Namun, jatuh cinta pada pandangan pertama mungkin bukan kata yang tepat. Sebab, Judith percaya bahwa takdir seperti itu hanya berlaku di buku-buku romansa. Manusia cenderung melihat bentuk yang nyata, melihat fisik yang tervisualisasi secara sempurna. Ketika fisik seseorang itu sesuai dengan selera, pasti akan sangat mudah mengatakan bahwa dia sedang jatuh cinta. Padahal, ketertarikan tersebut hanyalah sebuah bentuk pada sesuatu yang selalu ada di pikirannya.
Saat sudah suka pada bentuk fisik, semua hal pada orang itu akan tampak indah. Perilaku baik atau buruk akan sama memukau dan menyenangkan untuk dilihat. Hal itu sering sekali terjadi pada penggemar yang mengagumi sosok idola.
Pada kasus Judith, mungkin awalnya memang seperti itu. Dia tertarik pada Avery karena pria itu sangat sesuai dengan pria dalam angan terbesanya. Namun, kepribadian Avery adalah hal paling utama yang membuat Judith semakin terjerat dengan pesona bujangan tersohor dari Yorkshire tersebut.
Dari luar, Avery sangat baik, sopan, dan bisa memperlakukan wanita dengan semestinya. Pikiran pria itu sangat terbuka, suka mencemooh tapi menerima. Sebagai bangsawan, kesombongannya bukan sesuatu yang patut dicela, mengingat prestasinya juga sama luar biasa. Namun, yang paling penting adalah Avery adalah satu-satunya pria yang tidak mengejar-ngejarnya membabi buta.
Judith tahu Avery tertarik padanya, karena secara fisik, Judith memang unggul dibanding perempuan di sekitarnya. Laki-laki yang setia pun bisa khilaf jika melihat Judith berjalan di depan mata mereka.
Hanya saja, yang berbeda dari Avery adalah pria itu tidak secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi memiliki niat buruk pada Judith. Perilaku yang sopan dan terpuji itu entah mengapa membuat Judith selalu berusaha menempeli Avery ke manapun pria itu pergi.
Ke perjamuan-perjamuan, ke acara sosial, ke tempat rekreasi, ke manapun Avery berada, Judith akan berusaha memperlihatkan batang hidungnya. Gara-gara hal itu pula, Judith harus menggelontorkan dana yang cukup banyak untuk selalu membeli gaun-gaun yang bisa menarik perhatian Avery. Ia bahkan bersedia mengambil untung dari pria-pria yang tertarik padanya demi bisa berjumpa dengan Avery.
Siapa sangka, dengan kegigihan bagai petarung gulat, Judith bahkan berhasil mendapatkan tawaran yang membuat hatinya berbunga-bunga. Setelah sekian lama menggelandoti Avery seperti pengemis, ia pun ditawari sebagai simpanan pria idamannnya.
Menjadi wanita simpanan terdengar tidak menyenangkan di telinga, karena citra di masyarakat sangat buruk dan meresahkan. Namun, bagi Judith, menjadi wanita simpanan Avery adalah pencapaian tersendiri, pencapaian yang bahkan akan sulit didapat oleh wanita berkedudukan rendah seperti dirinya.
Meskipun … meskipun ada harga diri yang harus Judith pertaruhkan untuk semua omong kosong tersebut.