42. Cinta Pada Pandangan Pertama

373 Kata
Judith Spencer tidak habis pikir, mengapa orang seperti dirinya tidak bisa mendapatkan semua hal dengan mudah. Dia terlahir dengan paras rupawan; kulit yang putih tanpa noda, wajah yang tirus dengan hidung bangir, dan bahkan postur tubuh yang selalu membuat para wanita iri dengannya. Orang-orang pun selalu membicarakan bagaimana rambutnya begitu indah dan halus. Mendiang suaminya bahkan selalu memuji-muji kecantikan rambutnya itu. Dengan semua hal menjanjikan pada fisiknya, Judith kalah telak dengan wanita lain hanya karena dia terlahir dari keluarga yang cukup miskin. Ayahnya hanya seorang baronet, meskipun terlihat memiliki gelar bangsawan tapi gelar tersebut juga terlihat sangat rendahan di mata bangsawan lainnya. Berada di tengah-tengah antara kalangan bawah dan atas, membuat hidup Judith terasa serba salah. Ketika berkumpul dengan orang biasa, dia akan diejek karena gelar ayahnya tidak terlalu mewah tapi sok menjadi bangsawan. Ketika berkumpul dengan para bangsawan, dia pun diejek karena dianggap terlalu ingin naik ke tangga sosialita. Itulah mengapa, sejak pertama dia debut sebagai seorang gadis di muka umum, yang mendekatinya hanya pria-pria b****k yang menyebalkan. Bangsawan-bangsawan itu, menganggapnya mau-mau saja menjadi milik mereka asal mereka memiliki gelar yang lebih tinggi dari ayahnya. Apalagi, ayahnya tidak begitu kaya, tidak memiliki tanah kuasa atau harta yang menumpuk-numpuk. Untuk apa wajah cantik jika mas kawinnya begitu rendah? Meskipun banyak laki-laki yang tertarik padanya, tapi pada akhirnya yang datang padanya hanya mengincar tubuh moleknya. Alasan mereka, wajah cantik dapat dibeli di mana-mana, sedangkan harta dan kedudukan harus diperjuangkan sekuat tenaga. Judith yang sejak kecil sudah didoktrin bahwa wajah cantiknya akan membawanya ke posisi tertinggi, merasa terkhianati ketika mengetahui kenyataan yang ada. Bahkan kekasih pertamanya yang sudah mencicipi ranum tubuhnya, tega mengkhianatinya dengan menikahi perempuan lain yang posisinya lebih menjanjikan. Pada akhirnya ketika dewasa, Judith hanya bisa merayu laki-laki yang dianggapnya mampu memenuhi ambisinya. Salah satunya adalah Avery Robinson, anak sulung dari Marquise of Ripon, yang bergelar Vicsount Goderich. Avery memiliki kesan pertama yang menakjubkan di mata Judith. Pria itu sangat rupawan, iris mata hijaunya berkilauan. Di antara semua pria yang memandangnya takjub sampai meneteskan air liur, Avery adalah satu-satunya yang menatap dingin padanya. Bukan berarti Avery tidak memperlakukannya dengan baik dan lembut, hanya … Judith merasakan tatapan yang benar-benar berbeda. Seperti tatapan yang menganggapnya benar-benar manusia. Sejak pertama bertemu, Judith sudah jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN