11. AMANAH SEBENARNYA

1091 Kata
Kabar bahagia bagi kaum hawa segera menyebar tanpa batas waktu. Setiap jam istirahat semua lorong, tangga, koridor bahkan kantor guru pun dipenuhi keseruan bahwa Kang Dani akan menjadi asisten Pak Daris sebagai guru olahraga. Meskipun hanya mengajar kelas sepuluh saja, membuat para senior SMK Sayang tidak terima. Apalagi Denis ia sudah uring-uringan meminta Kang Dani mengajar di kelas sebelas juga. Sempat pula pikiran gilanya ingin berteriak lebih baik turun kelas demi bisa digurui oleh Kang Dani saat pelajaran olahraga. Tersisa senior lain yang berada di ujung tanduk masa kelulusan, mereka mulai mencoba ikhlas melepas Kang Dani. "Gua gak sudi, ya! Amit-amit kenapa halus kelas sepuluh doang!" Denis tidak lelah mengoceh. Semua guru juga mulai berdiskusi karena sosok Denis tidak bisa disepelekan begitu saja. Mengingat Dominic ayahnya selalu menjadi orang penting dalam pembangunan SMK Sayang, dalam hal pendidikan banyak dana masuk dari ayah Denis itu. "Berarti kembali ke tujuan awal, kios di kantin sudah dibersihkan, kan? Kita jadikan tempat khusus Kang Dani di sana," jelas Bu Dini membuat lima guru yang diajaknya bermusyawarah saling melempar wajah keraguan. "Tidak masalah juga, Bu, toh dari awal ada niatan memberikan tempat untuk Kang Dani juga," timpal Bu Dara. Kesepakatan tersebut disetujui segera. Kang Dani kembali mendapat panggilan ke kantor Bu Dini. sekali lagi kabar bahagia hampir membuatnya menitikkan air mata. Mengingat pekerjaan barunya jadi asisten Pak Daris saja sudah merasa paling membahagiakan dan sekarang? Ia ditawari berjualan di kantin dalam SMK Sayang. Sebuah hadiah dari Tuhan yang mengharuskan Kang Dani berterima kasih. Semakin mendekatkan diri kepada Sang Rabbi. Lewat sambungan telepon ia mengabarkan kabar bahagia itu kepada kedua orang tuanya. "Alhamdulillah, anak ema! Nuhun pisan Ya Alah." Dari seberang sana Bu Dedeh bersorak diakhiri tangis haru. "Itu teh amanah, Dani, kamu harus jaga kepercayaan dari mereka. Inget solat, sesibuk apa pun pekerjaan jangan lupa solat. Jaga duha yang paling penting." Pak Dedih yang mengakhiri sambungan telepon, juga pesan yang membuat Kang Dani tersadar. "Astagfirullah, udah jadi kebiasaan solat duhur jam dua siang. Duha? Saya sibuk beres-beres barang buat dagangan," lirihnya sambil menatap langit-langit kamar. Besok adalah hari senin, awal mengajar Kang Dani di SMK Sayang tepatnya menjadi asisten Pak Daris yang tak kalah ganteng. Sayang, guru lelaki termuda di antara guru lainnya itu baru memiliki buah hati dengan istri muda dan cantiknya. Membuat para gadis mundur perlahan, berpaling kepada Kang Dani atau Danu yang cetar membahana. Kelopak mata Kang Dani mulai menutup, mengucap doa dan zikir dalam hati. Sampai kumandang azan subuh membangunkan, memaksanya cepat mandi lalu berlari menuju masjid yang masih dengan lima jemaah di dalamnya. Beruntung, Kang Dani masih bisa salat berjemaah subuh, ia berdoa semoga di hari senin ini bisa menjalankan rutinitas sesuai harapan. Masih dengan baju yang biasa dipakai, Kang Dani membawa bahan seblak dengan motor giginya. Minggu nanti, ia dipersilakan memindahkan semua barang ke dalam kantin. "Nanti ini teh kosong lagi?" gumam Kang Dani. "Aduh-aduh Pak Guru sekarang mah nya?" Darman menyapa Kang Dani yang masih berdiri di depan kios belum dibuka miliknya. "Kang, bisa aja." "Alhamdulillah, tuh! Kamu orang paling beruntung, belum juga satu tahun datang, eh ... udah naik pangkat!" Kang Dani melirik gerobak es kelapa milik Darman, selain ramah Darman juga orang yang selalu ada untuknya. Membantu membelikan cabe yang habis, memberikan seblak ke pembeli juga mengantarkan ke ruang Kepala Sekolah. Jadi, apakah tawaran Kang Dani akan Darman terima? "Saya ngontrak satu tahun, Kang, gimana kalo sisanya saya kasih ke, Akang?" Darman terkekeh, "Hehe, gak usah saya mah udah enak cuma nongkrong di balik gerobak mah. Udah, nanti juga nih kios bakal ada yang isi lagi," tolaknya. Baiklah Kang Dani hanya mampu mengangguk saja. Toh Darman sama sekali tidak berharap, pula semua penghuni SMK Sayang selalu menyempatkan diri membeli es kelapanya setiap pulang sekolah. Semakin bertambah saat kedatangan Kang Dani meramaikan SMK Sayang. Di lain tempat Dayana sudah menyumpal kedua telinganya dengan earphone milik Desi. Mengalunkan nada musik tanpa lirik, sengaja karena ia pula sedang membaca novel yang memiliki 700 ketebalan. Namun, Dayana tidak peduli setebal apa pun novel yang dibacanya. Karena ia sudah bosan dengan ocehan Denis soal Kang Dani siap mengajar. "Gua udah cantik banget belum? Gak ada cili-cili jelawat yang bakal muncul? Apalagi belminyak? Iwww." Dena mengangguk sambil mengipasi wajah cantik Denis. "Cantik udah, tapi mulut lo kayaknya bau kacang, Nis!" lapornya. Denis mengembuskan napas, lalu merasakan aromanya. "Kacang dali mana? Bau stlobeli gini!" protesnya. "Eh, lo gak bisa bedain kacang sama str—" "BELISIK!" Denis menyingkirkan Dena yang menghalangi jalan, keluar dari kelas siap menunggu kedatangan Kang Dani dengan penampilan barunya. Setelah menemui Pak Daris di ruangannya, Kang Dani diperintah mengganti pakaian. Sebuah celana training dan baju kaus berlogo SMK Sayang. Warna biru langit, dengan garis hitam di setiap sisi lengan bajunya. Kang Dani menatap penampilan barunya, sepasang sepatu olahraga sudah siap dipakai juga. Kemarin setelah membeli bahan seblak, ia menyempatkan diri membeli sepatu. Dilanjut membuat pengumuman kecil untuk ditempelkannya di depan kios, bahwa warungnya akan buka tepat lepas duhur sesuai jadwal olahraga yang hanya menghabiskan waktu sampai jam sebelas. "KANG DANI!!" Denis berteriak sambil melambaikan tangannya dengan heboh, semua siswi yang sedang sibuk dengan Kang Dani memainkan bola basket seketika murung kesal. Memilih mundur daripada harus disingkirkan oleh Denis dengan kasar. Dena yang menjadi pengikut setia tidak lelahnya membuntuti, menghalau panas terik matahari dengan kipas kayu miliknya. Lagi, tanpa ragu Denis langsung bergelayut manja merangkul tangan kanan Kang Dani. Pak Daris yang masih persiapan mengajar kelas sepuluh yang sudah berkumpul mengembuskan napas kasar, sudah mulai dalam keadaan darurat ini. Melihat jadwal pelajaran Denis, gurunya memang sedang cuti karena masih dalam masa usai melahirkan anak pertamanya. Jadi, kemungkinan ada jam kosong? Pak Daris pun berjalan lurus berhadapan langsung dengan Kang Dani yang mulai mencoba melepas cekalan Denis. "Ehh, Pak Dalis Gans!" sorak Denis. "Kamu tahu? Ini hari pertama Kang Dani menjadi asisten saya, jadi? Saya persilakan kamu kembali ke kelas," titah Pak Daris dengan tegas. Denis sedikit melonggarkan cekalannya. "Ih, Bapak! Kok kasal banget? Lagian Kang Dani cuma jadi asisten doang, udahlah santai aja, Pak!" ocehnya. Dari seberang lapangan, Bu Dini menonton aksi Denis yang menolak perintah Pak Daris. Bukan hal yang harus dibiasakan dan seharusnya Denis mendapat hukuman. Bu Dini pun berjalan cepat turun tangan. Kali ini Denis menurut, ia sangat malas berurusan dengan Kepala Sekolah yang cerewet. "Sudah, Kang Dani akan tetap di sini juga selain menjadi asisten Pak Daris," putus Bu Dini sebelum meninggalkan Denis dan Dena yang menahan kesal. "Maksud, Ibu?" tanya Denis. Bu Dini tidak menjawab pertanyaannya, ia tidak peduli. Toh, minggu depan tidak lama untuk digapai. Memberikan kabar bahwa Kang Dani akan berjualan di kantin sekolah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN