8. Jangan Berurusan dengan Lady Susan Fox

1011 Kata
Hanae dan Avery duduk bersebelahan, sangat hikmat, tegap, dan santun. Di depan mereka, ada Lady Susan Fox yang duduk seraya berkipas, sedangkan lady lainnya berdiri di belakang sofa Lady Susan, mirip dayang yang mendampingi ratunya padahal sedang mengantre untuk mendapatkan gosip seru lainnya. “Apa kalian berdua mau mengatakan alasan yang tidak berguna lagi? Jangan mengatakan bahwa semua ini kebetulan. Tidak mungkin kebetulan sampai berkali-kali begini. Oh, Tuhan, betapa tidak terpujinya kalian berdua.” Lady Susan mengoceh, para lady terkikik, Hanae berkedip-kedip tidak peduli, sedangkan Avery mengisap cerutunya untuk meredakan amarah. Malas sekali Avery berurusan dengan Lady Susan, wanita biang gosip itu sulit untuk dibungkam bahkan dengan uang. Namanya sangat tersohor sebagai tukang gosip paling panas, meskipun kadang tidak akurat, tapi siapa yang peduli. Bahkan ada yang mengatakan jika Lady Susan seringkali mendapat bayaran dari perusahan-perusahaan koran demi mendapat asupan berita sesasional paling anyar dan menghebohkan. Ditambah lagi, wanita itu punya kosa kata seluas kamus Oxford, bahkan berita biasa pun pasti bisa menjadi besar jika mulutnya sudah berkoar-koar. “Mau seperti apa pun My Lady mengoceh, kenyataannya saya dan Miss Denison memang tidak melakukan apa-apa. Dan semua kejadian itu memang kebetulan,” jelas Avery, akhirnya ia membuka mulut juga, asap dari cerutunya membumbung ke udara, menyebar cepat di ruangan yang tertutup rapat. Namun, seperti apa pun Avery berusaha membela diri, Lady Susan seolah menulikan pendengarannya. Dalam kepalanya mungkin ada semacam sistem yang membuatnya tidak bisa mempercayai penjelasan nyeleneh Avery. Ketika Avery bicara, Lady Susan akan bersenandung ‘la la la la la’ dalam hatinya. Sungguh wanita yang keras kepala, bukan hanya licik dan pintar mengarang indah, tapi juga bebal dan seenaknya. “Jawaban itu, jawaban itu yang malah membuat saya tidak percaya, Viscount Goderich. Cobalah mencari pembelaan lainnya. Anda adalah orang terhormat, lulusan Eton yang berjaya, apa hanya ini penjelasan yang bisa Anda gunakan untuk menutup mulut saya?” Lady Susan menutup kipasnya, ia gunakan untuk menunjuk-nunjuk wajah Avery yang tampak sangat kesal. “Sekarang, saya ingin bertanya. Apa benar Anda dan Miss Denison berada berdua saja di ruangan ini?” “Ya, tapi semua itu kebetulan. Aku tidak sengaja ….” “Cukup.” Mata Lady Susan menyorot tajam, mulutnya berselancar lebih cepat dari seekor lumba-lumba. “Pertanyaan lain. Apa yang kalian berdua lakukan berdua di tempat sepi begini?” “Kami hanya mengobrol hal-hal….” Mata Lady Susan melotot semakin bulat, sekali lagi ia tidak membiarkan lawan bicaranya menjelaskan dengan benar. “Mengobrol? Seorang laki-laki bujangan dan seorang lady, mengobrol berdua saja dengan pintu tertutup? Hah! Apa mungkin saya bisa percaya.” Tanpa diminta, lady lainnya pun ikut-ikutan menyahut. “Tidak bisa dipercaya,” ucapnya dengan penuh penekanan, seolah-olah Avery memang sedang berbohong, seolah-olah ia dengan sengaja ingin menggiring opini yang benar-benar menyudutkan. Para lady lainnya pun ikut-ikutan memberi komentar meskipun sebenarnya hanya sebagai bentuk hiburan bagi mereka. benar dan salah bisa diurus belakangan. “Mana mungkin bisa dipercaya.” “Tidak sopan.” “Bahkan aku dengan tunanganku harus membuka pintu demi kepantasan ketika berdua.” Lady Susan mengangguk-angguk khidmat. “Dengar itu? Sangat tidak pantas dan tidak sopan.” Avery meletakkan cerutunya di atas asbak. Ia kemudian mengambil napas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa jengkel yang sedari tadi menumpuk di dadanya. Meskipun cara itu tidak efektif, tapi setidaknya Avery tidak meledakkan amarahnya begitu saja. “Terserah apa pun yang My Lady ingin katakan. Saya sudah mengatakan kebenaran.” Setelah itu, ia menoleh pada Hanae yang sedari tadi diam di sampingnya. “Miss Denison, kondisi di sini sudah tidak kondusif. Saya akan memanggilkan Mr. Samuel Denison untuk menjemput Anda. Dan sekali lagi, maaf karena sudah membuat posisi Anda tersudut bersama saya.” Hanae mengangguk kecil, senyum di bibirnya masih cerah seperti matahari. “Ya, tentu. Terima kasih atas kebaikan Viscount Goderich.” Avery beranjak dari duduknya. Mata hijaunya berkilau ketika menatap Lady Susan yang sejak tadi tak henti mengawasi gerak-geriknya. “Maaf sudah membuat kegaduhan, My Lady. Dan jika Anda ingin membicarakan hal ini lebih serius, mari mencari tempat yang lebih tepat. Kita bisa berbicara untuk menyelesaikannya.” Lady Susan memalingkan wajahnya, melengos penuh keangkuhan. “Mengapa tidak berbicara di sini saja? Saya takut Anda akan mengancam saya dengan hal-hal yang tidak menyenangkan.” “Oh, begitukah? Saya khawatir bahwa hal-hal tidak menyenangkan itu malah lebih buruk jika kita membicarakannya di sini.” Lady Susan mendengkus. Dengan mempertimbangkan banyak hal, akhirnya ia bangkit dari duduknya. Avery tersenyum kecil, tapi senyumnya sangat tidak enak untuk dilihat. “Mari, Ladies.” Dengan kedikkan kepala, pria itu pun menggiring para wanita penggosip tersebut bersamanya. Membiarkan Hanae sendirian di tempat istirahat, berkedip-kedip seperti bocah polos yang tidak tahu apa pun, tapi dalam hati sangat bersyukur bahwa Avery ternyata sangat bisa diandalkan. Setelah Avery pergi bersama para lady, senyum di sudut bibir Hanae meluruh perlahan. “Bahkan dengan kekuasaan Lord Goderich, gosip tidak akan bisa begitu saja dilenyapkan. Lagi pula ….” Ia mengalihkan pandang untuk melihat pintu yang separuh tertutup. “Sepertinya ada pengintip.” . . . Sepulang dari pesta Lady Anna, Avery benar-benar segera membenamkan diri di atas kasurnya yang selembut kapas. Bicara dengan Lady Susan sangat berbelit-belit, membuat kepalanya berkedut hebat, hampir-hampir pembuluh darahnya pecah karena terlalu sering menahan amarah. Untung saja ia pandai mengontrol emosi, sehingga tidak ada kata-k********r yang keluar dari muluntya. Selain itu, ada lima lady lain yang harus Avery tangani. Butuh biaya besar hanya demi meredam sebuah gosip karena kesalahpahaman. Avery sudah mempertahankan citra dirinya sebagai pria baik-baik selama ini, jadi ia tidak akan membiarkan reputasinya terjegal begitu saja. Meskipun kelihatannya ia cukup apatis, tapi sebenarnya Avery cukup perhatian dengan pandangan masyarakat kepadanya. Sebab, citra yang baik akan sangat membantu dalam berbagai hal. Kepercayaan orang lain juga lebih besar padanya ketika reputasinya tidak tercela. Apalagi, ayahnya adalah orang yang sangat berpengaruh di House of Commons, sehingga Avery pun tidak boleh m*****i nama baik kepala keluarga Robinson. “Miss Denison, mengapa sejak bertemu denganmu, nama baikku selalu dipertaruhkan.” Malam itu, Avery memang bisa tidur senyenyak biasanya. Ia sama sekali tidak tahu jika di pagi hari, badai yang lebih dahsyat akan menerjang hidupnya. . Sweet Continue_
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN