dan mendengar mengenai skandal antara Avery dan Miss Denison. Tapi, yang benar saja! Apakah skandal semacam itu bisa membuat seorang Avery Robinson tidak berdaya?
Salah satu spekulasi kejam Nicholas adalah bawha mungkin saja Avery hanya memanfaatkan situasi Miss Denison untuk kepentingannya. Siapa pun tahu, Miss Denison itu kekanakan, jadi Avery menikahinya supaya tidak dikejar tanggung jawab dari keluarganya. Setelah itu, Avery bisa bebas mencari wanita simpanan, dan tidak akan ada seorang pun yang menyalahkannya, karena semua orang tidak ada yang memihak Miss Denison. Dalam hal ini karena Miss Denison bukanlah wanita yang diharapkan untuk dinikahi, setidaknya begitulah isi kepala para bujangan.
Bukan hanya Nicholas yang berpikiran demikian, gosip di luaran lebih kejam dan berbisa. Nicholas hanya bagian dari kelompok sosial yang ingin menyamakan pandangan supaya terlihat normal.
“Besok malam, ada pesta di rumah Lord Thomson. Kau mau, kan memperkenalkan Miss Denison padaku? Aku harus mengenal calon istri teman baikku, ‘kan?”
Mata Avery menyipit, memandang Nicholas penuh prasangka. “Kuperingatkan padamu, Nichol. Sebaiknya jangan bermain-main dengan Hanae.”
Nicholas tertawa. “Kau posesif sekali.” Ia menepuk-nepuk pundak Avery penuh canda.
Avery hanya memutar bola mata. Dia tidak menangkap maksudku, batinnya. Tapi ya sudahlah.
.
.
.
Pesta di kediaman Lord Max Thomson, Baron Knaresborough, biasanya selalu menjadi pesta yang menyenangkan. Tamu undangannya tidak banyak, tetapi sajian makanan dan musik dihidangkan dengan megah.
Lord Max Thomson memiliki kebiasaan untuk mengundang bangsawan-bangasawan sekitar saja. Harapannya, agar bangsawan-bangsawan yang sebenarnya saling berdekatan itu, bisa lebih dekat pula jalinan persahabatannya. Sebagai seorang aktivis, politisi, sekaligus bangsawan, Lord Thomson memang peduli sekali dengan hal-hal kecil seperti itu, dan orang-orang sudah sangat memaklumi.
Di pesta yang selalu dipenuhi ramah-tamah, nama-nama tamu yang datang diumumkan dengan keras. Hingga sebuah nama disebut, dan bisik-bisik semakin keras terdengar.
“Lord Avery Robinson, Viscount Goderich dan Lady Grace Robinson, Marchioness of Ripon.”
Itu Avery.
Itu Avery.
“Mr. Samuel Denison dan Miss Hanae Denison.”
Miss Denison.
Miss Denison.
.
‘Ya ampun, mereka datang berbarengan? Pasangan baru itu?’
‘Lord Avery sungguh tidak beruntung. Pasti Miss Denison yang memaksanya untuk datang bersama.’
‘Aku masih tidak percaya jika mereka berdua adalah tunangan. Apa mereka benar-benar akan menikah?’
.
Kepala Avery rasanya hampir meledak. Mengatasi penggosip memang tidak mudah, tidak pernah mudah.
Avery harus mencari metode terbaik untuk membungkam mulut tukang ghibah. Misalnya, seperti … apa ya. Oh, berada di dekat Hanae untuk membuat gadis itu nyaman. Avery tidak keberatan semalaman hanya berbincang dengan Hanae. Sama sekali tidak keberatan.
Melangkah cepat, usai menyapa tuan rumah dan beberapa kenalan, Avery pun melesat ke samping Hanae. Benar, Hanae yang selalu bahagia meskipun sedang di depan meja limun sendiri, ditinggal kakaknya entah ke mana, dan tidak juga ada yang mendekatinya.
“Kau baru datang dan langsung menuju meja limun?”
Hanae terkekeh.
Avery mengernyit. Padahal, saat itu Avery berada tepat di belakang Hanae, dengan bisikan pelan di samping telinga. Namun, bukannya bersemu merah muda, gadis itu malah terkekeh. Avery sudah menduganya, tetapi tetap terasa asing. Reaksi Hanae memang selalu di luar dugaan.
Ketika Hanae berbalik, dengan tangan kanan memegang gelas limun, gadis itu mendongak dan tersenyum lebar. “Mau mencobanya?” tawarnya.
Avery menyipitkan mata. Menatap iris abu-abu Hanae yang hanya sepersekian mili jaraknya. Napas mereka bersautan, tetapi seolah sedang perang pikiran.
“Aku duga, rasanya tidak enak,” cetus Avery.
“Jika tidak enak, saya tidak akan menawarkannya pada Anda.”
“Tapi kenapa senyumanmu mencurigakan begitu?”
“Saya hanya senang karena Anda menghampiri saya.”
“Yang benar?”
“Jika saya berbohong, saya akan merelakan satu lukisan di kamar saya.”
“Tiga.”
“Dua, jangan menawar lagi.”
Avery mengangguk.
Hanae pun bermaksud mengambilkan gelas limun yang masih baru, tetapi ditahan dengan cepat oleh Avery. Pria itu, mengambil gelas di tangan Hanae, dan meneguknya sekali.
Meskipun agak terkejut, tetapi Hanae hanya terkekeh kecil.
“Hmm limun dengan sedikit sampanye,” ucap Avery kemudian.
Hanae mengangguk. “Rasanya lumayan. Tapi agak keras.”
“Jangan minum terlalu banyak.”
“Apa Anda percaya jika saya berkata bahwa saya ini tidak mudah mabuk?”
Avery mengangguk. Tidak heran jika Hanae memang punya keahlian seperti itu. “Kau memang terlihat begitu.”
“Apanya?”
“Tidak mudah mabuk.”
Hanae hanya tertawa lepas.
Tangan Avery yang merasa gemas, menyentil dahi Hanae, tepat di tengah. Saat itu, Avery baru sadar jika malam ini poni Hanae dibelah tengah. Dahi yang biasanya tertutup itu jadi terlihat sedikit. Pantas saja Avery merasa ada yang berbeda, perbedaan yang bagus.
Hanae dan poni belah tengah adalah malaikat. Gadis itu jadi terlihat lebih dewasa, dan lebih cantik. Kecantikan seorang remaja?
Mendadak Avery ingin tertawa.
“Anda mau menertawai saya, ya?”
Ujung bibir Avery berkedut dua kali, lalu senyumnya lebar karena sulit ditahan. “Malam ini kau terlihat cantik,” puji Avery. Sangat mendadak.
Hanae tersenyum lembut. “Pujian yang menyenangkan. Haruskah saya juga mengatakan hal serupa untuk Anda? Tapi … saya rasa itu tidak perlu.”
Alis Avery menukik. “Kenapa tidak perlu?” tanyanya kesal.
“Karena Anda selalu tampan, setiap saat. Tidak di malam ini saja, kemarin-kemarin juga Anda setampan ini.”
Mata Avery membulat. Ia pun dengan cepat memalingkan wajah seraya menutupinya. Mendadak ada rasa panas menjalar sampai pipi. “Itu tadi pukulan telak.”
“Hm?” Namun Hanae hanya menelengkan kepala tidak mengerti.
Sebenarnya, Avery masih ingin berlama-lama mencandai Hanae. Atau mengajak gadis itu berdansa setelah membicarakan limun. Hanya saja, mata Avery menangkap pergerakan seseorang.
Seorang pria dengan rambut hitam klimis, setelannya abu-abu, dan melangkah lebar ke arah Avery berdiri.
“Oh, Avery temanku. Senang aku menemukanmu di keramaian pesta luar biasa ini.”
Avery ingin memutar bola mata. Nicholas Roux memang tidak segan-segan jika ingin berbuat hal gila. Avery sudah mengenal pria itu seumur hidupnya. Sekarang pun Avery tahu bahwa Nicholas memang sedang merencanakan sesuatu, sangat terlihat dari tatap matanya dan pembawaannya yang dramatis.
“Hanae, kenalkan, ini Mr. Nicholas Roux.” Hanae menekuk kaki. “Dan Nicholas, ini Miss Hanae Denison.”
Senyum Nicholas mengembang. “Senang berkenalan dengan Anda, Miss Denison.” Ia pun meraih tangan kanan Hanae yang diselimuti glove putih, dan mengecupnya. Kecupan yang cukup lama dan terkesan main-main. Matanya terpejam sejenak, lalu terbuka untuk menatap langsung mata bulat Hanae.
“Setelah selama ini Anda selalu mengelak untuk diperkenalkan kepada saya. Saya yakin kali ini pun Anda pasti sangat terpaksa.”
Nicholas membeku, dilepasnya tangan Hanae dengan sopan, lalu tersenyum kikuk. Itu tadi pukulan telak, batinnya dongkol. “Anda terlalu perasa, Miss Denison. Mana mungkin saya mengelak untuk diperkenalkan kepada Anda. Bukankah Anda adalah bintang season tiap tahun?”
Pujian itu, jelas sekali hanya sarkasme. Siapa pun tahu, Hanae adalah bintang season dalam arti sebaliknya, seorang wallflower populer dengan cap buruk di belakang namanya.
Namun, Hanae tersenyum lebar menanggapi kegigihan Nicholas dalam memperolok. “Benar. Bintang season seperti saya memang selalu tidak ada waktu untuk berkenalan dengan gentleman yang kurang populer.”
Di samping Hanae, Avery hampir terpingkal-pingkal. Ia berhenti mengikik karena Nicholas menatapnya dengan amarah. Sangat-sangat marah.
“Avery,” desis Nicholas. “Tunanganmu ini, sungguh ….”
“Kau yang memulainya, Nichol.”
Nicholas mendecak. Ia membuang napas kasar, lalu menatap Hanae dengan pandangan mencemooh seperti biasa. “Miss Denison, sebagai seorang lady, Anda ini terlalu banyak bicara.”
Hanae menelengkan kepala sedikit, berkedip sekali dan tersenyum kecil. “Itu memang keahlian saya.”
“Keahlian yang tidak bisa dibanggakan.”
“Tidak bisa dibanggakan.” Hanae pun tertawa lembut.
“Saya permisi.” Usai mendebas, Nicholas berlalu pergi begitu saja. Avery dan Hanae sama-sama memandangi punggung pria itu.
“Dia biasanya tidak sekasar itu,” ucap Avery.
Hanae mengangguk. “Saya tahu.”
Avery mengernyit. “Kau bukan temannya, Hanae. Kau tidak mengenalnya.”
“Tapi dia teman Anda.”
“Hm?”
“Saya percaya pada Anda.”
Avery tersenyum samar. Lagi-lagi, Hanae bisa membuat hatinya merasa nyaman. Hangat dan nyaman, seperti ketika menenggelamkan diri pada air hangat di musim dingin. Sangat menyenangkan.
.
Sweet Continue_