Keriuhan di Stasiun York pagi itu membuat kepala Hanae tak henti-hentinya bergerak ke kanan-kiri. Padahal sudah berulang-ulang naik kereta, tetapi antusiasmenya tak pernah berubah. Bukan karena sangat suka keramaian, tetapi karena Hanae suka melihat pedagang asongan yang berkeliling menawarkan berbagai macam barang. Pernak-pernik, buah-buahan, hingga rangkaian bebungaan yang ditawarkan para bocah berpakaian lusuh sangat menarik untuk dilihat.
Itulah mengapa, saat berada di stasiun Hanae tidak henti-hentinya menyebar uangnya. Ia membeli jeruk, membeli koran, membeli beraneka rangkaian bunga, dan ini, dan itu, banyak sekali sampai ia lupa menghitung berapa jumlahnya. Ketika memasuki gerbong kereta, keranjang rotan yang juga baru dibelinya dadakan sudah penuh isinya.
“Untuk apa kau membeli begitu banyak rangkaian bunga?” Avery menyandarkan punggung usai merasakan bahwa posisi duduknya terasa nyaman. Hanae duduk di depannya, keranjang jajan diletakkan di atas meja.
“Supaya perjalanan kita lebih menyenangkan. Bunga-bunga ini sangat harum, ‘kan?”
Avery tidak tahu harus menanggapi apa, dia hanya mengangguk. Setelahnya, suara peluit kereta terdengar keras sekali. Tidak lama, kereta pun melaju.
Hanae, dengan kegembiaraan berlebihan, sengaja membuka jendela kereta. Ia duduk di atas kursi dengan tumpuan lutut, memandangi hiruk-pikuk di stasiun yang masih terasa. “Yeii! Kita berangkat!” pekiknya.
Avery mengembus napas, pasrah melihat kebahagiaan istrinya yang mirip anak kecil. Oh, hampir saja Avery lupa, Hanae memang suka bertingkah seperti bocah. Julukan sebagai lady kekanakan itu tentu bukan tanpa alasan. “Tutup jendelanya, aku ingin istirahat.”
Hanae mengangguk sekali, lalu melakukan apa yang diinginkan suaminya. Laju kereta semakin cepat, Hanae pun duduk dengan semestinya.
Sempat ada senyum kecil di bibir Avery ketika melihat bagaimana Hanae dengan lugunya menuruti perintahnya. Lama ia memandangi Hanae, sampai akhirnya senyumnya memudar. Ada sebersit pikiran yang mengganjal, dan Avery tidak tahan untuk mengungkapkannya. “Hanae,” panggilnya.
“Hm?” Hanae menyandarkan punggungnya terlalu santai, bersikap malas-malasan.
“Kenapa tiba-tiba ingin kembali ke rumah lamamu? Kau belum menceritakan tujuanmu pergi,” tuntut Avery. Sejak kemarin, dia sebenarnya sudah sangat penasaran mengenai tujuan kepergian Hanae. Sialnya, sejak kemarin juga Hanae tidak kunjung bertutur jujur. Avery penasaran, curiga, sekaligus was-was. Khawatir jika sesuatu yang ditinggalkan Hanae adalah kenangan penting yang dapat menggeser kedudukan Avery saat ini. Cinta pertama mungkin, atau kekasih di masa lalu mungkin. Avery tidak suka membayangkan itu.
“Hmm.” Hanae hanya menggumam. Ia sempat memejamkan mata sejenak, meniup-niup poni, lalu menegakkan tubuh. “Aku tidak tahu harus menceritakannya seperti apa.” Kedua kakinya bergoyang-goyang ringan. “Ketika kemarin di panti asuhan dan melihat anak-anak yang bermain, aku jadi teringat seseorang.”
“Seseorang?” Rasa waspada Avery rasanya semakin tinggi. Seseorang, itu kata yang tidak ingin dia kulik kelanjutannya.
Hanae mengangguk. “Seorang teman.”
Dengan rasa kesal yang sudah tampak jelas, Avery bertanya, menuntut. “Laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki.”
Dahi Avery mengernyit dalam, kedua tangannya terkepal. “Hanae, jika tujuanmu untuk menemui cinta pertamamu. Kita tidak akan melanjutkan perjalanan ini.”
“Hm? Cinta pertama? Kenapa kau berpikir sejauh itu?”
“Karena kau berkata dia teman laki-lakimu.”
Namun, Hanae hanya tersenyum tipis. “Dia memang temanku. Seseorang yang sangat berharga,” ungkapnya santai. “Aku dulu meninggalkannya tanpa sempat memberi salam perpisahan.”
Entah mengapa, kepalan tangan Avery menjadi terlalu erat. “Hanae. Kau harus ingat kalau sudah punya suami,” desisnya murka.
“Ha ha ha, aku ingat-aku ingat. Suamiku yang sekarang sedang marah-marah di depanku.”
Tawa Hanae membuat Avery mendecih.
“Hubungan kami tidak seperti itu,” tambah Hanae. Menduga jika Avery mungkin sedang cemburu. Meskipun tidak tahu apakah Avery sudah mencintainya atau belum, tetapi sebagai seorang istri, Hanae juga kerap merasakan hal itu. Ia menganggapnya sebagai suatu perasaan yang wajar. “Dia benar-benar temanku,” tegasnya sekali lagi.
Avery mengernyit, matanya hampir memincing. “Hanya teman?”
Namun, Hanae terkekeh. “Avery, seorang teman tidak sepatutnya diberi frasa ‘hanya’. Mereka adalah bagian penting dalam hidup kita, bukankah kejam mengatakan teman sebagai sesuatu berlebel ‘hanya’?”
Kali ini Avery terdiam.
“Bukankah sudah kukatakan bahwa dia benar-benar temanku? Dia seorang teman yang berharga.”
Kali ini Avery benar-benar tidak paham dengan perkataan Hanae. Sangat tidak paham sampai rasanya ingin membedah otak istrinya itu dan mengurai isinya satu per satu.
“Oh, daripada kau terus bertanya-tanya, mau mendengar aku bercerita tentang salah satu novelku?” Hanae tidak suka melihat Avery dan kemarahannya yang menjengkelkan, ia pun mengalihkan perhatian. Berharap Avery tidak melanjutkan kemurkaannya yang didasari cemburu buta.
Avery mengembus napas pelan, berpikir mungkin Hanae memang sedang tidak ingin membahas masalah temannya ini. Ia pun akhirnya mengangguk. “Akan kudengarkan. Tapi jika aku tertidur, jangan menggangguku.”
Hanae mengangguk cepat, kedua kakinya masih bergoyang di bawah meja. “Judulnya adalah Hana yang Tidak Seperti Bunga dan Si Bodoh Ted.”
“Kenapa judulnya seperti itu?” Avery menelengkan kepala sembari memosisikan tubuhnya lebih nyaman.
“Karena ini merupakan cerita anak-anak.”
Avery mendengkus. “Bukan, bukan itu maksudku. Kenapa judulnya mirip seperti namamu? Hana dan Hanae. Apa bedanya?”
“Hana adalah bunga, sedangkan Hanae adalah sesuatu yang dikagumi.” Mata Hanae melirik rangkaian bunga-bunga di keranjang. Ia tersenyum samar. Namun, di mata Avery, senyum tersebut seperti wajah yang menahan kesedihan. Senyum yang dipaksakan.
“Dan itu adalah bahasa …?”
“Nippon.”
“Oh, pantas saja aku tidak begitu mengerti.” Avery mengangguk-angguk, kedua tangannya bersedekap di depan d**a. Ia memilih duduk lebih tegap, supaya bisa melihat Hanae lebih jelas.
“Musashi-sensei yang memberikan nama Hanae. Kurasa nama itu terlalu berat untukku.” Hanae terkekeh kekanakan seperti biasa.
Sementara itu, Avery tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah lain. Iris hijau cerah miliknya sangat lekat ketika menatap Hanae. Ia seperti seseorang yang sedang mengamati, dan tampaknya memang begitu. Hingga Avery menyadari, ternyata istrinya bisa juga tidak percaya diri.
Bukan, bukan tidak percaya diri, tetapi seperti menilai diri sendiri dengan terlalu subjektif. Oh, Hanae memang suka begitu. Sayangnya, penilaian Hanae kali ini sangat tidak tepat. Avery tidak menyukai penilaian tersebut.
“Kurasa nama itu cocok untukmu. Kau adalah seseorang yang mudah dikagumi. Seperti bunga, mudah dikagumi,” ujar Avery pada akhirnya. Di antara serangkaian pujian yang bisa diberikannya kepada sang istri, Avery paling menyukai susunan kalimat yang baru saja terlontar.
Bahu Hanae tersentak sedikit, iris abu-abunya membulat sangat lebar. Tatapannya kepada Avery tidak bisa diartikan. Ada perasaan menyesakkan yang tiba-tiba menghujani hatinya, seperti ditombak berkali-kali. Sesak tapi merasa lega, sangat lega dan menyenangkan.
“Hanae? Kau … menangis?”
Hanae tersenyum, lalu tertawa lembut. Tanpa ingin mengusap air mata yang entah sejak kapan sudah mengaliri pipinya, ia menatap Avery dengan pandangan yang sulit dimaknai. Rasanya, ia ingin memberi tempat terbaik untuk Avery di hatinya.
“Ha ha ha, ini pertama kalinya, ada yang mengatakan bahwa aku seperti bunga. Kukira, kukira aku tidak bisa seperti bunga.”
Ucapan Hanae itu terdengar getir, dan Avery sebenarnya tidak mengerti. Namun, dengan cepat ia menghampiri Hanae. Tubuhnya yang kokoh mendekap Hanae lembut, sangat lembut dan penuh pengertian. Tangannya yang besar mengusap punggung Hanae pelan, dan berkali-kali ia mengatakan bahwa Hanae adalah sekuntum bunga yang indah. Bunga di hatinya, bunga untuk hidupnya.
Hanae yang mengagumkan, seperti bunga. Bahkan mungkin lebih indah.
.
Sweet Continue_