Hana yang Tidak Seperti Bunga dan Si Bodoh Ted
...
Namanya Hana, artinya bunga. Namun, dia tidak seperti bunga.
Bunga yang kelopaknya indah, berwarna-warni dan beraroma harum. Itu bukan dia.
Yang seperti bunga adalah mamanya. Mama Hana yang matanya berkilau seperti batu emerald, hijau dan menenggelamkan, cemerlang, seperti ada gemintang yang menari-nari di mata bening itu. Ketika angin perbukitan bertiup, bukan hanya rambut pirang Mama yang beterbangan, tetapi juga wangi tubuhnya yang seperti bunga.
Mama Hana adalah bunga sesungguhnya.
Hana tidak cemburu, tidak berkecil hati, tidak pernah merasa ingin seperti Mama.
Mama adalah malaikatnya, dewi yang dipujanya. Hana menyukai Mama.
Sayangnya, Mama tidak menyukai Hana. Mama sangat, sangat-sangat tidak menyukai Hana. Mama membenci Hana dari lubuk hatinya.
Hana paham. Dia memang bukan bunga, karena itulah tidak ada yang menyukainya. Bahkan Mama.
Namun, meskipun Mama secantik bunga yang baru mekar, hati Mama seperti bunga yang berlubang-lubang, digerogoti ulat dan belalang. Hati Mama bahkan kadang berbau busuk, seperti bangkai tikus yang meringkuk kaku di pojok gudang. Dengan tubuh luar yang utuh, tetapi isi tubuhnya habis dihisap belatung.
Mama seperti itu sejak lama. Sejak tahu jika Papa punya bunga lain di hatinya.
Hana masih sangat kecil, dia seharusnya tidak paham bagaimana sakitnya bunga yang diduakan. Namun, Hana mengerti. Dia mampu memahami rasa sakit Mama.
Sebab, ketika hati Mama digerogoti ulat, Mama akan menghampiri Hana. Seraya berlinangan air mata, tangan Mama yang berjemari lentik itu akan mencengkeram kuat rambut Hana. Dikoyak, dikoyak, sampai Hana ingin mati saja.
“Mama, sakit. Sakit sekali, Mama. Ampuni Hana.”
Hanya bisa menangis, hanya dapat merintih. Meskipun sudah memohon ampun pada Mama, tetapi Mama tidak mau mendengar. Hana sayang Mama, sehingga ia tidak ingin meninggalkan Mama, apalagi membalas Mama dengan sesuatu yang kejam.
Mama sudah tersakiti, wajar jika Mama ingin membaginya untuk Hana, wajar jika Mama juga ingin menyakiti.
Awalnya Hana menangis, setiap kali Mama membagi rasa sakit, Hana selalu menangis. Dengan suara yang merintih-rintih, Hana terus memohon ampun pada Mama. Namun, lama … lama Hana memikirkannya. Ia pun mengerti. Seharusnya Hana tidak menangis, tidak perlu memohon ampun, karena sebenarnya Mama sedang bersedih. Mama yang paling bersedih.
Jika Hana memohon ampun, lalu Mama tidak lagi membagi rasa sakitnya, kepada siapa lagi Mama akan membaginya? Mama akan sakit seorang diri. Hana tidak menginginkannya.
Sejak saat itu, Hana membiarkan Mama selalu mengoyak rambutnya. Rambut Hana yang sudah panjang dan selalu dikuncir rapi oleh dayang, rambut yang indah dengan pita warna-warni.
Sakit, rasanya sakit dan menyedihkan. Namun, Hana tidak bisa meninggalkan Mama. Untuk menjaga perasaan Mama, Hana akan pergi ke tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun, meringkuk di sana, dan menangis sendirian. Berdoa, berdoa, berdoa, supaya Mama lekas sembuh. Supaya hati Mama yang berlubang itu cepat kembali seperti dulu.
Namun, suatu ketika, saat Hana meringkuk dan menangis di balik rimbunan semak, anak itu datang menghampiri. Memergoki Hana dan rasa sakitnya yang mengiris hati.
Anak itu adalah Ted. Orang-orang sering memanggilnya Si Bodoh Ted. Dia anak penjaga hutan milik keluarga Hana, kakek dan ayahnya sudah mengabdi pada keluarga Hana secara turun temurun. Sudah lama Hana mengenalnya, sejak usia Hana lima tahun. Sekarang usia Hana tujuh tahun, dan Ted masih seperti pertama kali Hana mengenalnya.
Ted sangat ramah, suka tersenyum, tapi sangat bodoh. Setiap kali Hana berbicara padanya, perlu berkali-kali menjelaskan maksudnya. Hana sering kesal dengan Ted, tapi Ted tak pernah kesal dengan keangkuhan Hana. Bahkan saat melihat Hana menangis, Ted hanya memandangi Hana dengan mata bulatnya yang bersinar. Ted yang usianya tiga tahun lebih tua, tapi kelakuannya masih seperti balita.
“Nona Hana sedang sembunyi?” tanya Ted penasaran. Ia ikut duduk berjongkok di samping Hana, celingak-celinguk ke sekitar dengan wajah panik. Mungkin mengira Hana sedang bermain petak umpet, dan khawatir keberadaannya akan menjadi masalah untuk kemenangan sang nona.
“Iya, aku sedang sembunyi. Duduklah dan diam.”
Ted diam, benar-benar diam. Ia tidak bergerak sama sekali, bahkan bernapas pun sedikit-sedikit, takut embusan napasnya menimbulkan bunyi yang berisik.
Lama Ted dan Hana dalam posisi demikian. Hingga akhirnya Hana lelah. Lelah menangis dan menahan sakit. Ia pun berdiri, kedua mata beriris abu-abu menatap Ted dengan kesal. Namun, Ted tersenyum padanya. Hati Hana terasa ngilu dan jengkel.
“Apa kau menertawakanku?!”
Ted menelengkan kepala tidak mengerti.
“Jangan berpura-pura d***u. Aku tahu kau menertawanku.” Hana kesal. Kedua kaki kecil berbalut sepatu cantik itu pun menendang-nendang tubuh Ted hingga menyusruk. “Aku tahu kau menertawanku. Aku tahu. Awas saja jika kau mengatakan aku bersembunyi di sini sambil menangis. Aku akan marah padamu.”
Menendang-menendang.
Ted hanya meringkuk di atas tanah, bergelung seperti kucing yang tersakiti.
Napas Hana putus-putus, kaki-kaki mungilnya tidak lagi menendang Ted. Dilihatnya Ted yang masih meringkuk, dan Hana merasa bersalah atas hal itu. Ia pun lari. Melarikan diri karena merasa bersalah. Namun, dalam hati yang terkungkung dan bersedih, menendang Ted adalah sesuatu yang menyenangkan. Ada percikan gembira, lega.
Beginikah perasaan Mama ketika menjabak dengan kuat rambut Hana? Pantas saja, pantas saja Mama selalu melakukannya. Ternyata, cukup menyenangkan.
.
.
.
Kali ini, Hana memiliki kebiasaan baru. Ia selalu mencari Ted setiap kali Mama menjambaki rambutnya, atau menyemburnya dengan alkohol yang berbau tidak enak. Hana ingin melepaskan beban di hatinya, beban yang tidak dia sadari tetapi selalu menjadi hama yang merusak. Ted adalah obatnya, penangkal kerusakan Hana secara permanen. Senyuman Ted yang menjengkelkan, sikap Ted yang patuh, dan bagaimana anak itu diam saja ketika Hana menendang atau memukulinya adalah pencahar kemarahan.
Hana selalu merasa lega usai menyakiti Ted. Perasaan lega itu bahkan tidak tergambarkan.
Di musim semi, Ted adalah sinar matahari yang mencairkan kebekuan.
Di musim panas, Ted adalah semilir angin yang mengembus sejuk.
Di musim gugur, Ted adalah selimut hangat sebelum tidur.
Di musim dingin, Ted adalah perapian yang menyala-nyala dan memberi ketentraman.
Tidak peduli berapa kali musim berganti, hubungan Hana dan Ted tidak pernah berubah. Mereka tetap menjadi teman untuk saling berbagi. Hana dengan kemarahannya, dan Ted dengan kepatuhannya.
Hana memang tidak pernah menjadi bunga. Hana adalah ulat yang menggerogoti bebungaan. Hana menggerogoti jiwa Mama. Jiwa Mama perlahan membusuk setiap kali melihat wajah Hana, karena wajah Hana mirip Papa sehingga Mama selalu sakit hati ketika melihatnya. Hana juga menggerogoti jiwa Ted. Ted yang baik hati dan ramah selalu memiliki lebam ketika bertemu Hana.
Hana juga tidak mengerti, mengapa Ted dapat bertahan dengan dirinya yang seperti ulat pengerat. Sekasar apa pun Hana memperlakukan Ted, bocah kumal itu akan datang dengan senyum selebar jendela. Ted akan menawarkan keramahan yang tidak wajar. Meskipun menjengkelkan, tetapi Hana menyukai keberadaan Ted.
Hana menyukai jeruk hutan, karena buah itu satu-satunya yang memberi kenangan indah dengan mamanya. Ted tahu, sehingga seberapa pun sulitnya mencari jeruk hutan, dia akan membawakannya untuk Hana. Meskipun tidak bisa didapat setiap musim, tetapi Ted selalu mengoyak-ngoyak hutan untuk mencarinya. Ketika dia datang kepada Hana tanpa sebuah jeruk, wajahnya memelas dan merana. Hingga Hana pun memarahinya, menyuruh Ted untuk berhenti datang membawakan jeruk hutan.
Saat dimarahi sedemikian rupa, Ted hanya tersenyum. Mengangguk-angguk dan tersenyum. Apalagi, setiap kali bertemu, Hana selalu memberinya oleh-oleh yang berharga. Entah itu sebungkus makanan, setangkai bunga, atau hanya sebuah batu yang diambil Hana sembarangan di halaman rumah.
Ted senang diperhatikan begitu baik oleh Hana. Ia menyimpan semua pemberian Hana di rumahnya, ditempatkan di sebuah rak reyot yang dibuatnya sendiri. Khusus untuk menyimpan pemberian Hana, pemberian yang nilainya lebih tinggi daripada permata.
Hingga di musim dingin ketika Hana berusia sembilan tahun, Mama yang sangat dicintai pun dijemput Tuhan. Mama kembali ke sisi Tuhan, mati mengenaskan karena overdosis o***m dan penyakit jantung yang sudah akut.
Di pemakaman, Hana tidak menangis pada saat semua orang menangis. Tidak setetes pun air mata yang keluar dari mata abu-abu itu. Bahkan selintas senyum sering diperlihatkan dari bibirnya.
Sebagian mengira bahwa Hana gembira karena mamanya yang jahat itu sudah tidak ada. Wajar, Hana memang terlihat seperti anak kecil yang selalu teraniaya. Tidak heran jika banyak yang berpendapat demikian.
Hana memang gembira, karena ia mengira Mama yang seperti malaikat itu akan bertemu malaikat yang sesungguhnya di surga. Mama akan masuk surga yang indah, yang sungainya terbuat dari wine kesukaan Mama, yang air terjunnya seperti sampanye favorit Mama.
Hanya saja, Hana sadar jika manusia yang suka berbuat jahat di masa hidupnya, kemungkinannya kecil untuk mencapai surga. Mama memang selalu baik pada Hana, tetapi Mama sering berbuat buruk pada orang lain. Orang-orang sering mengatakan bahwa Mama adalah wanita yang jahat, seperti iblis, berhati kotor dan busuk.
Hana terus memikirkannya. Bagaimana jika Mama ternyata dibawa ke neraka? Apa Mama akan tetap bahagia? Apa Mama bisa tetap minum alkohol? Kalau tahu begitu, Hana lebih suka Mama hidup saja.
Memikirkan tentang Mama membuat Hana terus bersedih. Berhari-hari dia tidak keluar rumah. Bahkan hampir sebulan Hana tidak memanggil Ted untuk menemuinya. Di dalam kamar yang terasa suram, Hana terus menuliskan berbagai harapannya untuk Mama. Hana juga menulis tentang kebaikan Mama, berharap Tuhan tahu dan membiarkan Mama masuk surga.
Hingga di musim semi, Hana menyadari bahwa hidupnya menjadi kosong tanpa Mama.
Di hari pertama hujan turun merintik, Hana bertemu Ted sekali lagi. Entah mengapa, saat itu air mata Hana bisa berderai begitu saja. Hanya dengan melihat Ted, rasa sakit di hatinya seperti disiram air panas.
Namun, Hana tidak ingin memukul Ted. Sudah tidak berminat menyakiti Ted seperti biasa. Hana hanya ingin meraung-raung, menumpahkan kekesalan dan sakit hati yang masih menggigit hingga kini. Di saat itu, Ted memeluknya. Ted memeluk dengan lembut dan pengertian.
Hana tidak mengerti, tapi pelukan Ted terasa lebih baik daripada saat Hana melampiaskan kemarahannya dengan kebrutalan. Pelukan Ted lebih mujarab daripada ramuan herbal yang sering diberikan dokter untuk Mama.
Pelukan Ted sangat membahagiakan.
Hanya saja, usai hujan pertama itu, Hana harus pergi ke tempat yang jauh. Papa membeli rumah baru di tempat jauh, dan Hana harus ikut ke mana pun Papa berpindah. Hana masih kecil, mana mungkin bisa lepas dari Papa.
Di hari terakhir sebelum keberangkatan, Hana mencari Ted untuk mengucap salam. Hana juga ingin berterima kasih karena Ted sudah mau menjadi teman yang baik. Ted yang bodoh dan penyabar. Ted yang mau-maunya digerogoti ulat hama seperti Hana.
Hana ingin memulainya dari awal. Ingin berteman dengan cara yang lebih baik.
Sayangnya, Ted tidak datang meskipun sudah dipanggil. Hingga Papa menyeret Hana untuk masuk ke kereta kuda, Ted masih tidak datang. Bahkan hingga kereta sudah melaju keluar desa, Ted tetap tidak datang.
Ted tidak pernah datang di saat Hana ingin menjadi teman yang sebenar-benarnya.
.
Sweet Continue_