Sudah lama sekali Hanae tidak mengingatnya.
Sewaktu kecil, dia memiliki teman yang sangat, sangat-sangat penyabar. Hanae tidak tahu apakah temannya itu adalah orang baik, yang Hanae mengerti bahwa temannya adalah si penyabar yang bodoh.
Anak itu memang bodoh. Dia tidak sekolah, tidak bisa membaca atau menulis, dan harus diberitahu dua kali supaya mengerti tugas-tugasnya.
Teman Hanae itu, juga tidak pernah diizinkan masuk ke rumah Hanae. Anak itu kotor, bajunya compang-camping banyak tambalan, jarang memakai alas kaki, dan jarang mandi. Pekerjaannya sehari-hari adalah membantu ayahnya menjaga perbatasan hutan milik keluarga Denison, milik ayah dan ibu Hanae.
Akan tetapi, anak itu sangat pengertian. Di antara wajahnya yang kusam, berdebu, dan kotor, dia selalu punya senyum secerah matahari. Kapan pun Hanae sedang marah, senyuman matahari itu adalah penyembuh yang ampuh.
Hanae sudah mengenal anak itu sejak berusia lima tahun, dan sampai Hanae berusia sembilan tahun, anak itu tidak pernah satu kali pun meninggalkan Hanae.
Hanae lah yang meninggalkannya.
.
Welcome to New Pages of Orang Marmalade_