Beberapa hari setelah berita mengenai dirinya dan Miss Denison ditulis dalam berbagai macam koran gosip, tidak henti-hentinya wartawan berkunjung ke rumah Avery, lebih tepatnya ke country house Marquess of Ripon. Demi menekan lonjakan gosip yang mungkin akan semakin menjadi-jadi ke depannya, mau tidak mau Avery harus memberikan sedikit ‘hadiah’ untuk para wartawan yang datang. Terlebih, saat itu ayahnya yang terkenal punya kuasa dan nama besar di masyarakat Inggris sedang berada di London, sehingga Avery yang harus mengatasi semua masalah itu sendirian.
Meskipun begitu, Avery tidak yakin bahwa gosip tentangnya akan mereda begitu saja. Menurut laporan dari Carl, pelayan pribadinya, berita mengenai kedekatan Avery dan Miss Denison masih menjadi buah bibir panas yang seru untuk terus dibakar. Tidak heran jika beberapa hari ini Avery malas untuk ke luar dan bersosialisasi, ia lebih menyibukkan diri dengan pekerjaan dari ayahnya yang menumpuk tiada henti.
Sayangnya, Avery tidak mungkin menghindari kerumumanan selamanya. Malam ini, ia harus mendatangi pesta yang diadakan oleh Lady Anna, salah satu teman ibunya yang juga kemarin sempat memergokinya bersama Hanae.
Lebih menyebalkan lagi, ketika Avery datang, Miss Denison juga hadir ke pesta itu. Kebetulan menjengkelkan lainnya adalah bahwa ternyata Avery dan Hanae sama-sama belum pernah ke luar rumah setelah nama mereka tercantum dalam koran gosip waktu itu, dan malam ini adalah kemunculan perdana keduanya. Di mata masyarakat, seolah-olah mereka memang telah membuat janji untuk datang ke pesta Lady Anna. Sungguh sial, sungguh-sungguh sial.
Oleh sebab itu, untuk sedikit demi sedikit menghapus berita yang beredar, Avery memaksakan dirinya berdansa dengan berbagai macam lady. Ia sengaja memilih yang paling cantik-cantik, yang pasti akan membuat orang-orang memperbincangkan kedekatannya dengan para lady tersebut, dan melupakan skandalnya dengan Miss Denison.
Di sisi Hanae, seperti biasa wanita itu ada di pojok hall sendirian. Ia hanya berdansa dengan tuan rumah dan kakaknya, setelah itu ia asik duduk tepekur seraya berimajinasi seperti orang linglung. Dalam kepalanya, sama sekali tidak terbersit mengenai pandangan orang terhadapnya atau pun gosip tentangnya dengan Avery Robinson. Ia hanya sedang mencari inspirasi.
Namun, seorang lady tiba-tiba mendatanginya, mencecarnya dengan berbagai pertanyaan ingin tahu mengenai gosip yang masih hangat terdengar. Hal itu membuat lady yang lain ikut berkerumun untuk mendapatkan informasi. Sangat mengganggu Hanae yang sedang asik mengkhayalkan sesuatu yang menyenangkan. Untungnya, dengan kelihaiannya bertutur kata, Hanae pun dapat melarikan diri.
Di rumah Lady Anna, ada banyak ruang istirahat untuk tamu undangan, Hanae masuk ke salah satunya dan duduk seraya menyenderkan punggung ke sofa. “Susah sekali menjadi orang terkenal,” gerutunya agak kesal.
Menarik napas panjang, Hanae pun mencoba menenangkan tubuhnya. Di sofa yang nyaman dan empuk, punggungnya bersandar luruh, kepalanya mendongak dengan leher yang ikut bersandar. Mata bulat berwarna abu-abu tampak berkerlipan di tengah temaram ruangan yang hanya berpenerang lilin. Seraya menatapi langit-langit, Hanae mencoba untuk kembali berkhayal.
Sayang seribu sayang, baru saja sebuah cerita akan mampir ke kepalanya, seseorang tiba-tiba membuka pintu dan masuk begitu saja.
Hanae menoleh, orang yang masuk itu pun memandanginya dengan mata hijau yang membulat.
“Miss Denison.”
“Viscount Goderich.”
.
.
.
Di antara puluhan orang yang datang ke pesta, mengapa harus Miss Hanae Denison yang Avery jumpai, sendirian, di ruangan gelap yang tenang dan sangat tepat untuk beristirahat. Jika begini, Avery tidak yakin dia bisa mengistirahatkan diri dengan baik.
“Mengapa Anda bisa berada di sini, Miss Denison?” tanya Avery kemudian. Padahal, seharusnya ia bisa pergi saja dari sana, tapi ia lebih memilih menemai Hanae duduk seraya menyalakan cerutu. Asap meliuk-liuk di udara ketika ia mengembuskan udara dari mulutnya.
Mendapat ‘teman’ bersantai, Hanae tidak berencana mengubah posisi duduknya. Lagi pula, mereka berdua sama-sama ingin istirahat, seharusnya Avery pun memaklumi sikap Hanae. “Saya sedang beristirahat, dan mencoba menghindari kerumunan. Viscount Goderich sendiri, mengapa Anda malah masuk ke sini dan duduk di depan saya?” tanyanya kemudian.
Avery menjawab tenang, kakinya bersilang angkuh sembari sesekali menikmati cerutu di tangan. “Mungkin kita bisa membicarakan beberapa hal. Apa Anda tidak ingin berbicara dengan saya terkait gosip yang sedang booming akhir-akhir ini?”
Hanae diam sejenak, tampak memikirkan kata-kata Avery yang seolah punya maksud tersembunyi. Pada akhirnya, ia pun duduk dengan tegap, menghadap Avery yang masih asik b******u dengan cerutu. “Apa yang ingin Anda katakan?”
Usai mengembuskan asap ke udara, Avery berujar, “Dengarkan saya Miss Denison. Meskipun gosip mengenai hubungan kita sangat menyeramkan, tapi saya harap Anda tidak mengharapkan sesuatu yang lebih dari saya.”
“Sesuatu yang lebih seperti apa?”
“Jangan sampai saya mendengar Anda merengek meminta menikahi saya dengan alasan nama baik Anda tercemar gara-gara saya. Anda tahu sendiri, bukan? Wanita yang digosipkan menjalin hubungan dengan laki-laki, apalagi belum bertunangan. Jika bukan teman sedari kecil, relasi, … sudah pasti adalah wanita simpanan.”
Hanae mengambil napas dalam. Hampir-hampir ia memutar bola matanya karena terganggu dengan ucapan Avery yang baginya terlalu sombong. “Bukankah keluarga Anda sudah biasa menyelesaikan gosip-gosip seperti ini. Kenapa untuk yang ini Anda tidak melakukan seperti biasa?”
Avery meletakkan cerutunya di asbak, kemudian duduk dengan tegap seraya menatap Hanae intens. “Masalahnya, Anda terlalu terkenal untuk dibungkam.”
Ujung bibir Hanae tertarik ke atas, senyumnya sangat menyebalkan. “Hoo, saya memang sangat populer.”
Avery pun tidak tahan untuk mendebas. “Yang saya ingin tegaskan adalah saya minta maaf untuk semua masalah yang timbul belakangan ini. Hari-hari Anda mungkin tidak senyaman biasanya. Namun, semoga Miss Denison juga mengerti untuk tidak mengharapkan apa-apa dari saya.”
Hanae mengangguk, senyumnya cerah tanpa beban. “Ya, dan terima kasih karena Anda masih mau berbicara dengan saya bahkan sampai meminta maaf. Saya pun harus meminta maaf karena menyeret Anda dalam masalah yang begitu rumit. Semoga nama baik Viscount Goderich tidak tercemar karena saya.”
Satu alis Avery naik sedikit, merasa aneh dengan reaksi Hanae yang terlalu tenang dan tidak begitu saja menyalahkannya. “Bagus, bagus. Miss Denison memang selalu pengertian.”
Hanae mengangguk antusias. “Benar ‘kan? Saya memang selalu pengertian. Bahkan Anda pun berkata demikian. Saya rasa hanya Samuel yang selalu menganggap saya pengganggu.”
“Hm? Apa hubungan kalian tidak baik? Saya pernah melihat kalian berkelahi sebelumnya,” celetuk Avery.
Kali ini Hanae menggeleng cepat. “Hubungan kami sangat baik. Tapi … entah mengapa dia selalu mengganggu saya.”
Sudut bibir Avery tertarik sedikit ke atas. “Kakak laki-laki memang begitu. Saya juga suka membuat adik perempuan saya marah. Tapi kami tidak sampai berkelahi seperti yang kalian lakukan.”
“Di mana Anda melihat saya dan Samuel berkelahi?” Hanae menelengkan kepalanya, cukup penasaran.
“Di rumah saya, saat pesta Marquis of Ripon terakhir kali. Saya melihat Anda dan Samuel Denison berkelahi fisik di taman. Sangat barbar.”
Hanae terkekeh cukup keras. “Menyenangkan sekali jika bisa memukul Samuel.”
“Hm? Mengapa begitu? Apa dia suka memukul Anda?”
“Dia tidak berani memukul terlalu keras, jadi sebagai upaya balas dendamnya, dia akan mencubit pipi saya.”
Entah mengapa, Avery mengangguk-angguk. Tanpa banyak bicara, ia beranjak dari duduknya, mendekat ke tempat Hanae dan mulai mengulurkan tangan. Namun, dengan sigap Hanae mencengkeram pergelangan tangan Avery yang sangat mencurigakan itu.
“Anda mau apa, Viscount Goderich?” tanya Hanae seraya memincingkan mata tajam.
Namun, dengan santainya Avery menjawab, “Mencubit pipi Anda.”
Jawaban itu hampir saja membuat Hanae terbatuk. “Untuk apa?”
“Untuk melampiaskan kekesalan saya pada Anda selama ini. Memukul Anda sangat tidak baik, jadi saya ingin mencoba meniru cara Samuel Denison,” jawab Avery tegas. Dalam hati, sebenarnya dia hanya penasaran dengan reaksi Hanae ketika pipi wanita itu dicubit dengan keras. Sebab, kadang-kadang Avery menjumpai bahwa pipi Miss Denison itu jadi seperti bola ketika sedang mengunyah muffin dengan lahap. Diam-diam, Avery memperhatikan hal itu saat di ballroom tadi.
Alis Hanae pun bertaut. “Jangan coba-coba melakukannya, atau saya akan menghajar Anda sampai babak belur.”
“Mari lihat apa Anda bisa berkelit.” Senyum Avery sangat mencurigakan. Senyumnya lebar dengan mata penuh binar.
Pada akhirnya, keduanya pun saling mengejar dan berkelit. Avery seperti sangat bercita-cita bisa mencubit pipi Hanae dan membuat wanita itu menangis. Sayangnya, Hanae juga sangat lincah untuk menghindar. Hingga pada suatu titik, Hanae tidak sengaja tergelincir dari duduknya sehingga tubuhnya jatuh terbaring di sofa. Efeknya, Avery yang sedang bersemangat pun tidak sengaja menjatuhkan diri ke atas tubuh Hanae yang tidak berdaya.
Dalam kondisi yang tidak menguntungkan seperti itu, pintu ruang istirahat itu terbuka kembali. Dari sana, segerombolan lady tampak berkipas dengan anggun dan terpuji. Namun, betapa kaget dan tercekat ketika melihat apa yang ada di dalam ruangan. Mereka melihat Miss Hanae Denison dan Avery Robinson saling menindih.
Beberapa saat suasana menjadi sangat hening. Namun, sebuah suara familier yang menyebalkan tiba-tiba saja terdengar.
“Benar, kan yang aku katakan. Kalian berdua memang punya hubungan seperti itu! Sangat tidak bermoral!”
Oh, sial. Mengapa harus ada Lady Susan Fox di sana.
.
Sweet Continue_